mariaFTB11

“Surga” titipan Tuhan di Timur Indonesia

Posted: December 6th 2014

Kepulauan Raja Ampat terletak di jantung pusat segitiga karang dunia (coral triangle) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati laut tropis terkaya di dunia saat ini. Kepulauan ini berada di bagian paling barat pulau induk Papua, Indonesia, membentang di area seluas kurang lebih 4,6 juta hektar. Raja ampat memiliki kekayaan dan keunikan spesies yang tinggi dengan ditemukannya 1.104 jenis ikan, 699 jenis moluska (hewan lunak) dan 537 jenis hewan karang. Tidak hanya jenis-jenis ikan, raja ampat juga kaya akan keanekaragaman terumbu karang, hamparan padang lamun, hutan mangrove, dan pantai tebing berbatu yang indah. Potensi menarik lain adalah pengembangan usaha ekowisata dan wilayah ini telah pula diusulkan sebagai lokasi warisan dunia (world herritage site) oleh pemerintah indonesia.
gambar 1

Kepulauan Raja Ampat merupakan kawasan yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi serta habitat laut dan darat yang mengagumkan. Kepulauan ini merupakan salah satu kawasan yang mengandung fauna ikan karang terkaya di dunia serta merupakan areal pembesaran bagi sebagian besar biota laut yang terancam, seperti penyu. Kekayaan sumberdaya lautan dan daratan yang dimiliki Raja Ampat memicu banyak orang untuk datang dan mengekploitasi kawasan ini.
Menurut data yang ada, hampir 80% kawasan daratan di Kabupaten Raja Ampat merupakan kawasan konservasi sebagaimana telah dituangkan dalam perundang-undangan. Permasalahan yang muncul di kawasan ini cukup beragam seperti penebangan kayu, pertambangan, rencana pembangunan jalan yang merambah kawasan konservasi, penebangan hutan mangrove, perburuan satwa, serta konflik tata batas dengan lahan adat. Di wilayah perairan persoalan yang muncul antara lain penangkapan ikan dengan menggunakan bom, potasium, dan akar bore. Di kawasan ini juga masih berlangsung pengambilan batu karang, pengambilan telur penyu, penangkapan penyu dan penangkapan berlebihan ikan Napoleon (Maming), teripang, kerapu, dan lola. Semua aktivitas tersebut dapat mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Kepulauan Raja Ampat, baik di darat maupun di laut.

Beberapa kegiatan yang saat ini berlangsung di Raja Ampat dan dikhawatirkan dapat menyebabkan berkurang atau punahnya kekayaan flora dan fauna di kawasan ini adalah sebagai berikut:
a. Penambangan
Kegiatan penambangan yang dilakukan di Raja Ampat menggunakan sistem penambangan terbuka (open mining). Kegiatan penambangan ini dapat menyebabkan perubahan bentang alam dan menghilangkan habitat berbagai tumbuhan dan satwa yang sebelumnya hidup di kawasan tersebut. Limbah buangan, berupa logamlogam berat dan lumpur, hasil pengolahan penambangan juga dapat mencemari perairan. Lumpur-lumpur yang dihasilkan ini dapat menyebabkan pendangkalan sungai atau sedimentasi di laut, terutama habitat terumbu karang, yang dapat menyebabkan kematian biota-biota terumbu karang.
b. Pembalakan
Adanya pembangunan infrastruktur dan pembalakan merupakan penyebab utama konversi hutan. Pembalakan secara komersil menyebabkan kerusakan hutan dan mengurangi keanekaragaman hayati terestrial dan pasokan dari hasil-hasil hutan non-kayu. Kegiatan-kegiatan tersebut menunjukan ancaman yang serius bagi species endemik di Pulau Waigeo seperti Burung Cenderawasih Merah (Paradisaea rubra) dan Maleo Waigeo (Aepypodius bruijnii). Pembalakan, khususnya jalan yang dilewati kendaraan pengangkut kayu, juga meningkatkan laju erosi dan berlanjut pada sedimentasi terhadap terumbu karang.
c. Perdagangan Satwa Liar yang Dilindungi
Satwa liar yang dilindungi, keberadaannya terancam karena penangkapan dan perdagangan adalah burung seperti cenderawasih kecil (Paradisaea minor), kakatua putih jambul kuning (Cacatua galerita triton), Bayan (Eclectus roratus), dan jenis-jenis burung lainnya. Permintaan terhadap jenis burung ini sangat tinggi dibandingkan dengan burung jenis lainnya. Selama 10 tahun terakhir, pengambilan jenis burung ini di habitatnya sudah sangat mengkhawatirkan sehingga saat ini sudah sulit ditemui burung-burung tersebut di habitat aslinya, seperti kawasan Cagar Alam Salawati Utara, Cagar Alam Batanta Barat, dan hutan di sekitar Teluk Mayalibit. Adanya perburuan burung memperlihatkan ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati di Kepulauan Raja Ampat.
Penangkapan Ikan yang Merusak
Pemboman ikan merupakan salah satu ancaman yang paling merusak ekosistem terumbu karang. Bom tersebut merusak struktur terumbu karang, menghilangkan kemampuannya untuk menyediakan makanan dan naungan bagi organisme laut, serta menghilangkan kemampuan karang melindungi garis pantai. Pemboman secara langsung dan tidak pandang bulu membunuh ikan dan invertebrata yang tinggal pada terumbu karang. Para nelayan pembom ini terutama memburu kelompok ikan terumbu karang. Mereka menggunakan bom untuk mendapatkan hasil tangkapan yang banyak dengan cara yang cepat dan mudah. Banyaknya terumbu karang yang rusak oleh satu ledakan tergantung pada ukuran bom dan posisi ledakan terhadap terumbu. Satu bom ukuran botol bir dapat menghancurkan terumbu karang dalam radius 5 meter. Pemulihan terumbu karang yang terkena bom ini memerlukan waktu ratusan tahun. Hal ini sangat ironis dengan proses pemboman yang hanya berlangsung kurang dari 5 menit.
Rencana aksi personal untuk konservasi keanekaragaman hayati Raja Ampat Indonesia.
Rencana aksi personal yang akan saya buat dalam upaya konservasi pulau raja ampat adalah pertama-tama saya akan melakukan kegiatan seminar yang memberi arti pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan hidup baik bagi aparatur pemerintahan, maupun kepada masyarakat lokal. Seminar ini dilakukan juga untuk menampung aspirasi atau pendapat dari pemerintah maupun masyarakat lokal raja ampat. Melihat bahwa hak adat masyarakat lokal meliputi pengelolaan sumberdaya alam yang ada di dalamnya. seminar ini juga dapat menjembatani semua masalah pengelolaan sumberdaya oleh masyarakat adat dengan pemangku kepentingan lain sehingga tujuan konservasi dan pembangunan dapat berjalan bersamaan. selain itu menggabungkan pengetahuan ilmiah yang rumit dengan pengetahuan tradisional lokal dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang ada.
Selain menampung aspirasi pemerintah maupun masyarakat, saya juga memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal, pemerintah dan industri untuk berperan aktif dalam proses pembangunan di semua tingkat, mulai dari perencanaan, pelaksananaan, pengawasan, dan evaluasi. Khusus di Kepulauan Raja Ampat, dalam mengelola sumberdaya pesisir dan laut ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya karena sumberdaya alam dapat menurun drastis dan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat yang mendiami wilayah pesisir dan laut tersebut. mengingat masyarakat lokal memiliki andil besar dalam sumber daya alam Raja ampat.
Pengelolaan Raja Ampat dilakukan dengan bekerjasama antara pemerintah, masyarakat lokal dan industri. Pembagian peran dan tanggung jawab untuk pengelolaan sumberdaya alam antara pemerintah dan pengguna sumberdaya lokal lainnya. Setiap pemangku kepentingan memainkan peranan penting, dimana pemerintah berkontribusi di dalam memberikan pelayanan administratif, pandangan ilmiah (bekerjasama dengan lembaga penelitian) dan enabling environment (kondisi yang kondusif untuk pelaksanaan pengelolaan kolaboratif) dan pemangku kepentingan lainnya dapat menyumbangkan pengetahuannya tentang sistem pengelolaan dan praktek-praktek tradisional yang diturunkan dari generasi ke generasi secara bertahun-tahun dari pengalaman mereka dengan kondisi lingkungan lokal yang mereka tempati setiap hari. Penting pula bagi para pemangku kepentingan lokal diberi wewenang legislatif (seperti kasus DPL di Sulawesi Utara, dimana masyarakat diberi otonomi untuk penyusunan peraturan desa) dan otoritas pengelolaan sumberdaya bersama dengan pemerintah.
Mengajak masyarakata lokal mengurangi penangkapan ikan secara tradisional dengan menggunakan bom. Di Raja Ampat terdapat cara penangkapan tradisional yang cara kerjanya mirip potasium. Bahan yang digunakan dalam usaha penangkapan ini adalah “Akar Bore”. Penggunaan akar bore di Kepulauan Raja Ampat sudah menjadi tradisi turun temurun dalam masyarakat yang digunakan untuk menuba ikan. Mengajak pemerintah dan industri untuk melakukan proses pembangunan dengan pendekatan pengelolaan sumberdaya pesisir berbasis ekosistem secara terpadu, mengembangkan sektor pariwisata dengan mengarahkan pada pengembangan eco-tourism (wisatalingkungan), sesuai kondisi dan ketersediaan sumberdaya alamnya.
Selain itu saya akan mengajak pemerintah melakukan AMDAL bagi kegiatan pertambangan, perhotelan, industri dan berbagai proyek lainnya agar kegiatan tersebut tidak membahayakan kehidupan manusia dan kelestarian lingkungan hidup tetap terjaga. Untuk menjaga kelestarian hidup di Kabupaten Raja Ampat, maka harus dibuat tata guna lahan dengan menetapkan suatu kawasan sebagai kawasan konservasi seperti cagar alam, suaka margasatwa. Kawasan budidaya seperti taman wisata, kawasan pertanian, perkebunan rakyat, kawasan perhotelan, pedesaan, kawasan wisata, pelabuhan dan berbagai kawasan lainnya.

sumber: Atlas sumberdaya Pesisir Kabupaten Raja Ampat Propinsi Irian Jaya Barat. 2006.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php