mariaFTB11

Ketika PCR mencicipi Malignant catarral fever (MCF)

Posted: May 13th 2014

Malignant catarral fever (MCF) atau penyakit ingusan adalah penyakit fatal yang utama menyerang sapi, kerbau dan rusa. Penyakit ini menyebabkan poliferasi serta infiltrasi limfoid yang diikuti oleh nekrosis di berbagai jaringan (Plowright, 1984).  Dua macam MCF yang dikenal adalah (1) WA-MCF  dan SA-MCF (Plowright dkk., 1960).

Agen penyebab WA-MCF sudah dapat diisolasi dan dinyatakan sebagai Bovine herpesvirus-3 yang kemudian dikarakterisasi oleh Reid., dkk (1975) sebagai Alcelaphinae herpesvirus- (AHV-1) (Plowright dkk., 1960). Sebaliknya, virus SA-MCF sampai saat ini belum bisa diisolasi, tetapi dari kasus SA-MCF pada kelinci, rusa dan sapi di Inggris diperoleh biakan sel hmfoblastoid yang infektif (Reid., 1975).

Di Indonesia, MCF pertama kali dilaporkan oleh Paszotta pada kerbau di Kediri pada tahun 1894, dan kemudian menyebar ke Madura, Lombok dan seluruh Jawa (Mansjoer, 1954). Selanjutnya, penyakit ini dilaporkan terdapat di seluruh Indonesia kecuali di Propinsi Irian Jaya, Maluku, Kalimantan Tengah, Barat dan Selatan (Partadiredja dkk., 1988).

Diagnosis baku kedua macam MCF hingga saat Ini masih didasarkan pada gejala klinik dan kelainan patologik (Liggiit dan Demartin, 1980; Plowright, 1984). Sementara itu, diagnosis secara serologik untuk SA-MCF belum dapat dikembangkan karena agen penyebabnya belum dapat diisolasi (Heuschele, 1983) . Di samping itu, upaya mengisolasi agen SA-MCF belum berhasil (Plowright, 1984) . Untuk mendiagnosis MCF dan mengetahui lebih jauh mengenai patogenesis dan epidemiologi dari SA-MCF disarankan untuk memanfaatkan teknik biologi molekuler, salah satu di antaranya adalah pemakaian teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) (Campbell, 1988; Daniels dkk., 1988; Flanagan dan Hoffman, 1988; Reid, 1988; Unruh dkk., 1988).

Salah satu keuntungan pemeriksaan penyakit MCF dengan menggunakan teknik PCR, yaitu dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyakit MCF secara dini tanpa harus membunuh hewan yang dicurigai terserang MCF. Keuntungan lain ialah teknik PCR merupakan uji yang sangat sensitif, spesifik dan cepat (Baxter dkk., 1993). Meskipun demikian, uji ini memerlukan biaya yang cukup mahal bila dibandingkan dengan uji identifikasi penyakit MCF secara konvensional.

PCR adalah suatu teknik sintesis dan amplifikasi asam deoksiribosa nukleat (ADN) secara in vitro. Proses tersebut mirip dengan purees mplikasi ADN in vivo. PCR membutuhkan template untai ganda yang mengandung ADN target (ADN yang akan diamplifikasi), enzim ADN polimerase, nukleosida trifosfat, dan sepasang primer oligonukleotida. Untuk merancang urutan nukleotida primer, perlu diketahui urutan nukleotida pada °awal dan akhir ADN target . Primer oligonukleotida tersebut disintesis menggunakan suatu alat yang disebut ADN synthesizer.

Prosedur PCR meliputi tiga tahap yang berurutan, yaitu tahap denaturasi template, tahap annealing (pengikatan) pasangan primer pada masing-masing untai ADN target dan tahap extension (polimerase) yang dikatalis oleh enzim ADN polimerase tahan panas. Setelah amplifikasi, produk PCR dielektroforesis menggunakan agarosa yang mengandung Ethidium Bromida. Setelah elektroforesis, fragmen ADN dilihat di bawah sinar ultra violet (Sambrook dkk., 1989).

Penelitian biologi molekuler pada MCF awalnya dilakukan terhadap WA-MCF, kemudian dikembangkan teknik PCR untuk deteksi virus AHV-1 (Shin dkk., 1988; Hsu dkk., 1990). Selanjutnya, teknik PCR dikembangkan untuk deteksi segmen ADN dari virus OHV-2 pada SA-MCF dan dipergunakan sebagai metode diagnosis penyakit MCF di Indonesia (Baxter dkk., 1993 ; Wiyono dkk., 1994) . Untuk mendeteksi agen penyebab MCF dengan teknik PCR dapat digunakan terhadap sampel yang diambil dari hewan yang diduga terinfeksi atau sebagai reservoir penyakit tersebut . Sampel dapat berupa sediaan usap mukosa mulut, inata, vagina domba atau folikel bulu hewan reservoir, sedangkan untuk hewan yang dicurigai terinfeksi penyakit MCF, sampel dapat berupa organ tubuh seperti limfoglandula, otak, hati, ginjal, komea mata, dan jantung, tanpa pengawet (segar) atau disimpan pada gliserin; dan sel darah putih perifer (Wiyono dkk., 1994; Wiyono dkk., 1995; Wiyono dkk., 1996).

Dalam uji PCR, penggandaan ADN dilakukan oleh tiga jenis primer, yaitu primer 555; 556; dan 755. Menurut Baxter dkk (1993) ketiga primer tersebut sangat spesifik untuk deteksi ADN OHV-2 yang termasuk dalam kelompok virus Herpes, tetapi tidak dapat digunakan untuk deteksi ADN yang berasal dari virus lain seperti bovine herpesvirus-I (BHV-1), bovine herpesvirus-4 (BHV-4), dan alcelaphine herpesvirus-I (AHV-1), walaupun ketiganya tergolong ke dalam virus Herpes  Dalam proses penggandaan ADN, digunakan mesin Thermal Cycle yang suhunya telah diprogram sedemikian rupa, sehingga sesuai untuk proses penggandaan ADN virus MCF (Baxter dkk., 1993). Program pengaturan suhu untuk penggandaan ADN meliputi 3 tahap, yaitu tahap denaturasi template ADN untai ganda (double stranded) ; tahap pengikatan primer (primer annealing) dan tahap extension (polimerasi) (Sambrook et al., 1989).

Dari penelitian tersebut dilaporkan bahwa dari biakan LCL yang diperoleh dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan vaksin rekombinan MCF. Dengan demikian, teknik PCR merupakan langkah awal untuk memulai penelitian variasi genetik terhadap agen penyebab penyakit MCF (OHV-2) pada sapi atau kerbau yang dicurigai terserang penyakit MCF di beberapa daerah di Indonesia . Dengan teknik tersebut, dapat diketahui persamaan atau perbedaan gelletik agen penyebab penyakit MCF tersebut di daerah yang satu dengan daerah yang lain .

Sumber :

Plowrigirr, W. 1984 . Malignant catarrhal fever virus : A lymphotropic herpesvirus of ruminants . G.’ Wittmann, R.M. Gaskell H.J . RwzA (Eds). In : Laten Herpesvirus Injections in Veterinary Medicine. Martinus Nijhof  Publisher. Boston.

Reid, H.W., W. Plowright, And L.W. Rowe. 1975 . Neutralizing antibody to herpesviruss derived from wildebeest and hartebeest in wild animals in East Afrika. Res. Vet. Sci.

Sanmrook, J., E.F . Fritsch, and T. Maniatis. 1989. Molecular Cloning- A Laboratory Manual. 2nd Ed. Cold Spring Harbor laboratory Press.


One response to “Ketika PCR mencicipi Malignant catarral fever (MCF)”

  1. veronica says:

    wahhh pengetahuan baru ni 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php