Burung Maleo

Burung Maleo secara Umum

Gambar 1. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) (Spencer, 2019)

Burung Maleo atau Maleo senkawor (Macrocephalon maleo) merupakan salah satu spesies burung endemik Indonesia yang hanya terdapat di Sulawesi dan Pulau Buton. Burung Maleo merukapan salah satu hewan yang berada pada zona peralihan yang dibatasi oleh Garis Wallace dan Weber. Burung ini memiliki habitat yang unik, yaitu tinggal pada daerah dengan sumber panas bumi seperti pantai berpasir panas atau pada pegunungan dengan sumber mata air panas atau kondisi geotermal tertentu. Spesies ini dapat diidentifikasi dengan ciri-ciri:

  • Bulu berwarna hitam, kulit di sekitar mata berwarna kuning, iris berwarna merah kecoklatan, kaki abu-abu, paru jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan.
  • Kepala jantan dan betina memiliki tanduk atau jambul keras berwarna hitam.
  • Betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding jantan.
  • Makanan berupa biji-bijian, buah, semut, kumbang serta hewan kecil lainnya.

Burung Maleo memiliki proses reproduksi yang unik. Telur Maleo berukuran 5 kali lebih besar daripada sang betina sehingga sang betina bisa jadi pingsan oleh proses peneluran tersebut. Telur Maleo tidak dierami oleh betina namun dierami oleh pasir selama kurang lebih 80 hari dan ditimbun sedalam setengah meter. Burung Maleo yang baru saja menetas harus merangkak keluar dari pasir dan tidak jarang anakan tersebut mati karena medan yang cukup berat, bahkan ada yang baru dapat keluar setelah 48 jam.

Taksonomi Burung Maleo

Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Galliformes
Famili: Megapodiidae
Genus: Macrocephalon
Spesies: Macrocephalon maleo

Faktor dan Ancaman Burung Maleo

Burung Maleo memiliki status konservasi endangered berdasarkan IUCN Red list. Jumlah dari spesies inijuga masih berkurang hingga sekarang. Faktor yang menyebabkan terancamnya burung ini adalah:

  • Anakan Burung Maleo banyak yang mati karena tidak bisa merangkan keluar dari pasir saat menetas.
  • Burung Maleo merupakan burung yang monogami sehingga jika pasangannya mati, Maleo tidak akan mencari pasangan yang baru.
  • Habitatnya yang berada hanya di Sulawesi dan Pulau Buton (zona peralihan) sehingga tidak dapat ditemukan di tempat lainnya lagi.
Gambar 2. Status Konservasi Burung Maleo (IUCN, 2016).

Ancaman juga merupakan salah satu penyebab lain Burung Maleo terancam punah. Ancaman seperti perburuan dapat menyebabkan populasinya kian berkurang. Perburuan Maleo dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti pangan, pengoleksian spesimen dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Habitat Burung Maleo yang kian sempit akibat gangguan oleh manusia seperti pertambangan, pembuatan jalan, penebangan hutan dan lainnya menyebabkan Maleo lebih terancam keberadaannya.

Action Plan

Burung Maleo yang terancam punah menyebabkan beberapa masyarakat memulai gerakan untuk mencegah terjadinya pengurangan populasi Maleo. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Maleo sebagai spesies yang dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Lembaga-lembaga seperti Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP) dan Pelestarian Alam Liar dan Satwa juga melakukan konservasi dengan membeli tanah perkebunan milik masyarakat untuk pembuatan hatcheries (bangunan peneluran) untuk dijadikan nesting ground burung Maleo. Action Plan yang akan saya lakukan sebagai mahasiswa Biologi adalah:

  • Memperkenalkan Burung Maleo pada masyarakat awam terutama masyarakat Indonesia, karena masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak tahu hewan endemik Indonesia ini.
  • Kampanye atau penyuluhan kepada masyarakat tentang status konservasi serta ancaman Burung Maleo pada masa yang akan mendatang.
  • Memperkenalkan lebih jauh Burung Maleo melalui buku paket sekolah atau pengenalan ke sekolah-sekolah, karena hewan ini sudah jarang dibahas oleh buku-buku maupun guru yang ada di sekolah.
  • Mempelajari dan mengetahui cara perkembang biakan hewan dengan ilmu bioteknologi seperti kloning.
  • Pengembangan taman nasional, suaka margasatwa hingga ekowisata Burung Maleo.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar KSBA Sulawesi Selatan. 2018. Identifikasi spesies kunci Sulawesi (Maleo – si anti poligami). http://ksdasulsel.menlhk.go.id/post/identifikasi-spesies-kunci-sulawesi-maleo-si-burung-anti-poligami. Diakses pada tanggal 9 Desember 2020.
Balantukang, B., Dumais, J. N. K. dan Kumaat, R. M. 2015. Partisipasi masyarakat dalam program konservasi maleo (Macrocephalon maleo) di Desa Mataindo, Kecamatan Pinolosian Tengah, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. ASE 11(2A):61-76.
IUCN. 2016. Maleo. https://www.iucnredlist.org/species/22678576/92779438. Diakses pada tanggal 9 Desember 2020.
Spencer, A. 2019. Maleo. https://ebird.org/species/maleo1. Diakses pada tanggal 9 Desember 2020

10 thoughts on “Burung Maleo”

  1. Artikel yang menarik, Maleo memang burung yang unik dia menyimpan telur di bawah tanah, Semoga Semakin Lestari !!

  2. Artikelnya lengkap sekali dan menarik sehingga dapat meningkatkan wawasan bagi pembaca mengenai burung maleo. Semoga action plannya dapat terlaksana ya. Semangat 🙂

  3. isinya menarik dan informatif, semoga penulis bisa memulai apa yang menjadi aksi konservasi yang sudah mulai direncanakan, semangat dan terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *