Martin Atu Lolon

Peti di Nusa Tenggara Timur

Sekilas dengan hanya melihat judul , memang rasanya tidak ada kaitan dengan hewan endemik sama sekali, bahkan terasa aneh dan menyeramkan. Namun, tunggu dulu .!  Jangan cepat berpresepsi,  peti yang dimaksud  disini  bukanlah,  peti yang digunakan untuk  menyimpan mayat atau barang – barang lainnya. Peti yang dimaksudkan  disini adalah Burung Madu Matari. Ya, burung Madu Matari ,  Si peti  dari Nusa Timur Tenggara Timur , yang oleh bahasa masyarakat lokal disana Peti artinya burung kecil. Jadi burung Madu Matari adalah burung kecil dari Nusa Tenggara Timur. Nah , dari julukannya sudah cukup jelas,bukan ?  Tapi jangan cepat puas masih belum apa – apa ,  kalau belum  mengetahui deskripsi morfologi dan  bioekologinya burung unik ini.  Misalnya seputar habitat , cara hidup dan adaptasinya yang cukup menarik.  Dari pada bikin  penasaran , Yuk mari  kita  kenalan dengan Si Peti  burung Madu Matari  ini  lebih mendalam !

Burung-madu matari termasuk dalam keluarga burung madu  ( Nectariniidae )  , atau  dalam bahasa lokal lebih dikenal dengan keluarga burung  kolibri. . Famili Nectariniidae merupakan golongan burung kicau yang gemar menyantap nektar pada putik bunga. Oleh karena itu, tak heran jika burung Madu Matari menyukai area yang rimbun, lebat dan penuh dengan bunga serta buah-buahan. Hal tersebut dikarenakan nektar bunga dan buah-buahan merupakan pakan utamanya.

mqdefault

 

 

 

 

 

 

 

Nama ilmiah dari  dari burung Madu Matari adalah Cinnyris solaris.  Adapun , klasifikasi ilmiah lengkap dari burung ini :

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Passeriformes
Famili: Nectariniidae
Genus: Cinnyris
Spesies: C. solaris
Nama binomial
Cinnyris solaris

 

Burung ini berukuran kecil (11 cm) , sesuai dengan julukannya “ Si Peti “ .  Ada dua ras yang tersebar terbatas di kawasan Nusa Tenggara, yaitu: Cinnyris solaris solaris ditemukan di wilayah Sunda Kecil yang meliputi Sumba, Komodo, Flores, Lomblen, Alor,  Timor, Semau, dan Rote ; Dan Cinnyris solaris exquisitus ditemukan di Pulau Wetar.

Kecantikan burung  Madu Matari terlihat dari warna bulunya  , selain ukuran tubuhnya yang mungil.  Yang  jantan pada ras solaris memiliki ciri – ciri : dahi, bercak-tenggorokan dan bercak-dada hijau biru mengkilap; dada jingga tua. Sedangkan , yang  betina  mirip dengan betina Burung-madu sriganti, tetapi warna kuning pada tubuh bagian bawah jauh lebih kusam.  Dan pada Ras exquisita memiliki berkas bulu pada perut jantan berwarna jingga, sedangkan tubuh bagian bawah betina kuning terang dan bukannya kuning-beleran.

Tak kalah dengan kecantikan bulunya, burung ini dilengkapi bentuk paruhnya  panjang meruncing yang berfungsi untuk  mengisap nektar dari putik bunga. Si Peti ini semakin elok  dengan  kaki kecilnya yang  hitam legam. Memiliki  tubuh yang mungil ia  terlihat  gesit , lincah , berterbangan , berpindah  dari satu dahan  bunga ke bunga  yang lain mencari nektar pada siang hari di taman – taman kota . Tampak indah , lucu dan sangat menggemaskan. Sungguh suatu suguhan pemandangan yang menyenangkan menjinakkan  hawa siang yang terasa menyengat.

Selain di taman – tman kota burung madu matari  juga cukup mudah ditemui di rumpun perdu, hutan monsun sekunder, tepi hutan, dan lahan budidaya. Dari permukaan laut sampai ketinggian 800 di sumba ,  1000 m di  Flores, dan 720 m di Timor. Selain itu , biasanya  mereka hidup berkelompok dalam menjalankan aktivitasnya mencari nektar dan saat sedang istirahat ataupun di alam liar.

Burung unik yang memiliki  tipikal setia pada pasangannya ini  , saat musim kawin tiba mereka akan menjadi agresif terhadap burung atau binatang lain yang berani mendekati sarangnya yang berisi telur-telur yang siap menetas. Sifat agresif ini tumbuh tak lain dari sifat alaminya yang setia kepada pasangannya termasuk dalam merawat anaknya ketika masih baru menetas. Sedangkan si betinanya akan membuat sarang yang dipersiapkan untuk menampung telur-telurnya yang siap menjadi anaknya nanti jikalau menetas. Biasanya sang betina akan membuat sarang dari rerumputan kering dan serat tumbuhan yang dipadu dengan jaring laba-laba sebagai perekat. Di dalam sarang yang berbentuk kubah menggantung itulah sang betina bertelur yang jumlahnya sekitar dua butir. Sementara, sang jantan bertugas mengawasi dan memastikan keamanan sarang dari para pengganggu serta membantu membesarkan anak.

Menurut data  dari    IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources)    sebuah organisasi internasional yang didedikasikan untuk konsevasi sumber daya alam status burung ini Resiko Rendah ( LC).  Namun sangat disayangkan keberadaan burung ini sekarang  di alam semakin menyusut akibat perburuan, padahal burung ini berjasa dalam penyerbukan.

Demikian informasi dan pengetahuan bioekologi seputar  burung Madu Matari. Bioekologinya  menarik , bukan ?

Tapi  memang diakui berbaringan dengan itu  , rasanya cukup memprihatinkan  dengan keberadaan burung  ini  yang sekarang  semakin terancam .

Nah , semoga  hati kita terketuk   untuk turut berpartisipasi dalam pelestarian  burung yang unik dan indah ini  ;  Agar burung  ini jauh dari kata punah  ;  biar masih bisa memanjakan bola mata kita  ; menemani  kita  dengan kicaun merdunya tatkala   lagi duduk santai di taman – taman kota.

Satu hal yang kita semua harus  ingat ! Kita tidak menciptakan alam  , alam yang sudah jadi ,  kita hanya memegang amanah untuk  menjaga kelestariannya , bukan untuk merusak atau malah  memusnahkannya karena  keegoisan kita.  Dengan menjaga kelestarian berbagai keanekaragaman hayati makanya itu  sebenarnya kita sedang  bersyukur  atas nikmat yang selama kita ini dapat dari alam untuk hidup.

 

Sumber : http://www.burungocehan.link/2014/05/cantiknya-burung-madu-matari.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Burung_madu_Matari

Burung Madu Matari, Si Kecil dari Nusa Tenggara


© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php