PENYU HIJAU (Chelonia mydas) | Personal Action Plan | Biologi Konservasi B

(Lusia Puji Nastiti / 180801929)

APA ITU PENYU HIJAU ?

Penyu hijau (Chelonia mydas L) merupakan jenis penyu yang paling sering ditemukan dan hidup di laut tropis. Tukik penyu hijau tergolong pemakan omnivora dengan memakan kepiting kecil, ubur-ubur, dan sejenis karang lunak (sponge), selain mengkonsumsi alga hijau dan lamun. Taksonomi penyu hijau yaitu
Kerajaan : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Reptilia
Bangsa : Testudinata
Suku : Cheloniidae
Marga : Chelonia
Jenis : Chelonia mydas Linnaeus

CIRI-CIRI PENYU HIJAU

Ciri morfologi penyu hijau yaitu memiliki tempurung punggung (karapas) yang terdiri dari sisik-sisik yang tidak saling tumpang tindih. Warna karapas pada bagian dorsal tukik penyu Hijau berwarna hitam, pada saat remaja warnanya menjadi coklat dengan radiating streak (bercak kekuningan yang menyebar) dan warnanya menjadi sangat bervariasi ketika sudah dewasa. Warna pada bagian centralnya (plastron) pada tukik adalah putih dan menjadi kekuningan pada saat dewasa.

Morfologi diagnostik yang membedakan penyu Hijau dengan penyu jenis lainnya adalah terdapatnya sepasang sisik prefrontal dan empat buah sisik postorbital pada area kepalanya. Penyu hijau memiliki panjang lebih dari 0,9 m sampai 1,5 m dengan berat mencapai 391,95 kg, dan memiliki cakar yang tajam pada kaki depannya. Pada masing-masing flipper penyu terdapat satu kuku dan flipper bagian depan lebih panjang dari pada bagian belakang.

SIKLUS HIDUP PENYU HIJAU

Secara umum siklus hidup penyu terbagi atas pantai peneluran, ruaya pakan dan ruaya kawin. Penyu dewasa mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mencapai usia produktifnya. Penyu dewasa hidup bertahun-tahun di satu tempat sebelum bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh.

Perkawinan penyu dewasa terjadi di lepas pantai satu atau dua bulan sebelum peneluran pertama di musim tersebut. Oviposisi berlangsung mulai dari sekali hingga beberapa kali dalam periode setahun. Penyu hijau bertelur lebih dari satu kali dalam satu musim bertelur (3-4 kali), dengan interval internesting kira-kira 2 minggu. Setelah selesai bertelur, penyu dewasa akan meninggalkan sarang dan telur-telurnya untuk kembali beruaya mencari makanan untuk kemudian melangsungkan kembali siklus hidupnya di laut.

PERINGATAN HARI PENYU SEDUNIA

Tanggal 23 Mei diperingati sebagai Hari Penyu Sedunia (World Turtle Day). Hal ini mulai dicanangkan pada tahun 1990, sebab populasi penyu sudah berkurang dan terancam punah. Menurut IUCN, status penyu hijau (Chelonia mydas L) yaitu endangered atau terancam punah dan populasinya decreasing atau menurun. Sehingga, penyu hijau (Chelonia mydas L) termasuk hewan yang dilindungi. Selain itu, penyu hijau termasuk dalam 6 jenis penyu yang dilindungi berdasarkan PP No.7/1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa.

MASALAH ATAU ANCAMAN YANG TERJADI ?

Ancaman yang menyebabkan semakin menurunnya populasi penyu hijau disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Dilihat dari faktor intrinsik siklus hidup penyu hijau, penyu dewasa mempunyai pertumbuhan yang sangat lambat dan memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mencapai usia produktifnya.

Faktor eksterinsik meliputi faktor alam seperti perubahan iklim, abrasi pantai, predator alamiah, sedangkan faktor antropogenik merupakan ancaman yang disebabkan oleh aktifitas manusia diantaranya pemanfaatan diarea pantai peneluran sehingga menyebabkan degradasi habitat dan pencemaran laut, seperti membuang sampah plastik ke laut.

Permasalahan lainnya yang terjadi pada saat ini karena adanya penangkapan induk penyu dan pengambilan telur penyu yang tidak terkendali karena seluruh organ tubuh penyu dan telur yang dihasilkan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Serta perdagangan seperti karapasnya sebagai cindramata yang juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

ACTION PLAN

Konservasi merupakan salah satu kegiatan yang diharapkan dapat mencegah punahnya habitat penyu, mencegah adanya pemanfaatan penyu demi kepentingan komersial seperti penjualan telur, daging, maupun cangkang dan dapat menjadi sarana berbagi ilmu atau edukasi kepada masyarakat secara luas tentang pentingnya konservasi penyu demi menjaga habitat penyu di Indonesia agar tidak punah.

Aksi penyelamatan saya terhadap penyu hijau yaitu pertama dengan menyebar luaskan tentang upaya pelestarian penyu agat pantai-pantai di Indonesia tetap bisa jadi tempat bagi penyu tersebut untuk naik ke daratan lalu bertelur. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan edukasi dan sosialisasi terhadap masyarakat setempat, anak-anak sekolah, sampai mahasiswa maupun masyarakat lainnya, bagaimana pentingnya konservasi terhadap hewan lindung seperti penyu hijau yang status konservasinya terancam punah. Kemudian memberikan penyuluhan tentang pentingnya dilakukan upaya pelestarian agar habitat penyu tetap terjaga dengan cara jangan membuang sampah plastik ke laut, jangan memakan daging penyu, jangan menangkap penyu untuk diperdagangkan.

Kedua, melakukan gerakan bersama untuk perlindungan dan penyelamatan penyu hijau seperti membuat aksi nyata dalam mengurangi sampah plastik. Sampah plastik yang dibuang ke laut akan merusak atau mengganggu kehidupan penyu dilaut.

Ketiga, bekerja sama dengan pihak pengelola pantai untuk melakukan pelestarian terhadap penyu dengan cara membuat peneluran penyu hijau dengan sistem semi alami. Penetasan penyu hijau menggunakan ruangan yang sudah disiapkan, dengan cara memindahkan telur penyu ke dalam wadah yang sudah berisi pasir agar mendapatkan kehangatan selama pengeraman. Hal ini dilakukan karena penetasan di luar ruangan atau di pantai akan mendapat banyak gangguan dari predator, selain itu bisa juga dengan melakukan pembuatan pagar di sekeliling lubang atau sarang penelura. Kemudian melakukan restocking tukik, jadi hasil penetasan telur selanjutnya diletakan dalam bak porselin yang sudah disediakan dengan media air laut dan diberi pakan buatan.

Keempat, dengan membuat kegiatan bersama dengan pengelola pantai untuk melakukan pelepasan tukik ke lautan. Jadi kegiatan ini ditujukan kepada masyarakat setempat, anak-anak sekolah, sampai mahasiswa maupun masyarakat lainnya yang ingin melepas tukik ke laut dari pinggir pantai. Pelepasan tukik ke laut bebas bertujuan agar tukik dapat kembali kehabitat aslinya dan tumbuh dewasa.

Oleh karena itu, mari kita menjaga kelestarian penyu hijau agar kita dapat melihat kembali penyu yang pulang ke pesisir pantai dengan membawa telur-telur mereka lagi. Jadi kita sebagai manusia yang cinta alam, selamatkanlah bumi ini dengan melakukan konservasi terhadap penyu hijau. Semua ini dilakukan untuk eksistensi populasi penyu hijau agar tidak punah, sehingga kita bisa bertemu dengan penyu hijau kembali di kemudian hari. SALAM LESTARI !

“One can measure the greatness and the moral progress of a nation by looking at how it treats its animals.”

-Mahatma Gandhi

Daftar Pustaka :

Srimulyaningsih, R., Priyono, A. Rachmawat, E. 2010. Potensi penyu hijau (Chelonia mydas L.) dan pemanfaatannya sebagai daya tarik wisata di Kawasan Pantai Sindangkerta, Kabupaten Tasikmalaya. Media Konservasi 15 (1): 21 –25.

Ario, R., Wibowo, E., Pratikto, I., Fajar, S. 2016. Pelestarian habitat penyu dari ancaman kepunahan di Turtle Conservation And Education Center (TCEC), Bali. Jurnal Kelautan Tropis 19 (1): 60 – 66.

https://www.iucnredlist.org/searchquery=Chelonia%20mydas&searchType=species

Aziz, B. 2016. Strategi adaptasi kelompok pengawas konservasi penyu Taman Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. AntroUnairdotNet 5 (2): 178 – 197.

Krismono, A. S. N., Fitriyanto, A. dan Wiadnyana, N. N. 2010. Aspek morfologi, reproduksi, dan perilaku penyu hijau (Chelonia mydas) di Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. BAWAL 3 (2): 93 – 101.

css.php