Actionplanlukas20

Upaya Konservasi Enggang Sumba

Posted: December 9th 2020
Julang Sumba: Mengapa Jenis Enggang ini Ada di Kepulauan Nusa Tenggara? :  Mongabay.co.id
Gambar 1. Enggang Sumba sedang bertengger (Mongabai,2015)

Pengenalan dan Persebaran

Rangkong/Enggang/julang adalah burung yang memiliki paruh yang besar dengan struktur tambahan yang disebut balung (cascue). Terdapat 3 jenis burung rangkong/enggang/ julang endemik di Indonesia yaitu Rangkong Sulawesi (Aceros cassidix), Kengkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus) dan Enggang Sumba (Rhyticeros everetti). Burung Enggang/ rangkong/ julang Sumba yang merupakan salah satu spesies rangkong/enggang/julang endemik di Indonesia. Burung dengan nama lain Sumba Hornbill dan nama latinnya Rhyticeros everetti ini memiliki habitat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Pulau Sumba. Sejatinya, Enggang Sumba tinggal di habitat hutan primer (hutan sepanjang tahun), hutan galeri, hutan monsun dan hutan yang berada di sekitar sungai. Biasanya burung Enggang Sumba mendiami pohon-pohon yang tinggi dan besar dan biasanya ditemukan juga dari dataran rendah hingga ketinggian 950 dpl.

Gambar 2. Persebaran Burung Enggang Sumba (IUCN, 2017)

Identifikasi Morfologi

Burung Enggang Sumba dikenal sebagai “Petani Hutan” karena burung ini memakan berbagai jenis biji-bijian di hutan lalu menyebarkannta ke seluruh wilayah hutan yang lain. Panjang tubuh burung ini yaitu 55cm- 70cm. Ciri khas burung Enggang Sumba yaitu memiliki ukuran yang lebih kecil dari enggang lainnya dan berwarna hitam serta ekor panjang dengan warna hitam. Kepala dan lehernya berwarna merah bata untuk jantan dan hitam untuk betina, dengan kulit tenggorokan berwarna biru, bentuk balung yang bergerigi dan paruh yang berwarna kuning pucat.

Rhyticeros everetti, Julang Endemik Pulau Sumba, NTT. | vian
Gambar 3. Burung Enggang Sumba betina (kiri) bersama burung Enggang Sumba Jantan (kanan) sedang bertengger bersama (Mongabai, 2015).

Pakan dan Perkembangbiakan

Burung Enggang Sumba merupakan burung pemakan buah. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, biasanya Burung Enggang Sumba memakan buah ara pencekik ( strangler fig). Burung enggang Sumba seperti aves pada umumnya yaitu berkembangbiak dengan cara bertelur.Namun pola perkawinan dan perkembangbiakannya belum diketahui pasti.

Status dan Ancaman

Hutan primer sebagai habitat utamanya kian berkurang, sehingga pergerakan Julang Sumba menjadi semakin sempit. Hal ini disebabkan oleh deforestasi dan kerusakan hutan, seperti alih fungsi lahan, pembakaran tak terkendali dan musim kering berkepanjangan. Dengan kata lain, penyelamatan hutan primer menjadi kunci untuk Julang Sumba bisa bertahan hidup di alam. Perburuan yang terjadi juga cukup memprihatinkan akibat adanya permintaan Julang Sumba untuk dijadikan hewan peliharaan dan dagingnya untuk dikonsumsi.

Berdasarkan IUCN, burung Enggang Sumba saat ini masuk dalam kategori /status rentan (vulnerable), karena populasi dan area sebarannya yang kecil.Populasinya di seluruh Sumba diperkirakan kurang dari sepuluh ribu individu. Meskipun perlindungan terhadap hutan dataran rendah di kawasan konservasi terus dilakukan, tetapi fragmentasi masih tetap terjadi di luar kawasan tersebut. Akibatnya, saat ini diperkirakan terjadi penurunan populasi burung yang dikenal dalam nama lokal goanggali ini hingga sekitar 30-49%.

Gambar 4. Kategori Ancaman Burung Enggang Sumba (IUCN,2017)

Upaya Konservasi

Penyelamatan/ upaya konservasi burung Enggang Sumba dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

1. Dengan mempertegas lagi peraturan perundang-undangan yang melindungi hewan langka dari perburuan liar. Di Indonesia, seluruh jenis rangkong dilindungi Undang-Undang melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 226 tahun 1931, Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, SK Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa Dilindungi, Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.

2. Penyelamatan hutan yang tersisa di Sumba dapat membantu menyelamatkan jenis ini dari kepunahan. Sebab, julang sumba sejatinya dapat dijumpai di semua tipe habitat berhutan di Sumba. Burung ini paling sering mengunjungi hutan dataran rendah dengan pohon-pohon besar dan bertajuk rapat, terutama yang berada dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanadaru (TNMT), salah satu kawasan yang memiliki populasi Julang sumba terbesar di Pulau Sumba.

3. Pemberian edukasi kepada masyarakat setempat mengenai pentingnya peran Enggang Sumba yang dapat membantu penyebaran bibit-bibit tanaman di hutan. Pemerintah harus memperkuat pengawasan juga terhadap pengelola juga masyarakat sekitar Taman Nasional dan kawasan hutan yang merupakan habitat dari Enggang Sumba .

Daftar Pustaka

IUCN BirdLife International. 2017. Rhyticeros everetti (amended version of 2016 assessment). The IUCN Red List of Threatened Species 2017: e.T22682535A117067987. https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2017-3.RLTS.T22682535A117067987.en. Diakses pada 09 Desember 2020.

Nur,R.F., Novarino,W., dan Nurdin, J. 2013. Kelimpahan dan distribusi Burung Rangkong (Famili Bucerotidae) di kawasan PT. Kencana Sawit Indonesia (KSI), Solok Selatan, Sumatera Barat. Jurnal Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung 1(1):231-236.

Rangkong Indonesia.2020. Julang Sumba. https://rangkong.org/enggang-di-indonesia/julang-sumba. Diakses pada 08 Desember 2020.

Situs Berita Lingkungan Mongabay. 2015. Julang Sumba: Mengapa Jenis Enggang ini Ada di Kepulauan Nusa Tenggara?. https://www.mongabay.co.id/2015/04/04/julang-sumba-mengapa-jenis-enggang-ini-ada-di-kepulauan-nusa-tenggara/. Diakses pada 09 Desember 2020.


13 responses to “Upaya Konservasi Enggang Sumba”

  1. mingge1964 says:

    Artikel yang menarik dan informasi yg disampaikan lengkap. Ditunggu actionplannya. Semangat

  2. ristaedo1953 says:

    Artikelnya lengkap dan menarik, semoga action plannya dapat terlaksana.

  3. Johan Rendra says:

    Artikel yang bagus dan menarik menambah wawasan tentang enggang sumba

  4. Regginamellia says:

    Wah bagus sekali artikelnya, informasinya juga sangat lengkap, sangat membantu menambah wawasan.ditunggu action plannya terlaksana

  5. nitaazmilia03 says:

    Uwaww keren sekali lucky sangat menambah wawasan dan informatif sekali, ditunggu realisasinya oke🤩👍

  6. Lilia99 says:

    Waw rencana yang bagus, semoga tercapai

  7. lilia99 says:

    Wah artikel yang menarik, semoga rencananya bisa terwujud

  8. Christiana Asmarani says:

    Perlindungan hutan asli lama kelamaan sangat sulit utk dilakukan. Apakah pembuatan hutan yg dibuat sedemikian rupa menyerupai habitat asli rangkong dapat mengatasi masalah tsb? Upayanya seperti apa seandainya harus mempertahankan hutan?

    • lukaslamakey1950 says:

      terima kasih atas sarannya. Menurut saya pembuatan hutan yang mirip dengan habitat asli burung Enggang Sumba juga bisa membantu perlindungan terhadap burung Enggang Sumba tersebut karena dapat melindunginya dari perburuan di daerah asalnya. Namun baik di habitat asli maupun bukan, tetap saja perlu usaha dari pemerintah maupun pengelola dan pengawas kawasan konservasi burung Enggang Sumba untuk mengawasi dengan ketat wilayah konservasi tersebut dan memberlakukan peraturan serta sanksi yang tegas kepada para pemburu liar.

  9. Lusia Puji Nastiti says:

    sangatt menarik dan informatif

  10. Elysia Ernestine says:

    semoga pengenalan terhadap perlindungan julang sumba dapat terlaksana di masyarakat dan masyarakat dapat peduli terhadap SDA disekitarnya

  11. Kismis says:

    Kak lucky bagus sekali semoga dgn artikel seperti ini dapat melestarikan satwa di sana dan melestarikannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php