Revolusi Perkebunan Sawit Rakyat

“DALAM EMPAT DASAWARSA, Indonesia berkembang menjadi produsen dan eksportir utama minyak sawit dunia. Selain itu, Indonesia juga berhasil memberi peran utama bagi petani kelapa sawit, yang pada 1982 menempati 2% menjadi 42% dari total area pada 2016,” ungkap Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, M.Ec., Menteri Pertanian periode 2000 – 2004, saat diwawancara AGRINA. Bagaimana perkembangan perkebunan sawit rakyat? Areal perkebunan rakyat yang awalnya hanya sekitar 3.275 ha pada 1990 menjadi 1,2 juta ha pada 2000. Dalam 15 tahun berikutnya, area kebun sawit petani kecil sudah mencapai 4 juta ha. Demikian juga produksi CPO kita meningkat dari sekitar 700 ribu ton menjadi 35 juta ton pada periode yang sama. Pesatnya pertumbuhan produksi CPO Indonesia menyebabkan kita menjadi produsen CPO terbesar di dunia sejak 2006 dan pada 2016 pangsa pasar minyak sawit kita mencapai 54%.

Ini bukan prestasi biasa. Prestasi sebesar ini unik dalam sejarah ekonomi. Negara berkembang pada dasarnya hampir semua produsen minyak sayur dan dikelola untuk mencapai status pendapatan me – nengah. Menurut saya, ini adalah pencapaian yang jauh mengalahkan Revolusi Hijau. Alasannya, ekspansi sawit ke daerah miskin dan terisolasi membantu mengurangi banyak daerah miskin dan menjadi lokomotif pertumbuhan lokal. Bukti petani kecil berpartisipasi adalah adanya pertumbuhan pendapatan dari produksi yang didistribusikan di antara masyarakat. Hal ini menyebabkan tercapainya status pendapatan menengah dibandingkan dekade sebelumnya. Peningkatan status tersebut juga menciptakan sejumlah besar lapangan pekerjaan baru yang tidak bisa benar-benar dicapai dalam Revolusi Hijau. Kebijakan penggunaan lahan sebelumnya sederhana saja, yaitu pertambangan diikuti dengan konversi konsesi lahan menjadi tanaman industri seperti HTI dan kelapa sawit.

Memang benar kebijakan berbasis pertambangan membuat banyak daerah menjadi kota hantu seperti yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan. Namun pengembangan sawit berbeda hasilnya. Bungaran Saragih Apa yang mendorong semua itu? Pengenalan sawit membuat perubahan menjadi lebih baik secara lokal yang seluruh prosesnya memakan waktu 35-40 tahun. Sementara Revolusi Hijau memakan waktu sekitar 20 tahun di Indonesia untuk proses modernisasi di pertanian. Revolusi kelapa sawit memakan waktu dua kali lebih lama. Ini juga terjadi selama restrukturisasi besarbesaran, yaitu dari ekonomi top down ke era desentrali – sasi. Di balik semua itu jelas, minyak sawit memberikan alternatif lebih murah dibanding minyak nabati di pasar global. Ekonom pertanian klasik akan mengatakan dengan puas, “Lihat itu keunggulan komparatif yang dime – nangkan Indonesia karena jelas Indonesia bisa meng – hasilkan minyak sawit lebih murah dari pesaingnya.” Pernyataan tersebut mungkin benar untuk saat ini, tapi apakah itu benar di masa depan? Tergantung banyak hal karena muncul banyak persaingan di pasar dunia dan ancaman internal terhadap industri ini. Proses jangka panjang persawitan nasional ini mengalahkan semua teori ekonomi. Seperti pada Rosenstein-Rodan’s yang berpikir, Dorongan Besar (Big Push) sebuah konsep untuk pemulihan dari Perang Dunia II di Eropa. Hal itu juga tidak mengikuti konsep Peroux yang mengatakan, pembangunan bisa diakibatkan oleh pembangunan kota yang melibatkan lingkungan pedesaan menjadi ikut dalam proses pembangunan. Di sisi lain, prosesnya menunjukkan dengan sangat jelas, investasi di bidang pertanian mungkin merupakan distribusi pendapatan terbaik dan paling efisien. Sedangkan produk olahan sawit juga menghasilkan nilai tinggi yang juga menunjukkan banyaknya kapasitas kewirausahaan di antara populasi petani sawit kita. Saya menghormati orang-orang yang hanya melalui sebuah visi tapi akhirnya menghasilkan pekerjaan untuk jutaan orang dan meningkatkan pendapatan bagi jutaan rumah tangga secara turun temurun dan bermanfaat dalam menciptakan orang desa terdidik. Mereka layak mendapat apresiasi dan penghargaan atas visi dan keuletan mereka, dan kompetensi mereka dalam menyusun sebuah kebijakan yang melibatkan pihak swasta dan pemerintah. Untung Jay