Yana_Likasta

Pemeran Utama Rasbora Tawarensis

Posted: December 5th 2014

index

Ikan Depik merupakan ikan endemik yang hidup di Danau Laut Tawar, ikan Depik memiliki ciri-ciri berikut: bagian belakang atau punggung ikan Depik berwarna hitam, tubuh ikan Depik berbentuk lonjong, bagian bawah atau bagian perut ikan Depik berwarna putih lembut. Ikan depik merupakan ikan favorit Orang Gayo (Aceh) dan dijadikan sebagai bahan baku kuliner tradisional Gayo, olahan dari ikan Depik ini yaitu dedah (ikan Depik yang direbus dengan berbagai rempah), pekasam (ikan Depik mentah di fermentasi dengan campuran nasi). Ikan Depik memiliki nama latin Rasbora Tawarensis, bentuk Ikan Depik kecil kira-kira berukuran 9 cm. Menurut Weber dan Beaufort (1916), ikan Depik bersifat bentopelagik Rasbora Tawarensis termasuk ke dalam kelas pisces (kelompok vetebrata yang hidup diperairan dengan menggunakan sirip, untuk bergerak dan menjaga keseimbangan tubuh, serta memiliki jumlah spesies yang beraneka ragam), subkelas teleostei, ordo ostariophysi dan termasuk family cyprinidae. Perutnya pipih membentuk siku, sambungan tulang rahang atas membentuk cekungan. Sirip punggung tidak berjari-jari keras, permulaan siripnya di tengah-tengah antara hidung dengan sirip ekor dan garis rusuk lengkap. Panjang batang ekor lebih dari dua kali tingginya, keping ekor dan sirip punggung mempunyai bercak hitam. Tubuh ikan Depik jantan lebih Kurus dari pada ikan Depik betina (Cholik, 1994).

Ikan Depik tidak muncul setiap saat, ada waktu-waktu tertentu ikan Depik muncul kepermukaan danau. Waktu-waktu munculnya ikan Depik sering disebut Orang Gayo dengan “musim depik”, musim ikan Depik datang dua kali dalam setahun yaitu diawal musim hujan dan di awal musim kemarau. Migrasi Ikan merupakan suatu pergerakan dan perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain yang bertujuan untuk melakukan penyesuaian diri terhadap kondisi alam yang menguntungkan hidupnya dan keturunannya. Ikan Depik juga melakukan migrasi, namun tidak diketahui secara pasti dalam jangka waktu berapa lama ikan Depik melakukan migrasi. Ikan Depik bermigrasi kemungkinan karena beberapa faktor berikut yang pertama yaitu arus; ikan Depik cenderung suka dengan air yang mengalir dan memiliki suhu sekitar 18°-23°C, dengan perilaku seperti ini maka ikan Depik akan berpindah tempat mencari arus yang mengalir. Musim juga menjadi salah satu faktor ikan Depik melakukan migrasi, ikan Depik hidup di dasar danau pada saat musim gelombang angin. Pada saat musim gelombang angin tersebut menimbulkan udara panas di dasar danau, sehingga ikan Depik akan mencari tempat yang memiliki suhu dingin sekitar 18°-23°, kemudian disaat itulah waktu ikan Depik bertelur (Muchlisin ,a 2010).

Menurut sejarah ikan Depik banyak legenda tentang asal muasal ikan depuk tersebut berikut salah satunya: ikan Depik muncul di Danau Laut Tawar bermula dari seorang pemuda Gayo dari Takengon yang merantau ke daerah pesisir Aceh. Pemuda tersebut merantau dalam waktu yang lama, sampai-sampai pemuda tersebut lupa akan kampung halaman dan bahasa asalnya yaitu bahasa Gayo. Lalu dia kembali ke kampung halaman dan meminang seorang gadis Gayo, dan pinangannya diterima pernikahan pun dilaksanakan dengan pesta besar. Setelah pesta selesai pengantin wanita melihat tanda-tanda di tubuh pengantin pria yang mirip dengan tanda-tanda yang diceritakan oleh ibunya. Dan ternyata yang menikahinya adalah abang kandungnya. Karena malu dan merasa kejadian tersebut adalah aib maka wanita tersebut berlari ke danau dan menaiki perahu dan sampai ke tengah. Seorang pengasuhnya bernama Bunga (bunge) melihat dan ikut menceburkan diri ke danau. Anggota kerabatnya merasa sedih dan sangat berduka lalu mereka membuang semua nasi dan sayur ke dalam danau. kemudian nasi tersebut menjadi ikan Depik dan pengantin wanita menjelma menjadi Peteri ijo (Putri Hijau) (Hurgronje, 1994).

Orang Gayo memiliki pengetahuan tersendiri dalam hal penangkapan ikan khususnya ikan Depik. Penangkapan ikan Depik dilakukan secara tradisional, ada dua teknik penangkapan secara tradisional yaitu penyangkulen, dan dedesen. Teknik penangkapan ikan dengan penyangkulen ini terbagi dari beberapa bagian yaitu cangkul,penuet, dan paruk. Cangkul adalah jaring yang berukuran panjang 4 m dan lebar 4 m , cangkul ini berfungsi sebagai penangkap ikan Depik. Hasil tangkapan yang diperoleh melalui teknik penyangkulen terlihat pada ikan Depik yang diperoleh, secara fisik ikan yang didapat tidak cacat dan di tubuh ikan Depik sering didapati telurnya yang masih utuh. Karena ikan Depik yang ditangkap dengan menggunakan doran (jaring) biasanya dalam kondisi fisik yang tidak baik seperti perut yang pecah. Dedesen terdiri dari batu yang sudah diatur memanjang seperti parit dengan ukuran 1×8 m dengan tinggi 1,5 m dan di tengahnya diletakkan segapa atau bubu. Segapa atau bubu biasanya terbuat dari jalinan bambu dan diikat dengan tali atau ijuk yang sudah dikelas atau diputar (Hurgronje, 1994).

lokasi

 

Gambar: lokasi penyebaran ikan Depik (Hurgronje, 1994).

Ikan endemik Danau Laut Tawar yaitu ikan Depik, berada dalam kondisi diambang kepunahan. Informasi mengenai kondisi ikan Depik ini diperoleh dari sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam isu-isu lingkungan dan konservasi ikan Depik dan ikan Kawan, atau The International Union for Conservation of Nature (IUCN) 1990. Organisasi ini telah mencantumkan ikan Depik dan ikan Kawan ke dalam daftar merah jenis ikan-ikan yang terancam punah (The Red List of Threatened Species). Ada beberapa faktor yang menyebabkan populasi ikan Depik menurun, yaitu nelayan mengeksploitasi ikan Depik tanpa memperhatikan populasi ikan Depik. Ditambah lagi dengan adanya doran atau jaring, maka semakin tidak terkontrol jumlah ikan Depik yang ditangkap atau disebut over fishing (Muchlisin ,b 2010).

Bisa dikatakan nelayan ikan Depik hanya menguras kekayaan Danau Laut Tawar yaitu ikan Depik, tetapi dalam hal ini kesalahan tidak dapat dilimpahkan secara penuh kepada nelayan. Karena alasan mengapa mereka mengeksploitasi ikan Depik, jawabannya yaitu karena ikan Depik tidak dapat dibudidayakan. Penyebab turunnya jumlah populasi ikan Depik karena masuknya doran atau jaring ke dalam sistem penangkapan ikan Depik dengan alasan, ikan-ikan yang terjaring adalah ikan yang akan bertelur dan ikan Depik yang masih muda atau bibitnya sehingga tidak dapat tumbuh dan berkembang. Sangat diperlukan dalam menangani hal ini adalah membatasi jumlah tangkapan ikan Depik agar mencegah terjadinya over fishing. Kemudian menjaga kelestarian Danau Laut Tawar dengan cara menjaga kebersihan di sekitar danau (tidak membuang limbah), tidak menebang pohon yang ada di sekitar danau. yang terakhir yaitu pemerintah, nelayan dan masyarakat di daerah setempat bersinergi untuk menjaga kelestarian Danau Laut Tawar.

Usaha yang dapat dilakukan untuk kedepan adalah :

  1. Dengan mengadakan hari peringatan menangkap ikan yang bertujuan untuk menjaga jumlah ikan Depik tetap ada, dengan memberikan jeda waktu tertentu untuk berreproduksikan sebelum diadakan “pemanenan” secara masal.
  2. Diadakannya penelitian untuk mencari solusi agar ikan depik dapat dibudidayakan.
  3. Diadakan kerjasama antara IUCN untuk ikut berpartisipasi dalam rangka memperkenalkan/memberi ilmu pengetahuan seputar konservasi dan kriteria spesies yang hampir, terancam dan punah. Secara berkelanjutan.
  4. Diadakan edukasi pada anak-anak dalam memperkenalkan dan menjaga hewan/tumbuhan endemik dengan media yang elektronik yang didalamnya terdapat bagaimana cara mengontrol salinitas, dampak sampah, cara memelihara ikan dan dampak kepunahan.
  5. Ajakan untuk orang tua untuk tetap menceritakan legenda asal muasal ikan depik, yang bertujuan agar para anak-anak tahu dan lebih menjaga populasi ikan depik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aceh Tengah Planning & Development Board, 2009. Aceh Tengah dalam angka.

Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten Aceh Tengah, Takengon.

Aceh Provincial Fisheries Department, 1989. Perikanan dalam angka. Laporan Tahunan

Dinas Perikanan Provinsi D. I. Aceh, Tahun 1988, Banda Aceh.

Cholik, S. and Anggraeni, M.S. 1994. Research and needs for integrated management of

Lake Tempe. AARD/FAO International Workshop in Sustainable Development of Tempe Basin, Ujung Pandang, Indonesia. 04 Desember 2014. 8 p.

Hurgronje C, Snouck.Gayo. 1994. Masyarakat dan Kebudayaannya (awal abad ke-20),terj.

Hatta Hasan. Jakarta.

IUCN, 1990. IUCN red list of threatened animal. IUCN, Gland and Cambridge.

Muchlisin, Z.A., Musman, M. and Siti-Azizah, M.N. 2010a. Spawning seasons of Rasbora

tawarensis in Lake Laut Tawar, Aceh Province, Indonesia. Reproductive Biology and Endocrinology. 8: 49.

Muchlisin, Z.A., Musman, M. and Siti-Azizah, M.N. 2010b. Length-weight relationships and

condition factors of two threatened fishes, Rasbora tawarensis and Poropuntius tawarensis, endemic to Lake Laut Tawar, AcehProvince, Indonesia. Journal of Applied Ichthyology. 26, 949-953.

Weber, Mdan L.F. de Beaufort. 1916. The Fishes of the Indonesian. Australia Archipelago.

Vol III. Laiden.


3 responses to “Pemeran Utama Rasbora Tawarensis”

  1. stefanicynara1983 says:

    Wau.. baru denger ada ikan seimut ini ya… wkwkwkwk.. informasinya menarik dan lengkap, ah, aku mau tanya, dari anda sendiri sebagai mahasiswi, apa rencana dari anda sendiri untuk menjaga populasi ikan depik yang lucu-lucu itu? ^_^

    • likasta0701 says:

      TIKA: terimakasi atas pertanyaan nya, Menurut sejarah ikan Depik banyak legenda tentang asal muasal ikan depuk tersebut berikut salah satunya: ikan Depik muncul di Danau Laut Tawar bermula dari seorang pemuda Gayo dari Takengon yang merantau ke daerah pesisir Aceh. Pemuda tersebut merantau dalam waktu yang lama, sampai-sampai pemuda tersebut lupa akan kampunghalaman dan bahasa asalnya yaitu bahasa Gayo. Lalu dia kembali ke kampung halamandan meminang seorang gadis Gayo, dan pinangannya diterima pernikahan pun dilaksanakan dengan pesta besar. Setelah pesta selesai pengantin wanita melihat tanda-tandadi tubuh pengantin pria yang mirip dengan tanda-tanda yang diceritakan oleh ibunya. Dan ternyata yang menikahinya adalah abang kandungnya. Karena malu dan merasa kejadian tersebut adalah aib maka wanita tersebut berlari ke danau dan menaikiperahu dan sampai ke tengah. Seorang pengasuhnya bernama Bunga (bunge) melihat danikut menceburkan diri ke danau. Anggota kerabatnya merasa sedih dan sangat berdukalalu mereka membuang semua nasi dan sayur ke dalam danau. kemudian nasi tersebutmenjadi ikan Depik dan pengantin wanita menjelma menjadi Peteri ijo (Putri Hijau) (Hurgronje, 1994).
      DEVI: makasi atas pertanyaan nya, mungkin usaha y6g akan aq lakukan ini dev:
      1. Dengan mengadakan hari peringatan menangkap ikan yang bertujuan untuk menjaga jumlah ikan Depik tetap ada, dengan memberikan jeda waktu tertentu untuk berreproduksikan sebelum diadakan “pemanenan” secara masal.
      2. Diadakannya penelitian untuk mencari solusi agar ikan depik dapat dibudidayakan.
      3. Diadakan kerjasama antara IUCN untuk ikut berpartisipasi dalam rangka memperkenalkan/memberi ilmu pengetahuan seputar konservasi dan kriteria spesies yang hampir, terancam dan punah. Secara berkelanjutan.
      4. Diadakan edukasi pada anak-anak dalam memperkenalkan dan menjaga hewan/tumbuhan endemik dengan media yang elektronik yang didalamnya terdapat bagaimana cara mengontrol salinitas, dampak sampah, cara memelihara ikan dan dampak kepunahan.
      5. Ajakan untuk orang tua untuk tetap menceritakan legenda asal muasal ikan depik, yang bertujuan agar para anak-anak tahu dan lebih menjaga populasi ikan depik.

  2. Sartika Laraswati says:

    Yana likasta…
    .ak mau tny, berdasarkan artikel di atas usaha yang akan kamu lakukan pada point ke-5 yaitu “Ajakan BAGI orang tua untuk menceritakan legenda asal muasal ikan depik, pada anak-anak unuk menjaga populasi ikan depik”
    ..nah yang ingin saya tanyakan,,,bagaimana cerita dari legenda asal mula ikan depik,,,karena saya belum pernah mendengar legendanya e 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php