Yana_Likasta

Trenggiling (Manis javanica)

Posted: September 9th 2014

Trenggiling (Manis javanica) merupakan jenis mamalia yang masuk dalam daftar jenis satwa dilindungi di Indonesia dan terdaftar pada Appendix II CITES (IUCN, 2008). Trenggiling merupakan salah satu satwa dipercaya dapat menjadi penawar bagi penyakit tertentu oleh masyarakat China, terutama sisik dan dagingnya (Hertanto, 2010). Sebagian kalangan meyakini trenggiling dapat dijadikan sebagai obat kuat dan makanan bagi masyarakat di pedesaan atau pedalaman di Kalimantan Timur (Zainuddin, 2008). Trenggiling merupakan satwa yang berasal dari Kingdom animalia; Filum: Chordata; Class: Mammalia; Order: Pholidota; Family: Manidae; Genus: Manis; dan Spesies: Manis javanica. Trenggiling dapat dikatakan memiliki kedekatan fisiologi dan morfologi dengan satwa yang tidak bergigi. Hal ini dikarenakan dalam adaptasi hidupnya, terutama dalam proses perolehan pakan trenggiling hanya menggunakan lidahnya.
Pada mengamatan morfologinya penampakan fisiknya, trenggiling betina lebih pendek dari trenggiling jantan (Payne, 1998) Trenggiling memiliki moncong dan hidung yang merupakan daerah sensitif dan aktif.

Gambar 1. Tringgiling jantan dan betina (farida, 2010).

Gambar 1. Tringgiling jantan dan betina (farida, 2010).

Trenggiling memiliki lidah yang panjangnya hampir sama dengan tubuhnya, mencapai 56 cm (Ruhyana, 2007). Lidah trenggiling mempunyai dua prinsip kerja yaitu memanipulasi makanan yang berada di mulut serta membantu dalam mengambil dan memilih makanan yang berasal dari lingkungan (Sari, 2007). Menurut Sari (2007), bahwa jenis makanan trenggiling merupakan makanan yang tergolong keras karena adanya lapisan kithin pada semut, sesuai dengan anatomi lidahnya yang dilapisi oleh keratin yang tebal untuk mengolah dan menyerap kithin.
Habitat dan penyebaran tringgiling bukan hanya ditemukan di Indonesia. Trenggiling juga terdapat di Malaysia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia trenggiling (Manis javanica) tersebar di pulau Sumatera, jawa, Kalimantan dan beberapa pulau kecil di kepulauan Riau, Pulau Lingga, Bangka, Belitung, Nias, Pagai, Pulau Natuna, Karimata, Bali dan Lombok ( Junandar, 2007).
Trenggiling memiliki habitat yang cukup luas. Ia dapat hidup di hutan primer maupun hutan sekunder. Tak jarang ditemukan dibeberapa perkebunan seperti perkebunan karet dan di daerah-daerah terbuka. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa trenggiling memiliki wilayah jelajah yang luas dan biasanya ia menempati sarangnya selama beberapa bulan saja. Sarang trenggiling selain terdapat di atas pohon, sarang trenggiling juga ditemukan di lubang-lubang yang berada dibagian akar-akar pohon besar atau membuat lubang di dalam tanah yang digali dengan menggunakan cakar kakinya. Namun tak jarang trenggiling ditemukan menempati lubang-lubang bekas hunian binatang lainnya. Pintu masuk ke lubang sarang selalu tertutup.
Prilaku Trenggiling (Manis javanica) merupakan binatang nokturnal yang aktif melakukan kegiatan hanya di malam hari. Pada siang hari trenggiling biasanya bersembunyi di lubang sarang, salah satunya ada yang berada di atas pohon. Dalam memperoleh pakan, trenggiling menggunakan indera penciumannya untuk mendapatkan mangsa. Sebelum menemukan mangsa, trenggiling biasanya membaui daerah yang diduga merupakan tempat bersarangnya mangsa. Kemudian ia menggali sumber pakan tersebut dengan menggunakan cakar depannya hingga mangsa keluar. Lidah trenggiling sudah bersiap-siap untuk menangkap mangsa saat mangsa sudah mulai keluar. Perilaku minum pada trenggiling tidak jauh berbeda dengan cara memperoleh mangsanya. Trenggiling mengeluarkan lidahnya dan memasukkannya kembali dengan cepat ketika minum (Nowak, 1999). Tak jarang, dalam aktivitas makannya di alam, trenggiling terlihat ikut memasukkan kerikil atau butiran pasir yang tidak terlalu halus ke dalam mulutnya. Menurut Nisa (2005), makanan yang dicerna di dalam lambung sepenuhnya dilakukan hingga menjadi halus dengan bantuan kerikil yang tertelan.

Gambar 2. Prilaku tringgiling diatas pohon(Farida, 2010).

Gambar 2. Prilaku tringgiling diatas pohon(Farida, 2010).

Menurut Farida (2010), biasanya trenggiling dapat menggali tanah untuk membuat sarang atau mencari makan dengan kedalaman 3,5 meter. Selain membantu menyuburkan dan menggemburkan tanah di dalam hutan, di Riau, trenggiling juga merupakan satwa pemangsa serangga perusak pohon seperti semut dan binatang halus lain yang sering menggerogoti pepohonan hingga mengalami pengeroposan. Keberadaan trenggiling ini yang secara tidak langsung dapat menjaga kelangsungan regenerasi ratusan jenis pepohonan yang ada di hutan Riau (EBN, 2010).
Secara ekonomi, trenggiling termasuk sumberdaya alam hewani yang memiliki nilai jual tinggi dipasaran internasional. Hal ini dikarenakan manfaat secara sosial dan budaya yang diberikan trenggiling seperti penyediaan protein hewani, kebutuhan sebagai obat tradisional, dan kepentingan permintaan lain seperti tonics di beberapa Negara. Sebagai satwa yang dilindungi (Appendix II CITES), trenggiling dilarang diperdagangkan kecuali dengan peraturan dan kuota tertentu yang ditetapkan oleh management authority (PHKA) dan scientific authority (LIPI). Permintaan terhadap satwaliar cenderung meningkat (Soehartono, 2003). Sehingga mendorong harga daging trenggiling per kilogram di pasar Internasional mencapai USD 600 (Hertanto, 2010). Namun menurut Martin (1996), harga satu ekor trenggiling di tingkat Internasional dapat mencapai puluhan juta atau seekor trenggiling hidup dijual seharga USD 2 per Kg. Di Indonesia, terutama di daerah-daerah yang memiliki daya ekonomi lemah, trenggiling malah dijual dengan harga yang cukup murah dari tangan pengumpul dan pemburu trenggiling lokal. Menurut Zainuddin (2008), di wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah trenggiling dihargai sekitar Rp 50.000,- per ekor. Sedangkan untuk trenggiling yang sudah dikuliti dapat dijual dengan harga tinggi, sekitar Rp 200.000,- sampai Rp 400.000,-.

Gambar 3. Fetus tringgiling (Semiadi, 2008).

Gambar 3. Fetus tringgiling (Semiadi, 2008).

Perburuan liar terhadap satwa ini semakin meningkat,sehingga populasi di alam menurunsecara drastis. Hal ini didorong dengan kondisi perdagangan trenggiling diIndonesia semakin marak sejak tahun2000-an dan informasi terbaru terjadi pada awal Mei 2012 di mana petugas Balai Karantina Kelas II Cilegon-Banten menemukan truk boks pendingin thermo king yang ditinggalkan oleh pemiliknya diarea parkir Pelabuhan Merak, berisi 4.124,12 kilogram daging beku trenggilingdan sisik 31,36 kilogram trenggiling(Hamzah, 2012). Temuan tersebut merugikannegara sebanyak 8,23 milyarterutama apabila sudah menjadi daging siap saji di rumah makan China.
Gambar 3. Tringgiling yang sudah dikuliti(Hertanto, 2010).
Gambar 3. Tringgiling yang sudah dikuliti(Hertanto, 2010).
Trenggiling termasuk salah satu satwa yang sangat rentan terhadap ancaman kepunahan. Trenggiling merupakan satwa yang mudah diburu karena jika mendapatkan bahaya, ia menggulung tubuhnya seperti bola dan memudahkan para illegal hunter menangkapnya. Selain itu, sebagai satwa pemanjat, perangkap dalam bentuk tempat panjat pun mudah dibuat dan trenggiling dapat dengan mudah terperangkap ditempat itu. Jika di luar habitat aslinya atau di penangkaran, trenggiling sulit beradaptasi. Selain itu, satwa ini juga sulit bereproduksi dan berkembangbiak di penangkaran (Lim, 2007).
Perburuan trenggiling telah dilakukan sejak beberapa dekade tahun yang lalu. Hal ini dapat dikatakan lazim sehingga ekspor trenggiling secara besar-besaran telah bertahun-tahun dilakukan. Sebagai contoh, Serawak-Malaysia mengekspor sebanyak 60 ton sisik trenggiling pada tahun 1958-1964 ( Shepherd 2008).
Perdagangan trenggiling saat ini masih diawasi. Ekspor trenggiling terbesar saat ini dilakukan ke Negara China (Semiadi et al. 2008). Hal ini dikarenakan bahwa di China, trenggiling dimanfaatkan sebagai makanan, obat tradisional maupun obat penguat (tonics) (Wu, et al., 2004; Liou, 2006). Shepherd (2008) menyatakan bahwa trenggiling merupakan salah satu jenis satwaliar yang paling sering dan paling banyak disita oleh aparat berwenang terkait dengan penyelundupan dan penjualan illegal. Di Vietnam, pada Maret 2008 yang lalu tertangkap sekitar 24 ton trenggiling beku yang berasal dari Indonesia. Pada bulan Juli 2008 juga ditemukan hasil sitaan polisi Sumatera sebanyak 14 ton pangolin.
Menurut Medway (1977), Sebanyak 60 trenggiling hasil tangkapan polisi perairan Polda Jambi di perairan Tanjung Jabung Barat pada pekan lalu dilepasliarkan kembali di hutan restorasi Harapan Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. trenggiling yang dilepasliarkan tersebut sempat dititipkan sementara di Kebun Binatang Taman Rimba Jambi. Puluhan trenggiling yang merupakan hewan langka dan dilindungi undang-undang tersebut akan dilepasliarkan di hutan restorasi di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, yang merupakan hutan dataran rendah di Provinsi Jambi. Pedagang yang membawa 18 ekor trenggiling pada salah satu kapal penumpang dari Mentawai ke Padang tertangkap oleh petugas.
Namun demikian, telah ada upaya penelitian mengenai trenggiling mulai dari morfologi, fisologi, dan beberapa data mengenai perilaku, dan reproduksi. Hanya saja, aktivitas pengelolaan secara keseluruhan dan contoh-contoh pengelolaan secara umum belum banyak diketahui. Di Sumatera Utara, khususnya daerah Sibolga dan Binjai, telah dilakukan upaya penangkaran trenggiling secara otodidak oleh seorang pengusaha China asal Medan. Penangkaran ini berdiri dengan motif ingin mengatasi maraknya perburuan trenggiling, membantu mengontrol perdagangannya di Sumatera Utara secara illegal dengan membeli trenggiling hasil tangkapan masyarakat setempat. Akan tetapi, dalam prakteknya, kegiatan penangkaran yang dikelola oleh UD. Multi Jaya Abadi tersebut belum banyak dilaporkan hasilnya.

 

 

Daftar pustaka

EBN [Era Baru News]. 2010. Spesies hutan Riau terus menyusut. Dalam: http://erabaru.net/nasional/50-jakarta/13986-spesies-hutan-riau-terus-menyusut[05 September 2014].
Farida WR. 2010. Trenggiling (Manis javanica Desmarest 1922), mamalia bersisik yang semakin terancam. Fauna Indonesia IX(1): 5-9. [05 September 2014].
Hamzah, E. (2012, Juni 15). Menteri Kehutanan musnahkan 12,7 ton trenggiling ilegal. Retrieved from http://www.tempo.co/read/news/2012/06/15/090410826/Menteri-Kehutanan Musnahkan-127-Ton-Tenggiling-Ilegal.
Hertanto, editor. 2010. Sejuta kilo daging trenggiling dijual. Dalam: http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/17/21594696/Sejuta.Kilo.Daging.Trenggiling.Dijual [11 Mei 2010].
IUCN. (2008, October 30). IUCN Red list of threatened species. Retreived from www.iucnredlist.org. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Junandar. 2007. Gambaran morfologi hati trenggiling (Manis javanica). [skripsi]. Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Lim NTL and Ng PKL. 2007. Home range, activity cycle and natal den usage of a female Sunda pangolin Manis javanica (Mammalia: Pholidota) in Singapore. Endangered Species Research. (4):233-240.
Martin EB and Phipps M. 1996. A Review of the Wild Animal Trade In Cambodia. TRAFFIC Bulletin Vol.16 No.2:45-60.
Medway L. 1977. Mammals of Borneo. Monographs of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 7:1-172.
Nisa C. 2005. Morphological studies of the stomach of Malayan Pangolin (Manis javanica). Bogor. Graduate school Bogor Agricultural University.
Nowak, R. (1999). Walkers mammals on the World (6th). Baltimore: Johns Hopkins University Press.
Ruhyana AY. 2007. Kajian morfologi saluran pernapasan trenggiling (Manis javanica) dengan tinjauan khusus pada trachea dan paru-paru. [skripsi]. Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Sari RM. 2007. Kajian morfologi lidah trenggiling (Manis javanica). [skripsi]. Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Semiadi G, Darnaedi D, Arief AJ. 2008. Sunda Pangolin Manis javanica Conservation in Indonesia: Status and Problems. In: Pantel S and Chin SY (ed.). 2009. Proceedings of the Workshop on Trade and Conservation of Pangolins Native to South and Southeast Asia, 30 June-2 July 2008, Singapore Zoo, Singapore. TRAFFIC Southeast Asia, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.
Shepherd CR. 2008. Overview of pangolin trade in Southeast Asia. In: Pantel S and Chin SY (ed.). 2009. Proceedings of the Workshop on Trade and Conservation of Pangolins Native to South and Southeast Asia, 30 June-2 July 2008, Singapore Zoo, Singapore. TRAFFIC Southeast Asia, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.
Soehartono T, Mardiastuti A. 2003. Pelaksanaan Konvensi CITES di Indonesia. Jakarta: Japan International Cooperation Agency (JICA).
Wu S, Liu N, Zhang Y, Ma G. 2004. Assessment of threatened status of Chinese Pangolin (Manis Pentadactyla). Chinese Journal of Applied Environmental Biology 10(4): 456-461.
Zainuddin H. 2008. Satwa jelmaan setan itu kini jadi barang dagangan. Dalam: http://www.antara.co.id/view/?i=1208940642&c=WBM&s= [09 September 2014].


5 responses to “Trenggiling (Manis javanica)”

  1. Sartika Laraswati says:

    Menurut saya, peran masyarakat sangat penting untuk menghentikan kegiatan ini dengan cara mengingatkan para pelaku perburuan liar, dan/atau dengan melaporkannya kepada pihak yang berwenang. Disis lain, Pihak yang berwenang tidak hanya tinggal diam saja, namun juga harus ada tindakan pembinaan, pencegahan, pengawasan dan memberikan sanksi-sanksi tertentu yang dapat memberikan efek jera bagi para pelakunya.

  2. stefanicynara1983 says:

    wah, infonya sangat menarik, bahkan saya baru tahu kalau ternyata daging trenggiling bahkan bisa dimasak dan dijadikan bahan baku di restoran china, nah, saya mau tanya nih, menurut anda sendiri secara pribadi, bagaimana cara untuk tetap menjaga kelestarian dari si trenggiling ini supaya nantinya ke depan hewan ini tidak punah? terimakasih.

  3. Junaidi Pratama says:

    Sangat mengerikan ada yang mengkonsumsi hewan ini. Semoga upaya penangkaran trengiling makin banyak di seluruh Indonesia..Agar hewan unik ini tidak cepat punah

  4. yuurie989 says:

    info ysng menarik.. di harapkan makin banyak orang yang peduli ke depannya mengenai hewan trenggiling ini.. sehingga perdagangan daging trenggiling dapat menurun dan populasi hewan ini meningkat kembali.

  5. alanpeter says:

    Kasihan ya nasib tringgiling. Tapi sepertinya jarang sekali ditemukan di Indonesia secara kasat mata. Semoga konservasi yang dilakukan dapat membuahkan hasil ya. Good Luck !

    visit saya punya : http://blogs.uajy.ac.id/alanpeter/2014/09/08/cendrawasih-merah-antara-kultur-eksploitasi-dan-konservasi/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php