Lidya Kristanti W

Bleeding Toad, Kodok Seram nan Eksotis

Posted: August 29th 2016

Hai hai!! Ada yang takut sama kodok?? Atau takut sama darah?? Kalau gitu kita simak bacaan berikut ya, biar kalau kalian lihat kodok dengan kulit seperti berdarah, kalian udah ga shock lagi. Hmm.. Kira-kira seperti apa sih binatang tersebut? Seperti ini nih..

Hasil gambar untuk bleeding toad

Cukup unik kan?? Katak tersebut bernama Bleeding Toad (Leptophryne cruentata), atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan katak berdarah. Mari kita simak klasifikasi katak darah :

Kerajaan           : Animalia

Filum                 : Chordata

Kelas                 : Amphibia

Bangsa              : Anura

Suku                  : Bufonidae

Anak Suku       : Adenominae

Marga               : Leptophryne

Jenis                  : Leptophryne cruentata

Berdasarkan gambar tadi, kita dapat melihat beberapa ciri-ciri dari katak berdarah ini, yaitu ukuran tubuhnya yang ramping, bagian atas kepala tidak ada alur tulang, moncong meruncing, ujung jari tangan dan kakinya membengkak, bagian punggung terdapat bintik-bintik kecil, dan bagian perutnya halus dengan sedikit bintik-bintik kecil.  Ukuran dari katak jantan dewasa dan betina dewasanya berbeda loh, yaitu sekitar 20-30mm untuk katak jantan dewasa dan 25-40mm untuk katak betina dewasa. Selain itu, katak jantan dan betina dapat dibedakan berdasarkan kantung suara dan tonjolan pada ibu jari. Katak jantan mempunyai kantung suara dan tonjolan jari pertama berwarna hitam, pada beberapa individu dijumpai pada jari kedua.

Sudah cukup jelas bukan mengenai ciri-ciri katak ini?? Berikut kita bahas seputar habitat dan status konservasinya yuk..

Katak berdarah memiliki habitat di kantung-kantung air dari sungai kecil berbatu dengan arus cukup deras yang terdapat pada hutan primer. Jenis katak ini lebih aktif di malam hari, namun kita jg dapat menjumpainya pada siang hari ketika katak ini sedang mencari makan di bawah rerimbunan semak tepi sungai. Katak berdarah ini merupakan hewan endemik Jawa Barat lho.. Katak jenis ini biasanya ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Selain daerah persebarannya yang sempit, populasi katak darah ini juga menurun drastis, sehingga tidak mengherankan memang kalau IUCN Redlist memasukkannya ke dalam daftar spesies dengan status critically endangered. Ini nih buktinya kalo katak berdarah itu termasuk critically endangered..

Sebenarnya, katak berdarah ini dulu jumlahnya sangat melimpah loh.. Tapi itu dulu, sekitar tahun 1976. Barulah pada tahun 1987 yang juga saat dimana Gunung Galunggung sudah meletus, katak ini mulai jarang ditemukan, dengan kata lain mengalami penurunan populasi. Kasian ya.. Semenjak itu, pencarian yang ada menunjukkan bahwa pada tahun 1990-an hingga 2003 hanya ada 1 ekor katak berdarah yang ditemukan di sekitar air terjun Cibeureum.. Dapat disimpulkan nih, bahwa penurunan populasi kodok merah diakibatkan karena banyak kodok yang mati saat Gunung Galunggung meletus dan faktor habitat akibat letusan gunung yang sudah tidak mendukung kehidupan kodok darah, serta statusnya di Indonesia yang belum termasuk dilindungi meskipun termasuk hewan langka.

Berdasarkan status katak tersebut, perlu banget nih dilakukan upaya konservasi atau upaya lainnya untuk melestarikan katak ini. Pada PP no. 7 tahun 1999, Leptophryne cruentata atau katak berdarah ini belum dimasukkan oleh pemerintah ke dalam kategori hewan yang dilindungi. Sayang banget ya… Jadi belum ada tempat konservasinya nih.. Tapi jangan khawatir, karena keberadaan katak berdarah ini masih bisa kita temukan kok di taman nasional, seperti yang sudah disebutin di atas, yaitu Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Oleh karena itu, kita sebagai bangsa Indonesia harus memiliki kepedulian terhadap kelestarian hewan di Indonesia, terutama yang endemik seperti katak berdarah ini.. Gimana ya kira-kira caranya?? Yaa langkah awalnya kita harus ikut mendukung konservasi katak berdarah yang (mungkin) suatu saat akan ada orang yang mengadakannya.. Syukur-syukur kalo kita jadi pencetusnya, ya kan? Oya, satu hal juga yang penting, kalo kita nemu katak jenis tersebut, jangan dibunuh, diinjak, atau diburu, melainkan dibiarkan hidup supaya ga punah.. Hehe..


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php