Thompson's

Banteng

Posted: May 27th 2013

Banteng yang ada di dunia terbagi menjadi tiga sub species, dan di Indonesia hidup 2 sub species yaitu Bos javanicus javanicus dengan sebaran alami di Pulau Jawa, dan Bos javanicus lowi di Kalimantan. Sub species Bos javanicus birmanicus dijumpai di daratan Asia yang meliputi Myanmar, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Laos. Perbedaan ke tiga sub species tersebut dapat dilihat pada warna dan ukuran tubuh (Halder, 1978). Secara umum ukuran banteng Jawa lebih besar daripada banteng Asia, sedangkan banteng Kalimantan memiliki ukuran tubuh yang paling kecil (Hoogerwerf, 1970).

Alikodra (1987) menyatakan bahwa Banteng merupakan satwa diurnal. Pada daerah yang tingkat gangguannya tinggi, sering dijumpai Banteng aktif di malam hari (nocturnal). Di Thailand saat musim kawin berlangsung, Banteng berpasangan pada bulan Mei sampai dengan Juni. Beberapa jurnal menyebutkan bahwa Banteng ditemukan menjelajah, bersarang dan memamahbiak pada interval waktu tertentu. Banteng memanfaatkan semak belukar sebagai tempat beristirahat.

Air memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan satwaliar yang digunakan untuk minum. Oleh karena itu, selain makan, air juga harus tersedia pada daerah jelajah dalam keadaan bersih (Alikodra 1983). Keduanya menjadi faktor pembatas populasi satwaliar. Van Lavieren (1983) mengatakan bahwa populasi satwaliar dipengaruhi oleh faktor-faktor: pemangsaan, kompetisi, penyakit, bencana dan upaya pengendaliannya.

 

Potensi dan sebaran

Banteng (Bos javanicus d’Alton, 1823) tergolong dalam jenis sapi liar (wild cattle) yang dikategorikan sebagai endangered species (Timmins et al., 2010). Jenis ini juga dikenal dengan nama Tembadau di Kalimantan. Sebaran alami banteng meliputi kawasan Asia Tenggara, mulai dari Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam dan Kamboja sampai ke Yunan China, serta Pulau Kalimatan dan Jawa di Indonesia. Sementara itu, banteng dinyatakan telah punah di Semenanjung Malaysia (Francis, 2008). Di Indonesia, banteng merupakan mamalia besar selain badak jawa (Rhinoceros sondaicus sondaicus) untuk di Pulau Jawa, dan gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) di Pulau Kalimantan.

 

Banteng termasuk jenis satwa yang mudah beradaptasi, dan dapat hidup pada tipe-tipe habitat yang berbeda, seperti di kawasan dengan curah hujan yang sedikit dan terkonsentrasi pada bulan-bulan tertentu dengan jangka waktu yang pendek, di hutan musim yang menggugurkan daun (deciduous monsoon forest), serta di padang rumput. Banteng juga dapat hidup di lokasi dengan curah hujan tinggi yang didominasi oleh hutan hijau sepanjang tahun (ever green forest). Di daratan Asia, pada umumnya banteng menyukai hutan bambu dan hutan musim yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae. Di Myanmar, banteng ditemukan baik di hutan monsoon maupun hutan hijau sepanjang tahun (Timmins et al., 2008).

Banteng memiliki nilai budaya dan ekonomi yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Catatan tentang interaksi antara manusia dan banteng dapat ditemukan pada Kakawin Nagaraktragama karangan Prapanca pada tahun 1365 Masehi. Bagi bangsa Indonesia, banteng juga merupakan simbol nasionalisme, contohnya logo kepala banteng dipilih sebagai simbol partai. Banteng adalah tetua dari sapi bali (Bos javanicus f. domestica), yang pada awalnya dibudidayakan baik di Jawa maupun di Bali, meskipun tidak ada data yang pasti sejak kapan banteng tersebut didomestikasi. Sebagai catatan, domestikasi sapi di Asia bagian tengah dan selatan dimulai sekitar tahun 6.000 sampai 2.000 Sebelum Masehi.

Menurut De Haan, penangkapan terhadap banteng untuk digunakan sebagai tenaga kerja pada perkebunan kopi masih terjadi di Jawa Barat sampai dengan abad ke-18 (Hoogerwerf, 1970; Meijer, 1962). Penyilangan antara banteng dan zebu (Bos taurus) yang berasal dari India telah dilakukan sejak 1.500 tahun yang lalu di Jawa Timur dan Madura. Sebagai hasilnya adalah sapi madura (Meijer, 1962; National Research Council, 1983; Nijman et al., 2003). Banteng merupakan sumber daya genetik yang sangat berharga karena toleransinya yang tinggi terhadap pakan dengan kualitas rendah, lingkungan yang lembab dan panas pada musim hujan, serta terhadap kondisi kering dan panas pada musim kemarau (National Research Council, 1983).

 

Tabel 1. Penyebaran habitat banteng di Pulau Jawa

No.

Lokasi

Luas (Ha)

Estimasi populasi

(individu)

Sumber data

1.

Semenanjung Ujung Kulon, TN Ujung Kulon

30.000*

Th 1937: 200-250

Th 1970: Max. 200

Th 1997: 905

Hoogerwerf, 1970

Halder, 1976

Sensus terpadu Balai TNUK, Institut Pertanian Bogor (IPB)

2.

Cagar Alam Cikepuh-Cibanteng

8.000

Th 1970: 300

Th 1985: 139

Th 1988: 150

Th 2003: 25-65

Kompas 4 November 2003

Kompas 4 November 2003

Ashby & Santiapillai, 1988

Kompas 4 November 2003

3.

Bonjonglarang-Jayanti

750

Tidak tersedia data kuantitatif, namun pada tahun 1988 tercatat ada populasi banteng Ashby & Santiapillai, 1988

4.

Cimapag

?

Tidak tersedia data, tercatat ada sampai tahun 1970 Hedges and Tyson 1996

5.

Cagar Alam Leuweng Sancang

4.150

Th 1988: 200

Th 2000: 10

2003: punah

Ashby and Santiapillai 1988

Kompas 28 November 2003

Kompas 28 November 2003

6.

Cikamurang

?

Tidak tersedia data, tercatat ada sampai tahun 1970 Hedges and Tyson 1996

7.

Cagar Alam Pananjung Pangandaran

500

Sampai tahun 1974: 130 Th 1980: 80

Th 1988: 10

Ashby and Santiapillai 1988

Ashby and Santiapillai 1988

Ashby and Santiapillai 1988

Diduga telah terjadi percam-puran genetik dengan Bos indicus pada populasi ini (Whitten et al., 1996)

8.

Kediri

?

Tidak tersedia data, tercatat ada sampai tahun 1970 Hedges and Tyson 1996

9.

Pantai Blitar

Th 1988: 12 Ashby and Santiapillai 1988

   

10.

Pantai Malang

(Lebakharjo?)

?

Th 1988: 6

Th 1995: ada (tidak ada data kuantitatif)

Ashby and Santiapillai 1988

Santosa, 2004

11.

Taman Nasional Meru Betiri (TNMB)

58.000

Th 1986: 65

Th 1989: 124

Th 1997: 128

Th 2002: 147

Th 2007:174

Ashby and Santiapillai 1988

Survei Balai TNMB, 1989

Survei Balai TNMB, 1997

Survei Balai TNMB, 2002

Survei Balai TNMB, 2007

12.

Taman Nasional Alas Purwo

43.420

Th 1993: 300-400

Th 2002: 80

Hedges and Tyson 1996

Survei Balai TNAP, 2002

13.

Taman Nasional Baluran

25.000

Th 1970: 150-200

Th 2002: 206

Th 2003: 70-100

Th 2007: minimum 20

Halder, 1976

Pudyatmoko, 2005

Pudyatmoko, 2005

Survei Balai TNB, 2007

 

 

 

Tabel 2. Penyebaran habitat banteng di Pulau Kalimantan

No.

Lokasi

Estimasi populasi

(individu)

Sumber data

1.

Kabupaten Lamandau/ Kalimantan Tengah

Tidak tersedia data kuantitatif, populasi tersebar di beberapa desa

Yayasan Orangutan Indonesia, 2007

2.

Taman Nasional Kutai

1989: 48 ekor

1993: 40 ekor

2002: 34 ekor

2003: 34 ekor

Balai TNK, 2003

3.

Taman Nasional Kayan Mentarang

2008: 72 ekor

2009: 40-50 ekor (untuk lokasi Long Tua, perlu assesment lebih lanjut di lokasi lainnya di TN Kayan Mentarang)

Balai TNKM, 2008

4.

Kabupaten Nunukan

Tidak tersedia data kuantitatif

Workshop Banteng Nasional, 2009

5.

Kabupaten Malinau

Tidak tersedia data kuantitatif

Workshop Banteng Nasional, 2009

6.

Kabupaten Berau

Tidak tersedia data kuantitatif

Workshop Banteng Nasional, 2009

 

Pengelolaan dan permasalahan

Pengelolaan populasi banteng dapat dilakukan dengan konservasi eks-situ, yang sangat bermanfaat untuk membantu mengembalikan populasi yang ada di alam, bila terjadi penurunan yang sangat drastis ataupun kepunahan lokal. Selain itu, konservasi eks-situ juga bermanfaat sebagai sarana pendidikan dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya pelestarian banteng. Di dalam pengelolaan populasi eks-situ berbagai usaha perlu dilakukan agar populasi yang dipelihara dapat terjaga variabilitas genetik dan keseimbangan secara demografis. Oleh sebab itu program-program kerjasama penangkaran (captive breeding) baik nasional maupun internasional oleh institusi ataupun lembaga konservasi yang memiliki banteng perlu dikembangkan. Program ini sulit dilakukan tanpa tersedianya studbook banteng yang dapat menyediakan data geneologi masing-masing individu banteng di eks-situ. Tanpa data yang lengkap maka tidak dapat dirumuskan rekomendasi menyangkut hewan-hewan mana saja yang harus dikawinkan atau ditukarkan untuk memperbaiki kualitas genetik populasi. Sebagai informasi untuk menjaga 95% keanekaragaman genetik banteng dibutuhkan paling sedikit 60 ekor induk banteng yang tidak berkerabat, dimana kemudian dapat dikembangbiakkan sampai dengan 300 ekor untuk masing-masing sub species (IUCN Conservation Breeding Specialist Group)

Di Indonesia, populasi serta habitat banteng terus menurun. Ancaman utama terhadap banteng adalah kerusakan dan konversi habitat, perburuan liar, penyakit dan hibridisasi dengan sapi ternak, kemungkinan terjadinya inbreeding depression, serta adanya predator seperti ajag (Cuon alpinus) yang juga termasuk endangered species. Perubahan iklim global sampai saat ini dinilai berpengaruh namun belum diketahui secara pasti dampak dari perubahan iklim global tersebut. Untuk di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), potensi ancaman lain adalah adanya kompetisi ekologi dan relung pakan badak jawa dan banteng di TN Ujung Kulon (Mulyati, 1998; YMR, WWF, Dephut, 2002; UGM). Ancaman lain adalah perburuan terhadap banteng yang merusak lahan pertanian dan perkebunan terutama di Jawa Timur (Hedges, S. and Meijaard, E. 1999) dan belum jelasnya kebijakan nasional dalam pengelolaan populasi banteng yang berada di dalam hutan produksi dan perkebunan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jawa Timur (2010) mencatat bahwa sejak tahun 2001 tidak kurang dari 15 banteng yang mati akibat konflik di Kabupaten Banyuwangi di luar kawasan konservasi.

 

Pengelolaan berkelanjutan

Berdasarkan uraian diatas disadari bahwa keberhasilan perlindungan banteng hanya dapat dijamin apabila semua pemangku kepentingan memiliki komitmen yang tinggi. Pemangku kepentingan yang diperlukan dukungannya dalam konservasi banteng adalah Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, Perum Perhutani, perusahaan perkebunan dan kehutanan, pemegang IUPHHK Alam/ Tanaman, lembaga konservasi, perhimpunan kebun binatang se-Indonesia, lembaga swadaya masyarakat, serta institusi penelitian, dan pendidikan.


One response to “Banteng”

  1. isda says:

    tulisan disingkat aja contoh penyebaran habitat banteng di satu daerah aja.
    paragraf 2 dan 3 gk nyambung. gk berkaitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php