LEONARDUS.ADY.NUGROHO

Monyet Kedih – akankah berakhir “PEDIH”.????

Posted: September 7th 2014

Monyet Kedih termasuk Hewan Langka Gimana pernah melihat monyet pemilik rambut mohawk ini.? keren bukan.. si pemilik nama latin Presbytis Thomasi atau nama latin umum lebih dikenal dengan Thomas Leaf Monkey. Sebutan lokalnya sendiri memiliki bermacam-macam nama, ada yang menyebutnya dengan nama lutung rungka, bodat atau kek-kia. Namun menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia nama primata ini umumnya disebut Monyet Kedih.

Monyet ini penduduk asli pulau Sumatera tepatnya di daerah Aceh. Pertama kali Kedih ditemukan di Aceh dan bagian utara Pulau Sumatera, yang berada tidak jauh dari Sungai Wampu dan Simpangkiri. Penyebaran Monyet Kedih dapat kita temukan di kawasan hutan Aek Nauli sampai Suaka Marga Satwa Rawa Singkil di Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam. Selain itu, data penelitian menunjukkan bahwa penyebaran Monyet Kendih yang paling banyak populasinya berada di Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser terutama di Bahorok.

                                      Monyet Kedih Asli Sumatera

Monyet ini menjelajahi hutan mencari buah dan bunga, dan kadangkala juga makan siput, jamur, serta batang kelapa. Spesies ini kurang dikenal dibandingkan dengan beberapa primata lain di dunia. Secara alami, mereka biasanya hidup berkelompok dengan jumlah sekitar 10 ekor kedih, meliputi satu jantan dan enam betina, ditambah beberapa anak-anaknya. Seperti spesies hewan kebanyakan, spesies jantan selalu melindungi kelompoknya dari ancaman spesies lain atau pun dari intervensi Kedih jantan lain. Monyet Kedih memiliki perilaku yang unik, salah satunya yaitu suara vokal yang kuat dan tiap-tiap kelompok Kedih dapat mengenali anggota kelompok masing-masing dengan suara vokalnya tersebut. Biasanya, pada malam hari sering terdengar suara monyet Kedih yang bersaut-sautan guna mengumpulkan para anggotanya setelah mereka menjelajah area hutan.

Seperti banyak tetangganya di Sumatera macan, gajah, badak, dan orangutan sebagai contoh kedih terancam oleh kerusakan habitat. Perusakan hutan untuk penebangan, pulp dan kertas, serta minyak kelapa sawit telah menyebabkan hilangnya populasi kedih sebanyak lebih dari 30 persen dalam 40 tahun terakhir. Sekarang spesies ini dikategorikan Rentan oleh IUCN Red List. Namun tenang saja teman-teman monyet kedih ini sudah di konservasi di taman nasional sumatera. tenang bukan berarti bersantai-santai tentang statusnya yang di konservasi, kita juga harus tetap menjaga lingkungan terutama tempat tinggal bagi hewan-hewan yang hampir punah. apa kalian tahuu.????
Sumatera telah kehilangan hampir 10 persen hutannya dalam delapan tahun terakhir, membahayakan ribuan spesies dan melepaskan simpanan karbon yang besar.

 Kedih di Sumatera. Foto oleh: Rhett A. Butler.   Kedih di Sumatera. Foto oleh: Rhett A. Butler.

Dampak terjadinya perusakan hutan di Sumatera menjadikan habitat alami monyet Kedih terganggu. Oleh karena itu, beberapa Kedih terkadang menjelajah untuk mencari makanan sampai ke daerah perkebunan milik penduduk. Penduduk sekitar menganggap monyet Kedih sebagai hama perusak. Sebenarnya siapa yang mengganggu dan perusak???

                                                                         

Daftar Pustaka

Anonim. 2014. Monyet Kedih Primata Asli Indonesia. Go Sumatera.

Hance. 2012. Picture Of The Day Hewan Yang Kurang Dikenal Kedih. http://indonesia.mongabay.com/news/2012/id1006-thomassleafmonkey-pod.html

Foto By Rhett A. Butler.


2 responses to “Monyet Kedih – akankah berakhir “PEDIH”.????”

  1. yudharyanjanshen says:

    Nice posting!!
    Ternyata masih banyak spesies monyet yang terancam punah yaa
    Apakah monyet Kedih ini terancam dikarenakan habitatnya saja?? atau adakah pemburuan dan aspek-aspek lain yang menyebabkan monyet ini diambang kepunahan??

    • leonardusady says:

      monyet ini terancam punah yang paling tinggi karena disebabkan oleh pengalihan fungsi hutan menjadi perumahan warga. untuk aspek lain monyet ini sering di buru karena mengganggu perkebunan warga, tapi sebenarnya mereka datang ke perkebunan warga karena memang tempat tinggal mereka yang sudah semakin berkurang karena ulah manusia ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php