Leo punya, silahkan baca

Masihkan Orangutan Kalimantan dianggap sama dengan Orangutan Sumatera?? “Molekuler” dapat menjawab..!!

Posted: September 9th 2014

Orangutan… Nama tersebut mungkin diberikn karena hewan ini menyerupai manusia (orang) dan tinggal didalam hutan, sehingga nama mereka menjadi Orangutan (Orang Hutan). Saya dibesarkan dikota Sampit, Kalimantan Tengah, dimana di hutan pedalaman sekitar Sampit masih banyak Orangutan yang berkeliaran (ketika itu tahun 2004, sebelum maraknya perkebunan kelapa sawit). Ketika saya kecil, saya pernah diajak paman saya menuju desa di pedalaman hutan sekitar sampit (berjarak sekitar 3 jam) untuk melihat proyek pembangunan sekolah disana. Desa tersebut berada jauh dari kota dan akses transportasi hanya melalui air, hutanpun masih sangat lebat. Ternyata didesa tersebut terdapat seekor Orangutan dewasa yang dipelihara oleh warga sekitar, dengan alasan sewaktu masih kecil Orangutan itu masuk ke daerah pemukiman sehingga warga menangkap dan memeliharanya. Saat itu untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Orangutan secara langsung, dekat, dan dapat memegangnya.

images2

Orangutan yang saya jumpai sudah terbiasa dengan kehadiran manusia disekitarnya, sehingga dia tidak akan menyerang ketika saya berada didekatnya. Hal yang saya lakukan adalah memegangnya dan memberikan permen kepadanya. Mungkin teman-teman semua dapat mencoba jika memiliki kesempatan bertemu dengan Orangutan dan memberikan permen kepadanya, karena sesuatu yang unik (menurut saya) akan dilakukannya. Ketika saya memberikan permen kepadanya, dia akan menerimanya dengan tangan dan langsung mencium permen sambil mengamatinya, setelah itu barulah memasukannya kedalam mulut. Seperti manusia pada umumnya dalam menikmati permen, Orangutan tersebut tidak menggigit atau mengunyah melainkan mengemut permen tersebut sambil mengeluarkannya dengan menjulurkan lidahnya kemudian memasukannya kembali.

Cerita diatas merupakan sepenggal pengalaman saya saat bertemu Orangutan dan saat itu saya memang tidak mengetahui lebih dalam mengenai Orangutan, yang saya ketahui hanyalah Orangutan merupakan satwa yang unik dan pintar. Sekarang akan dibahas topik yang cukup berat mengenai Orangutan yang tidak disadari banyak orang. Masa kehamilan Orangutan umunya berkisar antara 8,5 – 9 bulan, dan bayi Orangutan akan dipelihara oleh induk betina selama 6-7 tahun. Setelah masa penjagaan anak telah lewat orangutan baru dapat bereproduksi kembali. Lamanya waktu bereproduksi ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tingkat kelangkaannya menjadi tinggi. Orangutan adalah satwa primate yang ada di Indonesia, dimana pada asaat ini sebarannya terbatas di Kalimantan dan Sumatra. Kalimantan dan Sumatra merupakan dua pulau yang memiliki letak berjauhan serta kondisi lingkungan yang berbeda pula. Pemisahan yang cukup lama (akibat dari perubahan kondisi Geografis) dengan kondisi habitat yang berbeda dalam waktu yang cukup lama menyebabkan terjadinya perbedaan antara Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatra. Perbedaan yang terjadi mencakup perbedaan jenis, perbedaan tingkah laku, perbedaan morfologi, dan juga perbedaan molekuler.

Sekarang ini telah berkembang ilmu-ilmu yang dapat mendukung terungkapnya permasalah molekuler spesies seperti spesies Orangutan ini, seperti dengan memanfaatkan teknologi Biologi molekuler maka dapat mengungkap adanya perbedaan jenis orangutan, yaitu Pongo pygmaeus (Orangutan Kalimantan) dan Pongo abelii (Orangutan Sumatra) (Janczewski dkk, 1990). Bahkan sampai sekarang ini Orangutan Kalimantan sudah dapat dibedakan menjadi tiga anak jenis, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus (Sarawak, Kalimantan bagian utara barat), Pongo pygmaeus mario (Kalimantan timur, Sabah), dan Pongo pygmaeus wurmbii (Kalimantan selatan dan tengah).

 

Slide3

Gambar 1. a) Orangutan Kalimantan, b) Orangutan Sumatera

Perbedaan jenis dan anak jenis yang terjadi membuat pemanfaatan dari perkembangan teknologi molekuler tidak terpisahkan dalam melakukan tindakan konservasi terhadap jenis-jenis ini, terutama untuk keperluan relokasi atau translokasi Orangutan kea alam bebas. Pongo pygmaeus pygmaeus merupakan anak jenis yang paling terancam kepunahan, dengan jumlah individu berkisar antara 3.000 sampai 4.500 individu yang tersebar di bagian utara sungai Kapuas meliputi bagian utara dan barat Kalimantan, serta daerah Serawak. Pongo pygmaeus wurmbii merupakan anak jenis yang paling banyak jumlah perkiraan populasinya, diperkirakan lebih dari 34.874 individu yang tersebar sebagian besar di Kalimantan tengah dan Kalimantan selatan. Sedangkan Pongo pygmaeus mario memiliki daerah penyebaran di Kalimantan timur dan Sabah Malaysia, dengan jumlah yang diperkirakan sekitar 4.800 individu.

Orangutan secara kasat mata dapat dibedakan dan dikenali dari morfologi atau perawakannya. Jika diamati di bawah mikroskop, jenis Orangutan Kalimantan umumnya memiliki rambut pipih dengan kolom pigmen hitam yang tebal dibagian tengah, sedangan Orangutan Sumatra berambut lebig tipis, membulat, mempunyai kolom pigmen hitam tebal yang halus dan sering patah dibagian tengah. Selain itu Orangutan Jantan Kalimantan memiliki rambut yang pendek dan kurang padat, sedangkan Orangutan Sumatra memiliki rambut panjang, lebih tebal dan lebih berbulu (Meijaard dkk, 2001).

Orangutan kalimantan ORANG UTAN SUMATRA

Gambar 2. Sebelah kiri Orangutan Kalimantan, sebelah kanan Orangutan Sematera (berbeda secara morfologi)

Kromosom Orangutan berjumlah 48 (2n), dimana jumlah ini sama dengan jumlah kromosom yang dimiliki oleh gorilla, simpanse, dan bonobo. Jumlah ini tidak sama dengan kromosom manusia yang hanya memiliki 46. Secara sitogenetis, kedua jenis Orangutan (Orangutan Kalimantan dan Sumatra) berbeda denga adanya perbedaan intervase pericentric pada kromosom kedua, akan tetapi mereka dapat melakukan perkawinan di penangkaran dan menghasilkan keturunan yang subur (de Boer & Seuanez, 1982; Muir dkk, 2000). Fischer dkk (2006), menyebutkan bahwa keanekaragaman nukleotida pada Orangutan adalah paling besar dibandingkan dengan jenis kera lainnya, sehingga dapat menyebabkan perbedaan antara satu populasi. Hasil penelitian lainnya yang dilakuka oleh Xu dan Arnason (1996) menyebutkan bahwa Orangutan diusulkan menjadi dua spesies yang berbeda. Kedua penelitian ini telah membandingkan antara lima pasang jenis satwa berbeda yaitu antara Orangutan Kalimantan dengan Orangutan Sumatra, anjing laut harbor (Phoca vitulina) dengan anjing laut abu-abu (Halichoerus grypus), kuda (Equus ferus) dengan keledai (Equus africanus), paus sirip (Balaenoptera physalus) dengan paus biru (Balaenoptera musculus), simpanse (Pan troglodytes) dengan bonobo (Pan paniscus), dan manusia (Homo sapiens) dengan simpanse (Pan troglodytes).

Hasilnya memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan molekular yang lebih besar dan komplek pada perbandingan Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatera dibandingkan dengan perbedaan antara kedua jenis anjing laut. Bahkan lebih besar dibandingkan antara dua jenis simpanse tapi serupa dengan perbedaan antara kuda dan keledai dan antara paus sirip dan paus biru. Mempertimbangkan perbedaan morfologis kedua jenis ini (Orangutan Kalimantan dan Sumatra) terbatas, perbandingan molekuler mengungkapkan perbedaan yang tak terduga besarnya diantara kedua jenis ini. Perbedaan nukleotida antara kedua jenis orangutan adalah sekitar 75% dibandingkan dengan perbedaan antara homo sapiens dan simpanse, sedangkan perbedaan asam amino melebihi perbedaan antara homo sapiens dan simpanse. Berdasarkan perbedaan molekuler yang jelas tersebut Xu dan Arnason (1996) mengajukan kedua orangutan ini menjadi dua species yang berbeda.

Untuk mengetahui variasi genetik orangutan beberapa peneliti lain telah melakukan penelitian dengan menggunakan sampel orangutan Sumatera dan Kalimantan diantaranya adalah oleh Zhi dkk. (1996) dan Noda dkk. (2001) menggunakan lokus 16S, Kaessmann dkk. (2001) menggunakan lokus Xq13.3, Muir dkk. (2000) menggunakan lokus ND3, CytB, Warren dkk. (2001) menggunakan lokus Control Region, Steiper dkk. (2005) menggunakan lokus Alpha-2 Globin, dan Zhang dkk. (2001) menggunakan lokus ND5. Hasil penelitiannya menunjukkan adanya kecenderungan perbedaan antara orangutan Sumatera dengan orangutan Kalimantan.

Kajian berdasarkan analisis genetika sebelumnya yang telah dilakukan terhadap kedua jenis orangutan ini yaitu variasi alel (Bruce & Ayala 1979), pemetaan terbatas mtDNA (Ferris dkk 1981), hibridisasi inti DNA (Caccone & Powell 1989), elektroforesis protein 2 dimensi (Janczewski dkk 1990), perbandingan sequencing dari mitokondria gen COII (Ruvolo dkk 1994), analisis mtDNA (Xu & Arnason 1996; Zhi dkk 1996; Muir dkk 2000) dan analisis variasi D-loop mtDNA (Warren dkk 2001) dan hasilnya juga menunjukkan perbedaan yang nyata antara kedua jenis orangutan ini. Jadi, masihkah menganggap Orangutan Kalimantan sama dengan Orangutan Sematera??

Untuk lebih jelas dalam mempelajari perbedaan kedua Orangutan ini pada level molekuler dapat membaca jurnal dibawah:

genome_orangutan (1)

Sumber:

Prayogo, H., Thohari, A.M., Sholihin, D.D., Prasetyo, L.B., dan Sugardjito. 2014. 0903 KARAKTER KUNCI PEMBEDA ANTARA ORANGUTAN KALIMANTAN (Pongo pygmaeus) DENGAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii). Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik ISSN 1411 – 0903.

Gambar 1. http://fazrinrahmadani.blogspot.com/2013/07/ringkasan-tesis-estimasi-populasi_5962.html

Gambar 2. www.wikipedia.com


10 responses to “Masihkan Orangutan Kalimantan dianggap sama dengan Orangutan Sumatera?? “Molekuler” dapat menjawab..!!”

  1. imanuel natalius says:

    Ternyata orang utan kalimantan sendiri aja banyak jenisnya, jadi dengan molekuler bahkan dapat memberikan informasi sampai asal muasalnya, menarik!

  2. Florencia Grace Ferdiana says:

    kemajuan molekuler benar-benar memberikan banyak kemudahan bagi dunia, salah satunya kita bisa dengan mudah mengidentifikasi spesies-spesies yang memiliki kemiripan dan juga mengetahui asal usulnya. mengagumkan !

  3. Elviena says:

    sungguh menajubkan perkembangan molekuler ini, semakin mempermudah manusia mengidentifikasi spesies yang memiliki kemiripan. yang ingin saya tanyakan, sampel apa (mis: darah, kotoran) yang digunakan untuk mengidentifikasinya? apakah teknik ini termasuk invasif atau non invasif?

    • leonardo says:

      Untuk pertanyaan mba Elviena, dari jurnal yang saya baca sebagai referensi belum memberikan teknik-teknik apa saja yang digunakan atau sampel apa yang digunakan. Didalam tulisan ini hanya membahas secara ringan agar teman-teman semua tahu jika Orangutan Kalimantan dan Orangutan Sumatera merupakan dua spesies berbeda. Tapi mungkin ditulisan berikutnya akan saya coba bahas yang lebih spesifik lagi, trimakasih sebelumnya. 🙂

  4. Junaidi Pratama says:

    Wah ternyata orang utan Sumatera dan Kalimantan berbeda spesies! Semoga dengan kemajuan Molekuler di tahun yang akan mendatang, lebih bisa mengidentifikasi spesies yang mirip namun berbeda lebih banyak lagi..Keep Bloging!

  5. pelangiasmara says:

    Sebelumnya saya pikir kedua spesies tersebut adàlah sama, tapi ternyata berbeda ya. Informasi yang mencerahkan

  6. richardkion says:

    dengan adanya kajian-kajian mengenai molekuler, diharapkan dimasa depan kajian-kajian tersebut bisa membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada.

  7. Vincentius Yafet Winata says:

    Menarik! dengan adanya molekuler dapat memastikan adanya perbedaan antar orang utan yang berbeda secara geografi dan tidak lagi melihat hanya secara morfologi . Lanjutkan 😀

  8. danielharjanto says:

    dengan diketahuinya perbedaan ini orang utan kalimantan dan sumatera tetap dapat terjaga kelestariannya dan keendemikan di masing-masing tempat.

  9. caterinaakila says:

    Molekuler ternyata dapat mengetahui adanya perbedaan antar spesies dan mengetahui asal-usulnya. Informasi yang sangat menarik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php