larisagita's

It’s Time to Save the Long-Nosed Monkey

Posted: December 4th 2017

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata yang memiliki ciri khas hidung panjang yang menyebabkan bekantan ini memiliki nama lain yaitu Proboscis Monkey atau Monyet Belalai. Para peneliti beranggapan bahwa fungsi dari hidung panjang ini adalah sebagai ruang gema untuk memperkuat suara bekantan ketika berteriak. Panjang hidung pada bekantan jantan memang lebih panjang dari bekantan betina sehingga beberapa artikel menyebutkan bahwa hidung panjang bekantan tersebut  digunakan untuk menarik perhatian bekantan betina. Perbedaan antara bekantan jantan dan bekantan betina adalah warna rabut di sekitar pipi, bekantan jantan memiliki rambut disekitar pipi berwarna kemerah sedangkan bekantan betina memiliki rambut disekitar pipi berwarna kekuning-kuningan. Namun warna keseluruhan dari tubuh bekantan adalah coklat kemerah-merahan.

 

Bekantan setiap harinya mengonsumsi daun, biji dan buah yang belum matang, namun terkadang memakan serangga yang ada di sekitarnya. Makanan yang mengahsilkan gas di sistem pencernaannnya mengakibatkan efek samping yaitu membuncitnya perut bekantan. Bilik perut bekantan cukup kompleks dan terdapat bakteri simbiotik untuk membantu pencernaannya. Bekantan mulai mencari makan pada pagi hari, siang hari bekantan lebih memilih tempat yang teduh untuk beristirahat. Sore hari bekantan akan beralih ke daerah pinggiran sungai untuk makan dan mencari tempat tidur.

 

Bekantan merupakan primata endemik Pulau Borneo. Namun, Pulau Borneo kini menjadi tempat yang tidak aman untuk bekantan hidup. Penebangan liar terjadi di hutan hujan tropis Pulau Borneo  yang bertujuan komersial dan dibuatnya pemukiman warga serta alih fungsi lahan menjadi perkebunan sawit yang mengharuskan pohon-pohon tempat bekantan tinggal dan mencari makan ditebang. Hal tersebut menyebabkan fragmentasi yang mengakibatkan bekantan lebih menderita karena bekantan dipaksa untuk turun dari pepohonan lebih sering untuk mencari makan yang memerlukan jarak tempuh yang jauh. Padahal dengan turunnya bekantan dari pepohonan, menjadi ancaman tersendiri baginya, karena predator seperti jaguar akan lebih mudah untuk menangkap dan dijadikan santapan, selain itu, penduduk asli juga menjadi predator bagi monyet berhidung panjang ini.

 

Sebagai mahasiswa biologi yang paham mengenai tujuan konservasi, saya tidak akan membiarkan bekantan yang berpengaruh terhadap populasi tanaman pada hutan hujan tropis ini punah . Menurut IUCN, Proboscis monkey ini berstatus Endangered. Aksi yang saya lakukan terhadap bekantan adalah dengan cara ikut melakukan campaign melalui kitabisa.com yang diselenggarakan oleh Pusat Studi dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesi a untuk penggalangan donasi dan pembuatan infografis yang memuat informasi mengenai bekantan sehingga masyarakat luas mengerti mengenai bekantan dan apa yang mengancam hidup bekantan saat ini sehingga diharapkan informasi tersebut tersebar ke seluruh masyarakat Indonesia yang berdampak pada peningkatan kepedulian dan berkurangnya  keinginan masyarakat terhadap perusakan hutan dan konsumsi bekantan. Saya berharap tulisan saya ini dapat menambah sedikit pengetahuan mengenai bekantan dan langkah kecil yang saya lakukan ini dapat menyelamatkan populasi monyet hidung panjang endemik pulau Borneo ini.

 

Berikut merupakan perwujudan aksi saya saat ini dalam bentuk infografis yang diharapkan dapat memberi kontribusi pada bekantan


4 responses to “It’s Time to Save the Long-Nosed Monkey”

  1. bungatyasrahayu says:

    Setelah membaca artikel ini saya baru melihat hewan bekatan itu seperti apa dan ternyata hewan lucu ini terancam punah, semoga aksi konservasinya dapat terwujudkan dengan baik 🙂

  2. praditanugrahaningtyas says:

    Ternyata bekantan ini masih ada yaa. Harus tetap dilestarikan ini. Semangat yaaa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php