Kharina Waty

Nafas Kehidupan: Kakatua Kecil Jambul Kuning

Posted: September 9th 2015

Masih segar diingatakn kita bahwa burung cantik berwarna kuning yang menderita karena perdagangan illegal dan dimasukan paksa kedalam botol kecil sehingga harus meregang nyawa. Ya.. itu saya (Cacatua sulphurea) atau lebih dikenal dengan nama Kakatua Kecil Jambul Kuning. Saya akan bercerita tentang populasi saya yang menurun dan bagaimana menjaga saya agar dapat hidup lebih lama lagi.
Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning atau dalam nama ilmiahnya Cacatua sulphurea merupakan burung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 35 cm, dari marga cacatua. dengan ciri ciri deskripsi hampir semua bulunya berwarna putih. Di kepalanya terdapat jambul berwarna kuning yang dapat ditegakkan. Kakatua kecil Jambul kuning berparuh hitam, kulit di sekitar matanya berwarna kebiruan dan kakinya berwarna abu-abu. Bulu-bulu terbang dan ekornya juga berwarna kuning. Burung betina serupa dengan burung jantan.

Cacatua sulphurea

Cacatua sulphurea

Cacatua sulphurea merupakan burung endemik Indonesia dan Timor Leste, umum di seluruh Nusa Tenggara (dari Bali ke Timor), Sulawesi dan Kepulauan Masalembo (di Laut Jawa) (Trainor, 2002). Sarang kakatua jambul kuning lebih banyak lubang di pohon (Jones et al. 1995). Lubang sarang terletak di ketinggian 6 -18 m di atas tanah. Telur berwarna putih dan biasanya ada 2-3 di dalam sarang. Betina meletakkan telur di lubang pohon, dan diperami oleh betina saat malam hari, dan jantan pada siang hari, Schmutz (1977).
Burung ini lebih banyak mendiami dataran rendah dan kadang sebagian didaratan rendah, hutan berbukit, tepi hutan, semak belukar dan pertanian (di Sulawesi)(Watling, 1983; Butchart et al 1996;. Coates & Bishop 1997). Di Taman Nasional Komodo burung ini ditemukan pada pesisir kering hujan hutan (Bishop, 1992;Butchart et al 1996), umumnya juga menggunakan kawasa mangrove sebagai habitatnya.
Peran kakatua jambul kuning di ekosistemnya kurang dikenal. Namun, spesies ini memakan biji, kacang-kacangan, buah dan buah-buahan (Forshaw, 1989, Setiawan 1996) dan mungkin memainkan peran dalam distribusi tanaman serta bagian dari rantai makanan. Misalnya, Ada persaingan antara naga dan kakatua dalam menggunakan Sterculia foetida untuk bersarang (Agista & Rubyanto, 2001).

Ingatkan bagaimana tersiksanya saya (Cacatua sulphurea) didalam botol yang sempit itu?

Penyelundupan Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning

Penyelundupan Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning

Kakatua jambul kuning telah menderita dan mungkin akan terus menderita karena penurunan populasi yang sangat cepat, mungkin setara dengan lebih dari 80% selama tiga generasi (BirdLife International 2001). Populasi saat kakatua jambul kuning di Pulau Komodo (survey 2005) hanya 137 burung, dibandingkan dengan 340 burung pada tahun 2000 (Agista & Rubyanto 2001), yang merupakan penurunan besar selama periode 5 tahun. Pada pulau Komodo berbeda dengan pulau-pulau lain di Indonesia karena pengawasan, penegakan hukum sangat minim dan hilangnya hutan melalui penebangan liar (Ciofi & de Boer, 2004). Faktor utama penurunan populasi adalah perdagangan ilegal di tahun 1980-an. Faktor utama lainnya adalah hilangnya kawasan hutan (Setiawan et al. 2000). Pada tahun 1981 C. sulphurea terdaftar dalam CITES Appendix II dan sejak tahun 2002, itu tercantum dalam Lampiran I CITES. Lampiran I dicadangkan untuk spesies terancam punah dan yang perdagangan internasional komersial dilarang. Populasi signifikan dari C. sulphurea hanya ada di Aopa Watumohai Taman Nasional Rawa dan Pasoso Island, dan mungkin sudah punah di Sulawesi utara (PHPA / LIPI / BirdLife International-IP 1998).
Untitled

Bagaimana status konservasi saya (Cacatua sulphurea) menurut IUCN Red List ?

status konservasi Cacatua sulphurea menurut IUCN Red List

status konservasi Cacatua sulphurea menurut IUCN Red List

Penurunan tajam yang hampir seluruhnya disebabkan eksploitasi berkelanjutan untuk perdagangan internal dan internasional. Penangkapan Kakatua Jambul Kuning untuk perdagangan telah pasti menjadi faktor vertikal paling krusial di penurunan populasi selama tiga dekade terakhir, dan merupakan faktor kunci yang membatasi pemulihan populasi burung ini. Hilangnya lubang pohon sebagai habitat burung ini karena pohon yang menua juga menjadi faktor ancaman. Pada skala besar kebakaran hutan dan penggunaan pestisida sejak sekitar tahun 1989 adalah ancaman potensi cukup lanjut. Sebelumnya, spesies ini dianggap sebagai tanaman hama sehingga oleh para petani burung kakatua ini diburu untuk dibunuh.

Tingginya tingkat perdagangan spesies ini selama tahun 1980 mengharuskan kita semua untuk lebih peduli, dan pada tahun 1992, C. sulphurea berada di antara 24 species sebagai subjek signifikan oleh CITES Animals Committee (WCMC, 1992). Aksi yang direkomendasikan adalah CITES Management Authority Indonesia harus melembagakan moratorium ekspor sampai survei pulau telah dilakukan, khususnya di Sumba dan Nusa tenggara timur. Ada beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat umum agar menjaga populasi C. sulphurea seperti:
1.Pembentukan daerah konservasi, membangun fasilitas penangkaran dan mengembangkan manajemen
2.Tindakan hukum dan peraturan dari lembaga kehutanan untuk mencegah pemotongan pohon yang digunakan untuk lubang sarang
3.Mengembangkan informasi dasar tentang populasi di seluruh wilayah yang masih terdapat C. sulphurea dan melakukan pemantauan untuk menilai efektivitas rencana pengembangan populasi C. sulphurea.
4.Mengembangkan kerjasama dengan CITES Otoritas Manajemen terutama dalam bidang importir dan eksportir untuk membantu pelaksanaan rencana pemulihan dan terutama mencegah perdagangan illegal
5.Kegiatan pendidikan esensial kepada mereka yang peduli dengan mengurangi perangkap Kakatua jambul kuning di alam liar
6.Melindungi habitat yang tersisa berhubungan dengan kegiatan manusia yang merugikan, menghemat pohon sebagai tempat bersaran, memulai meningkatakan penanaman spesies asli pohon yang digunakan untuk lubang sarang dan memperluas persediaan makanan serta persediaan air.

Hukum Pidana dan Perdata bagi yang melanggar ?

Burung Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) termasuk satwa liar yang dilindungi undang-undang, sebagaimana tertuang dalam Lampiran PP No. 7 Tahun 1999, dan ada kententuan dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 bahwa:
1.Barangsiapa dengan Sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup; (Pasal 21 ayat (2) huruf a), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2));
2.Barang Siapa Dengan Sengaja menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati (Pasal 21 ayat (2) huruf b), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). (Pasal 40 ayat (2); Dengan Sengaja memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh, atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia; (Pasal 21 ayat (2) huruf d), diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Refrensi
AGISTA, D. & D. Rubyanto. 2001. Telaah awal Status, Penyebaran dan Populasi Kakatua-kecil
jambul kuning (Cacatua sulphurea parvula) di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara
Timur. PHKA/BirdLife International-Indonesia Programme, Bogor, Laporan No.17

BIRDLIFE International, 2001. Threatened birds of Asia: The BirdLife International Red Data
Book. Cambridge UK: BirdLife International.

BUTCHART, S.H.M., T.M. Brooks, C.W.N. Davies, G. Dharmaputra, G.C.L. Dutson, J.C. Lowen
& A. Sahu. 1996. The conservation status of forest birds on Flores and Sumbawa,
Indonesia. Bird Conservation International 6(4): 335-370.

CIOFI, C & M.E. de Boer. 2004. Distribution and Conservation of the Komodo Monitor
(Varanus komodoensis). Herpetological Jornal 14: 99-107.

COATES, B.J. & K.D. Bishop. 1997. A Guide to the Birds of Wallacea. Alderley, Queensland:
Dove Publications

Forshaw, J. M. 1989. Parrots of the world. Third (revised) Edition. London: Blandford Press.

http://www.iucnredlist.org. Cacatua sulphurea. askes : 09 september 2015

JONES, M.J., M.D. Linsley & S.J. Marsden. 1995: Population sizes, status and habitat associations of the restricted-range species of Sumba, Indonesia. Bird Conservation International 5 (1): 21-52

SETIAWAN, I., A. Jati, D. Lesmana, C. Trainor, and D. Agista. 2000. Telaah awal Status dan
Penyebaran Kakatua-kecil jambul-kuning (Cacatua sulphurea parvula) di Pulau Alor,
Pantar, Timor Barat, Flores dan Moyo. PHKA/BirdLife International-Indonesia
Programme, Bogor. Laporan No.12.

SCHMUTZ, E. 1977. Die vogel der Manggarai (Flores), 2. Niederschrift. Unpublished.

TRAINOR, C., F. Santana, A.Xavier, L. Dos Santos, F. Xavier, and J. Dos Lorenzo, in litt. 2004.
Status of globally threatened, near threatened and restricted-range birds and internationally significant biodiversity sites in Timor-Leste (East Timor) based on participatory
surveys. Summary information with particular reference to the proposed โ€˜Conis Santana
National Park (CSNP)โ€™. BirdLife International โ€“ Asia Programme.

WATLING, D. 1983. Ornithological Notes from Sulawesi. Emu 83 (4): 247-261

WCMC, 1992. Review of Significant Trade in Animal Species Included in CITES Appendix II.
Detailed Reviews of 24 Priority Species. Final report to the CITES Animals Committee.
WCMC and IUCN Trade specialist Group. Cambridge.


3 responses to “Nafas Kehidupan: Kakatua Kecil Jambul Kuning”

  1. nataliarizki says:

    informasi yang masih segar dan menarik sekali ๐Ÿ˜€ adakah kejelasan dari siapa atau pihak mana yang melakuakn perdagangan ilegal burung kakatua tersebut? dan apakah sudah diberikan sanksi yang berat kepada yang bersangkutan?

  2. campakasandipuspa says:

    Terimakasih atas informasi yang diberikan sehingga kita bisa lebih mengetahui tentang kakaktua kecil jambul kuning. membaca informasi tentang kakaktua jambul kuning yang sudah mulai menurun populasinya menjadi sedih karena banyaknya faktor seperti perdagangan internal. semoga pemerintah menjadi lebih tegas atas fauna Indonesia ini dan masyarakat juga semoga lebih bisa menjaga fauna yang indah ini.

  3. Viera says:

    Wah wah, burung kakatua ini memang sudah tidak asing lagi, tapi ternyata sekarang IUCN menetapkan kakatua ini dengan status Criticaly endangered? Terkejut juga membacanya. Tak heran membaca faktor kepunahannya adalah perdagangan ilegal yang besar2an. Karena di setiap pasar burung beberapa tahun yang lalu marak akan burung endemik indonesia ini. Informasi yang bagus.. Goodjob rin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php