BBB (Bukan Blog Biasa)

Teddy Bearku Sayang, Teddy Bearku Malang…

Posted: December 6th 2014
Helo…Namaku Beruang Madu (Helarctos malayanus).  Perawakanku mirip boneka Teddy Bear kalian di masa kecil, yang selalu menemani kalian di waktu tidur.  Aku tinggal di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Yuk mari berkenalan dengan diriku yang menggemaskan ini.


 
Halo para sahabat-sahabat super. Apa kabarnya? Semoga selalu super ya dimanapun dan kapanpun Anda berada…. kali ini saya tidak akan menjadi sosok om Mario Teguh yang biasa muncul di MTGW (Mario Teguh Golden Ways) dalam salah satu stasiun TV Swasta di negeri kita, nah saya akan mencoba menjadi diri saya sendiri pada tulisan di Blog saya ini. BUKAN LAGI BERPUISI.  Saya akan mencoba mengulas salah satu sosok mahkluk eksotik satu ini, yaitu beruang madu! Mulai dari karakteristik, makanan, habitat dan persebaran,  reproduksi , status konservasi berserta ancaman-ancaman apa saja yang dihadapi, dan yang tidak kalah penting dari yang terpenting adalah aksi nyata saya sebagai mahasiswa sekaligus anak kost-kostan di Jogjakarta untuk menyelamatkan salah satu makhluk Tuhan yang paling sexy (?) ini CEKIDOT!
 

Salam Beruang! Rwarrr!

Beruang madu atau dalam bahasa latin disebut Helarctos malayanus merupakan spesies beruang terkecil dari delapan jenis beruang yang ada di dunia. Beruang madu (Helarctos malayanus) yang suka menyukai sarang lebah (anak lebah dan madunya) sebagai makanan favoritnya ini merupakan binatang khas (fauna identitas) provinsi Bengkulu. Binatang pemakan madu ini juga menjadi maskot kota Balikpapan. Oh ya, Beruang madu di Balikpapan dikonservasi di sebuah hutan lindung bernama Hutan Lindung Sungai Wain. Cukup eksis juga hewan imut ini.

800px-Malaienbaer_0744-2

Gambar 1. Beruang Madu (Fischer, 2012).

Ciri-Ciri Fisik

Menurut paper penelitian dari Fredriksson (2004), berat badan beruang madu ini berkisar antara 30 sampai dengan 65 kilogram, namun data dari alam sangat terbatas. Beruang madu yang ada di Pulau Borneo merupakan yang paling kecil dan kemungkinan dapat digolongkan sebagai sub-jenis (sub-species) dengan nama H.malayanus eurispylus. Sifat-sifat fisik beruang madu adalah sebagai berikut :
• Bulunya pendek, mengilau dan pada umumnya hitam (namun terdapat pula yang berwarna coklat kemerahan maupun abu-abu);
• Mata berwarna coklat atau biru
• Hampir setiap beruang madu mempunyai tanda di dada yang unik (warnanya biasanya kuning, oranye atau putih, dan kadang-kadang bertitik-titik)
• Hidung dari beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong;
• Kepalanya relatif besar sehingga dapat merupai anjing; kupingnya kecil bundar, dan dahinya yang penuh daging terkadang tampak berkerut;
• Mempunyai lidah yang sangat panjang (paling panjang dari semua jenis
beruang yang ada).
• Lengan yang melengkung ke dalam, telapak yang tidak berbulu, dan kuku yang panjang, (maka beruang madu sangat terdaptasi buat memanjat pohon)
• Tangannya relatif besar dibandingkan dengan ukuran badan (kemungkinan besar hal ini memudahkan beruang madu untuk menggali tanah dan membongkar kayu mati untuk mencari serangga). Beruang Madu mempunyai penciuman yang sangat tajam sehingga dapat mencium bekas injakan satwa lain maupun manusia. Pengelihatannya diduga biasa-biasa saja, akan tetapi pendengarannya cukup peka. Ciye Peka.

Makanan

Beruang madu adalah binatang  yang memakan apa saja di hutan alias omnivora. Mereka memakan aneka buah-buahan dan tanaman hutan hujan tropis, termasuk juga tunas tanaman jenis palem. Mereka juga memakan serangga, madu, burung, dan binatang kecil lainnya. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak, setelah buang air besar, biji yang ada di dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain (Youth, 1999).

Habitat dan Persebaran

Beruang madu hidup di hutan-hutan dataran rendah, hutan perbukitan, dan perbukitan atas sampai ketinggian 1.500 meter. Penyebarannya mulai dari Bangladesh; Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam. Di Indonesia, Beruang madu terdapat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Berikut peta persebaran dari hewan lucu nan menggemaskan ini :

Capture2

Gambar 2. Peta Persebaran Beruang Madu (IUCN, 2014).

Reproduksi

Menurut paper penelitian dari Fredriksson (2004), pengetahuan mengenai perkembang-biakan beruang madu dan pengasuhan anak di alam sangat terbatas. Biasanya hanya satu anak yang mendampingi betina.  Kembar jarang terlihat. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa anak dan mempunyai enam puting susu. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta (2010), lamanya waktu mengandung beruang betina adalah 95-96 hari, anak yang dilahirkan biasanya berjumlah dua ekor dan disusui selama 18 bulan. Rupanya beruang madu tidak mempunyai musim kawin tertentu, mungkin karena musim buah dan ketersediaan makanan di alam sangat bervariasi. Ada kemungkinan bahwa beruang madu, sama dengan jenis beruang lain, mempunyai sistem alami untuk “menunda” perkembangan telur (delayed implantation) sehingga dapat memastikan bahwa anak akan lahir pada waktu induknya cukup gemuk, cuacanya baik dan ketersediaan makanan cukup. Namun hal ini belum diketahui dengan pasti. Beruang madu melahirkan di dalam batang kayu yang bolong atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi sehingga cukup besar untuk mengikuti induknya dalam aktivitas sehari-hari. Informasi dari Kebun Binatang menunjukkan bahwa perkembang-biakan beruang madu yang dipelihara sangat sulit dan saat ini justru dihindari karena populasi di alam sudah terancam kehilangan habitat sehingga usaha konservasi yang lebih diperlukan adalah pelestarian habitat ketimbang penambahan populasi yang dipelihara.

Status Konservasi dan Ancaman

Menurut IUCN , status konservasi dari beruang madu ini sendiri adalah VULNERABLE (VU) yang berarti masih rentan.

Capture

Gambar 3. Status Konservasi Beruang Madu (IUCN, 2014).

Walaupun masih dalam status rentan, beruang madu yan lucu ini berhak mendapatkan HAK untuk dilindungi alias di konservasi keberadaannya. Dengan maraknya kasus-kasus perburuan liar dan pembalakan hutan yang sudah dimulai dari sekarang bukan tidak mungkin bahwa beruang lucu nan menggemaskan ini bisa naik status konservasinya di IUCN kelak. Berikut salah satu tindakan sangat tidak berperikehawanan dari seseorang bernama Ricky Werang, yang mana setelah melakukan pembantaian seekor beruang madu dengan tidak ada rasa bersalah langsung memamerkan hasil karyanya dalam judul album Facebook “berburu beruang”.  Foto-foto tersebut kemudian dipamerkan dalam empat foto dengan pose beruang yang digantung, dimutilasi dan dikuliti. Dalam sebuah foto tampak pula seseorang yang coba membandingkan kuku beruang dengan tangan manusia.

Saat foto tersebut di unggah sekitar Kamis (5/6) tahun 2014 pukul 11.00 WITA, sempat timbul opini bahwa pembantaian beruang ini terjadi di kawasan Hutan Raya Bukit Soeharto, Kalimantan Timur.  Namun berdasarkan penelusuran pemilik akun tersebut diindikasikan tinggal di Berau dan pembantaian tersebut diduga juga dilakukan di daerah tersebut. Tak ayal, tindakan sadis ini mengundang hujatan dan makian dari banyak pihak.  Hingga saat berita ini ditulis, akun Facebook Ricky Werang tidak dapat diakses kembali. Kelompok pemerhati dan advokasi hidupan liar ProFauna melalui akun facebooknya menyatakan telah menerima dan mencermati laporan tentang pembantaian beruang madu ini.  ProFauna menyatakan akan melaporkan pelakunya ke kepolisian karena beruang madu adalah satwa dilindungi yang telah diatur dalam Undang-Undang sehingga tidak dapat diburu dan dibunuh.  Bagi para pelaku pembunuhan akan dapat dikenakan ancaman pidana penjara hingga 5 tahun dan denda hingga Rp 100 juta. SADIS!

beruang-1

Gambar 4. Kekejian Ricky Werang (Hendar, 2014).

Menurut data IUCN (2014), dua ancaman utama terhadap beruang madu yang sudah disebutkan di atas adalah hilangnya habitat dan perburuan komersial. Ancaman ini tidak merata di seluruh kisaran spesies. Di daerah di mana deforestasi secara aktif terjadi, beruang madu terutama terancam oleh hilangnya habitat hutan dan degradasi hutan yang timbul dari sistem tebang habis untuk pengembangan perkebunan, praktek penebangan yang tidak lestari , pembalakan liar baik di dalam maupun di luar kawasan lindung , dan kebakaran hutan.  Ancaman ini lazim di Indonesia dan Malaysia di pulau Sumatera dan Kalimantan, dimana konversi besar-besaran hutan untuk kelapa sawit (Elaeis guineenis) atau tanaman lainnya adalah melanjutkan pada tingkat 1.000 s km² per tahun. Di Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja dan Vietnam, beruang madu umumnya rebus untuk empedu mereka, serta yang terakhir sebagai kelezatan daging beruang madu yang cukup mahal. Motivasi lain untuk membunuh beruang meliputi : mencegah kerusakan tanaman, takut beruang berada di dekat desa, dan penangkapan anaknya untuk hewan peliharaan (ibu beruang madu kadang terbunuh dalam proses). Di India sendiri, angka pembunuhan atas beruang madu masih cukup tinggi. Cukup pelik nasib makhluk cantik satu ini.

Rencana Aksi Konservasi

Sebagai bentuk kecintaan saya terhadap hewan eksotik ini, saya memiliki beberapa aksi konservasi KECIL yang mungkin dapat menyelamatkan beruang madu ini  :

1. Saya memiliki ide untuk berkerja sama dengan salah satu perusahaan jejaring sosial yang tengah naik daun di Indonesia, yaitu LINE. Jejaring soal yang mencuri perhatian lewat sticker (emotion) dan boneka Brown. Kerja sama yang dimaksud disini adalah membantu menjual sticker dan boneka Brown dari Line edisi khusus konservasi beruang madu, karena sepintas antara sticker (emotion) serta boneka Brown LINE sekilas mirip sekali dengan beruang madu ataupun boneka Teddy Bear yang sedang saya ulas disini.  Kemudian dana dari sebagian hasil penjualan tersebut bisa disumbangkan ke balai-balai konservasi beruang madu di seluruh Indonesia. Ya tentunya saya tidak akan  memulai sendiri, saya akan berusaha merangkul dan menjalin  bekerja sama terlebih dahulu dengan badan-badan konservasi yang berdomisili di Jogjakarta seperti BKSDA (Balai Koservasi Sumber Daya Alam) dan pengelola dari Taman Satwa WRC Jogja (Wildlife Rescue Centre-Jogja) serta balai konservasi lainnya di daerah Jogjakarta. Kerja sama yang dimaksud adalah menyatukan ide, persepsi, pendapat, serta aksi nyata konservasi dari saya terhadap lembaga-lembaga konservasi tersebut dalam bentuk proposal permohonan kerja sama dan kesepakatan bagi hasil penjualan produk dengan perusahaan LINE. Untuk sasaran penjualan yaitu tanpa batasan umur dan merangkul seluruh golongan dan orang-orang yang tertarik dengan boneka menggemaskan ini. Boneka imut ini bisa diberikan ke adik, kakak, sepupu, orang tua, dan orang-orang terdekat ANDA! Atau bisa dijadikan hadiah anniversary ke pacar gitu, atau buat yang JOMBLO bisa disimpen buat calon pacarnya (Amin). Boneka ini akan semakin memperat hubungan di antara kalian-kalian,  sekaligus membantu konservasi dari beruang madu itu sendiri. KEEEERRREEEENNNN!!

line

Gambar 5. Boneka Brown dari Line (LINE, 2014).

2. Menyulap benang atau kain perca atau barang bekas lainnya menjadi sesuatu yang bisa dijual. Barang bekas selalu dipandang sebelah mata oleh kebanyakan dari kita, siapa yang sangka barang bekas yang mungkin tidak berguna lagi bagi beberapa orang tersebut bisa menjadi pundi-pundi penghasilan dengan sedikit polesan dari tangan dingin para pengrajin, dan hasil pendapatan tersebut bisa disumbangkan ke lembaga konservasi beruang madu yang ada di seluruh Indonesia. Gerakan ini akan saya mulai dengan mengajak teman-teman dari Fakultas Teknobiologi Atma Jaya Jogjakarta, atau jika dimungkinkan dari teman saya di fakultas lain yang pandai merajut dan menyulam serta peduli dengan keberadaan beruang madu, karena sejatinya saya sendiri tidak bisa melakukannya.  Merajut dan menyulam kain atau benang menjadi produk seperti pembungkus hand sanitizer yang menggemaskan misalnya. Yang tentunya bentuk akhirnya berupa beruang madu, seperti ini :

1357207858359

Gambar 7. Kreasi Barang Bekas (Dokumentasi Pribadi).

Tujuan dibuat seperti ini adalah salah satu bentuk penggalangan dana untuk konservasi beruang madu di Indonesia, prinsipnya kurang lebih sama dengan boneka Brown LINE. Untuk skala kecil hanya dipasarkan di daerah sekitar kampus Atma Jaya Jogjakarta, untuk skala besar saya bisa menjalin kerja sama dahulu dengan lembaga konservasi di Jogjakarta seperti KSDA (Balai Koservasi Sumber Daya Alam) dan pengelola dari Taman Satwa WRC Jogja (Wildlife Rescue Centre-Jogja mengenai gerakan yang saya rencanakan ini. Saya juga akan berusaha mengumpulkan barang-barang bekas dari teman-teman FTB terutama kain atau benang yang tidak terpakai lagi untuk pemenuhan bahan baku produk. Tidak lupa juga saya akan menjalin kerja sama dengan pengumpul barang barang bekas di Jogjakarta untuk membeli barang-barang bekas yang akan disulap nantinya. Dan mengenai pemasaran barang kerajinan ini diharapkan meluas tidak hanya di daerah kampus Atma Jaya Jogjakarta, tapi bisa di daerah-daerah lain di kota ini (Amin). Sambil menyelam , minum air bukan? Mengurangi barang bekas sekaligus secara tidak langsung membantu konservasi beruang madu! CAAAAKEEPPPPPP!!

3. Saya tidak akan mengkonsumsi bagian tubuh (empedu) dan daging dari beruang madu ini. Meskipun konon katanya memiliki khasiat tertentu dalam kesehatan manusia. Sebagai mahasiswa Biologi, saya lebih prefer untuk menjaga kesehatan saya dengan berolahraga teratur, makan-makananan yang sehat dan bergizi, serta beristirahat cukup. It’s Simple.

4. Selain itu, saya tidak akan seperti Ricky Werang yang jelas jelas sengaja eksis dengan memamerkan foto-foto kekejian penyiksaan yang tidak sesuai peri kebinatangan. Menghindari perburuan liar Teddy Bear pilihan terbaik dan tidak bisa ditawar lagi. Beruang madu hanya untuk dilestarikan, NOT FOR SALE!  NOT FOR EATEN! NOT FOR SLAUGHTER! NOT TO BE KILL!

5. Menyuarakan KONSERVASI atas beruang madu semampu saya lewat media media sosial dan media online yang ada (Facebook, Twitter, Path, Blog, WordPress, atau mungkin via Friendster). Karena media media tersebut tanpa biaya alias GRATIS dan dapat secara mudah diakses oleh peselancar dunia maya. Yang saya bisa lakukan adalah menulis opini saya tentang konservasi beruang madu, kasus-kasus atau issue hangat mengenai spesies ini di beberapa daerah di Indonesia, portret nyata dari masyarakat sekitar yang peduli dengan spesies ini, tindakan langsung dari pemerintah dan lembaga konservasi dan pemerhati beruang madu, dan sebagainya. Ya dengan harapan lewat karya yang lahir dari ketikan jari jermari tangan saya di atas keyboard laptop ini bisa berbuat sesuatu, yang mungkin tidak berpengaruh banyak tapi setidaknya saya berusaha menyadarkan kalian-kalian semua dan pembaca yang budiman yang lain untuk sadar dan peduli terhadap konservasi dari beruang madu. Salah satu aksi nyata saya adalah terbitnya blog ini, semoga di media-media lain segera menyusul seiring berjalannya waktu. Oh ya, bermodal kemampuan editing yang pas – pasan dengan software Photoscape, saya ingin menyuarakan sesuatu :

Poster beruang

Gambar 6. Poster Konservasi Beruang Madu (Dokumentasi Pribadi).

 Sekian! Semoga bermanfaat! Sampai berjumpa kembali di postingan-postingan saya berikutnya. Salam Beruang! Rwaar!! 😀 😀 😀

 

DAFTAR PUSTAKA

Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta. 2010. Helarctos malayanus. http://bksdadiy.dephut.go.id/katalog_detail.php?kat=&id=8. 5 Desember 2014.

Fischer, P.J. 2012. Beruang Madu (Helarctos malayanus). http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Malaienbaer_0744-2.jpg. 5 Desember 2014.

Fredriksson, G. 2004. Malayan Sun Bear (Helarctos malayanus). Paper Penelitian Beruang Madu di Hutan Lindung Sungai Wain, Balikpapan.

Hendar. 2014. Setelah Membantai Beruang, Kemudian Diunggah ke Sosial Media. http://www.mongabay.co.id/2014/06/07/setelah-membantai-beruang-kemudian-diunggah-ke-sosial-media/. 5 Desember 2014.

International Union for Conservation of Nature. 2014. Helarctos malayanus. http://www.iucnredlist.org/details/9760/0. 5 Desember 2014.

International Union for Conservation of Nature. 2014. Maps of Helarctos malayanus.http://maps.iucnredlist.org/map.html?id=9760. 5 Desember 2014.

Line. 2014. Stickers From Japanese Craze To Global Messaging Phenomenon. http://healthyliveworld.com/stickers/stickers-from-japanese-craze-to-global-messaging-phenomenon.html. 5 Desember 2014.

Youth,H. 1999. Sun Bear . Zoo.ZooGoer 28(2) : 192-193. 

 

 

 

 


14 responses to “Teddy Bearku Sayang, Teddy Bearku Malang…”

  1. Martin Aristo says:

    Informasinya lengkap..
    Jadi tau kalau beruang madu juga perlu dilindungi dari kepunahan..

  2. likasta0701 says:

    ya ampun kejam banget si mereka..
    sepertinya kita harus “SIAGA” ni, mungkin yg melakukan pembantaian it gk pernah belajar Biokonservasi x y. masa bangga dengan apa yg mereka lakukan. mereka enggak sadar bahwa mereka itu mencoreng identitas kita yg lemah dalam ilmu pengetahuan tentang konservasi.

    jun aku mau tanya, tapi jawabanya jangan. kalau pemilik akun itu anak balikpapan :'(

  3. kiki says:

    mantap kawan. terus di kembangkan biar kita gk ktinggalan informasi.

  4. Lusia says:

    Informasi yang sangat berguna, aksi konservasi pun sangat kreatif 🙂

  5. intanmiw says:

    Wah, keren nih blognya…
    Kebetulan aksi melalui line dan medsos lainnya hampir sama konsepnya dengan saya, tapi tentu beda cara. Apapun itu, itulah wujud kecintaan kita terhadap flora maupun fauna yang perlu dilestarikan. (Silahkan kunjungi blog saya ya Jun :))
    Semoga pemerintah tidak hanya “akan” saja tapi “pasti”. Soalnya biasanya janji-janjinya manis.haha
    Mungkin kamu sebagai anak pangan bisa berinovasi dengan membuat suatu produk pangan yang tidak biasa yang memperkenalkan beruang madu ke khalayak umum. Sudah banyak sih sebenarnya, tapi mungkin km bisa lebih inovatif dari mereka sehingga bisa memperkenalkan si beruang madu yang ternyata statusnya vulnerable. Hasil penjualannya mungkin juga bisa di donasikan ke penangkarnya :p
    Selamat berkreasi yak 🙂

  6. Sir Nicolas says:

    Nice blog, I’ve learnt a lot about this bear, even if I had to translate some of the sentences into English ( thanks to online translator 😉 ).

    I hope it will continue on other topics.

  7. Rudy Agung Nugroho says:

    Informasinya lengkap, menarik dan menambah wawasan

  8. Selice Leite says:

    Informasinya legkap,
    kita sebagai Generasi penerus bangsa, harus bisa memperthankan agar habitat beruang madu jangan sampai punah 🙁
    aksi konservasi itu sangat kreatif loh jun..
    semoga rencana Aksi Konservasi itu bisa berjalan dengan lancar …

  9. Junaidi Pratama says:

    Terima kasih teman-teman semua atas komentarnya….

  10. ronykristianto says:

    Wow aksi yang terbilang cukup berani dan besar karena anda akan mengajak perusahaan jejaring sosial ternama untuk bekerja sama dengan anda. Pesan saya anda harus sungguh-sungguh menekuni konservasi Beruang madu ini agar banyak pihak yang mau membantu anda dalam upaya konservasi, salah satunya perusahaan jejaring sosial tersebut. Tetaplah Berkonservasi ! 🙂

  11. franstheowiranata says:

    Memang yang menjadi keprihatinan bersama adalah pemburuan yang tidak bertanggung jawab. Menurut saya perburuan dalam bentuk apapun yang mengancam satwa yang hampir punah memang harus dikecam dan harus ditindak tegas..
    #saveBeruang

  12. Florencia Grace Ferdiana says:

    aksi yang sangaet luar biasa jun! tapi, untuk dapat bekerjasama dengan media sosial seperti LINE dan sebagainya, kira – kira membutuhkan waktu berapa lama ya untuk terealisasi??? jangan sampai kita lebih lambat bergerak, padahal laju penurunan populasi beruang madu semakin cepat !

  13. Junaidi Pratama says:

    Terima kasih Bung Ronny!
    Untuk Mbak Grace, semua adalah masalah waktu…Lebih cepat menjalin kerja samanya, lebih cepat dan lebih baik realisasinya!

  14. Angela says:

    Penulis harus kerja di kehutanan pusat karena ekpresi tulisanya sangat mempengaharuhi orang lain terutama masyarakat disekitar kawasan. Penulis bisa jadi kepala taman nasional di salah satu yang memiliki wilayah konservasi beruang madu. Salam dan semangat terus serta tuangkan ide untuk negeri tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php