BBB (Bukan Blog Biasa)

Ikan Belida…Riwayatmu kini..

Posted: September 8th 2014

ikan belida tutul

Gambar 1. Ikan Belida

“Indonesia….Riwayatmu kini…”

Sepenggal kalimat tersebut mengingatkan kepada saya salah lirik lagu nasional Indonesia, yang sampai saat ini juga saya tidak mengetahui judul lagu tersebut apa. Oke tidak apa-apa..bukan saya kurang nasionalis..tapi saya hanya..LUPA. Baiklah…saya lanjutkan lagi…Lirik tersebut juga menginspirasi saya sebagai WNI (Warga Negara Indonesia) yang gemar mengkonsumsi Empek-empek Palembang! Nah sekarang saya sudah jadi nasionalis…

Empek empek Palembang dan mahkluk indah yang ada di atas sangat erat hubungannya…bukan karena mereka bertetangga, lantas hubungan mereka baik-baik saja. Melainkan Empek-empek yang asli Palembang menggunakan daging dari Ikan belida ini, yang kemudian di olah dan dijadikan seporsi Empek-Empek yang rasanya @##$%^&. Enak sekali! Selain Empek-empek, ikan belida juga bisa dibuat kerupuk (kemplang). Ikan belida  ini merupakan ikan khas dan langka keberadaannya di Indonesia, yang salah satunya dapat hidup di daerah Sumatera Selatan, Palembang. Penduduk disekitar biasa menyebut ikan ini dengan nama “Belido”

Sebenarnya banyak ikan lain yang bisa dimanfaatkan dagingnya untuk diolah menjadi empek-empek..yaitu ikan gabus, ikan tenggiri, dan ikan sepat…namun yang membedakan empek empek dari daging ikan belida dan ikan yang lain (gabus, tenggiri, maupun sepat) adalah cita rasanya…lebih gurih, padat berisi, dan tidak amis tentunya. Ikan ini memiliki rasa yang lezat, karena kandungan lemaknya yang tinggi (Sunaro, 2002), dan juga kandungan protein dan vitamin A yang tak kalah tinggi (Mno,2005). Karena alasan tersebut, ikan ini banyak diburu untuk dagingnya, dan ada beberapa orang  yang memburu ikan lezat nan indah ini untuk ikan hias tentunya.

 

pempek2

Gambar 2. Empek Empek Palembang

aneka-kerupuk-kemplang-copy (2)

Gambar 3. Kemplang Palembang

Ikan ini mempunyai beberapa nama, diantaranya ikan lopis, belida atau ikan pipih. Belida merupakan jenis ikan sungai yang tergolong dalam suku Notopridae (ikan berpunggung pisau) (Kottelat dkk, 1993). Jenis ini dapat ditemui di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan semenanjung Melayu (Inoue dkk, 2009). Di Sumatera Selatan khususnya di daerah Ogan Komering llir, Ogan Komering Ulu, Muara Enim, Musi Banyuasin, Mursi Rawas, Kodya Palembang dan sebagian kecil daerah Kabupaten Lahat dapat ditemukan ikan sexy ini. Menurut masyarakat Sumatera Selatan, Belida artinya makhluk yang pandai berdiplomasi (be = punya, lida = lidah, pandai bersilat lidah). Wah dasar ikan yang bisa memutar balikkan fakta nih #Eh. Sebagai informasi, ternyata ikan asli Indonesia ini sekarang sudah diambang kepunahan, sebabnya selain konsumsi terhadap ikan ini semakin meningkat, upaya konservasi masih sangat kurang. Berikut klasifikasi dari ikan Belida menurut Anonim (2013) :

Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Osteoglossiformes
Famili: Notopteridae
Genus: Chitala
Spesies: –Chitala lopis
                          -Notopterus chitala

Ikan Belida sendiiri memiliki ciri-ciri : Berukuran sedang, panjang maksimum 100 cm dan berat rata-rata 0,5-1 kg, di alam aslinya bisa mencapai 2 – 4 Kg. Bentuk badannya yang pipih dengan kepala yang berukuran kecil dan di bagian tengkuknya terlihat bungkuk. Rahang atas letaknya jauh di belakang mata. Badan tertutup oleh sisik yang berukuran kecil. Sisik di bagian punggungnya berwarna kelabu sedangkan di bagian perutnya putih keperakan (Anonim, 2014). Cholik dkk (2009), menambahkan ciri ciri lain dari ikan belida yaitu memiliki sirip dubur memiliki sirip dubur yang sangat panjang yang berawal dari tepat di belakang sirip perut sampai ke bagian sirip ekor, dapat menghisap udara dari atmosfer.

Pada bagian sisinya terdapat lingkaran putih seperti bola-bola hitam yang masing-masing dikelilingi lingkaran putih. Dengan bertambahnya umur, hiasan tubuh ikan belida akan hilang dengan sendirinya dan diganti oleh garis-garis kehitaman, sistem reproduksi ikan ini dengan bertelur. Merupakan ikan air tawar yang bersifat predator atau pemangsa dan nokturnal (aktif pada malam hari) (Anonim, 2014).

Pada siang hari biasanya ikan ini akanbersembunyi di antara vegetasi air. Makanannya berupa anak-anak ikan dan udang, tak jarang mangsanya berukuran lebih besar. Ikan belida jantan bertugas membuat sarang yang dibuatnya dari ranting dan daun, juga menjaga telur dan anak-anaknya. Ikan belida dapat menghirup udara dari atmosfir. Ikan karnivora ini hidup di kedalaman 2-3 meter di tempat-tempat gelap. Saat air sungai meluap, mereka naik ke rawa-rawa untuk kawin dan melepas telurnya di sana (Anonim,2014).

Adanya aktivitas penangkapan yang lebih, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan perubahan kondisi linkungan perairan menyebabkan kelestarian jenis ikan ini menjadi terancam (Pollnac dan Malvestuto, 1991). Produksi tahunan ikan Belida terus mengalami penurunan, baik pada tingkat nasional (8.000 ton pada tahun 1991), 5.000 ton (tahun 1995), dan 3.000 ton (1998) (Direktorat Jendral Perikanan, 2000). Lebih jauh lagi, ikan belida sudah termasuk ikan air tawar yang telat dilindungi, berdasarkan atas surat Keputusan Menteri Pertanian No.716/Kpts/UM/ 10/1980 dan Peraturan Pemerintah No. 7/1999 yang mengatakan bahwa semua jenis ikan dari genus Chitala merupakan ikan yang dilindungi.

FAKTOR – FAKTOR PENDORONG ANCAMAN KELESTARIAN IKAN BELIDA :
1. Peningkatan Intensitas Penangkapan
Intensitas penangkapan ikan belida di perairan umum terkait dengan peningkatan kebutuhan pasar. Permintaan pasar ikan belida terus meningkat akibat pasar makanan khas Sumatera Selatan tidak terbatas hanya di Sumatera Selatan saja. Hal ini mendorong peningkatan jumlah nelayan dan alat tangkap yang di operasikan untuk menangkap ikan belida. Laju peningkatan mortalitas ikan belida dialam oleh penangkapan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan laju pemulihan kembali ketersediaan ikan tersebut dialam sehingga populasi ikan belida cepat sekali berkurang.

2. Penangkapan Induk Ikan Belida
Walaupun penangkapan ikan belida menggunakan alat tangkap sederhana, tetap saja  akan terancam populasinya karena ukuran ikan yang ditangkap adalah besar sudah tergolong induk atau calon induk. Induk belida dengan bobot 6 kg mengandung telur sebanyak 8.320 butir (Adjie dan Utomo, 1994). Jika kita gunakan asumsi bahwa sekitar 1 % dari total telur (fekunditas) ikan belida dengan bobot 6 kg berhasil kembali menjadi induk, maka jumlah sediaan ikan di alam adalah sekitar 80 ekor atau setara dengan 480 kg. Artinya penangkapan satu ekor induk belida akan mengurangi jumlah ikan sebanyak 80 ekor yang mempunyai potensi telur sekitar 640.000 butir. WOW!

3. Pengoperasian Alat Tangkap Terlarang dan Tidak Ramah Lingkungan
Saat ini, alat tangkap dengan penggunaan racun sudah meluas di kalangan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar perairan. Ditambah lagi dengan penggunaan alat tangkap listrik yang menyebabkan kematian ikan secara massal. Di Sumatera Selatan, nelayan juga mengoperasikan jenis alat tangkap tuguk yang di pasang melintang di sungai kecil dan besar. Tuguk dianggap tidak ramah lingkungan karena prinsip kerjanya seperti trawl (pukat harimau) yang sangat tidak selektif.

4. Peningkatan Tekanan Ekologis oleh Limbah
Sudah menjadi tradisi bahwa sungai merupakan tempat pembuangan limbah, semakin ke hilir, kadar limbahnya semakin tinggi. Menurut Pollnac dan Malvestuto (1992), DAS (Daerah Aliran Sungai) Musi sebagai tempat hidup ikan belida dapat digolongkan ke dalam perairan yang mempunyai tekanan ekologis tinggi di Indonesia dibandingkan dengan Kalimantan (DAS Kapuas). Penurunan kualitas perairan akibat limbah dapat mengganggu siklus hidup ikan belida.

5. Pembukaan Lahan dan Pembangunan Infrastruktur
Pembukaan lahan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan raya menjadi sumber gangguan siklus kehidupan ikan, termasuk belida. Selama musim hujan tanah terkikis dan menjadi sumber peningkatan tingkat kekeruhan perairan dan pendangkalan perairan. Kekeruhan yang tinggi akan mengganggu proses sintesis fitoplankton dan selanjutnya mempengaruhi struktur komunitas di atasnya, khususnya larva dan ikan kecil yang menggantungkan hidupnya pada plankton. Gangguan tersebut akan mempersempit peluang ikan belida untuk mendapatkan makanan. Sehingga hal demikian akan mengganggu kestabilan ekosistem suatu perairan.

6. Proses Penuaan Alami
Proses penuaan tidak bisa dielakkan lagi. Hanya makhluk hidup yang kuat saja yang mampu bertahan hidup. Menurut Pollnac dan Malvestuto (1992), perubahan kondisi lingkungan perairan dan penangkapan ikan yang berlebihan dapat menurunkan populasi ikan. Perusakan habitat sangat berbahaya terutama bagi jenis yang hidup endemik yang dapat mengakibatkan kepunahan jenis ikan tersebut. Oleh karena itu kita harus berbuat agar anak cucu kita masih dapat menikmati rasa dan keindahan ikan Belida, khususnya bagi masyarakat di Sumatera Selatan.

UPAYA PENCEGAHAN (KONSERVASI) IKAN BELIDA :

Di Sumatera Selatan dan Jambi, fakta menunjukkan bahwa secara umum ikan belida sudah terancam kepunahan populasinya. Untuk mencegah kepunahan jenis ikan tersebut, maka perlu dibuat suatu keseimbangan antara kematian akibat penangkapan dan proses alami dengan pengambilan beberapa ikan tersebut. Berikut ini adalah cara-cara mencegah kepunahan ikan belida tersebut adalah :

1. Mendirikan suaka perikanan
2. Domestikasi
3. Penebaran kembali, dan
4. Pengembangan budidaya menjadi alternatif pencegahan kepunahan yang strategis

Suaka perikanan, khususnya daerah pemijahan menjadi penting dalam tindakan mencegah kepunahan ikan belida. Suaka perikanan tersebut akan menajdi peluang kepada ikan belida untuk melakukan proses reproduksinya secara normal. Domestikasi adalah upaya manusia untuk menjinakkan ikan liar agar dapat tumbuh dan berkembang dalam kondisi terkontrol sesuai dengan keinginan mereka. Proses domestikasi dapat dimulai pemeliharaan ikan belida ukuran kecil (benih) atau besar yang ditangkap dari alam dalam wadah budidaya. Ikan tersebut diberi pakan secara teratur sehingga matang kelamin dan dipijahkan secara terkontrol. Keberhasilan domestikasi ikan belida akan mendorong pengembangan budidaya yang dapat mengurangi tekanan penangkapan. Selain itu benih hasil pemijahan dapat ditebar kembali ke perairan umum (Yayan dan Syafei, 2005).

Upaya konservasi dan pengelolaan sumber daya ikan Belida sangat dibutuhkan dan  menjadi sesuatu yang mendesak demi kelestarian jenis ikan ini. Manfaat yang diperoleh tidak hanya mempertahankan sumber daya genetik dan spesies ikan belida, tetapi terkait juga dengan konservasi keanekaragaman hayati dan manfaat nilai ekonomi yang bisa diambil dari sumber daya tersebut. Selain itu dipandang juga dari sisi biologisnya, konservasi spesies ikan ini sangat penting karena fungsinya yang signifikan terhadap komunitas akuatik dan pentingnya sistem akuatik tersebut untuk keberlangsungan keseluruhan biosfer. Oleh karena itu, mari kita selamatkan empek empek Palembang! Eh salah…ayo jaga keberadaan ikan belida!!

Salam lestari!!!

DAFTAR PUSTAKA :

Adjie, S. dan Utomo, A.D. 1994. Aspek Biologi Ikan Belida di Perairan sekitar Lubuk Lampam Sumatera Selatan. Seminar Hasil Penelitian  Perikanan Air Tawar 1993/1994. Balai Penelitian Perikanan Air Tawar, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikaanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Sumatera Selatan.

Anonim. 2013. Ikan Belida. http://www.thecrowdvoice.com/post/ikan-belida-13330156.html. 8 Agustus 2014.

Anonim. 2014. Ikan Belida. (http://www.fishyforum.com/fishysalt/fishyronment/101-jenis-ikan-populer-belida-notopetrus-chitala-h-b.html. 8 Agustus 2014.

Cholik, F., Jagadraya, A.G.,Poernomo, R.P. dan Jauji, A. 2005. Akua Kultur Tumpuan Harapan, Masa Depan Bangsa. Masyarakat Perikanan Nusantara dan Taman Akuarium Air Tawar, Jakarta. Hal. 415.

Direktorat Jendral Perikanan. 2000. Statistik Perikanan Indonesia. Departemen Pertanian, Jakarta.

Inoue, J,G,Y.,Kumazawa, M.,Miya.dan Nishida, M. 2009. The Historical Biogeography of The Fresh Wate Knifefishes Using Mitogenomic Approaches : A Mesozoic Origin of Asian Notopterids (Actinopterygi : Osteoglossonorpha). Molecular Phylogenetics and Evolution. 51 : 486-499.

Kottelat, M., Whitten, A.J.,Kartikasari, S.N. dan Wirjoatmodjo, W. 1993.Freshwater Fishes Of Western Indonesia And Sulawesi. Periplus Editions, Singapore.

Mno. 2005. Makanan Untuk Perlindungan Mata. http://www.promosikesehatan.com/tips?nid=74. 8 Oktober 2014.

Pollnac, R.B. dan Malvestuto,S.P. 1991. Biological and Sosio Economic Condition For The Development and Management of Riverine Fisheries Resources In The Kapuas and Musi Rivers. The Central Research Institute for Fisheries.Agency for Articultural Research and Development. Ministry of Agriculture, Jakarta.

Pollnac, R.B. dan Malvestuto,S.P. 1992. Biological and Sosio Economic Condition For The Development and Management of Riverine Fisheries Resources In The Kapuas and Musi Rivers. The Central Research Institute for Fisheries.Agency for Articultural Research and Development. Ministry of Agriculture, Jakarta.

Sunaro.2002. Selamatkan Plasma Nutfah Ikan Belida. Warta Penelitian Perikanan Indonesia 8 (4) :2-6.

Yayan dan Syafei L.S. 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Ikan Belida Sehat Produksi Meningkat. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

 

 

 

 


22 responses to “Ikan Belida…Riwayatmu kini..”

  1. Victor says:

    Info yang cukup informatif, semoga dengan tulisan ini dapat menginspirasi teman2 yang tertarik untuk mendirikan penangkaran bagi ikan ini demi keberlangsungan hidup populasi ikan sehingga dapat ditingkatkan lagi populasinya. Kalau sudah begitu, empek2 bisa terus eksis, ikannya juga terus eksis..

    Salam.

  2. Leni Budhi Alim says:

    sayang sekali ikan belida yang mempunyai nilai gizi yang tinggi yang baik untuk dimanfaatkan hampir berujung tragis. Seharusnya, perlu diberi sosialisasi untuk masyarakat agar tidak menangkap terlalu berlebih atau penangkapan yang dapat merusak. Dengan populasi ikan belida yang semakin rendah, maka secara tidak langsung jumlah ikan endemik Indonesia semakin menurun, hal ini harusnya dilihat oleh pemerintah agar ikan belida lestari populasinya.

  3. catherinekath says:

    Blog nya kalau bisa diberi nama penulis ya.
    Domestikasi pemeliharaan ikan sejauh ini sudah berhasil?
    “fungsinya yang signifikan terhadap komunitas akuatik”, fungsi apa? apakah ada dominansi spesies tertentu jika Belinda hilang dari perairan tersebut?

    • Junaidi Pratama says:

      Oke mbak..makasih sarannya.
      Menurut saya, domestikasi sejauh ini blm berjalan maksimal dikarenakan pencarian induk atau anak ikan belida ini yang cukup sulit di alam, mengingat jumlahnya yang semakin hari semakin memprihatinkan. Hal ini bisa terbukti dimana Empek-empek asli Palembang sekarang semuanya berbahan dasar daging ikan gabus, sepat, dan kebanyakan dari ikan tenggiri.Jika proses domestikasi sudah berhasil, maka Empek-empek Palembang bisa berbahan daging ikan belida lagi di kemudian hari.
      Fungsi ikan belida di perairan sungai Musi sebagai konsumen tingkat akhir alias konsumen puncak mbak..Jika ikan belida menghilang atau jumlahnya semakin berkurang dari hari ke hari, makan populasi ikan kecil seperti ikan gabus, atau sepat akan meningkat.

  4. ronykristianto says:

    Wow, sungguh disayangkan jika ikan yang ‘enak’ ini terancam punah, disamping keanekaragaman hayati yang semakin berkurang, ada beberapa pihak yang dirugikan dengan sulitnya mendapatkan ikan ini untuk dijadikan produk olahan. Artikel yang sungguh menarik, saya ingin bertanya apakah ada aturan pemerintah yang berisi tentang batasan penangkapan ikan belida di perairan bebas ?

    • Junaidi Pratama says:

      Begitulah yang terjadi mas Ronny…semua ditangkap demi kepentingan materi tanpa memikirkan upaya konservasi. Untuk peraturan pemerintah sekarang tidak ada regulasi yang jelas mengenai batasan jumlah ikan belida yang boleh ditangkap di perairan bebas. “Mungkin” pemerintah masih belum peka dan membuka mata mengenai ancaman kepunahan terhadap ikan cantik ini..Begitu mas Ronny..

  5. sommaandi says:

    Wah….
    aku baru tau kalo ada empek-empek ikan belida.
    Kalau saya sendiri sih menolak mau memakannya,mari kita bersama – sama melestarikan ikan belida.
    ayo makan empek-empek dari ikan tengiri saja.

  6. Junaidi Pratama says:

    Yang asli dari turun temurun Empek-empek dari ikan belida mas Andi..karena mulai langka dan nyaris punah…empek empek diganti dari daging ikan tenggiri deh…Saya mah doyan empek-empek..dari ikan apa aja sih lewat 😀

  7. Krisna Dewantara says:

    baru tahu kalo selama ini empek-empek terbuat dari ikan belida. Herannya kenapa permintaan pasar tinggi tapi tidak ada peternakan ikan belida? apakah tidak dijelaskan disini? atau tidak memungkinkan untuk diternak?

    • Junaidi Pratama says:

      Iya mas Krisna..karena dagingnya yang lezat dan tidak amislah menjadi alasan permintaan pasar masih tinggi. Permintaan yang tinggi tidak diimbangi dengan konservasinya..bisa diternak mas krisna…mengingat jumlahnya sedikit sekarang, proses domestikasi atau pembuatan tambak masih berjalan lambat sekali..

  8. ronalsimaremare says:

    ikan belida kalau dikalimantan banyak dibuat kerupuk atau amplang, salah satu oleh-oleh dari kalimantan. belum pernah ngerasa sih, tapi katanya enak kok…
    wah…gawat kalau benar-benar punah.
    kasian ikan belida akan bernasib sama dengan dinosaurus kalau kita ga mulai melestarikannya.
    saya dengar-dengar budidaya ikan belida ini sangat mendesak untuk sekarang.
    kalau soal empek-empek saya setuju dengan mas andi, di ganti dengan ikan betok, lele dsb.
    mari kita melestarikan ikan belida…..
    SALAM LESTARI…

  9. VINCENT DEAN SADEWO says:

    bagus nih jun, menambah wawasan kita tentang besarnya keanekaragaman hayati, dan kita juga tahu kondisi nyata dari keanekaragaman hayati milik indonesia, lanjutkan..

  10. adeirma says:

    Padahal ikan ini dulu ada banyak di Kalimantan dan dijadikan amplang. Tapi apa daya bahkan ikan ini sudah hampir punah, mungkin ini bisa jadi motivasi buat kita bersama biar lebih memperhatikan lingkungan sekitar kita.

  11. danielharjanto says:

    info bagus, jun. dulu pernah pelihara ini ikan waktu jaman SD, baru tahu sekarang ternyata ini ikan hewan dilindungi, mungkin salah satu faktor kenapa banyak hewan yang terancam punah adalah kurangnya pengetahuan serta kesadaran masyarakat pada kondisi lingkungan dan kondisi hewan maupun tumbuhan didalamnya.

  12. ASTRI ASIH says:

    wah, artikel yang bagus mas jun. saya baru tahu ikan yg dibuat empek2 dan kemplang itu bukan ikan budidaya?

    apa saja syarat habitat untuk kehidupan ikan ini?

    karena saya orang Jogja, apakah memungkinkan jika ikan belida tersebut dibudidayakan di Jogja?

    mohon infonya terima kasih

    • Junaidi Pratama says:

      Iya makasih Mbak Astri..
      Ikan belida dapat dijumpai di sungai, rawa-rawa dan sungai yang banyak ditumbuhi tanaman air. Apa ada daerah semacam ini di Jogja?

  13. agnes9 says:

    bukan main menariknya artikel ini, semoga generasi muda saat ini lebih memiliki banyak wawasan dan strategi untuk menjaga keanekaragaman hayati di Indonesia, khususnya ikan belida.
    keep blogging!

  14. Suyatmi Wahyono says:

    Wah sayang sekali kalau jenis ikan belido sampai punah.

  15. ricanx says:

    ohhh ikan belida sama dengan ikan peso klo didaerah saya.. malah pada gak mau beli ikan macam tu. gak laku jual dipasar…. ternyata bisa dbuat makanan khas .. semoga ja ada pembuat mpekmpek disini.. jadi bisa menambah nilai ekonomis ikan peso didaerah saya..

  16. Taufan Widyasena says:

    ikan belida memang enak, tidak hanya untuk bahan dasar pempek, dibuat menu belida goreng atau pindang… rasa sama enaknya… ! 🙂

  17. diyan suherman says:

    ikannya menakutkan,,kelihatannya ngeri bnget dehhh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php