Jump Higher!

High Jumper

Look at your feet, they’ll bring yourself up there, in the air.

Are you ready?

This is only the beginning.

Halo, nama saya Bernadeta Anjani Tyas Budhayastri. Singkatnya, panggil Deta saja. Atau “heh” kalau tidak mau repot. Paling-paling saya cuma tidak mau mengo kalau anda panggil seperti itu. Kata-kata di atas itu? Biarkan saja. Itu hanya saya bicara dengan diri saya sendiri. Satu hal tentang saya: saya orangnya bandel. Ndlidig kalau orangtua saya bilang, atau ngeyel, bahkan sama diri saya sendiri pun, saya bandel! Jadi mohon dimaklumi jika saya sering bicara dengan diri sendiri. Saya butuh memotivasi diri saya sendiri ribuan kali bahkan hanya untuk melakukan satu pekerjaan.

Are your shoes properly tied?

Make sure it won’t make you stumbled when you’re making your approach run!

Sekarang status saya adalah mahasiswi Teknik Informatika UAJY angkatan tahun 2012, seorang anak, seorang kakak, seorang adik, seorang warga negara Indonesia, seorang generasi muda, seorang Katolik, dan seorang penentu masa depan diri saya sendiri (dan mungkin bangsa ini).

Saya tipikal mahasiswi prodi berembel-embel teknik biasa, jadi jangan bayangkan tampilan mahasiswi FISIP atau KG atau FEB Internasional. Kucel, ngantuk, dan kelihatan kuper, kurang lebih seperti itulah tampilan sehari-hari saya. Oke, mahasiswi Teknik (FTI maksud saya) banyak yang cantik-cantik, rapi-rapi, tapi yah saya tidak seperti itu pokoknya.

Pace. Timing. Strength. Composure.

Every single thing makes difference.

Consider everything before taking your first step.

Saya penikmat musik, belum bisa tidur kalau headphone belum terpasang di telinga. Tapi saya tidak bisa bermain musik kecuali pita suara saya yang pas-pasan. Saya penikmat bola. Tim favorit saya AC Milan. Mungkin anda pikir saya suka bola supaya dibilang keren, atau supaya dibilang tomboy, atau supaya lebih gampang ngobrol dengan cowok. Terserah anda mau berpikir apa. Tapi saya tahu kapan saya benar-benar menyukai sesuatu dan kapan saya hanya berpura-pura. Dan saya tidak pura-pura dalam hal ini.

Saya adalah mahasiswi UAJY yang galau karena SPAMA. Saya bingung dengan apa saya mengisi kolom minat bakat karena musik saya tidak bisa, pelajaran olahraga di SMA tidak pernah tuntas kecuali remidi. Semoga Tuhan memberi jalan.

See that bar? That’s how high you should jump.

Looks pretty damn high, huh? Can you do it?

Don’t doubt yourself!

Ini adalah blog wordpress saya yang ketiga. Yang pertama sudah saya gunakan selama dua tahun sebelum saya tiba-tiba lupa passwordnya. Blog kedua adalah pengganti yang pertama. Belum banyak post disana.

Blog ini blog untuk tugas-tugas. Itu berarti, pengunjung blog ini kalau bukan dosen ya, mahasiswa-mahasiswi kepo yang lagi surfing mencari inspirasi membuat review. Saya tidak masalah dengan traffic pengunjung sedikit. Dua blog saya pun cuma teman-teman saya pengunjung tetapnya.

The run is important. Don’t be too slow, don’t be too fast.

Take off at the right time. One mistake and it’s over.

Yang jadi masalah, blog ini akan dikunjungi dosen (halo, Pak, Bu). Jadi sebelumnya, maaf ya Bapak Ibu dosen, kalau post-post saya nyleneh, bahkan dalam tugas-tugas resmi.

Menurut saya pribadi, untuk review catatan misalnya, bahasa yang baku dan membosankan hanya akan membuat ngantuk. Tapi kalau bahasa nyleneh tidak berkenan di hati Bapak/Ibu Dosen, saya dengan senang hati akan mengganti. Saya juga tidak mau dapat D hahaha.

Why do you want to jump?

Who makes you want to jump?

How high will you jump for them?

Filosofi dari “Jump Higher!” sendiri pasti juga sudah bisa ditebak. Seperti lagu Sheila on 7, “Melompat Lebih Tinggi”, saya mengibaratkan pengalaman hidup seperti lompat tinggi.

Walaupun saya tidak pintar olahraga, saya suka olahraga lompat. Oke, walaupun saya suka, saya tetap tidak lebih ahli melompat dibanding jenis olahraga lainnya. Saya remidi entah berapa kali untuk tuntas materi lompat jauh SMA dulu. Tapi melompat itu ada “ugh”nya sendiri buat saya. Saya selalu ikhlas melompat, tidak seperti saat disuruh lari keliling lapangan. Saya paling kekeuh remidi lompat karena saya ingin tuntas dan ingin lompat.

Seperti filosofi kutu loncat yang saya dengar dari salah satu dosen, ada standar seberapa tinggi saya harus “melompat”. Karena saya ini bandel seperti yang saya bilang tadi, kalau saya tidak meng-set up  standar untuk saya sendiri, saya akan kesulitan memotivasi diri. Mungkin saat ini, saya belum terlalu tinggi melompat dan masih banyak “pelompat-pelompat” hebat di sekeliling saya, tapi demi diri saya sendiri, keluarga yang ingin saya banggakan, dan Tuhan yang menjadi sayap dan tumpuan kaki saya, saya akan berusaha melompat, makin tinggi dan makin tinggi.

Ah, sudah lama saya tidak menulis hal macam begini. Hahaha.

Now, stop thinking.

Overthinking will only make you worry too much.

You have consideration and measurement in your head, motivation and willpower in your heart.

Now run, and jump!


© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php