Berliani Christy

Kriuknya Ikan Seluang . . .

Posted: April 3rd 2016

ikan seluang
Ikan seluang (Rasbora argyrotaenia Blkr) atau ikan Bad (Sumatera) atau ikan paray atau wader (Jawa) merupakan ikan perairan tawar yang dapat ditemukan di Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Ikan ini dapat ditemukan di perairan sungai dan dataran banjir yang bersifat masam (Sulistiyarto dkk., 2007; Arsyad dan Syaefudin, 2010; Zulkifli dkk., 2011). Menurut Sulistiyarto dkk. (2010), ikan seluang merupakan omnivora karena makanan utamanya adalah detritus, hewan invertebrata, dan tumbuhan.
Ikan seluang mengadakan pemijahan biasanya pada saat musim hujan pada daerah perairan yang lebih dalam hingga ke rawa-rawa. Ikan ini tergolong heteroseksual. Ikan seluang mencapai matang gonad setelah mencapai ukuran panjang di atas 330 mm dan berat di atas 7 gram.

sungai kapuas kota sungai kapuas malam sungai kapuas dari alun2
Adanya sungai Kapuas yang sering mengalami pasang surut di Kalimantan Barat khususnya di Pontianak, menyebabkan Pontianak merupakan salah satu dataran banjir sehingga terdapat ratusan parit yang membelah kota Pontianak yang dibuat sejak zaman penjajahan Belanda dengan tujuan untuk mengatasi banjir saat pasang surut terjadi. Kondisi lingkungan yang seperti ini merupakan salah satu habitat bagi ikan seluang, sehingga ikan tersebut mudah diperoleh dan menjadi salah satu menu makanan ikan favorit bagi kebanyakan masyarakat lokal.

Potensi pengembangan budidaya perikanan di Provinsi Kalimantan Barat masih sangat terbuka lebar. Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di pulau Kalimantan sekaligus menjadi sungai terpanjang di Indonesia dengan mencapai 1.143 km. Potensi perikanan air tawar di sungai Kapuas adalah mencapai 2 juta ton.
Dari lahan yang berpotensi untuk dikembangkan, baru sekitar 1% lahan atau sebesar 2.005 ha yang sudah dimanfaatkan dari total 158.793 ha lahan yang memiliki potensi untuk berbudidaya ikan air tawar.

Ikan seluang biasanya dikonsumsi masyarakat dengan diolah ke dalam masakan ikan goreng yang gurih dan renyah, namun ada pula yang memasaknya dengan cara direbus dan ditambahkan serai dan kunyit. Ikan seluang juga dapat diolah dengan dikeringkan dan dibuat menjadi ikan asin.
ikan seluang 1 ikan seluang kering

Permasalahan yang dihadapi adalah karena ikan seluang merupakan salah satu makanan ikan favorit dan biasanya nelayan menangkap ikan tersebut dalam jumlah yang banyak tanpa adanya kriteria ketentuan ukuran ikan yang dapat dipanen sehingga kegiatan tersebut jika terus berulang dapat mengancam jumlah populasinya di sungai Kapuas, sementara sektor budidaya ikan tersebut masih sangat minimal. Ditambah pula dengan tingkat pencemaran Sungai Kapuas yang semakin memperparah habitat ikan tersebut. Kini sungai Kapuas sudah tercemar limbah dari kegiatan penambangan emas yang marak terjadi di anakan-anakan sungai Kapuas dan mencemari dari hulu hingga hilir sungai Kapuas.
tangkap ikan 3 ikan seluang 3
sungai kapuas tercemar 1 sungai kapuas tercemar 3

Hal yang dapat dilakukan adalah sebaiknya budidaya ikan seluang dikembangkan secara terpadu dan optimal, sehingga selain dapat mengontrol ketersediaan/stock dengan cara pemisahan kolam berdasarkan berat dan ukuran pemijahan dapat pula sekaligus melestarikan jumlah populasi ikan seluang di habitat aslinya. Para peneliti lokal juga dapat ikut ambil bagian dalam melakukan pendataan mengenai stock ikan seluang sehingga data yang dihasilkan dapat menjadi suatu sumbu utama dalam kegiatan pemanfaatan dan pelestarian ikan sleuang tersebut.

Selain itu dari pihak pemerintah dapat melakukan upaya pengontrolan yang lebih tegas terhadap instansi atau badan usaha yang melakukan penambangan secara tidak bertanggung jawab terhadap lingkungan. Kenakan sanksi dan hukum yang tegas terhadap para pelaku perusak alam tersebut. Masyarakat sekitar juga harus dibekali dengan ilmu baik secara teori maupun penerapannya mengenai bagaimana cara untuk memelihara sungai agar tetap terjaga dan lestari sehingga ketersediaan sumberdaya yang hidup di dalamnya dapat ikut terjaga kelestariannya.

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M. N. dan Syaefudin, A. 2010. Food and Feeding Habit of Rasbora (Rasbora argyrotaenia, Blkr) in The Down Stream of Musi River. Proceeding of International Conference on Indonesian Inland Waters II. Research Institute for Inland Fisheries, Palembang. Hal. 217 – 224.

Lisna. 2011. Biologi Reproduksi Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia Blkr) di Sungai Kumpeh Jambi. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.

Sulistiyarto, B., Soedharma, D., Rahardjo, M. F., Sumardjo. 2007. Pengaruh Musim Terhadap Komposisi Jenis dan Kemelimpahan Ikan di Rawa Lebak, Sungai Rungan, Palngkaraya, Kalimantan Tengah. Biodiversitas. 8(4) : 270 – 273.

Sulistiyarto, B. 2010. Komposisi Makanan Komunitas Ikan di Perairan Rawa Hutan dan Rawa Terbuka di Dataran Banjir Sungai Rungan Kalimantan Tengah. Journal of Tropical Fisheries. 5(2) : 499 – 504.


One response to “Kriuknya Ikan Seluang . . .”

  1. Artikel yang menarik mengenai ikan seluang,saya setuju mengenai jumlah stock yang tidak diketahu, mungkin tidak hanya kerusakan alam,overfishin atau kerusakan alam bisa jadi juga karena diminati banyak masyarakat sehingga nilai permintaan yang tinggi mau tidak mau dipenuh.. untuk itu bisa jadi dilakukan dengan penangkapan menggunakan jaring pukat harimau.
    Nilai : 85

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php