Berliani Christy

Lidah”-nya” Buaya, Sumberdaya Potensial Bumi Khatulistiwa

Posted: March 4th 2016

Lidahnya Buaya, Sumberdaya Potensial Bumi Khatulistiwa

Sumber : www.antarakalbar.com

Sumber : www.antarakalbar.com

Pontianak merupakan pusat pengembangan agroindustri lidah buaya di Indonesia. Tanaman lidah buaya di Pontianak memiliki taksonomi sebagai berikut :
Dunia    : Plantae
Divisi     : Spermatophytta
Kelas      : Monocotyledoneae
Bangsa   : Liliflorae
Suku       : Liliaceae
Marga     : Aloe
Spesies   : Aloe chinensis Baker

Sumber : pertanian.pontianakkota.go.id.

Sumber : pertanian.pontianakkota.go.id.

Mengapa Aloe chinensis menjadi sumberdaya lokal yang potensial di Pontianak, Kalimantan Barat? Hal tersebut disebabkan karena spesies tersebut merupakan jenis varietas terunggul di Indonesia bahkan keunggulannya diakui di dunia.
Tanaman ini memiliki berat sekitar 0,8 – 1,2 kg di setiap pelepahnya dan dapat dipanen setiap bulan sejak bulan ke 10 sampai 12 setelah penanaman sampai tahun kelima. Mutu panennya tergolong mutu A yaitu tanpa cacat atau serangan hama penyakit daun. Jauh lebih unggul bila dibandingkan dengan lidah buaya yang dibudidayakan di luar Pontianak, seperti Amerika dan China, dimana setiap pelepahnya hanya memiliki berat 0,5 – 0,6 kg dan hanya dapat dipanen satu kali setahun akibat faktor musim dingin.

Sumber : pertanian.pontianakkota.go.id.

Sumber : pertanian.pontianakkota.go.id.

Menurut Wardhanu (2013), kandungan nutrisi lidah buaya mengandung vitamin A, B1, B2, B12, C, dan E, Inositil, asam folat, dan kholin serta mineral berupa Zn, K, dan Fe. Gel lidah buaya mengandung 17 jenis asam amino penting. Berdasarkan kandungan nutrisi yang demikian lengkap dan bervariasi inilah maka potensi diversifikasi produk lidah buaya sangat besar.

Sampai saat ini luas lahan yang telah ditanami lidah buaya di Kalimantan Barat mencapai 75 Ha, dimana sebagian besar ditanam oleh petani di kota Pontianak, sedangkan luas potensi wilayah pengembangan adalah 20 ribu hektar. Lahan satu hektar dapat ditanami sekitar 7.500 tanaman lidah buaya. Dapat menghasilkan rata-rata 6-7 ton per hektar setiap kali panen atau 24-30 ton/ha per tahun dengan harga daun lidah buaya segar ditingkat petani mencapai Rp. 800 – 1500 per kg (Wardhanu, 2013).

 

MANFAAT
Di Kalimantan Barat, lidah buaya sudah diolah dalam berbagai bentuk makanan dan minuman seperti jus, koktail, gel lidah buaya dalam sirup, selai, jeli, dodol, dan manisan. Untuk memperpanjang umur simpannya telah dilkukan penelitian dengan pembuatan tepung lidah buaya dengan penambahan bahan pengisi (Sumarsi dkk, 1998).
Lidah buaya memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan manusia, antara lain :
1. Sebagai anti mikroba melawan bakteri pathogen
2. Sebagai pembersih tubuh
3. Penstabil kadar kolesterol darah
4. Pelindung tubuh karena memiliki kandungan antibiotik
5. Bahan yang dapat memperlambat penuaan dini
6. Bahan anti luka bakar

 

PERMASALAHAN PENGELOLAAN
Industri pengolahan lidah buaya masih berupa industri rumah tangga dan masih terbatas pada produk olahan bernilai tambah rendah. Menurut Musyafak (2003), masalah mendasar dalam sistem agribisnis lidah buaya di Kalimantan Barat adalah pemasaran. Hal tersebut berdasarkan indikasi bahwa kecilnya lidah buaya segar yang dapat dipasarkan, yaitu 6,85% dari total potensi produksi, sedangkan sisanya ditunda panen. Menurut Winarti dan Nurdjanah (2005), Produksi lidah buaya yang telah dimanfaatkan baru sekitar 0,02%, sedangkan sisanya diekspor dalam bentuk daun segar dan harga yang sangat rendah ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, dan negara-negara Eropa.

 

Daftar Pustaka :
http://www.antarakalbar.com/berita/326140/kalbar-potensial-jadi-pusat-produksi-lidah-buaya diakses tanggal 3 Maret 2016

http://www.litbang.pertanian.go.id/artikel/one/2/pdf/Agribisnis%20Lidah%20Buaya%20di%20Kalimantan%20Barat.pdf diakses tanggal 3 Maret 2016

http://pertanian.pontianakkota.go.id/produk-unggulan-detil/4-lidah-buaya.html diakses tanggal 3 Maret 2016

Musyafak, A. 2003. Agribisnis Lidah Buaya di Kalimantan Barat. Tabloid Sinar Tani, Kalimantan Barat.

Sumarsi, Lucyana, dan F. Anita. 1998. Pembuatan Tepung Lidah Buaya (Aloe vera Linn.)dengan Alat Pengering Semprot serta Karakteristik Mutunya. Warta IHP/J. Agro-Based Industry. 15(1-2): 1-5.

Winarti, C. dan Nurdjanah, N. 2005. Peluang Tanaman Rempah dan Obat sebagai Sumber Pangan Fungsional. Jurnal Litbang Pertanian. 24(2) : 47 – 55.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php