Berliani Christy

Kelapa Sawit VS Ladang Berpindah

Posted: December 4th 2015

gaung sang penakluk asap

gaung sang penakluk asap

Blogers… klik tulisan “gaung sang penakluk asap” dulu ya… selamat menyaksikan 🙂

Setelah itu, baru deh lanjut baca artikel di bawah ini… selamat membaca, semoga bermanfaat 🙂

Pulau Kalimantan terkenal dengan ekosistem hutan hujan tropisnya sejak zaman dahulu kala. Dulu tidak pernah terdengar kabar berita bencana besar yang meliputi Pulau Borneo ini…
Namun, dapat kita lihat sendiri terutama pemberitaan di dua tahun terakhir ini (2014 dan 2015) semakin ramai membincangkan bencana kabut asap yang melanda beberapa daerah di Indonesia, seperti di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Nah, pada artikel ini saya akan memfokuskan mengenai kondisi hutan di Kalimantan Barat khususnya hutan di daerah desa Kubu Padi, Kecamatan Kuala Mandor-B, Kota Kubu Raya.
Artikel ini dibuat berdasarkan video “Gaung Sang Penakluk Asap” di atas…. Jadi, tonton ya videonya sebelum membaca artikel ini lebih lanjut… hhe 🙂

Nah, berdasarkan video tersebut, tampak bahwa banyak masyarakat asli Kalimantan Barat sebenarnya masih belum mengerti sumber kabut asap yang terjadi dengan keadaan yang semakin buruk setiap tahunnya. Ternyata masyarakat lokal yang hidup di perkotaan menyalahkan masyarakat pedesaan yang melakukan ladang berpindah. Padahal menurut pendapat para ahli dan pengamat lingkungan di video yang sama mencermati dan menanggapi bahwa permasalahan kabut asap yang menimbulkan banyak korban dan kerugian ini bukan berasal dari kegiatan masyarakat yang melakukan kegiatan ladang berpindah. Masyarakat desa yang melakukan ladang berpindah tidak sembarangan membakar hutan/lahan milik mereka. Tradisi dan budaya dalam membuka ladang masih berjalan turun temurun di dalam masyarakat.

Fakta yang dapat menunjukkan bahwa bencana kabut asap di Kalimantan Barat bukan semata-mata berasal dari pembukaan ladang berpindah adalah tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya terjadi bencana yang menyengsarakan ini. Menurut pendapat ahli dan pengamat lingkungan Kalimantan Barat, sumber utama penyebab kabut asap adalah pembukaan besar-besaran perkebunan kelapa sawit yang semakin menjadi tren saat ini.

Masyarakat Dayak di desa Kubu Padi menjual lahan-lahan mereka kepada investor karena tergiur dengan tawaran pembelian dengan harga yang fantastis. Hal ini membuat masyarakat dengan perekonomian menengah ke bawah menjadi gelap mata dan bertindak gegabah, sehingga kini kebanyakan dari masyarakat Dayak di sana menjadi buruh di tanah mereka sendiri.

Langkah salah yang diambil ini menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat. Selain perekonomian mereka yang tidak membaik, mereka menerima dampak negatif dari perusakan lingkungan yang telah dilakukan investor terhadap “mantan” tanah mereka. Masyarakat pun tidak dapat lagi bertani dan bercocok tanam karena tidak memiliki lahan lagi.

Berlandaskan pada permasalahan ini, saya ingin membuat “Action Plan” yang paling memungkinkan untuk saya lakukan adalah dengan mengadakan kampanye dan penyuluhan kepada seluruh lapisan masyarakat di Kubu Padi melalui perantara Lembaga Swadaya Masyarakat dan Instansi Kehutanan Pripinsi Kalimantan Barat.

Rincian Pelaksanaan “Action Plan” konservasi hutan desa kubu padi wilayah mandor.
1

2

34

56

Seperti itulah gambaran Action Plan yang saya cita-citakan untuk menyelamatkan lahan-lahan hutan yang masih tersisa sebelum tanah Kalimantan Barat berubah menjadi “kilang minyak” dan tidak bisa tertolong lagi. Tampak dari Gambar 2 kawasan hutan yang dilambangkan warna hijau sudah mulai tampak jarang dan menyempit.

g1

Gambar 1. Gambaran Posisi Kota Pontianak dengan wilayah Kuala Mandor B (Sumber: Google Earth)

g2

Gambar 2. Gambaran kawasan Kuala Mandor B (Sumber: Google Earth)

Wilayah Mandor memiliki luas wilayah 3.080 Ha dengan kondisi topografi umumnya datar, tipe ekosistemnya hutan tropis gambut, dataran rendah berawa dan hutan kerangas. Memiliki potensi sumber daya alam seperti jenis tumbuhan Meranti (Shorea spp.), Jelutung (Dyera costulata), Keladan (Dryobalanops becarii), Mabang (Shorea pachyphylla), Kebaca (Melanorrhea walicchii), dan Ramin (Gonystylus bancanus). Jenis satwa liar yang dijumpai di kawasan ini antara lain bai hutan (Sus barbatus), Owa (Hylobathes agilis), Kera (Macaca fascicularis), da burung enggang hitam (Bucherotidae) (Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan, 2002).

 

Sumber: Pusat Inventarisasi dan Statistik Kehutanan Badan Planologi Kehutanan Departemen Kehutanan. 2002.


7 responses to “Kelapa Sawit VS Ladang Berpindah”

  1. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat lokal merupakan salah satu alasan penjualan lahan. Tidak hanya bencana asap saja yang menimpa, namun dalam jangka waktu kedepan banjir akan mengancam. Saya sependapat dengan action plan atau aksi personal anda dalam meningkatkan kesadarann masyarakat lokal. Menurut saya, penyuluhan terhadap seluruh lapisan masyarakat sangat membantu terlebih lagi bagi generasi muda untuk lebih mengenal, mengetahui dampak apa yang akan terjadi kedepannya serta solusi dari permasalahan yang akan timbul. Selain penyuluhan dari masyarakat, perlu juga adanya kerjasama dengan pemerintah untuk bersama mencari solusi dalam hal tersebut 🙂

  2. Yoseph Surya says:

    yah lagi..lagi karena kelapa sawit ya,, ya langkah sederhananya mengurangi konsumsi gorengan mungkin hehehe… agar produksi minyak dari kelapa sawit menurun, Karena lembaga2 terkait untuk menjaga ekosistem hutan tidak dapat diandalkan penyuluhan perlu diberikan ke masyarakat sekitar, supaya tidak senang sesaat karena mendapat uang dari perusahaan tetapi melihat dampak selanjutnya yg dihasilkan..

  3. elvinadea says:

    Artikel yang menarik dan tentunya kondisi yang cukup memprihatinkan. Sebaiknya masyarakat kota tidak menyalahkan masyarakat pedesaan, dikarenakan masyarakat pedesaan juga belum begitu paham asal mula kabut asap tersebut. Saya setuju dengan action plan yang ingin dicapai, tetapi sebaiknya lebih ditekankan kepada tindakan secara nyata sehingga masyarakat akan lebih paham tentang keadaan yang sebenarnya terjadi dan tentunya akan lebih menjaga kelestarian alam mereka.

  4. etti14 says:

    Lagi-lagi masalah Hutan yang habis akibat keserakahan beberapa orang maupun penggunaannya oleh masyarakat, sayang jika Hutan menjadi semakin berkurang, karena hutan sendiri merupakan paru-paru dunia bagi mahkluk hidup dibumi, semoga action plan mu dapat membantu menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan untuk kebutuhan masa depan. semangat.

  5. Berliani Christy says:

    Terima kasih ya untuk semua komentar dan usulannya 🙂

  6. watimena nababan says:

    rencana yang sangat terarah waktunya. namun, apakah ada kerja sama yang akan lakukan terkait dengan action plan ini? thx

  7. ayusuraduhita says:

    sukses terus planmu 🙂 SEMOGA DAPAT TEREALISASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php