Teknobiologi

Dianggap Hama Dirumah Sendiri

Posted: September 9th 2015

Orangutan Kalimantan
(Pongo pygmaesus)

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaesus)

Nama Lokal : Orangutan Kalimantan

Nama Latin : Pongo pygmaesus

Nama Inggris : Bornean Orangutan

KLASIFIKASI:

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Class : Mamalia

Ordo : Primata

Family : Hominidae

Genus : Pongo

Species : Pongo pygmaeus

orangutan_100624164137

Orangutan adalah satu-satunya kera besar asli Asia. Mereka hanya ditemukan di pulau Sumatera dan Kalimantan di Indonesia. Semua kera besar lainnya hidup di belantara Afrika. Ada dua spesies orangutan, yakni Sumatera dan Kalimantan. Orangutan Kalimantan dibagi menjadi tiga subspesies, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus yang ditemukan di barat laut Borneo, Pongo pygmaeus wurmbii di Borneo bagian tengah, dan Pongo pygmaeus morio di timur laut Borneo. Dari ketiga sub-spesies orangutan Borneo tersebut, Pongo pygmaeus wurmbii merupakan sub-spesies dengan ukuran tubuh relatif paling besar, sementara Pongo pygmaeus.morio adalah sub-spesies dengan ukuran tubuh relatif paling kecil.

Orangutan kalimantan memiliki morfologi yang tidak bebeda jauh dengan orangutan sumatera.Orangutan merupakan hewan diurnal (aktif di siang hari) dan aboreal , hewan ini memiliki tubuh gemuk dan besar, berleher besar, lengan yang panjang dan kuat, kaki yang pendek dan tertunduk serta tidak memiliki ekor. Tubuh Orangutan diselimuti rambut merah kecoklatan. Mereka juga memiliki kepala yang besar dengan posisi mulut yang tinggi. Pejantan orangutan kalimantan memiliki benjolan dari jaringan lemak di kedua sisi wajah yang mulai berkembang di masa dewasa setelah perkawinan pertama. Orangutan jantan memiliki pelipis yang gemuk.

Mereka memiliki indera yang sama seperti manusia, yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap dan peraba. Telapak tangan mereka terdiri dari empat panjang ditambah dengan satu ibu jari.Telapak kaki mereka juga memiliki susunan jari-jemari yang sangat mirip dengan manusia. Orangutan jantan berukuran 100- 114 cm dengan berat tubuh maksimal 90kg, dan orangutan betina berukuran 80-100 cm dengan berat tubuh sekitar 56kg. Masa hidup diperkirakan hingga 56 tahun jika dalam perlindungan ataupun perawatan dan 35-45 tahun jika di alam bebas.

Habitat Orangutan Kalimantan ini adalah di daerah hutan hujan tropis yang ada di Pulau Kalimantan, di daerah dataran rendah hingga daerah pegunungan dengan ketinggian 1.500 meter dpl. Mereka biasa tinggal di pepohonan lebat dan membuat sarangnya dari dedaunan. Meskipun Orangutan termasuk hewan omnivora, sebagian besar dari mereka hanya memakan tumbuhan. Makanan kesukaan Orangutan ini adalah buah-buahan. Makanan yang lainnya adalah daun-daunan, biji-bijian, kulit kayu, tunas tanaman (yang lunak), bunga-bungaan. Selain itu mereka juga memakan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya (seperti burung dan mamalia kecil). Orangutan bahkan tidak perlu meninggalkan pohon mereka jika ingin minum. Mereka biasanya meminum air yang telah terkumpul di lubang-lubang diantara cabang pohon.

715Orangutan2

Satwa ini hidup endemik di Pulau Kalimantan, mencakup wilayah Indonesia dan Malaysia. Subspesies Pongo pygmaeus pygmaeus (Northwest Bornean Orangutan) dapat ditemukan di Serawak (Malaysia) dan Kalimantan bagian barat laut. Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii (Central Bornean Orangutan) terdapat di Kalimantan Tengah dan bagian selatan kalimantan Barat. Sedangkan subspesies Pongo pygmaeus morio (Northeast Bornean Orangutan) dijumpai di Kalimantan Timur (Indonesia) dan Sabah (Malaysia).

Status Konservasi, IUCN Redlist memasukkan orangutan kalimantan dalam status endangered (terancam) sejak tahun 1994. Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya dalam waktu kurang dari 20 tahun. Tak jarang mereka juga dilukai dan bahkan dibunuh oleh para petani dan pemilik lahan karena dianggap sebagai hama. Jika seekor orangutan betina ditemukan dengan anaknya, maka induknya akan dibunuh dan anaknya kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal.

foto-orangutan-butuh-kepastian-tempat-pelepasliaran

Untuk menanggulangi keterancaman punahnya Orangutan Kalimantan semenjak tahun 1960-an telah dilakukan program rehabilitasi Orangutan dengan tujuan utama untuk penambahan populasi serta peningkatan kualitas hidup Orangutan. Rehabilitasi adalah proses pengembalian hewan-hewan liar dari kehidupan tangkapan ke kehidupan liar dalam suatu lingkungan alami. Proyek-proyek rehabilitasi menjadi salah satu jalan keluar dalam menanggulangi keterancaman suatu spesies. Rehabiltasi pada prosesnya juga harus melakukan pendididkan konservasi dan upaya pelestarian dengan melibatkan masyrakat setempat dan secara meluas. Rehabilitasi dilakukan di daerah sebaran Orangutan Kalimantan.

Selain melalui upaya rehabilitasi orangutan kalimantan, upaya pembuatan kebijakan-kebijakan untuk menjaga kelestarian orang utan kalimantan ini juga dibuat, serta upaya-upaya nyata seperti inventarisasi orangutan kalimantan secara berkala juga terus diupayakan untuk dilakukan untuk menjaga dan mengetahui langkah-lagkah yang harus dilakukan daam pegelolaan orangutan kalimantan agar mencapai kelestarian.

SUMBER:

Ancrenaz, M., Marshall, A., Goossens, B., van Schaik, C., Sugardjito, J., Gumal, M. & Wich, S. (2007).

Pongo pygmaeus. 2007 IUCN Red List of Threatened Species. IUCN 2007. Diakses pada 2007-09-13.

Brotowijoyo, Mukayat Djarupito.1994.Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga

Nellemann, C., Miles, L., Kaltenborn, B. P., Virtue, M., and Ahlenius, H. (Eds). 2007. The last stand of the orangutan – State of emergency: Illegal logging, fire and palm oil in Indonesia’s national parks. United Nations Environment Programme, GRID-Arendal,Norway, www.grida.no. ISBN No: 978-82-7701-043

A. Wich; S. S. Utami-Atmoko; T. M. Setia; H. D. Rijksen; C. Schürmann, J.A.R.A.M. van Hooff and C. P. van Schaik (2004). “Life history of wild Sumatran orangutans (Pongo abelii)”. Journal of Human Evolution 47 (6): 385–398

 


4 responses to “Dianggap Hama Dirumah Sendiri”

  1. felisita1414 says:

    Nih udah aku komen :p

  2. beathrine says:

    Artikel yang menarik menurut saya. Tetapi mengapa hanya anak orangutan yang dijual sedangkan induknya dibunuh? Apa yang menyebabkan anak orangutan lebih laku di pasaran perdagangan hewan liar?

  3. julioalexander says:

    infonya menarik,semoga pemerintah lebih serius dalam melestarikan orang hutan.

  4. donnyfranklyn says:

    mantap nih materi nya. Iya nih jadi buat pertanyaanku dari dulu, mengapa harus dibunuh induk nya dan yang laku hanya anak nya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php