Jacqueline's

Tokhtor Sumatera: Kepunahan di Depan Mata

Posted: September 5th 2014

Pernahkah anda mendengar nama burung Tokhtor Sumatera?

Atau mungkin ada yang pernah mendengar nama burung Sumatran Ground-cuckoo?

Mungkin sebagian besar dari penduduk pulau Sumatera pun belum pernah mendengar nama burung yang telah disebutkan diatas, apalagi penduduk dunia atau bahkan penduduk dunia. Burung Tokhtor Sumatera dan burung Sumatran Ground-cuckoo adalah satu spesies yang sama. Burung Tokhtor Sumatera atau Carpococcyx viridis merupakan salah satu burung yang menurut kategori IUCN Red List masuk dalam kategori Critically Endangered (terancam punah). Kategori ini adalah dua kategori tekahir sebelum masuk dalam kategori Extinct (punah)

untitled

Gambar 1. Status Konservasi Burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis)

Burung Tokhtor Sumatera merupakan burung hutan terrestrial. Burung ini memang kurang terkenal dan diperkirakan memiliki populasi yang sangat kecil dan semakin menurun. Bahkan jika Anda menelusuri internet dengan kata kunci “Burung Tokhtor Sumatera” atau Carpococcyx viridis hampir semua data yang diberikan sama dengan data yang tercantunm pada situs iucnredlist.org.

Burung Tokhtor Sumatera merupakan jenis burung yang hidup dipermukaan tanah dan memiliki ukuran tubuh yang besar yaitu sekitar 55-60cm. Paruh dan kedua kaki burung ini memiliki warnah hijau dan mahkotanya berwarna hitam. Mantel sisi atas, leher samping, penutup sayap dan bagian penutup sayap tengah memilikiwarna hijau pudar. Sisi bawah tubuh memiliki warna coklat dengan palang berwarna coklat kehijauan luas. Sayap dan ekor berwarna hitam mengilap. Tenggorokan bagian bawah dan dada bawah bewarna hijau pudar, sisi bawah sisanya bungalan kayu manis, segi tubuh kemerahan. Kulit pada sekitar mata berwarna hijau, lila, dan juga biru.

sumatrangroundcuckooincage_wcsnb 1026344634

Gambar 2. Burung Tokhtor Sumatera (Carpococcyx viridis)

Spesies ini merupakan spesies endemik pulau Sumatera. Kesimpulan ini diperoleh karena diseluruh dunia hanya terdapat 8 spesimen dan beberapa diketahui dari suatu seri pengamatan yang kebanyakan berada di daerah bukit Barisan. Keberadaan spesies ini pernah dianggap punah. Sejak tahun 1916, tidak pernah ada individu yang terlihat, terperangkap, atau terabadikan gambarnya hingga November 1997 seekor burung terjebak dan terfoto di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan oleh Andjar Rafiastanto. Setelah penemuan itu, beberapa burung Tokhtor ini telihat lagi pada tahun 2000 dan tertangkap kamera survey untuk harimau di dekat Taman Nasional Kerinci Seblat pada tahun 2006.

Pada  tahun 2007, seekor burung tertangkap dan dibawa untuk dikonservasi di taman nasional Bukit Barisan Selatan pada tahun 2007. Beberapa burung juga pernah terlihat dan terdengar kicauannya di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Diperkirakan populasi burung Tokhtor sumatera berkisar antara 50-249 individu dewasa.  Populasi diduga menjadi menurun karena hilangnya habitat dan tekanan perburuan, meskipun tingkat kemungkinan penurunan belum diperkirakan.

Alih fungsi hutan telah meluas di area Sumatera, mungkin inilah yang menjadi ancaman utama dalam keberlangsungan hidup burung Tokhtor Sumatera. Seetidaknya dua pertiga samapai empat perlima kawasan hutan dataran rendah ditutup dan setidaknya sepertika dari hutan pegunungan telah hilang.  Kebanyakan digunakan untuk meningkatkan aspek agricultural dengan menebang tanaman-tanaman asali, yang akhirnya member efek negative pada hutan pegunungan secara luas bahkan hingga ke area yang dilindungi. Selain itu, karena sifat burung Tokhtor merupakan burung yang hidup dipermukaan tanah, maka burung Tokhtor kemungkinan besar dapat tertangkap oleh jebakan pemburu baik sengaja maupun tidak sengaja. Sebuah catatan beberapa tahun yang lalu, seekor burng Tokhtor Sumatera tertangkap oleh pemburu yang kemungkinan besar meletakan jebakan untuk Ayam Hutan Merah Gallus Gallus.

Perburuan hewan terrestrial dengan menggunakan perangkap juga turut menjadi ancaman bagi burungg Tokhtor Sumatera. Walaupun perangkap ini tidak ditujukan untuk burung ini, namun keberadaannya cukup mengkhawatirkan bagi keberlangsungan hidup salah satu spesiesaves endemic Sumatera ini.

untitled2

Gambar 3. Area berwarna kuning-oranye adalah area dimana burung Tokhtor masih tersisa

Saat ini, terdapat 20kawasan lindung diarea Bukit Barisan, beberapa diantaranya terletak diarea dimana burung Tokhtor pernah dijumpai. Upaya survey terhadapa keberadaan burung ini cenderung meningkat menyusulrekaman terbaru kicauannya: pengetahuian tentang kicauan burung Tokhtor telah memmfasilitasi studi tentang dua spesies Asia beberapa saat yang lalu. Upaya untuk melindungi habitan burung Tokhtor dan mempromosikan pariwisata juga sedang dikembangkan.

IUCN pada situsnya juga mencantumkan upaya konservasi yang mungkin dapat dilakukan untuk menjauhkan burung Tokhtor dari kepunahan, antara lain:

  1. Memilih area survey yang potensial dengan mengidentifikasi jejak habitat buurung Tokhtor yang tersisa di Bukit Barisan, khussusnya dekat area bersejarah.
  2. Melakukan wawancara dengan penduduk desa di sekitar habitat burung Tokhtor
  3. Melakukan survey ekstensif(menggunakan rekaman kicauan terbaru dari spesies ini) untuk menentukan area jelajah yang sebenarnya, distribusi dan populasinya sekarang, serta menilai apa yang dibutuhkan di habitat aslinya, ancaman serta kebutuhan konservasi
  4. Setelah dilakukan survey, populasi kunci perlu ditinjau apakah telah terwakili secara memadai dalam area yang terlindungi atau tidak,
  5. Memasukkan spesies dibawah perlindungan penuh hukum Indonesia

 

Sumber:

http://www.iucnredlist.org/details/full/22724459/0

http://www.satwa.net/536/burung-tokhtor-sumatera-ciri-ciri-habitat-tokhtor-sumatera.html

 


12 responses to “Tokhtor Sumatera: Kepunahan di Depan Mata”

  1. selviaemanuella says:

    Bagaimana dengan hukum yang mengatur tentang pemburuan hewan terestrial ? apakah pemerintah sudah membuat perundang-undangnya ?

    • jejejacqueline says:

      belum ada perundang-undangan yang spesifik yang melindungi hewan terestrial. yang ada UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Flora dan Fauna Indonesia

  2. vika says:

    Aku belum pernah melihat burung itu T.T

    Setidaknya masih dilestarikan di yayasan lindung, semoga masih tetap lestari hingga anak cucu 🙂

    • jejejacqueline says:

      kalau sempat bisa sesekali berkunjung ke taman nasional bukit barisan selatan untuk melihat burung tokhtor. liburan sekaligus menambah wawasan 🙂

  3. caterinaakila says:

    Belum pernah dengar ada burung Tokhtor dan skrg sudah mau punah saja. Good information

    • jejejacqueline says:

      banyak juga speies burung lain endemik Indonesia yang belum pernah dilihat masyarakat luas, bahkan belum pernah didengar namanya tapi ssudah terancam punah 🙁 Ayo selamatkan satwa endemik Indonesia!!

  4. arum08 says:

    melihat sumber daya manusia di Indonesia saat ini, apakah burung Tokhtor dapat menjalani proses konservasi berkelanjutan??

  5. luhshyntia says:

    ternyata selain namanya yang lucu dan jarang didengar, keberadaannya pun sudah tidak selucu namanya dan kasihan terlalu banyak spesies di indonesia yang hampir mau punah 🙁

  6. Inge says:

    Info yang menarik. thx udah ngenalin satu lagi fauna endemik Indonesia ke aku. Kaya yang lainnya, lagi2 adalah gara2 alih fungsi hutan. hmmm… semoga masyarakat tambah aware ttg pentingnya hutan. hutan=peti harta karun, jangan sampai kcolongan tuh. Ada lagi yg menarik, ttg survey ekstensif menggunakan rekaman kicau burung. itu caranya gimana ya?

    • jejejacqueline says:

      jadi, survey ekstensif dengan kicauan burung itu caranya dengan memasang suara rekaman tersebut disuatu tempat. harapannya, rekaman kicau burung tokhtor tersebut dapat memancing burung tokhtor lain yang masih ada di alam liar untuk mendekat sehinggga dapat dipantau keberadaannya

  7. novia11 says:

    waw terima kasih infonya jujur saya belum pernah mendengar tentang burung Tokhtor
    Apa yang biasa dimakan oleh burung Tokhtor?

  8. catherinekath says:

    ada suatu ketika burung ini dinyatakan punah, dan ternyata ada meski dalam populasi kecil. Bagaimana populasi kecil ini bertahan selama berapa dekade? Apakah ada adaptasi perilaku yang mungkin dilakukan sehingga mereka dapat bertahan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php