Jacqueline's

Genetika, Kepunahan, dan Populasi

Posted: August 31st 2014

Pernahkan Anda menonton Film Jurassic Park? Sebuah film fiksi ilmiah yang mengisahkan tentang usaha untuk menghidupkan kembali dinosaurus yang telah mengalami kepunahan. Beberapa waktu yang lalu, usaha “membangkitkan” kembali hewan yang telah punah pernah dicoba untuk menghidupkan kembali gajah purba yang telah punah, namun usaha ini belum berhasil. Usaha yang mungkin dilakukan sampai saat ini adalah mencegah kepunahan dengan cara analisis gen.

jurassic-park-the-lost-world

Gambar 1. Jurassic Park (film)

Kepunahan suatu spesies tentunya tidak diharapkan oleh seorangpun. Kepunahan suatu spesies dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan ekologi. Gangguan ini terjadi karena hilangnya salah satu bagian rantai makanan sehingga dapat menyebabkan meningkatnya populasi suatu jenis atau berkurangnya populasi jenis yang lain. Gangguan ini lah yang mendasari usaha konservasi spesies yang hampir punah

Melalui bidang kajian ekologi molekuler, konservasi spesies yang termasuk dalam golongan hampir punah dapat dilakukan melalui identifikasi sifat-sifat genetic erutama bagi satwa yang dilindungi. Hasil identifikasi sifat-sifat genetic dapat membantu memberikan informasi mengenai tingkat kelangkaan atau tingkat kekriitisan spesies yaitu dengan melihat heterosigotitas atau derajat polimorfisme. Hasil identifikasi ini juga dapat membantu menentukan jumlah populasi minimum atau jumlah populasi efektif yang dapat dibenarkan harus ada pada suatu lokasi guna menjamin kelestarian jenis tersebut.

Kegunaan lainnya adalah dapat membantu upaya-upaya pengangkaran, seperti untuk mengatur perkawinan agar teerhindar dari inbreeding dan meningkatkan heterosigositas, serta dapat membantu upaya restocking dan pendistribusian ulang satwa hasil penangkaran ke habitat aslinya di alam guna mencegah kemungkinan polusi genetic yaitu melalui informaasi sifat genetic tersebut dapat digunakan sebagai bahan rujukan dalammenentukan individu-individu yang secara genetic dapat dibenarkan untuk restocking dan pendistribusian ulang.

Pada satu decade terakhir ini, pengambilan sampel DNA mulai dilakukan dengan sampel non-invasive seperti menggunakan DNA dari feses. Sampel ini menjadi salah satu alternative untuk melakukan berbagai studi populasi misalnya ukuran populasi, pola penyebaran, organisasi spasial, dan keterkatiran populasi disuatu tempat dengan tempat yang lain. Namun pengambilan sampel DNA dari feses ini memerlukan ketelitian karena terdapat juga DNA dari mikrobia usus dan hewan yang dimangsa. Pengambilan sampel non-invasive ini salah satunya dilakukan pada berang-berang Neotropical (Lontra longicaudis)

Spring Weather Zoo

Gambar 2. Berang-berang Neotropical (Lontra longicaudis)

Analisis molekuler pada penelitian yang dilakukan pada tahun 2012menggunakan ekstrak DNA feses yang diperoleh menggunakan QIAamp DNA Stool Mini Kit (R) (Qiagen). Sebagai kontrol kualitas untuk ekstrasi DNA, dilakukan diagnosis PCR dengan target segmen pendek DNA mitokondria (mtDNA).

Sumber: Trinca, C. S., Jaeger, C. F., Eizirik, E. 2013. Molecular ecology of the Neotropical otter (Lontra
longicaudis): non-invasive sampling yields insights into local population dynamics. Biological Journal of the  Linnean Society, halaman 932-948.


9 responses to “Genetika, Kepunahan, dan Populasi”

  1. rivanakhaliska says:

    informasi yang bermanfaat! semakin menambah wawasan mengenai peran bidang kajian ekologi molekuler dalam kehidupan.

  2. alfonslie says:

    informasi yang sangat menarik. keep blogging 🙂

  3. yulent says:

    ternyataa… makasih nih infonya….

  4. intanmiw says:

    bagus kakak Jack infonya, khususnya mengenai metode sampel non-invasive dengan menggunakan sampel feses.
    Apakah ada sampel lain selain feses yang dapat digunakan sebagai sampel non-invasive?
    untuk metodenya, kapan harus memakai yang sampel invasive dan non-invasive; dan apa sih perbedaan metode sampel invasive dan non-invasive?
    :*

    • jejejacqueline says:

      sepertinya Intan tertarik sekali ya tentang sampel non-invasive 🙂 Selain menggunakan feses bisa juga menggunakan rambut. Harimau sumatera di kebun binatang bandung sudah dianalisis pedigree-nya menggunakan sampel tersebut. Perbedaan utama antara metode invansif dan non invansif terdapat pada proses pengambilan sampel nya. Jika menggunakan metode non invansif, sampel yang diambil tidak perlu menggunakan spesimen langsung dari spesies yang akan dianalisis, seperti feses dapat diambil dari ceceran dialam liar, rambut juga dapat diambil dari ceceran di kandang harimau 🙂 semoga membantu 🙂

  5. yulent says:

    oh ya,, apakah ada perbedaan hasil dari feses atau rambut dilihat dari kualitas DNA yang didapat? apakah dari sumber yang kamu dapat, memiliki penjelasan tentang hal tersebut? 😀

    • jejejacqueline says:

      sayang sekali kakak, dari sumber saya tidak ada penjelasan tentang hal tersebut karena analisis non invasive yang dilakukan pada berang-berang tersebut hanya dilakukan menggunakan fesesnya saja, sedangkan analisis non-invasive menggunakan rambut ditemukan dari jurnal lain mengenai harimau sumatera.
      namun disebutkan, bahwa dalam metode non invasive menggunakan feses, akan ditemui pula DNA dari hewan-hewan yang dimangsa oleh berang-berang(karena sifat berang-berang yang karnivora)dan DNA dari mikrobakteri dari saluran pencernaan berang-berang. jadi perlu dibedakan mana yang benar-benar DNA berang-berang, mana yang merupakan DNA sampingan. Semoga membantu

  6. mynarita says:

    sedih sekali ya dengan kepunahan yang terus marak dari generasi ke generasi. sepertinya memang metode non-invasive sekarang juga banyak digunakan, itu bisa menjadi salah satu alternatif baru dalam penelitian bidang ekologi molekuler. cik jek, kira-kira analisis Qiagen itu seperti apa yah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php