Hanya untuk Tugas~

Konservasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)

Posted: December 10th 2019
(Sumber: Save Sumatran Rhinos)

Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) merupakan spesies endemik di Pulau Sumatera, tetapi persebaran tidak hanya di Pulau Sumatera. Persebaran badak Sumatera yaitu di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dengan persebaran tebesar di Pulau Sumatera sedangkan persebaran di Pulau Kalimantan hanya sedikit. Persebaran di Pulau Sumatera yaitu Aceh, Jambi, dan Lampung dengan persebaran terbesar di Aceh. Persebaran di Pulau Kalimantan yaitu Sabah, Semenanjung Malaysia, dan Kalimantan Timur.

Persebaran Badak Sumatera (Sumber: WWF Sumatran Rhinos).

Ciri-ciri badak Sumatera yaitu ukuran badan kecil, memiliki dua cula, tinggi badan 1 – 1,5 meter, berat badan 600 – 950 kg, rambut banyak memenuhi tubuh, kulit berwarna coklat keabuan atau kemerahan, dan telinga besar. Habitat badak Sumatera yaitu hutan rawa dataran rendah dan hutan perbukitan tetapi hewan ini sangat menyukai hutan dengan vegetasi lebat. Vegetasi lebat yang dimaksud yaitu dataran rendah yang terdapat makanan tumbuh rendah. Makanan badak Sumatera yaitu buah-buahan (manga liar dan buah fikus), daun-daunan, ranting kecil, dan kulit kayu. Badak Sumatera hidup membentuk kelompok kecil tetapi pada umumnya hidup menyendiri (soliter).

Badak Sumatera (Sumber: Mongobay Indonesia).

Badak Sumatera termasuk dalam satwa yang dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. UU ini menegaskan bahwa spesies ini tidak boleh disakiti, dibunuh, dipelihara, diperdagangkan, jika hukum ini dilanggar, maka pelakunya akan dijerat hukuman penjara selama 5 tahun dan denda 100 juta rupiah. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), status konservasi badak Sumatera yaitu CR (Critically Endangered). Status ini menandakan badak Sumatera berada dalam klasifikasi kritis dan terancam punah. Populasi badak Sumatera diperkirakan 300 individu.

Status Konservasi Badak Sumatera (Sumber: www.iucnredlist.org).

Ancaman yang dihadapi badak Sumatera yaitu perburuan liar dengan mengambil cula atau bagian tubuh lainnya yang dipercaya sebagai obat tradisional. Cula badak hanya tersusun dari keratin yang sama dengan kuku dan rambut manusia sehingga hal ini tidak terbukti secara ilmiah bahwa cula badak sebagai obat tradisional. Perburuan liar menyebabkan terjadi perdagangan illegal ke pasar gelap hingga pasar internasional sehingga merupakan tindakan kejahatan transnasional. China dan Vietnam merupakan negara terbesar dalam perdangangan illegal produk obat tradisional dari badak Sumatera.

Perdagangan Liar Obat Tradisional dari Cula dan Bagian Tubuh Lain Badak Sumatera (Sumber: WWF Sumatran Rhinos).

Kerusakan habitat disebabkan karena deforestasi hutan yang diikuti dengan aktivitas manusia sehingga menyebabkan populasi badak Sumatera berkurang dan menuju kepunahan. Deforestasi hutan menyebabkan hutan terfragmentasi dalam kotak terisolir sehingga badak Sumatera terpaksa memasuki ladang penduduk untuk mencari makan. Ancaman di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yaitu menggunakan hutan menjadi kebun kopi dan tanaman lain.

Upaya yang dilakukan WWF Indonesia yaitu berkerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Lampung) yang merupakan area konservasi badak Sumatera. WWF Indonesia dibantu dengan Departemen Kehutanan dan Balai Taman Nasional untuk mewujudkan kegiatannya yaitu upaya perlindungan habitat, pengelolaan kawasan, pengembangan masyarakat, advokasi dan kebijakan, serta pendidikan dan penyadartahuan. Upaya ini berhasil meningkatkan populasi badak Sumatera sehingga 60 – 80 ekor tercatat berada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

WWF berupaya merehabilitasi habitat badak Sumatera di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) khususnya pada beberapa lokasi yang dikonversi secara illegal untuk perkembangan kebun kopi dan produk pertanian lain. WWF meningkatkan pendapatan petani di area penyangga TNBBS dengan meningkatkan teknik produksi kopi. Upaya penyadartahuan di sekitar desa-desa TNBBS dengan patroli dilakukan supaya kawasan TNBBS yang telah menjadi kebun kopi dapat direhabilitasi sehingga dapat berfungsi kembali menjadi lahan hutan habitat badak Sumatera.

Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Sumber: WWF Sumatran Rhinos).

WWF membantu memperkuat upaya anti perburuan badak Sumatera di TNBSS dengan membangun tim patroli terlatih yaitu Rhino Protection Units (RPU) yang dikelola oleh mitra LSM Yayasan Badak Indonesia dan International Rhino Foundation. RPU berkerjasama dengan balai TNBBS dengan dukungan WWF berpatroli di area kunci TNBBS sehingga efektif menstabilkan populasi badak Sumatera dari perburuan. Kasus perburuan badak Sumatera di TNBBS tidak pernah lagi ditemukan sejak tahun 2002 karena tim patroli berhasil melakukan aksinya. Upaya lain yang berhasil dilakukan yaitu penyebaran konservasi badak Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh) dan Hutan Lindung Kelian Lestari (Kalimantan Timur).

Upaya lain yang berhasil dilakukan yaitu memperluas Suaka Rhino Sumatera (SRS) di Taman Nasional Way Kambas (Lampung) menjadi 150 hektar pada 30 Oktober 2019. Luas awal SRS yaitu 100 hektar pada tahun 1996. Perluasan SRS dilakukan untuk membuat kehidupan badak Sumatera nyaman sehingga menghasilkan keturunan lebih banyak. SRS merupakan wilayah berpagar listrik yang dipantau selama 24 jam penuh yang diharapkan menjadi pusat breeding dan tempat konservasi badak Sumatera di Indonesia. Program utama SRS yaitu menghasilkan anak badak sebanyak mungkin dengan kondisi yang aman untuk badak. Kelahiran badak melalui perkawinan alami tetap dilakukan dengan cara mengawinkan induk unggul yang tidak mempunyai masalah dengan saluran reproduksi.

Konservasi Badak Sumatera di Taman Nasional Way Kambas (Sumber: Mongobay Indonesia)

Kehilangan habitat dan perburuan merupakan ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup badak Sumatera. Upaya-upaya dibutuhkan untuk menyelamatkan habitat hutan dimana badak Sumatera hidup. Plan action yang ingin dilakukan yaitu melindungi kawasan hutan dimana habitat badak Sumatera hidup untuk mengurangi laju deforestasi hutan. Penghentian penggunaan hutan menjadi pembukaan lahan untuk kepentingan industri dapat menyelamatkan dan mempertahankan fungsi hutan secara alami.

Perdagangan cula dan produk-produk berasal dari tubuh badak Sumatera harus dihentikan segera agar pemburu yang melakukan perburuan dan perdagangan dapat dikurangi. Cara menguranginya yaitu memberikan penyuluhan dan meningkatkan kesadaran terhadap pemburu karena cula badak tidak mengandung khasiat khusus sebagai obat tradisional. Pelaku perburuan dan perdagangan harus ditindaklanjuti dan ditindak tegas melalui hukum karena melanggar UU No 5 Tahun 1990.

(Sumber: ddg-distribution.com).

Daftar acuan:

Mongobay Indonesia: Menolak Punah Badak Sumatera, Sumatran Rhino Sanctuary Diperluas [Bagian 1]

WWF Badak Sumatera

WWF Sumatran Rhinos


2 responses to “Konservasi Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis)”

  1. Veronica belinda says:

    Lengkap dan sangat tertata dengan rapi artikelnya. Semoga action plan tersebut dapat terealisasikan dengan baik sehingga spesies tersebut tetap lestari di habitat alaminya.

  2. mariapietasari says:

    terimakasih atas informasi yang diberikan. Gambar yang digunakan sangat membentu untuk visualisasi serta informasi yang diberikan lengkap. Semoga kedepannya perburuan badak dapat diberantas dan masyarakat lebih selektif pada isu-isu bahan yang terbuat dari binatang terutama hewan langa sehingga dapat lestari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php