Hanya untuk Tugas~

Konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)

Posted: December 9th 2019

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan spesies endemik yang ditemukan di Pulau Sumatera. Ciri-ciri gajah Sumatera yaitu ukuran badan lebih kecil, berat badan 4 – 6 ton, tinggi sekitar 1,7 – 2,6 meter, memiliki dua tonjolan pada bagian atas kepala, telinga lebih kecil dengan bentuk segitiga, dan kulit terlihat lebih terang. Habitat gajah Sumatera yaitu hutan primer dan sekunder di Pulau Sumatera. Populasi gajah Sumatera tersebar di 7 provinsi yaitu Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung

Makanan gajah Sumatera yaitu tumbuh-tumbuhan berupa rumput-rumputan, daun-daunan, umbi-umbian, buah-buahan tetapi pada umumnya menyukai rumput-rumputan. Gajah termasuk hewan nokturnal yaitu aktif pada malam hari. Gajah Sumatera hidup berkelompok yang membentuk rombongan dengan tujuan menjaga kelangsungan hidup. Pergerakan gajah Sumatera dalam satu hari mencapai 20 km2 luas area sehingga kebutuhan luas area untuk kebutuhan habitat gajah Sumatera yaitu minimal 250 km2 dengan luas hamparan tidak terputus

Gajah Sumatera termasuk dalam satwa yang dilindungi menurut Undang-Undang No 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan diatur dalam Peraturan Pemerintah, yaitu PP No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), status konservasi gajah Sumatera yaitu CR (Critically Endangered). Status ini menandakan gajah Sumatera berada diambang kepunahan

Status Konservasi Gajah Sumatera Menurut IUCN (Sumber: www.iucn.redlist.org).

Menurut kajian WWF (World Wide Fund for Nature) Indonesia, populasi gajah Sumatera semakin memprihatinkan. Gajah Sumatera kehilangan habitat sekitar 70 % sehingga populasinya berkurang hingga lebih dari setengah. Angka populasi menurun drastis diakibatkan karena pembunuhan gajah Sumatera sering terjadi. Penyusutan dan hilangnya habitat gajah Sumatera menyebabkan gajah Sumatera terpaksa memasuki wilayah penduduk sehingga menimbulkan konflik antara warga penduduk dengan gajah Sumatera. Konflik yang terjadi yaitu gajah Sumatera merusak lahan perkebunan dan pertanian warga untuk memenuhi kebutuhan makanan

Angka kematian gajah Sumatera tercatat paling tinggi yaitu 150 ekor. Data FKGI menyebutkan, tahun 1985 Indonesia masih memiliki 44 kantong habitat gajah Sumatera di Pulau Sumatera. Pada tahun 2007, jumlahnya turun menjadi 25 kantong habitat, dengan hanya 12 kantong habitat saja yang populasi gajah Sumatera diatas 50 ekor

Populasi gajah Sumatera saat ini semakin menurun seiring tingginya laju kehilangan hutan Sumatera sehingga habitat gajah Sumatera semakin menghilang dan menyempit. Pengembangan industri pulp dan kertas kelapa sawit merupakan faktor utama hilangnya habitat gajah Sumatera sehingga terjadi pembunuhan dengan peracunan dan penangkapan liar. Gajah Sumatera ditemukan mati dan hilang sebanyak ratusan ekor di Provinsi Riau sejak tahun 2000 akibat penangkapan liar. Perburuan gajah Sumatera sering terjadi dengan mengambil gading lalu sisa tubuh gajah Sumatera dibiarkan membusuk di lokasi perburuan

Perburuan Liar Gajah Sumatera di Pinggir Anak Sungai Jambi

Konservasi yang berhasil dicapai yaitu dengan dekralasi Taman Nasional Tesso Nilo (Riau) dengan luas 38.576 hektar oleh Departemen Kehutanan 2004. Menteri Kehutanan menetapkan Provinsi Riau sebagai pusat konservasi Gajah Sumatera melalui Permenhut No 5 Tahun 2006. WWF memperkenalkan Tim Patroli Gajah Flying Squad di Desa Lubuk Kembang Bunga yang berada di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo pada tahun 2006. Tim terdiri dari sembilan pawang dan empat gajah latih yang mengarahkan gajah Sumatera untuk kembali ke hutan apabila memasuki wilayah masyarakat. Tim Flying Squad Tesso Nilo berhasil mengurangi kerugian ekonomi masyarakat akibat serangan gajah Sumatera dan mencegah pembunuhan gajah Sumatera akibat konflik

WWF Indonesia pada tahun 2009 bekerjasama dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung, Taman Nasional Way Kambas Lampung, Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Barat, dan Forum Komunikasi Mahout Sumatera (FOKMAS) untuk pemasangan GPS Satellite Collar. Alat ini dipasang sebagai monitoring pergerakan dan peringatan untuk mitigasi konflik sehingga mencegah masuknya gajah Sumatera ke area masyarakat sehingga dapat meminimalkan konflik antara gajah Sumatera dan manusia. Upaya lain yang berhasil dilakukan yaitu konservasi gajah Sumatera di Taman Nasional Leuser dan Ulu Masen (Aceh), Taman Nasional Bukit Tiga Puluh dan Tesso Nilo (Jambi), Suaka Margasatwa Padang Sugihan (Banyuasin, Sumatera Selatan), dan Taman Nasional Way Kambas serta Taman Nasional Bukit Barisan (Lampung)

Plan action yang ingin dilakukan yaitu melindungi kawasan hutan Sumatera agar laju deforestasi rendah supaya meningkatkan kelangsungan hidup gajah Sumatera. Pelindungan kawasan hutan Sumatera dapat mengurangi rusaknya habitat gajah Sumatera sehingga gajah Sumatera tidak harus memasuki lahan masyarakat yang menimbulkan konflik. Upaya lain yang dilakukan yaitu memberi penyuluhan terhadap masyarakat agar tidak melakukan perburuan liar pada gajah Sumatera dan menindak tegas ke hukum bagi pelaku perburuan liar

Daftar acuan:

Berita dari Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

IUCN Red List

VoA Indonesia: Konservasi Gajah Sumatera dan Keterbatasan Dokter Hewan

WWF Indonesia Gajah Sumatera


4 responses to “Konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus)”

  1. Mariapietasari says:

    Terimakasih atas infonya. Sangat lengakap. Semoga masyarakat turut terbuka dan turut mengambil aksi agar gajah sumatera tidak diburu dan dapat hidup dengan tenang di habitatnya. Semoga berhasil!

  2. Yollya03 says:

    Info cukup lengkap, semoga action plan dapar terlaksanakan dengan baik. Makasih infonya.

  3. Veronica belinda says:

    Semoga action plan tersebut dapat terealisasikan sehingga Gajah Sumatera tetap lestari

  4. desysimamora says:

    Thank you for the information! Sukakk banget sama gajah, soalnya lucu; tapi sayang, banyak pihak yang memilih untuk mengeksploitasinya. Action plannya cukup luas ya, semoga bisa terealisasi yaa suatu hari nanti! 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php