Irenius Dennys William

Save Sumatran Elephants (Elephas maximus sumatranus) In Sumatra’s Riau province

Posted: November 27th 2016

Papan Larangan Beraktifitas di Lahan SM Balai Raja (Sumber:Rlaulantang. 2016)

LATAR BELAKANG PERMASALAHAN:

…………Permasalahan ini berupa konflik Gajah Sumatera dengan manusia di  Balai Raja yang sudah terjadi sejak tahun 1990-an. Pada mulanya terbukanya kawasan hutan di SM Balai Raja untuk kepentingan dan pembangunan di berbagai sektor. Kawasan hutan Balai Raja telah ditetapkan sebagai kawaan Suaka Margasatwa (SM) pada tanggal 6 Juni 1986. SM Balai Raja ini dibuka untuk upaya perlindungan dan pelestarian Gajah Sumatera. Kemudian, pada tahun 1990 terjadi trasmigrasi dari wilayah Jawa menuju ke Desa Petani, Kecamatan Mandau,  karena disebakan terbukanya kawasan hutan di SM Balai raja.

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) (Sumber: Nuryasin, 2014)

          Para penduduk yang transmigrasi mulai melakukan pembukaan lahan huta menjadi kebun kelapa sawit dan teridentifikasi masuk dalam SM Balai Raja.  Pada tahun 2000an, kawasan SM Balai Raja dan wilayah lain terjadi perambatan besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit. Pada tahun 2010 dari luas kebun kelapa sawit disekitar kawasan SM Balai Raja mencapai 9.081 hektar sedangkan huta alam hanya 9.081 hektar.

balai-raja

Pabrik dan perkebunan kelapa sawit di SM Balai Raja (Sumber: Alamendah, 2010)

           Faktor utama terjadinya konflik Gajah -Manusia khususnya di Kantong Gajah Balai Raja adala karena rusaknya habitat gajah yakni hutan di SM Balai Raja. Habisnya hutan di SM Balai Raja disebabkan adanya perambahan dan alih fungsi kawasan hutan. Kawasan yang tadinya berhutan yang menjadi daerah jelajah gajah, saat ini telah berubah menjadi areal perkebunan kelapa sawit, pemukiman dan juga lahan pertanian.

           Upaya gajah untuk memenuhi kebutuhan pakannya yaitu dengan mendatangi kebun/lahan milik masyaratkat. Oleh karena itu, menurut masyarakat kedatangan gajah ini selalu menyebabkan kerusakan terhadap kebun dan tanaman pertanian milik mereka, akibatnya mereka marah dan kesal karena menderita kerugian atas kerusakan yang terjadi dan menyebabkan masyarakat terkadang berusaha untuk membunuh gajah.

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Mati di SM Balai Raja Bengkalis karena Disetrum (Sumber: Delka, 2016)

Aksi konkritnya:

  1. Saya akan mengadakan penyuluhan tentang kesadaran terhadap pentingnya menjaga habitat gajah. Hal ini dikarenakan gajah merupakan satwa yang dilindungi dan jumlahnya dialam sudah sangat kritis.
  2. Saya akan bekerja sama dengan pemerintah khususnya kementrian lingkungan hidup dan kehutanan untuk membatasi daerah-daerah lahan kelapa sawit, agar masyarakat sekitar tidak seenaknya dalam meperluas lahan kelapa sawit sehingga dapat mengurangi kawasan suaka marga satwasatwa balai raja.
  3. Saya akan bekerja dengan kepolisian setempat untuk membuat pos keamanan ditempat-tempat yang rawan untuk mencegah terjadinya pembunuhan liar terhadap gajah
  4. Selain itu, membuat puskesmas darurat untuk menangani gajah yang tiba-tiba sakit ataupun luka, sehingga dapat diobati dengan cepat.

Aksi-aksinya saya mulai lakukan pada tahun 2021 bertempat di Suaka Margasatwa Balai Raja dengan melibatkan para relawan, masyarakat sekitar, kepolisian, rumah sakit dan tentunya pemerintah Indonesia khususnya kementrian lingkungan hidup untuk menjaga habitat gajah. Saya melakukan aksi ini dikarenakan gajah sumatera sudah hampir punah dan keinginan untuk memperkenalkan kepada anak-anak dan cucu-cucu saya tentang gajah sumatera.

Selain itu, saya berharap para pembaca dapat terketuk hatinya dan turut terlibat dalam membantu melindungi gajah sumatera di Suaka Margasatwa Balai Raja Bengkalis.

DAFTAR PUSTAKA

Alamendah. 2010. Suaka Margasatwa Balai Raja Lenyap. https://alamendah.org/2010/04/09/suaka-margasatwa-balai-raja-lenyap/. Diunduh pada 27 November 2016.

Delka. 2016. Gajah Mati di SM Balai Raja Bengkalis karena Disetrum. http://zamrudtv.com/filezam/riau/mediariau.php?module=detailriau&id=11364. Diunduh pada 27 November 2016.

Nuryasin, Yoza D., dan Kausar. 2014. Dinamika dan Resolusi Konflik Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) Terhadap Manusi di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis. Jurnal Faperta 1(2):1-14.

Prudente, C. 2006. Gajah Sumatera. http://www.wwf.or.id/program/spesies/gajah_sumatera/. Diunduh pada 27 November 2016.

Rlaulantang. 2016. Papan Larangan Beraktifitas Milik BKSDA Riau Di Lahan SM Balai Raja Hilang. https://riaulantang.com/kilas-duri/2016/07/papan-larangan-beraktifitas-milik-bksda-riau-lahan-sm-balai-raja-hilang/. Diunduh pada 27 November 2016.


2 responses to “Save Sumatran Elephants (Elephas maximus sumatranus) In Sumatra’s Riau province”

  1. elfridayenny says:

    terimakasih atas informasi dan rencana aksi pelestarian gajah yang sudah anda sampaikan. Tetapi pelestarian gajah tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga bagaimana cara anda mencari biaya untuk membangun rumah sakit bagi gajah?

  2. rielumboh says:

    Wah padahal terkenal nih gajah sumatra. Dan nantinya kalo tidak dilestarikan pasti cucu kita ga bakal tau. Bagus postingannya, terus berkarya dennys dan semoga rencara aksimu berjalan dengan lancar hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php