MIW's: Read me now

Dilematisme Belerang di Indonesia

Posted: March 3rd 2015
Gambar 1. Kawah Gunung Ijen (Boston, 2009)

Gambar 1. Kawah Gunung Ijen (Boston, 2009)

Indonesia adalah Negara eksotis yang kaya akan panorama alam yang indah. Salah satu panorama yang disajikan adalah panorama gunung berapi. Selain menyuguhkan keindahan alam, ternyata tersimpan harta berharga dari perut bumi tersebut yaitu belerang atau sulfur. Adanya belerang merupakan indikator keaktifan dari gunung berapi. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa simpanan belerang di Indonesia sangatlah banyak mengingat banyaknya gunung berapi di Indonesia.

Gambar 2. Belerang (Boston, 2009)

Gambar 2. Belerang (Boston, 2009)

Mendengar kata belerang apa yang kalian pikirkan? Kuning? Bau? Hmmm, tidak salah kalau kalian berpikiran seperti itu, itu memang faktanya. Tapi jangan salah, belerang ini menjadi salah satu surga bagi para penambang belerang dan manfaatnya pun tidak sedikit. Belerang adalah sumber daya alam mineral yang banyak dimanfaatkan dalam dunia perindustrian. Dengan meningkatnya kebutuhan akan belerang tersebut maka semakin banyak penghasilan para penambang belerang ini karena seperti kita ketahui bahwa tambang belerang ini merupakan sumber kehidupan dari mereka. Namun ironisnya tersimpan kedilematisan dibalik semua ini. Penasaran dengan sisi lain yang terjadi dengan keadaan negeri ini? Nah sebelumnya lihat dulu video di bawah ini sebagai pengantar kalian mendalami topik kali ini. Check this out!


 DESKRIPSI BELERANG

Belerang atau sulfur adalah unsur nonlogam multivalen yang tidak berasa dan tidak berbau. Pasti kalian akan bertanya-tanya, kok belerang tidak berbau? Jadi selama ini bau apa dong? Menurut sebuah sumber, bau seperti telur busuk yang berasal dari belerang itu sebenarnya adalah gas hidrogen sulfida (H2S), bukan dari belerang murni. Belerang murni (dalam bentuk alami) berbentuk kristal padat dan berwarna kuning (Amazine, 2015).

Belerang atau sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S dan nomor atom 16. Belerang ditemukan dalam meteorit. R.W. Wood mengusulkan bahwa terdapat simpanan belerang  pada daerah gelap di kawah Aristarchus. Belerang terjadi secara alamiah di sekitar daerah pegunungan dan hutan tropis.  Sulfit tersebar di alam sebagai pirit, galena, sinabar, stibnite, gipsum, garam epsom, selestit, barit dan lain-lain. Belerang dalam bentuk aslinya, adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni atau sebagai mineral- mineral sulfide dan sulfate. Ia adalah unsur penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam dua asam amino (Nurdajat dan Elkhasnet, 2007).

Kehidupan di bumi ini mungkin terjadi karena adanya belerang yang berkontribusi pada pembentukan asam amino yang merupakan pembangun dasar kehidupan (Amazine, 2015).

Belerang adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam industri dan dalam proses kimia. Belerang di Indonesia banyak terdapat bebas di daerah gunung berapi. Selain sebagai unsur bebas belerang juga terdapat dalam bentuk senyawa logam dalam bijih belerang.

Belerang berbentuk zat padat yang berwarna kuning dan banyak digunakan untuk bermacam-macam bahan kimia pokok maupun sebagai bahan pembantu sehingga dijuluki raja kimia.


POTENSI DAN PENYEBARAN SULFUR DI INDONESIA

belerang

Gambar 2. Peta Persebaran Sulfur di Indonesia

Kalian pasti akan bilang WOW ketika mendengar potensi belerang yang dimiliki Indonesia. Ya ! Seperti yang kita tahu, bahwa Indonesia menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, khususnya sumber daya mineralnya. Belerang menjadi salah satu sumber daya mineral Indonesia yang sangat melimpah. Belerang terbentuk akibat dari aktivitas vulkanisme, sehingga banyak dijumpai di setiap gunung berapi yang masih aktif, dan kita tahu bahwa Indonesia memiliki banyak gunung berapi yang masih aktif. Sudah dapat membayangkan melimpahnya belerang di Indonesia ? Kalau belum mari disimak.

Menurut Sumarti (2010), sampai saat ini baru diketahui 6 provinsi di Indonesia yang menyimpan tambang belerang, yaitu :

  1. Jawa barat : Gunung Tangkuban Perahu, Danau Putri, Galunggung, Ceremai, Telaga bodas
  2. Jawa tengah : Gunung Dieng
  3. Jawa timur : Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Ijen.
  4. Sumatera utara : Gunung Namora
  5. Sulawesi utara : Gunung Mahawu, Soputan, dan Gunung Sorek Merapi
  6. Maluku : Pulau Damar

Dari total jumlah sulfur yang diproduksi tersebut, sekitar 70-85% digunakan untuk pembuatan asam sulfat. Sedangkan asam sulfat banyak digunakan untuk industri pupuk (37%), industri bahan kimia (18%), industri bahan warna (8%), pulp dan kertas (7%), besi baja, serat sintetis, minyak bumi dan lain-lain.

Kawah ijen merupakan penghasil belerang utama di Indonesia dibandingkan dengan wilayah lain (Sumarti, 2010). Menurut pengelola Taman Nasional Alas Purwo, dimana Taman Nasional tersebut membawahi antara lain kawasan Kawah Ijen, menyebutkan bahwa sedikitnya 14 ton belerang ditambang tiap harinya. Sementara itu berdasarkan analisa BPPTK, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyebutkan bahwa nilai tersebut hanya sekitar 20% dari potensi yang sesungguhnya disediakan oleh alam. Sudah bisa membayangkan ? Jika masih kurang, masih ada satu fakta lagi tentang potensi belerang. Menurut Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan (2005), apabila pengolahan belerang dilakukan dengan cara sublimasi, maka belerang merupakan bahan tambang yang TIDAK TERBATAS, wow !


MANFAAT SULFUR

 Bicara mengenai manfaat belerang, kalian harus paham bahwa tubuh kita pun memerlukannya. Semua makhluk hidup membutuhkan belerang karena unsur ini merupakan bagian dari asam amino metionin. Tau kan asam amino metionin? Pasti tau dong, setiap translasi protein pasti diawali dengan translasi asam amino metionin.

Tidak hanya asam amino metionin saja, asam amino sistein juga mengandung belerang. Rata-rata manusia membutuhkan sekitar 900 mg belerang per hari.

Tumbuhan juga membutuhkan asupan belerang (S)  untuk pertumbuhannya. Biasanya sulfur ini akan diperoleh dalam bentuk pupuk. Sulfur atau belerang ini akan berfungsi untuk pembentukan asam amino dan petumbuhan tunas serta pembentukan bintil akar tanaman.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa sulfur sangat dibutuhkan dari tumbuhan sampai manusia. Selain itu, pemanfaatan sulfur atau belerang cukup banyak dilakukan di Indonesia pada berbagai industri besar seperti industri bahan kimia yaitu pembuatan asam sulfat, industri gula, industri ban, industri cat, industri karet, industri tekstil, industri korek api, bahan peledak, pabrik kertas, dan lain sebagainya. Penggunaan terbesar belerang yaitu sekitar 78% untuk pembuatan asam sulfat. Seperti yang kita ketahui memang asam sulfat merupakan bahan yang sangat penting bagi kemajuan industri suatu Negara. Setiap industri selalu memerlukan asam sulfat baik sebagai bahan pelarut, memberikan suasana asam, sebagai pereaksi, dan sebagainya. Dengan demikian, semakin besar penggunaan asam sulfat suatu Negara, maka akan semakin maju pula industri suatu Negara karena asam sulfat adalah indikator yang baik terhadap kekuatan industri suatu Negara. Secara tidak langsung dapat kita simpulkan bahwa semakin banyak pula kebutuhan belerang untuk memenuhi konsumsi asam sulfat tersebut (Juliantara, 2013).


SUMBER SULFUR

Seperti yang kita ketahui bahwa belerang dapat diperoleh secara murni atau berikatan dengan senyawa lain. Pada pembuatan asam sulfat, sebagian besar dari sulfur yang digunakan berupa sulfur alam (56%), dari senyawa pyrite atau batuan sulfide/sulfat lainnya (19%), dan dari gas buangan industri minyak bumi/ batu bara (25%).

Menurut Juliantara (2013), pengambilan sulfur sendiri memiliki beberapa proses, tergantung sumber dari sulfur itu sendiri. Berikut adalah beberapa cara pengambilan sulfur, antara lain:

1.Proses Frasch

Sulfur yang diperoleh dari proses ini dilakukan dengan pencairan sulfur di bawah tanah/laut dengan air panas, lalu memompanya ke atas permukaan bumi. Pada proses ini digunakan 3 buah pipa konsentris 6’, 3’, dan 1’. Air panas dengan suhu 3250C dipompakan ke dalam batuan sulfur melalui bagian pipa 6’, sehingga sulfur akan meleleh (2350F). Lelehan sulfur yang lebih berat dari air akan masuk ke bagian bawah antara pipa 3’ dan 1’, dan dengan tekanan udara yang dipompakan melalui pipa 1’, air yang bercampur dengan sulfur akan naik ke atas sebagai crude S, kemudian diolah menjadi crude bright atau refined S.

2. Pengambilan S dari Batuan Sulfide/ Sulfat

Sulfur dapat diperoleh dengan mengambil dari batuan sulfide seperti pyrite FeS2, chalcopyrite CuFeS2, coveline CuS, galena PbS, Zn Blende ZnS, gips CaSO4, barire BaSO4, anglesite PbSO4, dan lain-lain.

3. Pengambilan dari Gunung Berapi

Deposit Sulfur di gunug berapi dapat berupa batuan, lumpur sedimen atau lumpur sublimasi, kadarnya tidak begitu tinggi (30-60%) dan jumlahnya tidak begitu banyak (600-1000 juta ton). Pemanfaatan sulfur melalui cara ini diperlukan adanya peningkatan kadar sulfur terlebih dahulu dengan cara flotasi dan benefication. Cara flotasi yaitu dengan cara menambahkan air dan frother yang nantinya akan membuat sulfur terapung dan dapat dipisahkan. Cara benefication lebih rumit dibandingkan dengan flotasi yaitu awalnya sulfur ditambahkan dengan air dan reagen, kemudian reagen dipanaskan dalam autoklaf selama 1/2-3/4 jam pada tekanan 3 atm. Nantinya setiap partikel kecil dari sulfur akan terkumpul, lalu dilakukan pencucian dengan air untuk menghilangkan tanah. Setelah itu dipanaskan kembali dalam autoklaf sehingga sulfur akan terpisah sebagai lapisan S dengan kadar 80-90%.

4. Pengambilan Sulfur dari Gas Buang

Tak dapat dipungkiri bahwa saat ini Indonesia memiliki banyak industri yang semakin berkembang. Semakin banyak industri tersebut maka semakin banyak pabrik pengolahan dan tentu semakin banyak gas buang yang dihasilkan. Sulfur adalah salah satu unsur yang dapat diperoleh dari gas buang tersebut. Sulfur diperoleh dari flue gas asal pembakaran batu bara atau pengilangan minyak bumi. Sulfur ini tidak boleh dibuang langsung ke udara karena dapat menimbulkan pencemaran. Oleh karena itu gas buang tersebut terlebih dahulu harus diabsorpsi dengan menggunakan etanolamin dan sebagainya, kemudian dipanaskan kembali untuk mendapatkan gasnya dan kemudian diproses lebih lanjut.


PERMASALAHAN DAN PENGELOLAAN BELERANG DI INDONESIA

Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa sekitar 78% sulfur di Indonesia dimanfaatkan dalam pembuatan asam sulfat. Namun sayangnya sulfur yang ada di Indonesia jumlahnya tidak sebanding dengan kebutuhan dalam pembuatan asam sulfat. Bukan karena Indonesia miskin akan sulfur, namun karena eksplorasi terhadap sumber daya ini memang kurang. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa potensi sulfur di Indonesia belum dimanfaatkan dengan baik sehingga adanya kebutuhan sulfur di Indonesia harus dipenuhi dengan jalan impor.

 Berikut adalah beberapa pabrik asam sulfat yang sudah berdiri antara lain,

1. PT. Liku Telaga di Gresik Jatim, kapasitas produk 325.000 ton/tahun

2. PT. Petrokimia Gresik Jatim, kapasitas produk 678.000 ton/tahun

3. PT. Aktif Indo Indah di Rungkut Surabaya, kapasitas produk 15.000   ton/tahun.

4. PT. Budi Acid Jaya di Lampung Utara, kapasitas produk 60.000 ton/tahun.

5. PT. Indoesian Acids Industry di Jakarta Timur, kapasitas produk 82.500 ton/tahun

 Dari sekian banyak produksi asam sulfat yang ada di Indonesia ini pun masih saja tidak mampu mencukupi kebutuhan akan asam sulfat Negara Indonesia untuk berbagai industri karena dari beberapa data yang diperoleh, masih banyak dilakukan impor asam sulfat bahkan trend impor asam sulfat ini naik tajam sampai pada tahun 2012. Bahkan perkiraan konsumsi asam sulfat pada tahun 2022 adalah 900.000.000 kg. Berikut adalah tabel data impor asam sulfat Indonesia,

Tabel 1. Impor Asam Sulfat

Tahun Jumlah (kg)
2008 66.911.030
2009 95.444.696
2010 118.138.629
2011 158.137.521
2012 447.420.207

Melihat kemungkinan akan terjadi peningkatan kebutuhan asam sulfat tahun 2022, maka diperlukan produksi belerang yang lebih besar untuk mampu mengatasi permintaan akan belerang tersebut tanpa harus melakukan impor belerang dan impor asam sulfat yang sampai saat ini masih terjadi. Untuk apa mengimpor asam sulfat ketika kita masih memiliki perusahaan yang mampu mengolahnya untuk memenuhi kebutuhan asam sulfat Indonesia? Untuk apa kita mengimpor sulfur ketika negara kita kaya akan sulfur? Ya, semua permasalahan ini terjadi karena kurangnya eksplorasi dari sulfur itu sendiri sehingga kebutuhan akan sulfur harus dipenuhi dari impor.

Bedakan antara eksplorasi dan eksploitasi ya kawan. Menurut Sukandarrumidi (1999), eksplorasi merupakan penyelidikan lapangan untuk mengumpulkan data/ informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber daya alam di suatu tempat. Menurut SNI, eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan geologi yang dilakukan untuk mengidentifikasi,menetukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas dan kualitas suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan analisis/kajian kemungkinan dilakukanya penambangan. Sedangkan eksploitasi adalah upaya atau bentuk kegiatan yang sifatnya cenderung pada penggalian potensi-potensi yang terdapat pada suatu obyek sebagai tingkat lanjut dari kegiatan eksploitasi. Beda bukan?

Kegiatan eksplorasilah yang perlu dilakukan mengingat keberadaan bahan galian khususnya belerang yang penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara yang tentunya suatu saat nanti akan habis tergali. Jangan sampai pada akhirnya belerang hanya tinggalah nama bagi anak cucu kita nanti. Mau jadi apa mereka kalau semua semua habis digunakan oleh generasi kita?

Dalam hal ini rasanya perlu campur tangan pemerintah mengenai eksplorasi yang harus dilakukan. Perlu dilakukan analisis mengenai sumber atau titik-titik ditemukannya belerang oleh para ahli; bagaimana metode yang tepat untuk mengambil belerang tersebut tanpa merusak lingkungan dan membahayakan masyarakat sekitar; seberapa banyak yang boleh diambil dan di titik mana saja yang memang perlu dilakukan penambangan dan titik mana yang tidak boleh dilakukan penambangan. Banyak aspek yang perlu dipikirkan untuk dapat dilakukannya eksplorasi, bukannya eksploitasi. Sepertinya sampai sekarang ini sangat minim kegiatan eksplorasi terhadap belerang ini. Tidak banyak info yang bisa di gali mengenai kegiatan eksplorasi yang sudah dilakukan. Sepertinya memang belum banyak terjamah oleh pihak yang seharusnya memikirkannya.

Sampai saat ini memang sudah ada penambangan belerang di Indonesia untuk memenuhi permintaan industri di negara kita ini. Di luar dari pentingnya eksplorasi di Indonesia mengenai belerang, kita perlu mengetahui kondisi penambangan  di Indonesia.Baca baik-baik ya :p

Pengelolaan dan Pemanfaatan belerang di Indonesia telah dilakukan dalam waktu yang lama tepatnya sejak jaman kolonial Belanda. Pengelolaan masih dilakukan dengan bentuk dan cara kerja yang sederhana tanpa didukung oleh teknologi yang memadai dan tepat guna. Bayangkan, sudah berapa lama semua ini berjalan dan masih saja belum ada teknologi yang digunakan. Berdasarkan beberapa artikel yang serupa tentang penambangan belerang di Kawah Ijen menunjukkan bahwa proses penambangan belerang dan sumber daya manusia yang berproses didalamnya masih sangat minim dan tradisional. Sumber daya manusia berasal dari masyarakat sekitar yang tentunya mayoritas berekonomi lemah dan kurangnya pengetahuan dan pendidikan yang memadai.

Permasalahan mendasar adalah proses pengambilan belerang yang menjadi pro dan kontra yang tentunya mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga demi beberapa kilo belerang yang selanjutnya akan diolah. Bermodalkan peralatan sederhana para pekerja yang terdiri dari laki – laki dan perempuan mengambil sumber belerang langsung dari dasar kawah dengan teknologi yang sederhana. Belerang dari dasar kawah lalu dialirkan untuk mengisi kantung – kantung / keranjang yang akan diangkut ke tempat pengelolaan. Setiap pekerja rata – rata mengangkut sekitar 80 kg dan hanya diberi upah sebesar Rp. 800 per kilogram. Hal ini tentunya sangat tidak sebanding dengan kerja dan perjuangan mereka dalam mempertaruhkan hidupnya untuk penambangan belerang.

Gambar 1. Nota Pengangkutan (Jefftravels, 2013)

Gambar 3. Nota Pengangkutan (Jefftravels, 2013)

Faktor kesehatan tentunya sangat mempengaruhi karena gas belerang sangat berbahaya apabila terhirup langsung oleh tubuh. Para penambang belerang tentunya sangat berisiko mengalami gangguan kesehatan pada saat proses penambangan belerang. Faktor lingkungan menjadi ancaman bagi para penambang belerang karena mereka “dihantui” oleh hembusan angin kencang berbau belerang dan erupsi dari kawah ijen yang dapat membahayakan nyawa mereka sendiri. Proses seperti ini dilakukan setiap hari oleh para penambang belerang tanpa mengenal lelah dan kondisi lingkungan yang tidak menentu.

Berdasarkan pengalaman saya waktu ke Kawah Ijen bersama teman-teman Kelompok Studi Biologi (KSB), para penambang tidak semua memiliki alat pengaman setidaknya masker atau pun sarung tangan. Ya gambar yang kalian lihat di bawah nanti memang realitanya. Mereka bekerja keras memanggul ber puluh kilo belerang dengan medan yang naik turun seperti itu. Jelas untuk kesehatan mereka kegiatan/pekerjaan ini tidaklah layak apabila dibandingkan dengan upah yang di dapat. Tubuh manusia tidak dianjurkan untuk mengangkut bobot beban sebanyak itu (80 kg). Gas dan debu belerang yang dihasilkan tidak hanya akan merusak paru-paru mereka, bahkan mata pun mampu mengalami kebutaan pada kadar belerang tertentu.

Usaha pemerintah untuk menyudahi kegiatan penambangan ini sudah ada, namun tidak berjalan mulus karena masih aja penambangan di sana. Ya memang sulit untuk mengubah pola pikir masyarakat yang hampir berpuluh tahun menggantungkan hidupnya di sana. Mungkin akan lebih baik apabila pemerintah memberikan alternatif pekerjaan yang memang menjanjikan bagi mereka. Siapa yang tidak mau apabila diberikan pekerjaan yang memang menghasilkan dan tidak perlu mempertaruhkan nyawa. Berdasarkan video di atas, ada penambang yang sempat bekerja di tempat lain namun hasilnya tidak mencukup kebutuhan mereka. Makanya pada akhirnya kembali lagi kepada penambangan belerang ini. Alternatif lain yang bisa dilakukan pemerintah adalah pengadaan alat dan teknologi baru untuk menambang belerang ini.

Berdasarkan Lastri (2013), beberapa faktor kurangnya produktifitas hasil tambang belerang dikarenakan cara eksplorasi dan pengangkutan yang dilaksanakan masih secara tradisional. Faktor yang paling berperan dalam industri mineral belerang yaitu para penambang. Resiko yang mereka hadapi sangat besar dari cara kerja dan lingkungan kerjanya. Berdasarkan identifikasi Hazzard mengenai kondisi area kerja, maka diperlukan alat pelindung diri. Sedangkan berdasarkan identifikasi hazzard mengenai lingkungan kerja dibutuhkan adanya alat angkut. Perlu dilakukan perbandingan perhitungan beberapa parameter ergonomi seperti beban gaya, analisa postur tubuh berdasarkan metode OWAS, perhitungan keluhan berdasarkan Nordic Body Map, pengukuran denyut jantung, konsumsi energi, waktu istirahat dan kecepatan pada kondisi riil.

Ya, rumit memang. Semoga ada inovasi baru alat pengangkut belerang yang bisa diaplikasikan sehingga akan memudahkan para penambang untuk mengangkutnya.

Gambar 2. Penambang Kawah Ijen (Boston, 2009)

Gambar 4. Penambang Kawah Ijen Memikul Belerang (Boston, 2009)

Gambar 2. Penambang Kawah Ijen (Boston, 2009)

Gambar 5. Penambang Kawah Ijen (Boston, 2009)

Gambar 6. Penambang Belerang Tanpa Alat Pengaman (Boston, 2009)

Gambar 6. Penambang Belerang Tanpa Alat Pengaman (Boston, 2009)

Gambar 7. Penambangan Belerang (Boston, 2009)

Gambar 7. Penambangan Belerang (Boston, 2009)

Para penambang belerang perlu diberikan perlindungan dan perhatian baik dalam proses penambangan belerang tidak hanya di Kawah Ijen tetapi juga ditempat – tempat lain di Indonesia yang mungkin bernasib sama bahkan lebih dari itu. Pengkajian khusus baik terhadap teknologi tepat guna yang digunakan dan pemanfaatan sumber daya manusia perlu diperhatikan dan diperjuangkan hak – haknya. Penentuan tarif upah yang sebanding dengan proses kerja yang dilakukan, dan manajemen pengelolaan belerang yang baik dan bermanfaat perlu diterapkan demi meningkatkan hasil sumber daya belerang di Indonesia. Tapi ingat, bukan eksploitasi, tapi eksplorasi.

Salam semangat!!!


DAFTAR PUSTAKA

Amazine. 2015. Belerang (S): Fakta, Sifat, Kegunaan dan Efek Kesehatannya. http://www.amazine.co/27072/belerang-s-fakta-sifat-kegunaan-efek-kesehatannya/. Diakses pada tanggal 4 Maret 2015.

Boston. 2009. Sulfur Mining in Kawah Ijen. http://www.boston.com/bigpicture/2009/06/sulfur_mining_in_kawah_ijen.html. Diakses pada 3 Maret 2015.

Hakim, A. 2014. Mereka Bertaruh Nyawa di Kawah Ijen. http://kompasiana.com. Diakses pada 1 Maret 2015.

Jefftravels. 2013. Sulfur Mining on The Top of Kawah Ijen in East Java. http://jefftravels.com/2013/07/15/sulfur-mining-on-the-top-of-kawah-ijen-in-east-java/. Diakses pada 2 Maret 2015.

Juliantara, M. 2013. Proses Pembentukan Asam Sulfat. Fakultas Teknik Program Studi Teknik Mesin, Universitas Teknologi Sumbawa.

Kelompok Program Teknologi Informasi Pertambangan. 2005. Potensi Belerang. http://www.tekmira.esdm.go.id/data/Belerang/ulasan.asp?xdir=Belerang&commId=7&comm=Belerang. 28 Februari 2015.

Lastri, D.I. 2013. Perancangan Alat Angkut Belerang yang Ergonomis dengan Menggunakan Metode Value Engineering Berdasarkan Studi Etnografi di Kawah Ijen. Fakultas Teknologi Industri, ITS.

Nurdajat, D. dan Elkhasnet. 2007. Perbaikan Sifat Agregat dengan Belerang untuk Meningkatkan Kinerja Campuran Beraspal. Jurnal Teknik Sipil.

Sukandarrumidi. 1999. Bahan Galian Industri. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Sumarti, S. 2010. Kawah Ijen Penghasil Belerang Terbesar. http://esdm.go.id/berita/56- artikel/3509-kawah-ijen-penghasil-belerang-terbesar.html?tmpl=component&print=1&page=. 28 Februari 2015.


KELOMPOK

Maria Intan/ 120801240

Frederik Peter/ 120801265

Maria Janina Lain/ 120801278

Stefanus Rony/ 120801292


4 responses to “Dilematisme Belerang di Indonesia”

  1. Sainawal Tity says:

    apakah ada pengharuh tersendiri jika gunung maupun kawah belerang ini dijadikan sebagai objek wisata ? Hal ini tentu saja berkaitan dengankawasan tersebut sebagai ikon suatu daerah akan tetapi tidak jarang kesehatan dan keselamatan manusia terancam

  2. agnes9 says:

    Good information! seperti permasalahan pengelolaan sumber daya mineral yang lain bahwa di Indonesia pengelolaannya sendiri maksimal dan sebagian besar masih dikelola secara tradisional. Lebih baik lagi jika tulisan ini diberi saran agar sumber daya mineral belerang ini dapat lebih dimanfaatkan dan meningkatkan devisa negara 🙂

  3. agnes9 says:

    Good information! seperti permasalahan pengelolaan sumber daya mineral yang lain bahwa di Indonesia pengelolaannya sendiri maksimal dan sebagian besar masih dikelola secara tradisional. Lebih baik lagi jika tulisan ini diberi saran agar sumber daya mineral belerang ini dapat lebih dimanfaatkan dan meningkatkan devisa negara 🙂 Cathy pake blog agnes hehehe

  4. leonardo says:

    Tulisan yang sangat menarik juga menjadi potret buruk bagi mekanisme pertambangan di Indonesia sekarang ini, hal ini juga menunjukan perlunya perhatian dari pemerintah atau pihak swasta yang ingin memajukan sektor pertambangan. Karena menurut saya proses pengambilan belerang secara manual memiliki resiko yang berbahaya tetapi tidak diseimbangi dengan upah yang sesuai. Semoga saja dengan adanya tulisan-tulisan yang mengangkat tema semacam ini dapat diperhatikan oleh berbagai pihak terkait. Selebihnya dapat membuat para pembaca lebih bersyukur. Good job 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php