MIW's: Read me now

“Ngeeeeyaow” Need U

Posted: December 7th 2014

Pavo muticus muticus…
Pavo muticus muticus
  Pavo muticus muticus…
Yuhuuu…I’m back MIW’ers
Tulisan saya kali ini lebih banyak mengulas mengenai spesies burung yang berbulu indah. Burung ini mengambil peran sebagai tokoh Clara pada buku anak-anak “Clara The Swanky Peacock”….
Ya, burung itu adalah burung merak. Tapi tidak seperti dalam kisah buku tersebut dimana Clara si merak adalah tokoh yang angkuh, sesungguhnya merak adalah burung yang pemalu bahkan menjauh ketika berada bersama sesuatu yang asing baginya seperti manusia.

Khusus untuk kali ini saya akan lebih fokus pada merak hijau atau Pavo muticus muticus yang saat ini statusnya sudah terancam punah (ENDANGERED)

Morfologi.  Merak hijau atau biasa disebut dengan merak jawa ini memiliki morfologi yang berbeda-beda berdasarkan umur dan jenis kelaminnya. Hal tersebut dapat dilihat dari ukuran tubuh dan warna bulu pada merak hijau ini. Pada tulisan ini, saya akan memanggil merak hijau dengan sebutan “Pavo”. Lucu kan? Ya, nama latinnya memang Pavo muticus muticus. Unik kan? Berikut adalah taksonomi dari si Pavo,

Taksonomi Merak Hijau (IUCN, 2014)

Taksonomi Merak Hijau (IUCN, 2014)

Bagi yang penasaran merak hijau seperti apa, di bawah ini adalah beberapa gambar dari merak hijau dengan keindahan dan keunikan bulunya.

Pavo muticus2

Gambar 1. Merak Hijau Jantan Dewasa (Sumber: http://galleryhip.com/green-peafowl.html)174_02Gambar 2. Merak Hijau Jantan Dewasa Mengangkat Bulu Indahnya untuk Menarik Betina (Sumber: Pavo-muticus.com)

Kalau kalian sering melihat foto Pavo dengan bulunya yang indah dan berkilau, maka itu adalah Pavo jantan dewasa seperti yang dapat kalian lihat pada gambar 1. Secara penampakan dari bulunya memang Pavo jantan dewasa lebih menarik daripada yang betina. Hal tersebut memang ada tujuan khususnya yang berkaitan dengan mating. Sebelum membahas mengenai mating, saya akan menambahkan beberapa info lain mengenai morfologi si Pavo dulu. Selain bulunya yang indah, Pavo jantan dewasa memiliki jambul tegak di atas kepalanya dan dagu berwarna hijau kebiruan, bulu hiasnya panjang berwarna campuran antara hijau emas dan hijau perunggu sehingga membuatnya berkilau. Untuk ukurannya, Pavo jantan dewasa lebih besar ukurannya dibandingkan dengan ukuran betinanya yang hanya 120 cm, sedangkan pejantan ini sekitar 210 cm (Sativaningsih, 2005). Pavo jantan dewasa ini memiliki bulu hias sekitar 100-150 lembar bulu yang besar, panjang, dan kuat. Pada bagian permukaannya terdapat cincin oval (ocellus) yang besar dan komposisi warnanya banyak. Sub termal ocellus berwarna ungu dan dikelilingi oleh dua cincin yang berwarna hijau muda dan hijau tua yang merupakan lingkaran terakhir. Bulu yang terpanjang terletak di tengah dan tidak memiliki ocellus (Hernowo, 1995).

Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, bulu Pavo betina dewasa tidak semenarik pejantannya. Menurut Sativaningsih (2005), Pavo betina dewasa sebenarnya memiliki komposisi warna tubuh yang sama dengan si jantan, hanya saja lebih lembut, tidak cerah, agak kusam, dan tidak memiliki bulu hias. Gambarnya dapat dilihat pada gambar 2. Menurut Delacour (1977), kaki Pavo betina dewasa ini bersisik, hitam abu-abu warnanya, bertaji pula. Sama halnya dengan si jantan. Pada bagian atas penutup ekor dari Pavo betina dewasa ini berwarna perunggu kehijauan dengan warna kuning keputihan.

Beda lagi morfologi dari Pavo anakan, ia memiliki warna bulu coklat kusam berbintik hitam. Sebenarnya hampir sama dengan Pavo betina dewasa, hanya saja lebih buram. Bagian dagu dan kepala tertutup oleh bulu berwarna putih. Jambul mulai tumbuh setelah anak Pavo ini berumur dua minggu. Pada umur dua bulan, si anak sudah mempunyai bentuk tubuh dan bulu yang sempurna menyerupai merak hijau betina dewasa, tetapi ukurannya lebih kecil.

Habitat dan pakan. Menurut MacKinnon, dkk. (1992), Pavo ini mempunyai kebiasaan untuk mengunjungi hutan terbuka dengan padang rumput dan berjalan-jalan di tanah. Segala aktivitasnya mulai dari mencari makan, berteduh, berlindung, dan berkembang biak dilakukannya pada habitatnya ini. Jenis makanan dari Pavo kebanyakan berasal dari tumbuhan seperti daun atau bijinya. Terkadang serangga dan belalang kecil pun dimakannya sebagai asupan protein hewani.

Perilaku Kawin dan Mandi Debu. Kedua hal ini merupakan KEUNIKAN yang dimiliki oleh Pavo selain KEINDAHAN BULUNYA. Asal kalian tahu, Pavo ini adalah salah satu satwa poligami. Hal inilah yang membuat tidak adanya hubungan permanen antara Pavo betina dengan pejantan (Hoogerwrf, 1970). Musim kawin biasanya bulan Agustus-Oktober (MacKinnon, 1995). Uniknya lagi, sebelum melakukan perkawinan, ada kebiasaan khusus yang dilakukan pejantan, yaitu “Tarian Merak”. Apa itu tarian merak?
Tarian merak adalah cara dari pejantan untuk menarik betinanya dengan suara-suara khas seperti “ngeeeeyaow, ngeeeeyaow” dan menegakkan seluruh bulu hiasnya sehingga membentuk seperti kipas (Check this out :

Hal tersebutlah yang akan membuat betina tertarik dan mendekati pejantan. Sayap pejantan kemudian diturunkan dan melangkah mendekati betina. Selanjutnya Pavo jantan tersebut akan membalik secara tiba-tiba dengan memiringkan tubuhnya melirik ke arah betina. Gerakan ini dilakukan secara berulang-ulang. Betina mengelilingi Pavo jantan berulang-ulang, sedangkan yang jantan sesekali mendekati betina sambil menggetarkan bulu hiasnya. Wow!!! Genit ya ternyata Pavo ini, tapi menarik dan unik bukan? Tunggu, tidak berhenti sampai situ aja, Pavo betina yang menerima bujukan tersebut segera mendekam dan Pavo jantan segera naik ke punggung Pavo betina dan perkawinan pun berlangsung. Cihuy!!! Jika Pavo betina tidak menyukai pejantannya, ia akan menjauhinya dan menuju pejantan lain yang sedang menari (Hernowo, 1995). Penasaran dengan bagaimana keunikan tarian meraknya si Pavo, ayo langsung aja buka situs ini check this out : https://www.youtube.com/watch?v=jTBHiZtnCsA

Mandi debu? Jorok? Kalau bagi Pavo ini adalah ritual pembersihan diri. Mengapa? Karena aktivitas ini dilakukan untuk merawat tubuh mereka dengan merapikan bulu-bulu, mengeluarkan ektoparasit, dan benda asing yang menempel pada tubuhnya. Mandi debu ini dilakukan dengan menggunakan cakarnya untuk menggaruk-garuk tanah gembur yang kering sambil tubuhnya mendekam di atas tanah, kaki dijulurkan ke belakang sambil mengepakkan sayapnya sehingga debu akan masuk ke dalam bulu tubuhnya (Supratman, 1998).

Gangguan terhadap merak hijau. Populasi merak hijau semakin lama semakin berkurang akibat rusaknya habitat dan perburuan liar. Pada tahun 2007, jumlahnya di TN. Baluran hanya 70 ekor saja dengan perbandingan kelaminnya 1:4  (Takandjandji dan Sawitri, 2011). Rusaknya habitat terjadi karena adanya konversi lahan menjadi lahan pertanian, perladangan, bahkan pemukiman penduduk (Takandjandji dan Sawitri, 2011). Populasinya di habitatnya (Bekol dan Bama) juga mengalami penurunan karena faktor perburuan, predator, serta kerusakan habitat tempat si Pavo beraktivitas.  Berdasarkan pengamatan menurut Jurnal yang ditulis oleh Takandjandji dan Sawitri (2011), banyak masyarakat yang bebas memasuki kawasan melalui pintu masuk savanna Bekol dan pantai Bama dengan tujuan mencari kayu bakar dan menangkap ikan. Terlihat truk yang keluar masuk di dalam kawasan.  Selain memberikan peluang untuk perburuan, aktivitas manusia tersebut juga akan menggganggunya karena stress dengan kebisingan dan lalu lalang manusia. Padahal Pavo ini suka daerah yang sepi. Sedangkan untuk predator, di savana Bekol dan Bama juga banyak predator untuk Pavo, misalnya biawak, ular sanca atau phyton, ganggarangan, babi rusa. Dari muda sampai dewasa bisa dimakan oleh mereka. Bahkan banyak terjadi kehilangan telur sehingga mengganggu regenerasi.
Penangkapan si Pavo ini dipicu oleh karena keeksotisannya. Kita tahu sendiri bahwa si Pavo ini memiliki bulu yang unik dan sangat indah, suaranya pun unik, apalagi perilakunya. Hal itulah yang membuat orang banyak memburunya untuk dijual karena tentu memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal tersebut yang melatarbelakangi banyak terjadinya perburuan merak hijau ini.

Cukup mengenaskan, padahal apabila kalian tahu, sebenarnya Pavo ini secara alami akan merontokkan bulunya dan menggantinya dengan yang baru pada musim kawin. Biasanya bulu yang rontok itu sekitar 200 bulu. Semakin banyak populasi dari Pavo ini sesungguhnya akan semakin menguntungkan, yaitu ketika memang diatur dengan baik dan sedemikian rupa sehingga akan semakin banyak merak hijau yang kawin. Pada akhirnya juga akan menghasilkan bulu merak yang banyak tanpa harus memburunya. Setuju?

Keindahan Bulu Merak (Sumber: http://pixabay.com/p-186353/?no_redirect)

Keindahan Bulu Merak (Sumber: http://pixabay.com/p-186353/?no_redirect)

Status. Status merak hijau merupakan salah satu jenis burung yang dilindungi di Indonesia. Perlindungan terhadap jenis burung merak hijau berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No.66/KPTS/Um/2/1973; Keputusan Menteri Kehutanan No.301/ Kpts-II/1991 dan PP No. 7 tahun 1999 (Takandjandji dan Sawitri, 2011). Menurut ICBP (The International Council for Bird Preservation) merak hijau sebagai jenis burung yang tergolong terancam secara keseluruhan (globally threatened) baik populasi maupun habitatnya (Collar dan Andrew 1998), sedangkan CITES mencantumkan merak hijau ke Appendix 2 yang artinya burung dari alam tidak bisa langsung diperdagangkan dan menurut International Union for Conservation of Nature atau IUCN (2014), status dari merak hijau ini adalah ENDANGERED.

Sebenarnya si Pavo ini memiliki 3 sub spesies yang tersebar di beberapa Negara, yaitu Pavo muticus spicifer (Merak Biru Burma dan sudah PUNAH), Pavo muticus imperator (Merak Hijau Indochina, statusnya masih ada), dan Pavo muticus muticus (Merak Hijau Jawa, di Malaysia sudah PUNAH dan di Indonesia masih ada). Berikut adalah persebaran dari si Pavo ini,

Peta Persebaran Merak Hijau

Peta Persebaran Merak Hijau (IUCN, 2014)

Status Pavo muticus (IUCN, 2014)

Status Pavo muticus (IUCN, 2014)

Teman-teman dari Pavo muticus muticus bahkan beberapa sudah punah, akankah nantinya ia akan punah juga? Saya pribadi tidak ingin ia punah, tidak akan ada lagi tarian merak, tidak ada lagi bulu-bulu unik, tidak ada lagi tingkah laku unik dan menggemaskan darinya lagi. Asal kalian tahu, pada tahun 2007 status menurut IUCN masih vulnerable (Takandjandji dan Sawitri, 2011). Saat ini tahun 2014 sudah menjadi Endangered. Bagaimanakah kondisi 7 tahun kedepan, apakah semakin meningkat statusnya menjadi Critically endangered?Mengenaskan apabila pada akhirnya kita hanya bisa mengenalkan ke anak cucu kita melalui youtube ataupun cerita-ceritanya. Maka dari itu, sebagai mahasiswa marilah kita lestarikan si Pavo. Bagaimana caranya? Saya ada beberapa ide mengenai cara-cara kecil hingga luar biasa yang dapat diusahakan demi kelestarian si Pavo. Walaupun ini aksi personal, namun akan lebih baik apabila banyak yang mengikuti bahkan berpartisipasi di dalamnya. Banyak rencana aksi yang besar namun tidak akan menjadi besar apabila dilakukan seorang diri.

Baiklah, sebelum masuk ke rencana aksi, ada sedikit prolognya, baca baik-baik ya 🙂
Kisah menarik dikemukakan oleh seorang penangkar merak hijau di Madiun, satu-satunya penangkar sukses merak hijau di Indonesia. Bukan instansi pemerintahan melainkan hanya seorang petani yang dengan tulus hati dan kesederhanaannya berhasil menangkarkan merak hijau yang kini populasinya hanya tersisa 800 ekor (Di Taman Nasional Alas Purwo, Baluran, dan hutan Jawa Timur). Saat ini beliau memiliki 14 ekor merak hijau sejak dari tahun 1999 ketika beliau memperoleh telur merak hijau tersebut di hutan ketika mencari rumput. Keempat belas ekor tersebut bukanlah total dari jumlah merak yang pernah ia tangkarkan atau pelihara, tentu sudah berkurang dengan adanya merak mati karena flu burung karena kurangnya perawatan dan karena keterpaksaan menjual beberapa merak untuk menghidupi merak-merak yang lain. Dilematis memang, tapi apa daya hal itu harus dilakukan karena keterbatasan yang dimiliki dan tidak adanya bantuan pemerintah untuk mengembangkan penangkaran tersebut. Silahkan membaca kisahnya untuk mengetahui bagaimana ketulusan akan membawa pada kesuksesan konservasi dan menghasilkan tangkaran yang unik pula.

Check this out: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/26/myezdo-penangkaran-merak-satusatunya-di-indonesia

Mungkin para mahasiswa biologi memiliki ketertarikan tersendiri untuk bisa membantu penangkaran merak tersebut. Bisa mencari metode-metode yang cocok agar merak dapat terhindar dari flu-flu burung, mungkin dengan memfokuskan pada sanitasi kandang dan vaksinasi yang sesuai. Bisa jadi flu burung juga karena penularan dari ayam karena merak yang bertelur lebih enggan untuk menetaskan telurnya sehingga ayam yang menetaskan. Mahasiswa biologi dapat membantu dalam mencari metode yang tepat untuk penetasan yang baik untuk merak hijau ini atau melakukan studi penelitian mengenai perilaku merak hijau dan melakukan pendekatan tertentu yang membuat merak hijau mau menelurkan sendiri telurnya.

Dilihat dari sumber tersebut, merak hijau hanya bertelur setahun sekali (sekali bertelur 4-5 butir), 2 kali setahun adalah hal luar biasa. Langkah awal saya sebagai mahasiswa yang memang realistis dan dihujani berbagai tugas sehingga waktunya mungkin belum ada untuk konsen ke arah konservasi besar, saya akan mulai banyak menggali informasi mengenai keunikan dan kemenarikan dari Pavo dan mulai banyak menulis dimana pun itu, baik blog, sosial media, dan mungkin media cetak. Selanjutnya saya juga akan anti dengan barang-barang hasil eksploitasi dari Pavo (asumsinya eksploitasi bulu). Walaupun tidak secara langsung akan berdampak pada Pavo, namun saya akan mulai menjadi pecinta lingkungan sejati seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan penghijauan lahan, dan lain sebagainya yang bersangkutan dengan habitat suatu satwa. Mungkin itu…
Jauh lebih besar, sebagai mahasiswa biologi pangan, saya dapat mengusahakan membuat sebuah formula khusus untuk makanan merak hijau ini agar periode bertelurnya lebih pendek atau meningkatkan produksi telurnya tanpa membuat merak hijau ini harus kehilangan jati dirinya (genetik) sehingga semakin banyak populasi merak hijau pada penangkaran ini.

Tentu untuk waktu dekat ini masih belum bisa dilakukan hanya bisa direncanakan, hal yang bisa dilakukan sepertinya menggalakkan dana untuk membantu satu-satunya penangkar merak hijau ini. Pemerintah mungkin belum tergerak hatinya untuk memberikan bantuan kepada beliau dan lebih konsen kepada penyitaan merak tersebut. Rasanya terlalu kaku padahal hal lain masih banyak yang bisa dilakukan tanpa harus memaksakan kehendaknya, toh pak Surat sebagai penangkar merak hijau ini juga berhasil menangkarkan dan telah membantu mengkonservasi merak hijau. Mungkin kekhawatiran untuk dieksploitasi ataupun hal semacamnya membuat pemerintah enggan memberikan bantuan, bisa jadi juga karena pemerintah memang kurang fokus dalam konservasi aves satu ini. Padahal apabila pemerintah memberikan bantuan kepada beliau dengan kesepakatan tertentu atau hitam di atas putih (MoU), kemungkinan penangkaran pak Surat akan semakin berkembang melihat teknik atau metode penangkaran yang digunakannya sederhana, cukup unik, dan membuahkan hasil. Hal ini saya adopsi dari sebuah proyek yang saya jalani mengenai budidaya jamur di sebuah desa di Gunungkidul. Dengan adanya kesepakatan-kesepakatan yang tentunya tidak terlalu kaku, pengecekan rutin, pembelajaran mengenai pendataan/pembukuan mengenai perkembangan yang terjadi, tentunya pemerintah tidak perlu khawatir memberikan suntikan pendanaan kepada penangkar sukses satu-satunya ini. Metode-metode dan beberapa saran yang saya utarakan tentu akan berjalan dengan baik apabila tidak ada jarak/pembatas antara pemerintah (pejabat) dengan warga biasa seperti beliau, singkatnya perlu pendekatan personal.

Saat ini mungkin tulisan saya belum akan terdengar oleh pemerintah, ada baiknya melakukan usaha-usaha dulu untuk menggalakkan dana, membuat booming bahwa merak hijau merupakan salah satu fauna unik yang terancam punah di negeri kita. Tentu awalnya diperlukan introduce mengenai merak hijau dulu. Berbagai kalangan dicoba untuk dikenalkan dengan burung indah ini.

Pertama yang perlu dilakukan adalah pengenalan kepada si Merah Hijau dulu tentunya karena tidak semua mengenalnya bahkan mengenai statusnya di alam ini. Pengenalan bisa dilakukan dengan sosialisasi ataupun penyuluhan, tapi rasanya hal tersebut sudah terlalu menjemukan dan persentase keberhasilannya tidak lebih dari 50%. Perlu dikemas dalam bentuk sosialisasi ataupun penyuluhan yang menarik dan beda dari biasanya. Anak kecil adalah subjek yang paling mudah dihasut dan daya ingatnya bisa dimanfaatkan secara positif untuk langkah ini. Sesuatu yang menarik akan diingat sampai dewasa oleh anak kecil. Mungkin pendekatan saya sudah tepat, namun aksi yang saya lakukan masih butuh bantuan saran untuk pengembangannya.

Saat ini banyak sekali lomba-lomba untuk anak-anak kecil dengan menyajikan berbagai hiburan menarik. Dengan mengadopsi dari kegiatan tersebut, saya bisa bekerja sama dengan suatu instansi ataupun organisasi-organisasi yang biasanya membuat acara seperti itu. Awalnya mungkin hanya sekedar menyisipkan sebuah film pendek mengenai si Merak Hijau ini, mungkin bukan film pendek kalau untuk anak kecil, tapi seperti film animasi atau kartun yang tokohnya menggunakan merak hijau ini, namai saja dia “Pavo” alias si Pavo muticus. Anak kecil mudah menghafal nama-nama aneh seperti ini.Ketika mereka sudah mengenal siapa Pavo, darimana asalnya dan mulai mencintainya, langkah selanjutnya bisa menggunakan full story about Pavo. Intinya ingin menyampaikan pesan ke anak-anak kecil bahwa makhluk yang kalian sukai ini mulai hilang di alam ini. Tidak berhenti disitu, tentunya perlu diberikan gambaran bagaimana solusinya agar si Pavo ini tetap hidup. Ketika seorang anak dihadapkan dengan ancaman kehilangan, tentu mereka akan rela melakukan apa saja untuk bisa membuatnya tetap ada bersamanya. Dengan adanya doktrin solusi ini, maka akan selalu terngiang di otak mereka. Maka langkah ini bisa dilakukan. Perlu berimajinasi untuk bisa mengerti apa yang menjadi tujuan saya ini.

Memang usaha ini perlu bertahap, tidak mungkin sekali jadi. Langkah selanjutnya yaitu mengadakan sosialisasi dengan bentuk perlombaan bagi anak-anak di berbagai daerah yang bertemakan All About Pavo. Anak-anak diajak berlomba-lomba untuk mewarnai Pavo dan menggambar Pavo. Ketika seorang anak mewarnai dengan indah dan mirip dengan Pavo, artinya dia mengenal betul Pavo ini. Ketika seorang anak mampu menggambar Pavo artinya bahwa selain mengenal Pavo, pasti ada suatu cerita dibalik gambarannya. Bisa jadi mengenai habitat dimana ia tinggal atau mengisahkan kesedihan Pavo yang sudah berstatus Endangered, bisa juga timbul suatu solusi agar si Pavo tetap ada. Pada acara tersebut tidak hanya sekedar lomba mewarnai ataupun menggambar, namun semua yang terkait dalam acara tersebut diusahakan memunculkan tokoh Pavo. Misalnya MC mengenakan kostum Pavo, adanya boneka besar ataupun seseorang yang mengenakan kostum Pavo yang bertingkah baik kepada anak-anak, doorprize boneka Pavo, kaos Pavo, dan apapun mengenai Pavo. Namun kegiatan ini jangan juga terlalu sering karena anak kecil juga mudah bosan dan unmood, mungkin sebulan sekali.

Aksi ini bisa jadi berlebihan dan belum bisa dilakukan dekat-dekat ini. Namun suatu saat harapannya bisa terealisasi. Sebagai mahasiswa yang aktif berorganisasi dan kebetulan dari Fakultas Teknobiologi memiliki acara tahunan berupa BIOFAIR, ide ini bisa dimasukkan dalam rangkaian acara tersebut. BIOFAIR dapat menambahkan tujuan khususnya yaitu pengenalan terhadap Pavo muticus sebagai salah satu fauna yang terancam punah. Tidak melulu memperingati hari bumi dengan kegiatan yang sudah biasa seperti lomba SMA ataupun penanaman, bisa juga ditambahkan beberapa aksi konservasi fauna juga, khususnya untuk Pavo muticus ini. Sasaran bisa diperluas, tidak hanya anak kecil seperti yang saya utarakan, namun bisa lebih luas lagi untuk siswa tingkat SMP, SMA, ataupun mahasiswa, bahkan masyarakat umum.

Mengadopsi dari universitas tetangga, Universitas Gadjah Mada yang hampir setiap tahunnya membuat rekor MURI, kita pun juga boleh mengusahakan itu. Dengan tujuan untuk menyadarkan masyarakat dan pemerintah untuk perlu mengkonservasi merak hijau, saya ingin mengajak seluruh warga Fakultas Teknobiologi dan pihak lain untuk membuat replika Merak Hijau Raksasa yang tentunya menonjolkan keindahan bulunya. Acara dilaksanakan pada malam hari di sebuah GOR dan mendatangkan volunteer yang banyak untuk membuat barisan membentuk tulisan

“MERAK HIJAU”

“SAVE ME, I’M ENDANGERED!”

Atau bisa juga dengan kata-kata lain yang lebih inovatif. Itu hanya konsep dasar, bisa dikembangkan lebih lanjut. Acara sebesar ini perlu media partner agar dapat disiarkan di televisi supaya semua orang tahu. Dengan demikian wabah merak hijau bisa semakin meluas dan dikenal. Pasti ada yang tergerak hatinya untuk membantu dalam konservasi merak hijau ini. Tak dapat dipungkiri tentu juga ada pihak yang ingin berbuat jahat, maka perlu kewaspadaan.

Tentu untuk mengumandangkan adanya acara besar ini kita perlu inovatif untuk mendapatkan feedback yang kita inginkan. Saat ini banyak orang, khususnya anak muda sangat ketergantungan dengan media sosial. Memanfaatkan kondisi tersebut, bisa membuat trending topics di twitter dengan hashtag #SaveMerakHijau#BIOFAIR 2016 atau yang lebih inovatif lagi.

Tidak hanya trending topics di twitter, tentu perlu membuat booming Facebook juga, ataupun line dengan membuat stiker dengan gambar merak hijau.

facebook-cred-cnetuk-600-v1-620x400_610x394

Contoh Sosial Media Facebook

twitterfeaturedimage

Contoh Sosial Media Twitter

Twitter-Trending

Trending Topics on Twitter

161859632Facebook-Likes

Icon Like on Facebook

emoticon__moon_cony_and_brown__on_line_messenger_by_yurikoaskikaga-d60hitr

Tagline Sosial Media on LINE

PicsArt_1378487118500

Contoh Sticker Sosial Media LINE

gambar-lukisan-tangan-burung-merak

Lukisan Tangan Merak Hijau sebagai Salah Satu Apresiasi Kecintaan kepada Pavo

 Langkah-langkah tersebut perlu dilakukan serentak agar benar-benar membuat dunia penasaran dengan apa yang terjadi. Mungkin langkah-langkah detailnya bisa dikembangkan nantinya. Singkatnya, dari berbagai usaha yang dilakukan, dana yang memang khusus diberikan untuk konservasi akan diberikan kepada pihak yang berhak mendapatkannya.

Not only me,
Not only you,
But ‘US’

LET’s SAVE PAVO!!!

 Daftar Pustaka:

Delacour, J. 1977. The Pheasant of The World. 2nd Edition. Spurr Publications Saiga Publishing co. Ltd, Surrey England.

Departemen Kehutanan. 2006. Handbook CITES. Departemen Kehutanan, Jakarta.

Hernowo, J.B. 1995. Ecology and Behaviour of The GreenPeafowl (Pavo muticus Linnaeus, 1766) in the Baluran National Park, East Java, Indonesia. Faculty of Forestry Science Georg, Universty Gottingen, Germany.

IUCN.The Redlist of Threathened Species. http://www.iucnredlist .org. Diakses pada 1 Desember 2014.
http://galleryhip.com/green-peafowl.html
Pavo-muticus.com

MacKinnon, J., dkk. 1992. Panduan Lapangan Pengenal Burung-Burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Takandjandji,M. dan Sawitri,R. 2011. Population Phoenix Birds (Pavo muticus Linnaeus, 1766) in Savanna Ecosystem, Baluran National Park, East Java. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 8(1):13-24.

https://www.youtube.com/watch?v=jTBHiZtnCsA

http://pixabay.com/p-186353/?no_redirect
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/12/26/myezdo-penangkaran-merak-satusatunya-di-indonesia

 

 

 

 

 

 

 


15 responses to ““Ngeeeeyaow” Need U”

  1. mynarita says:

    wah, ide kita hampir sama intan 🙂 memang betul beberapa teknologi sekarang perlu dimanfaatkan sebagai suatu gerakan konservasi. idemu mungkin bisa diterapkan lebih lanjut untuk acara BIOFAIR mendatang 😀 lalu, bagaimana aksimu dalam menghadapi produk’ merak hijau yang dijual bebas dipasaran?

    • intanmiw says:

      Halo maya narita. Yap, saat ini memang media sosial adalah salah satu cara yang tepat untuk mengusahakan konservasi itu sendiri mengingat aksesnya adalah seluruh dunia. I hope so 🙂 Next generation of BIOFAIR must be inovative.
      Aksi saya, seperti yang saya utarakan bahwa saya akan tidak membelinya karena itu adalah produk dari hewan yang dilindungi. Sebagai mahasiswa saya belum bisa berbuat banyak, saya hanya bisa melakukan itu untuk diri saya sendiri dan melakukan banyak pengenalan melalui mouth to mouth untuk jangan membeli produk-produk tersebut. Saya juga akan lebih menggali dan memperbanyak tulisan saya untuk membujuk dan menyadarkan masyarakat untuk membantu usaha konservasi ini.

  2. Merak hijau memang memiliki keindahan bulu yang luar biasa, pernah beberapa kali saya melihatnya namun hanya di Kebun Binatang Bumi Kedaton, Lampung, itu pun menurut saya hanya dikandang dan belum layak, dan terkadang jika satwa ada di dalam kandang kebanyakan pengunjung memberikan pakan sembarangan. Ini bisa menjadi suatu langkah baik apabila jika kita melihat di sebuah kebun binatang, para pengunjung memberikan pakan secara sembarangan kita dapat menegur pengunjung atau pengelola tempat, sehingga kita juga ikut serta dalam membantu menjaga kesehatan dan jumlah populasinya. Mungkin itu juga bisa menjadi salah satu aksi nyata kita dalam turut serta menjaga keaneragaman hayati di Indonesia. Terimakasih. Sukses buat rencana Anda. GBU

    • intanmiw says:

      Halo Sandy Aprian. Ya, sejujurnya saya juga baru melihatnya ketika ada Ekspedisi ke TN. Baluran dan baru merasakan betapa indahnya Merak Hijau ini. Setau saya ini adalah endemik pulau jawa, mungkin yang anda lihat merak jenis lain atau mungkin saya kurang menggali informasi. Nanti akan saya cari lagi.
      Wah, terima kasih atas sarannya ya#Let’s Save Pavo!!!

  3. Randy Michael Tobing says:

    “memang media sosial adalah salah satu cara yang tepat untuk mengusahakan konservasi itu sendiri mengingat aksesnya adalah seluruh dunia”… Ya bener pola pikir kita sama. Di era modern mendorong setiap orang terus berpikir inovatif dan kreatif dalam sebagai gerakan konservasi dengan memanfaatkan media sosial. Dengan memanfaatkan jaringan internet memungkinkan e-environment dapat diakses oleh semua orang di dunia. Hal ini menjadi kemudahan untuk menyampaikan pelestarian lingkungan hidup kepada masyarakat luas. Internet bukan lagi hal tabu dikalangan masyarakat, bahkan anak setingkat sekolah dasar sudah dapat mengakses dan menggunakan internet. Serta dengan efek visual dan pesan yang disampaikan melalu e-environment dapat membentuk kesadaran masyarakat ataupun pembaca dalam memahami pentingnya keseimbangan ekosistem, konservasi itu sendiri.

    • intanmiw says:

      Betul sekali kak Randy, media sosial dan efek visual, apalagi anak kecil, akan lebih mudah rasanya untuk istilahnya mendoktrin mereka.
      Sebenarnya banyak cara, namun pengaplikasiannya membutuhkan banyak pihak. Ayo kak Save Pavo!!!

  4. Agustinuscandra says:

    Materi yang sangat menarik dan bagus untuk dikembangkan. Mungkin saya mau bertanya, untuk kita sebagai mahasiswa maupun masyarakat Indonesia, hal apa sih yang paling dapat kita realisasikan untuk mengembangkan dan melindungi merak hijau ini sehingga keturunan yang akan datang tetap dapat melihat keindahan dari merak hijau ini?

    • intanmiw says:

      banyak sebenarnya tindakan yang dapat dilakukan. Beberapa sudah saya utarakan di artikel ini.
      Pertama tentu kita bisa nih mendonasikan atau melakukan gerakan pendanaan untuk disumbangkan ke penangkar atau taman nasinal yang menjadi habitatnya. Kemudian, kita jangan membeli produk-produk yang menggunakan bulu dari satwa ini (haram istilahnya :p). Kalau melihat aksi perburuan atau semacamnya, segera laporkan ke pihak berwajib.
      Kalau kamu sebagai mahasiswa biologi, bisa jadi PR km, apa yang bisa km lakuin nanti untuk mereka 🙂
      Nah calon penerus BIOFAIR, silahkan pikirkan konsep unik untuk acara ini selanjutnya…
      Hmmm, singkatnya, SavePavo!!!

  5. Redi says:

    Untuk langkah awal ide ini perlu diapresiasi. :towthumbup

    Saran untuk berikutnya:
    identifikasi penyebab –> untuk menentukan langkah REAL konservasi. karena Klo hanya sekedar memberi tau masyarakat dan berteriak2 bahwa hewan ini perlu konservasi namun tanpa tindakan nyata=[maaf]omongkosong

    tindakan nyata dalam hal ini tidak harus mahasiswa yang merawat langsung namun bisa dilakukan semacam riset mini untuk menentukan tindak lanjut dari yang berwenang. GUNAKAN BIDANG KEILMUAN UNTUK BERPARTISIPASI LANGSUNG & TIDAK SEKEDAR BERTERIAK

    • intanmiw says:

      Halo mas Redi.
      Iya betul sekali, segalanya kalau hanya sekedar wacana itu adalah omong kosong dan nggk ada gunanya. Namun yang perlu dijadikan langkah awal adalah pengenalan terhadap satwa tersebut sehingga masyarakat awalnya disadarkan terlebih dahulu dengan siapa sih merak hijau itu, apa sih yang membuatnya disuarakan terus. Ketika mereka sudah sadar dan tahu, maka diperlukan tindakan lanjutan untuk mengkonservasinya. Sebagai mahasiswa ya hanya tindakan kecil saja yang bisa dibuat seperti membantu gerakan pendonasian untuk tempat konservasinya (perbaikan habitat dan penangkaran). Sesuatu yang berbeda caranya akan lebih dilihat dan menimbulkan suatu ide yang bagus dan solusi yang tepat. Bahkan mungkin pemerintah pun akan menjadi tersudutkan kalau banyak masyarakat berada pada pro konservasi sehingga tindakan pemerintah bisa lebih tegas untuk pengkonservasian ini.
      Iyaaaa, sebagai mahasiswa biologi lagi mengusahakan cara, masih belum ada ide matang. Mungkin mas Redi sebagai alumni anak Biologi juga bisa membantu menyalurkan idenya untuk konservasi ini dengan menggunakan bidang keilmuannya 🙂

  6. Calis says:

    Bagus kali ini buat menambah wawasan trnyt dengan adanya informasi ini mbuktikan bahwa satwa yg dimiliki Indonesia keberadaannya mang sangat terancam, … Ini merupakan bukti jika keberadaan satwa terancam apabila dihadapkan dengan nilai ekonomi

    • intanmiw says:

      Wah, Halo kak Pascalis.
      Selain nambah ilmu, harapannya sih beneran terealisasi kak. Mereka butuh dikonservasi kak. Keeksotisan mereka menjadi bumerang istilahnya, membuat banyak yang tertarik untuk memburu. Sebenarnya tidak hanya ekonomi, habitatnya sendiri pun banyak gangguannya. Butuh campur tangan stakeholders untuk menanganinya, khususnya pemerintah.

  7. Yusuf Abdurrosyid says:

    good job, ini membuat pikiran kita terbuka, bahwa sanya di indonesia masih banyak satwa-satwa langka yang masih pelu untuk di lestarikan. Yang jelas, hal ini perlu adanya komitmen dari pemerintah untuk benar-benar melestarikan si pavo ini, kita sebagai mahasiswa hanya bisa menuangkan ide ataupun bantuan ala kadarnya untuk si pavo ini. Good job, lanjutkan!!!!

  8. catherinekath says:

    Bagus sekali artikelnya, tapi saya masih bertanya-tanya apakah sebenarnya dengan membuat anak-anak ikut dalam mewarnai semacam itu, pesan untuk “save Pavo” bisa tersampaikan? Bagaimana untuk membuat anak-anak paham?

  9. Nita Dwi Estika says:

    Halo selamat siang Intan. Menarik dengan topik yang diangkat. Mengenai aksi membuat semacam “trademark” berupa burung merak. Kalau di bidang yang sedang saya jalani sekarang yaitu kuliah arsitektur, bisa juga ide itu direalisasikan menjadi sebuah pameran instalasi yang bekerja dengan teman-teman Mahasiswa Arsitektur UAJY.
    Disana bisa menjadi ajang informatif mengenai misi yang diangkat.
    Untuk masalah membuat semacam trending topic di facebook atau twitter, menurut pendapat saya itu hanyalah mengejar sesuatu yang seksi untuk didengar, dan pastinya hanya akan menjadi angin lalu. Saran saja, bisa dilakukan aksi nyata untuk mendukung gerakan ini.
    Terima kasih, sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php