MIW's: Read me now

Lacak Balak dengan Identifikasi Molekuler

Posted: September 11th 2014

“Seratus tahun yang lalu Indonesia masih memiliki hutan yang melimpah, pohon-pohonnya menutupi 80 sampai 95 persen dari luas lahan total dengan tutupan hutan total pada waktu itu diperkirakan sekitar 170 juta ha. Saat ini, tutupan hutan sekitar 98 juta hektar, dan paling sedikit setengahnya diyakini sudah mengalami degradasi akibat kegiatan manusia. Sejak tahun 1996, deforestasi tampaknya malah meningkat lagi sampai sekitar 2 juta ha per tahun. Pada tingkat ini, tampaknya seluruh hutan dataran rendah Indonesia – yang paling kaya akan keanekaragaman hayati dan berbagai sumber kayu – akan lenyap dalam dekade mendatang” -(Holmes,

2000).

balakk

Gambar 1. Garis Wallace sebagai Dasar Keanekaragaman Hayati Indonesia

Indonesia adalah Negara penghasil berbagai kayu bulat tropis dan kayu gergajian, kayu lapis dan hasil kayu lainnya, serta pulp untuk pembuatan kertas. Lebih dari setengah hutan di Negara kita sekitar 54 juta hektar, dialokasikan untuk produksi kayu dan 2 juta ha lagi hutan tanaman industry yang telah didirikan, yaitu untuk memasok kayu pulp.

Industri kayu saat ini membutuhkan sekitar 80 juta meter kubik kayu tiap tahun untuk memasok industry penggergajian, kayu lapis, pulp, dan kertas. Jumlah yang dibutuhkan ini lebih besar daripada yang dapat diproduksi secara legal dari hutan alam dan HTI. Hal itulah yang mengakibatkan lebih dari setengah pasokan kayu di Indonesia sekarang diperoleh dari pembalakan illegal.

lacak

Gambar 2. Lacak Balak Kayu (http://barcodingdna.innov.ipb.ac.id/files/2011/11/images32.jpg)

Balak Liar

Gambar 3. Penebangan Liar (Illegal Logging) Kayu di Hutan Indonesia

 (http://rimanews.com/images/bank/Balak%20Liar.jpg)

 

pembalakan-liar-ilustrasi-_120507152743-778

Gambar 4. Kondisi Batang Pohon Hasil Penebangan

( http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/pembalakan-liar-ilustrasi-_120507152743-778.jpg)

Pembalakan ilegal dilakukan di setiap tingkat masyarakat – oleh para pejabat yang korup, militer, para operator liar dan kelompok perusahaan kayu (HPH) yang resmi. Namun, meskipun hutan-hutan Indonesia begitu penting, dan betapa cepatnya hutan-hutan itu lenyap, informasi yang akurat dan terkini tentang luas dan kondisi hutan juga tidak ada, atau sulit diperoleh.”

Sejauh ini, kasus pembalakan liar masih saja terdengar dimana-mana. Sejauh ini, kasus pembalakan liar masih saja terdengar dimana-mana. Lebih dari sebagian hutan Indonesia yaitu sekitar 54 juta hektar dialokasikan untuk produksi kayu. Adanya tindakan tersebut semakin menambah luasnya fallow land yang berkontribusi pada perubahan iklim dengan meningkatnya Green house effect. Kondisi inilah yang menyebabkan deforestasi hutan dan kerusakan ekologi yang parah sehingga akan menjadi ancaman bagi biodiversitas Indonesia.

Kondisi inilah yang menyebabkan deforestasi hutan dan kerusakan ekologi yang parah. Satu diantara banyaknya kasus yaitu pada tahun 2013 lalu, sebanyak 500 hektar hutan di Berau, Kalimantan Timur habis dibabat oleh pembalak liar. Tidak hanya pemerintah saja yang dirugikan secara material, namun yang perlu diperhatikan bahwa ekosistem alam sudah dirusak oleh manusia. Banyak satwa Indonesia yang terganggu habitatnya dan tidak menutup kemungkinan menimbulkan efek stress bagi mereka sehingga akan menghambat perkembangbiakan dan berujung pada penyusutan populasi. Hal tersebut adalah salah satu aspek yang menjadi sorotan dari dampak penebangan hutan secara liar.

Sertifikasi lacak balak (chain of custody) adalah salah satu kegiatan utama sertifikasi ekolabel untuk memantau aliran kayu dari hutan ke pabrik. Beberapa jenis kayu yang sedang menuju proses sertifikasi ekolabel di Indonesia adalah jati, merbau, meranti, ramin, dan mangium. Jati adalah salah atu prioritas sertifikasi karena harganya yang mahal. Dengan mengkaji secara molekuler, maka akan didapatkan pembuktian yang akurat untuk memecahkan kasus asal-usul kayu yang meragukan. Dengan demikian, metode genetik dengan pendekatan molekuler adalah salah satu cara tepat untuk mengidentifikasi suatu identitas species dan merupakan suatu alat kontrol akurat untuk asal geografis kayu yang ditebang.

Lacak balak pada kayu jati dan produk kayu jati dengan menggunakan metode sidik jari DNA, analisis komponen kimia kayu, Spektra Near Infrared (NIR), dan metode sidik jari isotop stabil. Penanda tersebut bersifat internal yang melekat dalam materi dasar kayu sehingga sulit dimanipulasi. Studi NIR dan isotop belum pernah dilakukan pada jati karena penelitian terdahulu khususnya untuk DNA hanya dilakukan pada beberapa lokasi dan berbasis individu sehingga kurang mewakili variasi genetik jati dan belum cukup menyediakan informasi yang diperlukan bagi lacak balak.

Secara umum, prosedur penelitian tentang metode penanda genetika molekuler untuk lacak balak yaitu dengan teknik RAPD dan PCR-RFLP dengan sampel berupa daun dan kayu jati untuk identifikasi keragaman genetik DNA nya. Untuk ekstraksi dan isolasi DNA menggunakan metode CTAB (Cethyl Trimethyl Ammonium Bromide) yang telah dimodifikasi. Proses amplifikasi DNA sendiri dengan menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reactions). Proses restriksi DNA khusus dilakukan pada teknik PCR-RFLP. Analisis isotop dilakukan dengan metode pembakaran yang pada akhirnya nanti akan diidentifikasi dengan metode PCA untuk melihat keragaman geografisnya. Dengan adanya pendekatan molekuler seperti di atas akan dapat diketahui asal geografis dari kayu jati tersebut. Dengan demikian, apabila terjadi illegal logging (tanpa sertifikasi) akan dapat diketahui dengan jelas asal usul dari kayu tersebut melalui analisis genetik. Selain itu, pendekatan ini juga dapat digunakan untuk mengetahui keaslian dari kayu itu sendiri sehingga kasus penipuan juga dapat diminimalisasi.

Namun, berdasarkan hasil penelitian, nilai variasi genetik pada kayu jati secara umum lebih rendah bila dibandingkan dengan nilai variasi genetik pada daun jati. Tidak semua teknik seperti yang dijelaskan sebelumnya tepat untuk identifikasi jati. Teknik analisis DNA dengan metode RAPD (ekstraksi, isolasi dan PCR) dapat diterapkan pada bahan berupa kayu jati yang merupakan indikator utama untuk aplikasi lapangan. Analisis komponen kimia kayu, isotop dan spektra NIR masih belum bisa untuk memisahkan atau membedakan kayu jati antar propinsi di Pulau Jawa. Seiring dengan berjalannya waktu, harapannya pendekatan ini akan semakin berkembang sehingga kasus-kasus pembalakan liar seperti ini akan dengan mudah ditangani. Dengan demikian, penebangan hutan secara liar akan semakin menurun dan ekosistem hutan akan kembali memulih yang diiringi dengan usaha reforestasi.

Jika ingin mengetahui lebih dalam mengenai identifikasi molekuler untuk kasus seperti ini, silahkan buka:

http://link.springer.com/article/10.1007/s00253-009-2328-6

http://literatur.vti.bund.de/digbib_extern/dk040620.pdf

 

 

 

Sumber:

Siregar, I.Z., Siregar, U.J., Karlinasari, L., dan Yunanto, T. 2008. The Development of Genetic a Molecular Marker Method for Tracking Timber-A case Study on Teak. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 13(2): 56-68.

http://news.detik.com/read/2013/12/16/204428/2443769/10/pembalak-liar-babat-500-hektar-hutan-di-berau-kaltim

http://barcodingdna.innov.ipb.ac.id/files/2011/11/images32.jpg

http://rimanews.com/images/bank/Balak%20Liar.jpg

http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/pembalakan-liar-ilustrasi-_120507152743-778.jpg


2 responses to “Lacak Balak dengan Identifikasi Molekuler”

  1. Caterinaakila says:

    Informasi yang sangat menarik dan sangat dibutuhkan di Indonesia. Saya baru pertama kali mendengar dan membaca tentang lacak balak, dan ini harus diterapkan dengan serius oleh Indonesia agar hutan-hutan dapat segera diselamatkan dari pemabalakan liar yang dapat merusak hutan di Indonesia 🙂

  2. Yudhistira says:

    Sangat bermanfaat, untuk jenis kayu lainnya apakah sudah pernah diterapkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php