MIW's: Read me now

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) : Apakah Aku masih bisa berkicau di tanah Bali?

Posted: September 5th 2014

“Makhluk hidup pada kenyataannya tidak selalu mempunyai kerapatan (density) yang sama dalam ruang dan waktu. Ada makhluk hidup yang pada suatu saat tersebar luas dengan kerapatan yang tinggi, tetapi pada saat lain menciut dan sulit dijumpai. Adanya kenyataan itu membuat makhluk hidup itu mempunyai sifat endemik, tersebar jarang, dan menjadi relik (tersisa)” – TN. Bali BaratBali-starling-group---3-perched-on-branch

Gambar 1. Tiga Jalak Bali di pohon (Sumber: http://www.arkive.org/bali-starling/leucopsar-rothschildi/image-G111296.html)

Indonesia mempunyai species burung yang sangat beranekaragam. Menurut Birdlife tahun 1995, jumlah species burung di Indonesia sekitar 1539 jenis. Banyak dari species tersebut memiliki kicauan yang unik dan menarik, beberapa diantaranya yaitu Beo (Gracula e.religiosa), Jalak Awu (Sturnus m.melanopterus), Jalak Uren (Sturnus contra jala), Jalak Hitam (Acridoptheres fuscus javanicus), dan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi). Sayangnya, burung Jalak Bali merupakan satwa yang dikategorikan dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) sebagai satwa yang kritis dan berdasarkan konvensi perdagangan internasional bagi jasad liar CITIES ( Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) dimasukkan dalam appendix 1, yaitu kelompok yang terancam kepunahan dan dilarang untuk diperdagangkan. Maka dari itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan Surat Kepmen. Pertanian Nomor 421/kpts/Um/70 tanggal 26 Agustus 1970, yang menerangkan antara lain bahwa Jalak Bali dilindungi .

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) adalah salah satu contoh satwa langka dan endemik Indonesia yang habitatnya ada di pulau Bali yang sebarannya ada di Bubunan Buleleng sampai ke Gilimanuk. Sekarang ini keberadaannya menciut hanya terbatas pada kawasan Taman Nasional Bali Barat, tepatnya di Semenanjung Prapat Agung dan Tanjung Gelap Pahlengkong.

Jalak Bali memiliki tipe habitat seperti di hutan mangrove, hutan pantai, hutan musim, savana. Burung yang dikenal oleh masyarakat lokal Bali dengan sebutan Curik Bali merupakan burung yang sangat popular karena keindahan bentuk fisiknya dimana burung ini memiliki tubuh dengan bulu putih, bingkai mata berwarna biru cemerlang, dan sentuhan hitam di ujung sayap dan bulu ekor. Jalak Bali memiliki jambul yang berupa beberapa helai bulu. Burung jantan memiliki bentuk lebih indah dan mempunyai jambul lebih panjang daripada yang betina.

Bali-starling-portrait-full-body-shot

Gambar 2. Seekor Jalak Bali sedang bertengger di batang pohon (Sumber: http://www.arkive.org/bali-starling/leucopsar-rothschildi/image-G111296.html)

Bali-starling-with-crest-erect

Gambar 3. Burung Jalak Bali dengan Jambul indahnya (Sumber: http://www.arkive.org/bali-starling/leucopsar-rothschildi/image-G111296.html)

Bali-starlings

Gambar 4. Sepasang Jalak Bali sedang Hinggap di Tangkai Pohon (Sumber: http://www.arkive.org/bali-starling/leucopsar-rothschildi/image-G111296.html)

Bali-starling

Gambar 5. Bingkai mata Jalak Bali Berwarna Biru (Sumber: http://www.arkive.org/bali-starling/leucopsar-rothschildi/image-G111296.html)

Burung dengan bingkai mata biru ini memiliki waktu perkembangbiakan yang cenderung bersamaan dengan musim hujan karena banyaknya pakan yang tersedia dan suhu serta kelembaban yang dimungkinkan ideal dengan keberhasilan penetasan telurnya.

“Keterbatasan populasi suatu satwa liar dapat terjadi oleh sebab-sebab tidak alami, yaitu karena perilaku atau ulah manusia yang terlalu over berperilaku tidak ramah lingkungan, seperti perburuan liar dan mengubah suatu habitat hunian satwa liar menjadi fungsi lain yang menyebabkan satwa yang ada semakin terdesak dan menurun populasinya” -TN.Bali Barat

Kelangkaan Jalak Bali yaitu karena faktor alamiah seperti kualitas habitat, adanya predator, penyakit, satwa pesaing, maupun mati karena usia tua. Misalnya, setiap musim kemarau, keadaan lingkungan Bali Barat tidak nyaman bagi Jalak Bali. Hal ini dikarenakan sumber air menjadi terbatas bahkan kekeringan, serta semak atau padang rumput tempat Jalak Bali mencari serangga mengalami kebakaran. Selain faktor alam, ada juga faktor manusia yang turut mengganggu kenyamanan dari satwa ini. Peningkatan jumlah penduduk yang semakin pesat pun semakin lama menggusur habitat alami dari burung ini. Saat ini, ruang hunian (home ring) dari Jalak Bali tidak lebih dari 1000 hektar pada 2 lokasi yaitu Teluk Berumbun wilayah Semenanjung Prapat Agung dan Tanjung Gelap wilayah Pahlengkong. Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah taman nasional sering keluar masuk hutan untuk mengambil kayu, buah, daun, bahkan memburu Jalak Bali. Petugas polhut tentu ada, namun mereka dilema karena dihadapkan denga situasi dimana harus menjaga satwa dan disisi lain harus memahami kemauan masyarakat. Jika masyakarat tidak dituruti, kemungkinan adanya ancaman bagi keselamatan dari petugas tersebut. Faktor tersebut kini menjadi sorotan  utama penyebab menurunnya populasi Jalak Bali selain karena faktor alami. Tidak hanya habitat aslinya yang dikuasai oleh para manusia, namun perilaku manusia juga membuat jumlah populasi Jalak Bali ini semakin memprihatinkan. Salah satunya seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu adanya perburuan liar. Dimungkinkan tindakan ini didasari oleh kepentingan bisnis dan ekonomi karena berdasarkan issue yang ada, seekor Jalak Bali dihargai kurang lebih 10 Juta di pasar gelap. Walaupun hanya sekedar issue, namun issue ini sudah tersebar luas di Bali yang tentu justru akan membuat masyarakat tertarik untuk memburu dan mengeksploitasi species ini. Hukum yang mengatur mengenai perburuan liar tentu ada. Di Indonesia, Jalak Bali dilindungi dalam UU No. 5 th 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan ekositemnya dan dalam PP No.7 th. 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Namun sayangnya undang-undang yang ada sepertinya hanya sekedar wacana yang tidak dirasakan keberadaannya karena faktanya perburuan liar itu semakin liar.

Berdasarkan informasi tenaga fungsional polhut Taman Nasional Bali Barat, diindikasikan adanya percobaan perburuan pada Jalak Bali setelah dilakukannya pelepasan Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) ke habitat pada awal bulan Desember 2007. Barang bukti berupa sabit, senter dan pulut (semacam lem dari getah pohon) yang masih disimpan rapi di dalam toples plastik yang ditemukan di daerah Tebing Gondang. Bahkan kejadian ini tidak hanya sekali dua kali, namun berkali-kali sampai terpaksa harus meletuskan beberapa tembakan ke arah pelaku.

Melihat kondisi keberadaan Jalak Bali yang kini semakin jarang, maka diperlukan sebuah usaha agar Jalak Bali tidak punah dan bisa lestari. Beberapa hal saling memiliki keterkaitan dalam usaha untuk melestarikan burung ini seperti kondisi bio-ekologi spesies, keadaan lingkungan fisik kawasan, keadaan tekanan maskarakat, dan dedikasi petugas lapangan. Jalak Bali merupakan species burung yang ini suka bersarang di dalam lubang-lubang batang pohon. Namun sebenarnya burung ini tidak mampu untuk membuat lubang sendiri, melainkan menggunakan lubang yang secara alamiah ada pada pohon. Semakin lama, kondisi lingkungan menjadi berubah dan diusahakan adanya pembuatan lubang oleh manusia yang dapat memungkinkan Jalak Bali dapat bersarang agar kehidupannya tetap nyaman dan tetap lestari. Selama dan pasca bertelur di sarangnya (lubang pohon) diperlukan adanya penjagaan ketat dari predator seperti ular dan tikus, serta dari manusia yang ingin mengambil/ memburu telur Jalak Bali. Dilihat dari sifat biologis dari Jalak Bali sendiri, ia adalah burung yang sangat peka dengan adanya gangguan sehingga mudah mengalami stress dalam keadaan yang tidak wajar. Dengan demikian, kemampuan berkembang biak dari burung ini sering berjalan tidak normal. Sebenarnya usaha konservasi seperti penangkaran dan pelepasan ke habitat aslinya akan baik karena dapat mempertahankan kemurnian genetiknya. Namun dilihat dari situasi dan kondisi seperti yang disebutkan sebelumnya, pelestarian Jalak Bali di habitat aslinya dirasa agak sedikit sulit karena adanya faktor manusia yang mengganggu. Di daerah Jawa Timur tepatnya di Kediri, terdapat Penangkar Usaha Dagang (UD) Anugrah. Penangkaran ini dibentuk atas dasar kekhawatiran terhadap populasi Jalak Bali yang mengalami penurunan jumlah populasinya dengan berusaha melindungi dan memanfaatkan Jalak Bali secara lestari. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan untuk menangkarkan Jalak Bali yaitu dengan mengetahui perilakunya. Dengan mengetahui dan memahami perilaku Jalak Bali di penangkaran, maka kesehatan, pola makan, kebersihan serta perkembangbiakan Jalak Bali dapat dipantau.

Pada akhir tahun 2009, sebanyak 65 burung dibebaskan di Nusa Penida dan menghasilkan 62 anakan yang bisa hidup di alam liar, jumlah ini sampai dengan tahun 2011. Pada tahun 2006 peraturan daerah disahkan untuk membuat perlindungan burung wajib oleh semua warga desa di Penida. Sebagai imbalan atas dukungan mereka, pemerintah memberikan proyek suatu pembinaan untuk pendidikan dan penghidupan lokal berkelanjutan (Friends of the National Parks Foundation undated).

Mungkin banyak tindakan yang diusahakan seperti perbaikan habitat dan banyaknya peraturan perundang-undangan yang dibuat untuk memperbaiki populasi Jalak Bali agar tidak semakin menurun dan akhirnya punah. Namun yang perlu menjadi perhatian utama adalah pada perilaku manusia. Semua usaha itu akan terasa sia-sia apabila perilaku manusianya tetap sama yaitu hanya memperhatikan aspek ekonomi dan bisnis tanpa didasari dengan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya habitat untuk satwa endemik seperti Jalak Bali. Maka dari itu, kita perlu untuk mengubah main set dari masyarakat agar mereka sadar bahwa sangat perlu untuk melestarikan keanekaragaman hayati Indonesia.

 

Sumber:

http://www.iucnredlist.org/details/22710912/0

http://repository.ipb.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/61755/E13asa.pdf?sequence=9

http://www.tnbalibarat.com/?p=116

Alikodra, H.S. 1987. Masalah Pelestarian Jalak Bali. Media Konservasi 1(4): 21-28.

 

 


10 responses to “Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) : Apakah Aku masih bisa berkicau di tanah Bali?”

  1. mynarita says:

    sedih sekali mendengar berita kalau burung cantik ini diburu terus menerus oleh manusia, merasa malu menjadi bagian dari manusia *loh* hahahahhahaa.. ada baiknya kalau dibuat sebuah komunitas pencinta burung khususnya jalak bali yang memang menjaga erat keberadaannya, atau mungkin pemerintah perlu membentuk polisi satwa ya? 🙂 mungkin lebih baiknya diberi tips untuk pencegahan kepunahannya intan, selain dengan kesadaran yang sepertinya sulit untuk dirubah 😀

  2. Jacqueline Hayu Sri Lestari says:

    bukankah jalak bali merupakan satwa endemik pulau bali? saya tidak pernah mendengar terjadi kebakaran hutan di pulau bali, namun ternyata fenomena ini merupakan ancman bagi keberlangsungan hidup satwa eksotis ini. terbukti sekali lagi bahwa kita belum benar-benar mengenal kekayaan negeri kita ini

  3. alfonslie says:

    postingan yang sangat menarik. keep blogging 🙂

  4. Inge says:

    Thx’ infonya.
    Once again, menambah panjang datar fauna endemik terlantar di Indonesia. Perlu pembenahan moral biar makin aware sama fauna macem Jalak Bali gini. sudah ada undang2 lho padahal, tapi tetep aja… nie, aku juga nemu kasusnya.
    http://www.antarababel.com/print/1745/perdagangan-burung-jalak-bali-dibongkar
    btw, yg di Kediri Jatim itu namanya bneran P. Usaha DAGANG? itu ditangkarin buat konservasi atau dijual lagi ya?

    • intanmiw says:

      Iya Inge, semakin banyak saja fauna endemik di Indonesia, padahal katanya Indonesia adalah negara dengan Biodiversitas tinggi. Nah itu dilemanya, ada undang-undang tapi masih saja banyak kasus gelap jual beli fauna endemik ini…mungkin kita harus turun tangan#angkat lengan,hahaha.
      Awalnya saya juga bingung mengenai UD itu.
      Hmmmm, namanya usaha dagang pasti ada unsur jual beli. UD ini memang kegiatannya adalah penangkaran Jalak Bali yang nantinya akan dijual. Bisa jadi penjualan yang dilakukan berupa kerjasama dengan taman nasional di Bali karena untuk penangkaran di habitat aslinya agak rawan dengan kasus perburuan liar.
      Penangkaran Jalak Bali dengan tujuan komersial tidak dapat dilakukan secara bebas, namun ada perizinannnya.
      PERATURAN MENTERI KEHUTANAN (Nomor : P. 19/Menhut-II/2005) pasal 1 ayat 8 :”Unit penangkaran adalah suatu usaha penangkaran tumbuhan dan atau satwa yang hasilnya untuk diperjual belikan atau untuk dijadikan obyek yang dapt menghasilkan keuntungan secara komersial yang berhubungan dengan penangkaran tumbuhan dan satwa liar yang meliputi kegiatan penangkaran, pengolahan sampai dengan pemasaran hasil penangkaran.” (http://bbksdajatimwil1.wordpress.com/informasi-pemanfaatan-tumbuhan-dan-satwa-liar/informasi-penangkaran/permenhut-berkaitan-dengan-penangkaran/)
      Ada undang-undang yang memberikan izin untuk memperjualbelikan satwa atas dasar penangkaran, namun seperti yang saya jelaskan tadi bahwa izin itu tidak mudah, pasti ada ketentuan tersendiri agar species tersebut tetap lestari dengan adanya kegiatan penangkaran, namun di sisi lain pelaku penangkaran juga mendapatkan imbalan secara komersial.

  5. imbalan yang sesungguhnya adalah biodiversitas itu sendiri 🙂

  6. catherinekath says:

    Apakah sudah ada usaha untuk pelepasan Jalak Bali dari penangkaran ke habitat asli? Jika sudah, mengapa hal tersebut dilakukan? Mengingat habitat belum pulih dan masyarakat belum sepenuhnya sadar akan keterencaman populasi burung ini.

  7. yuurie989 says:

    jalak bali cantik bget.. sayang tinggal sedikit.. info ini menarik bget tan.. thx infonya.. info ini seharusnya bisa membangkitkan semangat kita untuk bisa melestarikan hewan asli indonesia yang nan indah ini.. semoga ke depannya, semua orang dapat sadar bahwa jalak bali juga perlu dilestarikan.

  8. danielharjanto says:

    setuju sekali dengan ide yang disampaikan, dimana untuk melestarikan jalak bali ini diperlukan banyak pihak serta faktor yang mendukung bukan hanya memperhatikan pada jalak bali itu sendiri. faktor lingkungan, sosial masyarakat,serta hukum juga menjadi penentu kelestarian jalak bali ini. semoga dengan membaca artikel ini pembaca dapat menyadari serta mulai merubah pola pikir yang melulu menitik beratkan pada ekonomi dan bisnis tanpa peduli dengan lingkunga.

  9. tosy says:

    cantik bnget ya, jalak balinya.
    aq baru tahu. info yg menarik, keep blogging.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php