Info Pendidikan Untuk Mahasiswa UAJY

Menjaga Salah Satu Warisan Budaya Bissu Milik Indonesia

Posted: April 16th 2021

Suku Bugis merupakan salah satu dari sekian suku besar nan indah di Indonesia. Terdapat banyak sekali budaya di dalamnya yang perlu kita pelajari dan kita jaga Bersama. Salat satu warisan budaya kuno Bugis adalah para Bissu.

Bissu adalah kaum pendeta yang gendernya dipandang sebagai campuran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan, Indonesia. Golongan Bissu juga mengambil peran gender laki-laki dan perempuan dan dilihat sebagai separuh manusia dan separuh dewa, bertindak sebagai penghubung antara kedua alam manusia dan alam dewata. Kata Bissu sendiri berasal kata bessi yang berarti bersih. Mereka disebut Bissu karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), tidak menyusui, dan tidak haid. Ada kemungkinan kata Bissu berasal dari kata Bhiksu (pendeta atau pimpinan agama Budha). Pada masa pra Islam agama Budha sudah berkembang di lingkungan masyarakat Bugis, sehingga ada kemungkinan bahasa Sanskerta juga meresap ke dalam bahasa Bugis. Hal ini juga ditandai oleh fungsi Bhiksu yang hampir sama dengan Bissu

Keberadaan Bissu semakin sedikit karena berbagai faktor. Sebagai budaya yang masih ada, keberadaan Bissu sudah selayaknya dijaga dan dipertahankan.

Hal ini muncul dalam program publik Pemutaran Film dan Diskusi tentang Bissu yang berlangsung di Museum MACAN, Ahad,12 Januari 2020. Diskusi ini menghadirkan narasumber dari Ardhanary Institut, RR. Sri Agustine. “Bissu ini sudah ada dan disebut dalam naskah La Galigo, alangkah sayangnya jika kita kehilangan warisan budaya ini. Harapannya mereka masih tetap ada di nusantara,” ujar Agustine dalam paparannya usai pemutaran film Calalai in Betweenes, produksi Ardhanary Institut, Rumah Pohon Indonesia dan Hivos SEA yang disutradarai oleh Kiki Febriyanti.

Menurut Agustine, Budaya Bissu memperlihatkan keragaman gender yang mendapatkan pengakuan budaya sejak lama. Disebutkan dalam naskah La Galigo, budaya Bugis mengenal lima gender dalam kehidupan sehari-hari yakni Orooane (laki-laki), Makkunrai (perempuaan), Calalai (perempuan yang berpenampilan laki-laki), Calabai (laki-laki berpenampilan seperti layaknya perempuan) dan Bissu, figur spiritual yang tidak terkait gender perempuan atau laki-laki (netral).

Semua adat, tradisi dan budaya Bugis tercantum dalam kitab La Galigo yang diperkirakan ditulis pada abad 13-14. Kitab ini bercerita tentang tiga tempat yakni Bottilangi (kehidupan atas/ langit) yang merupakan simbol maskulinitas; Burillu (kehidupan bawah- simbol feminitas dan perkawinan simbol maskulinitas dan feminitas yakni dunia tengah. Penghuninya ada laki-laki, perempuan dan antara laki-laki dan perempuan. “Calalai, Calabai, Bissu dianggap di dunia tengah,” ujar Agustin lagi.

Film dokumentasi yang berdurasi 45 menit ini merupakan film produksi 2015 dan sudah diputar di berbagai festival dan berbagai acara. Berkisah tentang Calalai dan Bissu dari Calalai dengan tokoh utama bernama Mak Temmi. Dari profil Mak Temmi, kemudian beralih ke tokoh Calalai, salah satunya Sanro Annis. Dialah kemudian menjadi seorang Bissu yang meneruskan mandat Mak Temmi. Biasanya ia memimpin ritual adat di Bugis atau mendoakan anak atau orang yang sakit. Ada juga penjelasan tentang Bissu dari pengamat budaya Bugis, Halilintar Lathief dan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya yang juga seorang ahli membaca kitab La Galigo, Profesor Nurhayati Rahma.

Proses untuk menemukan Calalai ini, kata Agustine dan Kiki, sungguh tidak mudah. Mereka mencari keberadaan mereka lebih dari dua tahun. Bissu laki-laki, kata Agustin, lebih mudah ditemui. Keberadaan mereka lebih mudah dijumpai karena akses informasi, pendidikan, ekonomi juga banyak didominasi Bissu laki-laki. Juga karena akses secara budaya. Agustine juga mengharapkan dengan masyarakat dan pemerintah mampu mempertahankan dan melindungi keragaman budaya dan tradisi Bugis, termasuk Bugis ini.

Mari kita jaga serta lestarikan budaya ini dengan penuh hormat dan kasih saying agar tercipta kehidupan yang harmonis dan seimbang.


Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.

Artikel lainnya

Pentingnya Mengenalkan Budaya Kepada Anak

Go to post

ARCHIE Untuk Indonesia

Go to post
© 2022 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php