Info Pendidikan Untuk Mahasiswa UAJY

Pentingnya Mengenalkan Budaya Kepada Anak

Posted: March 30th 2021

Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya. Mulai dari bahasa, pakaian adat, alat musik, lagu, bahkan makanan khasnya. Namun sangat disayangkan, budaya kita perlahan mulai terkikis zaman. Budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki oleh sekelompok orang, dan diwariskan turun temurun untuk generasi ke generasi. Budaya terdiri dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, bahasa, adat istiadat, bangunan, alat, pakaian, dan karya seni. Bahasa, serta budaya, merupakan bagian integral dari manusia yang banyak orang cenderung menganggap itu diwariskan secara genetik. Ketika seseorang mencoba untuk berkomunikasi dengan orang-orang dari budaya yang berbeda, dan menyesuaikan perbedaan, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah gaya hidup holistik. budaya juga bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya bantuan menentukan perilaku komunikatif. Unsur penyebaran sosial budaya, dan mencakup banyak kegiatan sosial manusia.

Beberapa manfaat mengenalkan budaya terhadap anak adalah sebagai berikut:

Toleransi terhadap perbedaan

Dengan mendidik anak untuk menghargai perbedaan manusia seperti budaya, warna kulit, hingga kepercayaan, maka anak bisa lebih toleran terhadap lingkungan sekitarnya. Karena itu, ajaklah anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya dari berbagai latar belakang agar dapat memahami bahwa memiliki teman yang beragam adalah hal positif. Salah satu caranya adalah dengan memasukkannya ke sekolah multikultural seperti Jakarta Intercultural School (JIS). Murid JIS memiliki latar belakang budaya yang beragam dari berbagai belahan dunia, yang mendukung anak belajar mengenai perbedaan.

Menumbuhkan empati

Dengan menyadari bahwa teman-temannya memiliki latar belakang berbeda, maka empati pun bisa tumbuh. Anak perlahan bisa belajar untuk memahami dan menempatkan diri di posisi orang lain yang memiliki budaya berbeda. Empati yang tinggi pun bisa memicu sikap positif lainnya, seperti mudah menolong dan mau mendengarkan orang lain.

Meningkatkan kecintaan terhadap budaya sendiri

Dengan memahami perbedaan budaya, anak tidak akan kehilangan kesadaran terhadap identitasnya. Justru, dia akan lebih peka dengan identitas yang dimilikinya. Misalnya, dengan mengetahui bahwa teman dari berbagai daerah memiliki tradisi dan adat masing-masing, anak akan tertarik mencari tahu apa tradisi dan adat yang dimiliki daerahnya. Kini, di sekolah pun anak bisa belajar mengenai keanekaragaman budaya melalui pentas seni, lomba, hingga acara kebudayaan lainnya di sekolah. Ya, dengan mengajarkan anak soal keragaman budaya, si kecil juga akan mendapatkan lebih banyak pengetahuan. Anak bisa mengetahui adanya beragam tradisi, sejarah, hingga hal sederhana seperti cara makan yang berbeda.

Wawasan tentang berbagai budaya yang beragam tentu akan bermanfaat tidak hanya untuk pengetahuan akademiknya, tetapi juga sebagai sarana untuk lebih memahami lingkungan dan orang lain di sekitarnya. Dengan berbagai manfaat yang bisa diperoleh anak, tidak ada salahnya mengajari anak mengenai keragaman budaya sejak dini

Tetapi dibalik manfaat mengajari budaya kepada anak sejak dini, terdapat juga hambatan mengapa pengajaran akan budaya itu bisa terhambat. Ditemui usai acara Diskusi dan Peluncuran Buku “Kreasi Busana Daerah Indonesia Warisan Nusantara” di Balai Pertemuan Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (30/11/2019), psikolog A. Ratih Andjayani Ibrahim mengatakan, garis besar yang menyebabkan nilai budaya terkikis adalah karena orang tua tidak mengenalkan budaya itu pada anak sejak dini. Ia pun kemudian memaparkan empat faktor penyebabnya, yakni:

1. Orang tua tidak kenal budaya sendiri

Ketika galau dengan identitas dirinya, orang tua akan sulit memperkenalkan asal budayanya pada anak. Misal, Bunda lahir di Jakarta, tapi memiliki akar budaya Jawa. Saat ditanya asal usul, Bunda menjawab berasal dari Jakarta tapi suku Jawa. Ini artinya ada kebingungan di sana. “Pada saat kita tidak kenal jati diri kita, sulit untuk kita mentransfer budaya itu ke anak,” jelas Ratih.


2. Cenderung tertarik budaya luar

Kita cenderung lebih tertarik dengan budaya global, entah itu budaya Barat, budaya Timur Tengah, China, atau Arab. Ketika semua budaya ini masuk, bercampur, dan kita lebih tertarik dibanding dengan budaya sendiri, maka anak pun akan mengikuti.

3. Terpapar media

Apa yang kita tonton, makan, baca, maupun perilaku yang ada di sekitar, bisa memengaruhi diri kita. “Misal kita suka film India, atau Barat, nontonnya itu aja, jadi kita nggak kenal sama budaya kita sendiri nantinya,” kata Ratih.

4. Lebih suka lagu asing

Anak-anak hilang kebiasaan menyanyikan lagu kebangsaan, lagu rakyat, karena kalah dengan lagu luar, yang mungkin dianggap lebih menarik.

Oleh sebab itu, Ratih menyarankan, kalau mau kembali ke budaya kita, bukan artinya kita menolak budaya luar karena kita masih masyarakat global. Tetapi, buatlah yang lokal itu tetap ada di keseharian. Misal, ketika kita menggunakan baju jeans coba kawinkan dengan ornamen batik. Sesekali putar pula lagu-lagu daerah, jangan hanya lagu Barat saja yang didengar anak. “Jadi dengan anak-anak terbiasa melihat orang tuanya seperti itu, dengan sendirinya dia juga akan menyukai budaya itu,” tutup Ratih. Perlu kita perhatikan bahwa menanamkan budaya sejak dini merupakan hal penting yang harus dilakukan kepada anak, agar dapat membentuk karakter, intelektual dan lain sebagainya yang ada pada anak menjadi baik serta bisa mencerminkan nilai-nilai dan norma-norma Bangsa Indonesia.


Leave a Reply

You have to agree to the comment policy.

Artikel lainnya

Membedah Gamelan

Go to post

Menjaga Salah Satu Warisan Budaya Bissu Milik Indonesia

Go to post
© 2022 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php