KSDL batubara

Keragaman Genetik Kultivar Mangga Berdasarkan Penanda Molekuer Mikrosatelit

Posted: May 27th 2013

Kajian tentang keanekaragaman tumbuhan memegang peranan penting dalam memberikan kontribusi terhadap penentuan kebijakan dan strategi pengelolaan sumberdaya hayati tumbuhan, yang meliputi aspek pemanfaatan dan konservasinya. Identitas jenis tumbuhan yang akurat secara taksonomi sangat penting, karena dengan adanya identitas yang benar merupakan gerbang informasi yang dapat mengungkap potensi jenis tumbuhan tersebut. Hal ini khususnya sangat relevan dengan status Indonesia yang merupakan salah satu kelompok mega biodiversity countries.

Analisis hubungan kekerabatan tumbuhan bukan hanya berperan penting untuk kepentingan klasifikasi, akan tetapi juga penting dalam bidang-bidang terapan, misalnya dalam upaya pemuliaan tanaman, pencarian sumber-sumber tumbuhan alternatif untuk bahan pangan, dan tumbuhan yang berkhasiat obat. Demikian juga halnya dengan kajian karakterisasi tumbuhan berdasarkan sifat-sifat morfologi dan molekular, akan memberikan manfaat besar baik dalam pengembangan Sistematik Tumbuhan maupun bidang-bidang yang terkait dengan Biologi secara umum.

Menurut Coronel, 1996 plasma nutfah mangga di Indonesia cukup besar dan diperkirakan terdapat 292 kultivar mangga di Indonesia, 111 kutivar di Malaysia, 393 kultivar di Filipina dan Thailand 294 kultivar.

Karakter morfologi mangga sangat bervariasi, oleh karena itu sulit jika keragaman genetik mangga diidentifikasi satu-persatu karena akan membutuhkan banyak waktu dan biaya yang tidak sedikit oleh karena itu karakter keragaman genetik kultivar mangga diidentifikasi secara molekuler dengan penanda molekul makrosatelit yang umum digunakan dalam identifikasi keragaman genetik suatu kultivar.

Menurut Pancoro et al., 2005 penanda molekuler mikrosatelit merupakan penanda molekuler berbasis DNA yang banyak digunakan untuk analisis keragaman genetik tanaman. Mikrosatelit DNA adalah lokus penanda molekuler yang berupa urutan DNA pendek yang tiap unit ulangannya terdiri dari satu sampai enam nukleotida. Kelebihan mikrosatelit berupa tingkat polimorfisme tinggi dan tersebar pada genom tanaman sesuai untuk studi keragaman genetik dan heterozigositas diantara varietas‐varietas mangga.

Analisis PCR dilakukan dengan menggunakan 10 pasang primer mikrosatelit spesifik pada tanaman mangga. Hasil PCR menunjukkan kesepuluh primer tersebut dapat mengamplifikasi DNA kultivar mangga. Pola pita yang diperoleh dari hasil PCR 8 kultivar mangga menggunakan penanda mikrosatelit dengan kesepuluh primer tersebut berkisar antara 2 sampai 9 pita dengan ukuran pita antara 72–1353 kb.

Berdasarkan analisis klaster menggunakan program NTSYS diperoleh dua kelompok utama. Kelompok pertama terdiri dari kultivar Sophia dan Golek (koefisien 0,59), kelompok kedua terdiri dari kultivar Arumanis, Madu Anggur, Alphonso, Saigon, Manalagi, dan Sala (koefisien 0,54). Kelompok kedua terdiri dari 3 sub kelompok yaitu kelompok Manalagi dan Sala (koefisien 0,61); kelompok Alphonso dan Saigon (koefisien 0,68); kelompok gabungan Alphonso‐Saigon dan Madu Anggur (koefisien 0,61). Kedua kelompok utama tersebut menunjukkan kekerabatan dengan koefisien 0,53.

 


2 responses to “Keragaman Genetik Kultivar Mangga Berdasarkan Penanda Molekuer Mikrosatelit”

  1. Redita Tonapa says:

    apa penanda molekuler mikrosatelit DNA cm dpt digunakan untuk analisis keragaman genetik tanaman ato bisa ke keragaman genetik yg lain? hoho. coba di search lagi ttg kegunaan penanda molekuler mikrosatelit dna..Trims

  2. Redita Tonapa says:

    apa penanda molekuler mikrosatelit DNA cm dpt digunakan untuk analisis keragaman genetik tanaman ato bisa ke keragaman genetik yg lain? hoho. coba di search lagi ttg kegunaan penanda molekuler mikrosatelit dna..Trims

    (dinary putri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php