KSDL batubara

potensi bahan bakar fosil

Posted: May 21st 2013

Potensi Bahan Energi Fosil

 

PENDAHULUAN

 

Indonesia memiliki banyak potensi energi terbarukan, seperti tenaga air (termasuk minihidro), panas bumi, biomasa, angin dan surya (matahari) yang bersih dan ramah lingkungan, tetapi pemanfaatannya belum optimal. Belum optimalnya pemanfaatan energi terbarukan disebabkan biaya pembangkitan pembangkit listrik energi terbarukan, seperti tenaga surya, tidak dapat bersaing dengan biaya pembangkitan pembangkit listrik berbahan bakar energi fosil (bahan bakar minyak, gas bumi, dan batubara).

 

Jenis

Minyak bumi merupakan salah satu energi fosil tak terbaharukan yang paling banyak digunakan sebagai bahan bakar di Indonesia. Pada saat ini konsumsi minyak bumi di Indonesia tiap tahunnya tercatat semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kemajuan industrialisasi. Disisi lain, produksi minyak nasional semakin lama semakin menurun.

Batubara menurut Ekawan (2009) adalah bahan bakar fosil yang mudah terbakar, terbentuk dari endapan, batuan organik yang terutama terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara terbentuk dari tumbuhan yang telah terkonsolidasi antara strata batuan lainnya dan diubah oleh kombinasi pengaruh tekanan dan panas selama jutaan tahun sehingga membentuk lapisan batubara. Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan telah melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.

 

Potensi dan penyebaran

Potensi sumber daya minyak dan gas bumi Indonesia masih cukup besar  untuk dikembangkan terutama di daerah-daerah terpencil, laut dalam, sumursumur tua dan kawasan Indonesia Timur yang relatif belum dieksplorasi secara intensif. Sumber-sumber minyak dan gas bumi dengan tingkat kesulitan eksplorasi terendah praktis kini telah habis dieksploitasi dan menyisakan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Sangat jelas bahwa mengelola ladang minyak sendiri menjanjikan keuntungan yang luar biasa signifikan. Akan tetapi untuk dapat mengetahui potensi tersebut diperlukan teknologi yang mahal, modal yang besar, faktor waktu yang memadai dan memerlukan efisiensi yang maksimal serta expertise dari sumberdaya manusia terbaik.

Di Indonesia, energi migas masih menjadi andalan utama perekonomian Indonesia, baik sebagai penghasil devisa maupun pemasok kebutuhan energy dalam negeri. Pembangunan prasarana dan industri yang sedang giat-giatnya dilakukan di Indonesia, membuat pertumbuhan konsumsi energi rata-rata mencapai 7% dalam 10 tahun terakhir. Peningkatan yang sangat tinggi, melebihi rata-rata kebutuhan energi global, mengharuskan Indonesia untuk segera menemukan cadangan migas baru, baik di Indonesia maupun ekspansi ke luar negeri. Cadangan terbukti minyak bumi dalam kondisi depleting, sebaliknya gas bumi cenderung meningkat. Perkembangan produksi minyak Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan, sehingga perlu upaya luar biasa untuk menemukan cadangan-cadangan baru dan peningkatan produksi negara kita sangat kaya dengan sumber daya energi fosil dan dibangkitkan kebanggaan bahwa negara kita termasuk salah satu eksportir energi fosil terbesar di dunia.

Harga ekspor di pasar internasional terlihat menarik dan sangat menjanjikan sebagai penyumbang devisa yang diperlukan untuk pembangunan dan kesejahteraan. Sebagai akibatnya negara kita tersanjung dan terbuai untuk selalu meningkatkan ekspor bahan bakar fosil, sampai akhirnya disadari bahwa cadangannya terbatas dan suatu saat pasti habis. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa sumber daya minyak bumi tercatat sebesar 56,6 miliar barrel dengan cadangan total (terbukti dan potensial) 7,99 miliar barrel, sedangkan sumber daya gas bumi ditaksir berjumlah sebanyak 334,5 TSCF (trillion standard cubic feet) dengan cadangan total (terbukti dan potensial) 159,63 TSCF, sementara sumber daya batu bara terindikasi 104,76 miliar ton dengan cadangan total (terbukti dan potensial) sebesar 20,99 miliar ton (Saleh, 2010).

Seandainya semua kekayaan alam itu dieksploitasi dengan laju produksi per tahun sebagaimana pada tahun 2008, yaitu 0,36 miliar barrel minyak bumi, 2,89 TSCF gas bumi, serta 0,24 miliar ton batu bara, maka keberadaan minyak bumi hanya dapat diharapkan sampai 22 tahun mendatang, ketersediaan gas alam hanya sekitar 55 tahun lagi, dan batu bara masih dapat dinikmati sampai 87 tahun dari sekarang (Saptoadi, 2010-a).

Perhitungan lain memberikan gambaran yang sedikit lebih baik, yaitu keberadaan minyak bumi masih sampai 24 tahun mendatang, ketersediaan gas alam sekitar 59 tahun lagi, dan batu bara masih dapat dijumpai sampai 93 tahun dari sekarang (Kleine, 2009).

Batubara merupakan pemasok energi primer dan pembangkit tenaga listrik. Pada tahun 2006, batubara memberikan kontribusi sebesar 26 persen sebagai pemasok energi primer dan 41 persen sebagai pemasok tenaga listrik. Di sejumlah negara peran batubara sebagai pembangkit listrik bahkan sangat dominan seperti di Polandia dan Afrika Selatan yaitu sebesar 93 persen, Australia sebesar 80 persen, Cina sebesar 78 persen, Indonesia sebesar 71 persen, India dan Maroko sebesar 69 persen (Miranti, 2008).

Di Indonesia cadangan batu bara sekitar 38,8 milyar ton tersebar dibeberapa pulau termasuk Sulawesi. Batu bara terkonsentrasi di propinsi Sulawesi selatan, tergolong tiga besar daerahyang mengandung cadangan batu bara di Indonesia setelah Kalimantan dan Sumatra (Soyartono, 2000). Namun sayangnya kualitas batubara asal Sulawesi relatif rendah, hingga saat ini belum dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar di industry sebab kandungan sulfur relatif tinggi yaitu 2-4%. Kadar sulfur di atas 1% dapat menyebabkan penyumbatan dan kerusakan alat, serta dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Demikian pula kadar abunya relatif tinggi (10-17%), dimana jika kadar abutersebut dapat direduksi maka nilai kalor batubara dapat ditingkatkan (Dinas Pertambangan dan Energi Propensi Sulawesi-Selatan, 2001)

Batubara sebagai bahan bakar telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai kebutuhan, antara lain untuk pemakaian sehari-hari (skala kecil) dalam dapur-dapur pemanas dan rumah tangga, dalam industry furnace, coking dan pembuatan gas. Sedangkan pemakaian batubara sebagai pembangkit tenaga telah digunakan untuk penggerak mesin kapal, kereta api, listrik dan lain-lain. Secara statistik, kini sekitar 70% produksi batu-bara dunia digunakan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik, inipun baru memenuhi sekitar 40% kebutuhan pembangkit tenaga listrik. Sekitar 12% digunakan sebagai coke untuk keperluan 70% produksi baja. Sisanya sekitar 18 % produksi batubara dunia digunakan untuk keperluan diberbagai industry (seperti industry semen) dan domestic (Kartasasmita, 1992).

Cadangan batubara di Indonesia sekitar 38,8 milyar ton, tersebar dibeberapa pulau Kalimantan (21,2 milyar ton), Sumatra (17,5 milyar ton), Sulawesi (0,1 milyar ton), Irian Jaya (0.03 milyar ton) dan Jawa (0,003 milyar ton). Batubara Sulawesi terkonsentrasi di provensi Sulawesi Selatan, termasuk tiga besar sumber batubaradi Indonesia setelah Kalimantan dan Sumatra (Suyartono dan Indria, 2000).

Komoditi batubara dihasilkan melalui kegiatan eksplorasi oleh pertambangan batubara. Pertambangan menurut Ekawan (2009) adalah industri yang mengolah sumber daya alam dengan mengambil dan memproses bahan tambang untuk menghasilkan berbagai produk akhir yang dibutuhkan manusia. Bahan tambang digolongkan menjadi tiga: logam seperti emas, tembaga, timah; mineral industri seperti granit, andesit, pasir; dan mineral energi seperti batubara, minyak dan gas. Batubara dalam sektor pertambangan merupakan komoditi utama 12 kedua yang mempunyai prospek yang cerah, yang ditandai dengan nilai ekspor yang besar dan memberikan kontribusi besar terhadap total ekspor pertambangan.

 

Pengelolaan saat ini dan permasalahannya

Tingginya harga minyak mentah dunia mengakibatkan anggaran pemerintah dalam menyediakan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) meningkat. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) fosil yang membumbung tinggi dan energi tak terbarukan (minyak, gas bumi dan batu bara) akan habis beberapa puluh tahun mendatang. Bahkan krisis BBM sudah mulai dirasakan saat ini secara global. Saat ini setiap manusia di dunia membakar (menggunakan) 10 liter minyak mentah/hari, tetapi hanya ditemukan 4 liter cadangan minyak mentah baru/hari (carrying capacity sudah berkurang).

Konsumsi energi komersial di Indonesia terus mengalami peningkatan  dari 218,2 juta Setara Barel Minyak (SBM) pada tahun 1990 menjadi 546,6 juta SBM pada tahun 2005 atau meningkat sebesar 6,3% per tahun. Berdasarkan jenis energinya, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan konsumsi energi komersial terbesar. Sebagian besar konsumsi BBM ini digunakan untuk sektor transportasi. Peningkatan konsumsi BBM ini membebani anggaran pemerintah dalam pemberian subsidi. Beban tersebut akan terus meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak dunia karena pemerintah masih harus mengimpor sebagian BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) atau biofuel sebagai sumber energi yang dapat diperbaharui dapat merupakan salah satu pilihan untuk membantu mengatasi besarnya tekanan kebutuhan BBM terutama minyak diesel dan minyak solar.

Tingginya permintaan batubara di Asia memberikan prospek pasar yang menarik bagi para eksportir batubara. Adanya pembangunan pembangkit listrik di sejumlah kawasan Asia membuat komoditi ini sangat dibutuhkan di kawasan tersebut. Indonesia sebagai eksportir batubara memikili peran yang penting sebagai pemasok batubara dunia. Menurut World Coal Institut (2007), sejak tahun 2004 Indonesia telah menjadi eksportir batubara kedua terbesar setelah Australia dengan kontribusinya sebesar 26 persen terhadap total ekspor pada tahun 2007. Ekspor batubara Indonesia ditujukan ke berbagai negara khususnya negara-negara Asia seperti Jepang, Cina, Taiwan, India, Korea Selatan, Hongkong, Malaysia, Thailand dan Filipina. Negara tujuan ekspor lainnya adalah Eropa seperti Belanda, Jerman dan Inggris, serta negara-negara di Amerika.

Hasil sampingan dari mesin pembakaran yang akan dibuang. Pembangkit Listrik Tenaga Batubara menghasilkan gas SOx yang dikenal sebagai sumber gangguan paru-paru dan berbagai penyakit pernafasan; Pembangkit Listrik Tenaga Batubara menghasilkan gas NOx, yang bersama dengan gas SOx adalah penyebab dari fenomena “hujan asam”. Fenomena ini diperkirakan dapat membawa dampak buruk bagi peternakan dan pertanian; Pembangkit Listrik Tenaga Batubara menghasilkan gas COx yang membentuk lapisan yang menyelubungi permukaan bumi dan menimbulkan efek rumah kaca ‘green-house effect’ yang pada akhirnya menyebabkan pergeseran cuaca/pemanasan global;

 

Usulan pengelolaan yang berkelanjutan

Untuk mengatasi krisis energi yang terjadi diperlukan suatu usaha untuk mencari sumber-sumber energi alternatif baru yang lebih murah dan dapat diperbaharui. Sumber energi alternatif yang dapat menjadi solusi ketergantungan bahan bakar minyak sangat banyak. Bentuk dari energi alternatif yang saat ini banyak dikembangkan adalah pada benda-benda yang tidak terpakai, salah satunya adalah biomassa. Biomassa, dalam industri produksi energi, merujuk pada bahan biologis yang hidup atau mati yang dapat digunakan sebagai sumber bahan bakar atau produk yang dihasilkan oleh sebuah industri.

Bahan Bakar Nabati (BBN) merupakan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai substitusi BBM yang diharapkan dapat mengurangi beban pemerintah tersebut. Disamping itu BBN merupakan bahan bakar bersih dan dapat mengurangi emisi GRK.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

  1. Dinas Pertambangan dan Energi propensi Sulawesi-Selatan, 2001, Perencanaan Strategik (RENSTRA) tahun 2001-2005, hal 21,25,41.
  2. Ekawan, R. 2009. Mengapa Pertambangan?. www.sinarharapan.co.id [1 Maret 2009].
  3. Kleine, A., 2009, Renewable Energy in Germany and Indonesia – Past experience and future challenge, Makalah Peringatan “Tag der deutschen Einheit”, 7 November, Yogyakarta.
  4. Saleh, D.Z., 2010, Peran Perguruan Tinggi dalam membangun bangsa melalui Pembangunan di bidang Energi, Pidato Ilmiah Dies Natalis ke 64 Pendidikan Tinggi Teknik UGM, Yogyakarta.
  5. Saptoadi, H., 2004-a, Enhancement of Energy Density for Biomass, Proceedings 7th International Quality in Research Conference, University of Indonesia, Jakarta.
  6. Suyartono and Indria, B., 2000, The Future of Coal and its Industry in Indonesia, Indonesian mining Journal, vol. 6, oktober-2000,pp.78-85.
  7. Miranti, E. 2008. Prospek Industri Batubara di Indonesia. http://vend182.wordpress.com/2009/04/19/prospek-industri-batubara-di-indonesia/ [29 April 2009]
  8. World Coal Institut (WCI). 2005. Sumber daya Batubara : Tinjauan Lengkap Mengenai Batubara. www.worldcoal.org [28 Februari 2009]

 

 


One response to “potensi bahan bakar fosil”

  1. Benedictus Raymond says:

    kok yang dimasukan atau diinput makalah ya?
    kajian yang digunakan terlalu banyak dan kesannya terlalu banya (bahasa gaulnya rame)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php