Welcome :D

Yes, Everyone Can Save It Everytime and Everywhere with Every Action We Do

Posted: December 3rd 2016

Masih ingatkah nasib kodok tak berparu-paru sedunia yang pernah saya bahas di blog sebelumnya di link berikut ini : https://blogs.uajy.ac.id/henrydharmai/2016/08/30/first-lungless-frog-in-the-world/

river

Hmmm… kok letaknya jauh banget di Kalimantann :’( dan keadaannya memang rentan mengingat adanya pernyataan “Di Indonesia, belum ada amfibi yang terdaftar untuk dilindungi hukum. Hal ini dikarenakan masih belum ada bukti nyata peran amfibi sebagai komponen ekosistem dan pengawasannya. Bila ingin dilindungipun, perlu ada minimal 2 kriteria lingkungan yang sesuai, yakni yang pertama adalah tempatnya spesifik dan yang kedua adalah kemampuan adaptasi yang rendah untuk bisa hidup ditempat lain. Sehingga aksi perlindungan yang terbaik yang dapat dilakukan adalah melindungi habitat aslinya dan mencegah terjadinya cemaran raksa/endapan lumpur dengan cara menjaga dan memperbaiki hulu sungai serta daerah aliran sungai yang diduga merupakan ekosistem bagi spesies ini.” Tapiii, setidaknya ada 2 poin yang dapat ditarik dari pernyataan tadi, yakni tempat spesifik dan menjaga ekosistem. Dari 2 poin penting itu, bukan untuk memperkuat bahwa saya sebagai mahasiswa UAJY di tanah Jawa ini tidak dapat membantu menyelamatkan populasi kodok unik tadi, tetapi saya lebih tersadarkan bahwa untuk menyelamatkannya sebenarnya hanya kembali ke diri manusia sendiri untuk sadar akan perbuatannya selama ini.

Lahh.. kok salah manusia? Coba perhatikan selama ini apa yang pernah kita lakukan secara nyata untuk hotmenyelamatkan “sesuatu” yang bahkan tidak pernah dijumpai ini selain menggembor-gemborkan untuk menyelamatkannya, mengkonservasikan, atau mempelajarinya? Coba ingat lagi ketika kita mengeluh kepanasan ketika ruangan terbuka yang tak ber-AC.. bayangkan.. dengan cuaca yang normal saja manusia yang memiliki ketahanan panas yang baik pun mengeluh dan ingin mendapatkan suhu yang “adem ayem” , sedangkan bagaimana nasib kodok yang notabene perlu suhu dan kondisi lebih “ribet” dari kita manusia? Air sungainya sudah berubah menjadi lebih hangat, memang kenaikan suhunya sedikit, tapi itu sudah menjadi sepanas lautan api neraka bagi kodok-kodok itu dan kita disini hanya meneriakkan “menolak punah” dengan kondisi penuh kenyamanan AC? Tidak dapatkah kita, sebagai mahasiswa yang mengambil kuliah Biologi Konservasi, ini mengambil tindakan yang lebih nyata?

Ya, kita bisa, tidak hanya kita, semua orang BISA melakukannya. Dengan cara apa? Dengan CARA APAPUN. Sebagai mahasiswa sebenarnya sudah TAHU banyak hal yang bisa dilakukan secara nyata, tetapi kebanyakan tidak MAU melakukannya.

timberland

Contohnyaa, lebih sering “mengandalkan” fotokopi saat mau belajar.. terus, apa salahnya fotokopi? Bukan fotokopinya yang salah, tetapi, ini salah satu ketidakefisienan kertas yang sering terjadi. Catatan bukanlah suatu hal yang tidak dimiliki oleh mahasiswa/i kan? Catatan sendiri sudah mempergunakan kertas, dan masih memfotokopi materi yang sama hanya semata-mata karena di kelas tidak mendengarkan .. dampaknya bisa meningkatkan konsumsi kertas lohh.. “kan hanya 5 lembar doang, gak ngaruh lahh”, kuantitas yang kecil dan sepele, tetapi hal ini tidak terjadi hanya 1 kali, 1 anak, di dalam 1 universitas saja kan? Konsumsi kertas akan meningkatkan permintaan kertas yang berdampak pada tambah banyaknya pohon yang diperlukan untuk proses pembuatan kertas, semakin banyak pohon yang mati, berarti semakin sedikit paru-paru hijau dunia yang mengkonversi CO2 menjadi O2. Apa dampaknya? Terjadi akumulasi CO2 di aatmosfer dan menghasilkan Green House Effect yang wooddampaknya menjadi meningkatnya suhu bumi. Dengan suhu yang meningkat, manusia menjadi kepanasan, dan menyalakan AC. AC sendiri ada yang masih mempergunakan Freon yang dapat menguraikan Ozon di atmosfer dan mengakibatkan paparan Sinar UV yang diterima manusia meningkat yang berbahaya secara “tidak kasat mata”. Itu tadi hanya gara-gara kertas dan sudah dapat mengakibatkan efek lainnya yang tidak langsung dan cenderung disepelekan.

Saya sendiri sudah sering melakukan hal-hal yang sekiranya disepelekan seperti berjalan kaki jika jaraknya tidak jauh. Kenapa berjalan kaki ? dengan berjalan kaki, tidak ada polusi yang berasal dari pembakaran bahan bakar minyak yang ditimbulkan serta tidak menggunakan bahan bakar minyak yang sudah mulai “diperhitungkan” mau habis. Selain itu, juga dapat dianggap olahraga ringan yang lumayan baik untuk tubuh yang semakin kurang bergerak ini. Ketika membutuhkan coret-coretan atau mengeprint materi, saya membiasakan diri untuk mempergunakan kertas bekas atau mencetaknya bolak balik sudah cukup berarti untuk dilakukan sebagai langkah awal menuju bumi yang lebih baik. Dan beberapa hal ini merupakan sedikit dari banyak kegiatan yang dapat dilakukan kok.. tidak melulu harus seperti ini semua.

Sudah mengerti kan apa yang bisa dilakukan mulai dari sekarang untuk menyelamatkan banyak hewan dan tumbuhan diluar sana yang tidak diketahui keberadaannya yang terganggu karena kehidupan manusia? Ini ceritaku, bagaimana ceritamu?

yes

 

Sumber gambar

http://store.hiromipaper.com/images/products/detail/paperwood9.jpg

http://www.sloveniatimes.com/modules/uploader/uploads/Aktualno/Podobe1/el_15_therm_sky.jpg

https://cdn.meme.am/cache/instances/folder767/64717767.jpg

https://www.landthink.com/wp-content/uploads/assessing-future-forest-supplies-and-wood-markets-for-timberland-owners.jpg

https://www.pandaw.com/images/carousels/twothirdwidth/countries/Borneo//Borneo_River_Cruise_2.jpg


One response to “Yes, Everyone Can Save It Everytime and Everywhere with Every Action We Do”

  1. anasthasiacindya says:

    artikel yang bagus. Tindakan kecil tapi dapat berpengaruh besar terhadap kehidupan kodok tak berpaaru-paru

Leave a Reply to anasthasiacindya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php