Welcome :D

First Lungless Frog in the World

Posted: August 30th 2016

Dulu saat kita mendapat pelajaran IPA kalau kodok-katak memiliki 2 alat pernafasan, kulit dan paru-paru, mulai sekarang diralat yukkk… karenaaa ada kodok yang gak punya paru-paru !! Jadi itu kodok apaaa ikan yaaa ???

Barbourula kalimantanensis0

(Taken from http://www.frogsofborneo.org/images/Frogofborneo/Barbourula%20kalimantanensis03ss.jpg)

Ternyataaa…. Bornean Flat-headed Frog (Barbourula kalimantanensis) merupakan satu-satunya kodok (frog) di dunia ini yang pertama kali ditemukan tidak memiliki paru-paru (Bickford et al., 2008).Spesies ini berasal dari Kalimantan Barat saja, dan diperkirakan hanya ada di sungai Kapuas (0° 44’S; 111° 40’E) dan Sungai Kelawit (0° 37’S; 111° 47’E).

kalimantan1 panah  kalimantan2 panah kalimantan3

(Taken from http://www.iucnredlist.org/details/54444/0)

Genus Barbourula sendiri mengelompokkan kodok yang hidup di hutan hujan (jungle). Anggota dari genus ini hanya 2 spesies saja, yakni Bornean Flat-headed Frog dan Philipine Flat-headed Frog(B. busuangensis). Ayo kita lihat klasifikasi taksonominya secara lebih dekat :

Kingdom: Animalia

Philum : Chordata

Class: Amphibia

Order : Anura

Family : Bombinatoridae

Genus : Barbourula

Species : B. kalimantanensis

Hmmm.. kalo gak punya paru-paru.. caranya dia hidup gimana dong??? Ternyata, semua kebutuhan oksigen yang dibutuhkan kodok ini dipenuhi lewat kulit, tidak seperti kodok kebanyakan yang menggunakan paru-paru dan kulitnya. Spesies yang ditemukan dan dideskripsikan oleh Djoko Iskandar dari ITB pada tahun 1978 ini ternyata pada awalnya tidak diketahui kalau ternyata tidak memiliki paru-paru.

Tetapi, David Bickford, biologis dari National University of Singapore, (yaa… seperti cerita penemuan-penemuan lainyaa), secara tidak sengaja membedah kodok ini. Dia sendiri sebenarnya tidak ingin membedah kodok ini karena terlalu berharga bila membunuh spesimen yang jarang ditemukan ini, tapi gak papa lah.. pasti ada hasil yang setara dengan pengorbanan ..

Karena Kejadian Evolusi

David mengatakan kodok ini merupakan kejadian evolusi yang cukup aneh karena sebelumnya hanya salamander dan caecilian saja yang “minim”/tidak memiliki paru-paru. Secara morfologis, kodok ini selama hidupnya berada di air (tergantung oksigen terlarut di aliran air). Sungainyapun memiliki karakteristik dangkal(<1m), dingin, beraliran air kencang, jernih, dan berbatu seperti pada umumnya di hutan hujan tropik. Air dingin memiliki kadar oksigen terlarut yang lebih tinggi dibanding air hangat dan Kodok ini juga memiliki metabolic rate yang rendah sehingga tidak membutuhkan banyak oksigen. Keberadaan paru-paru dapat membuat kodok tidak efisien menghadapi lingkungan hidupnya karena ketika berenang kodok menjadi terapung mengikuti aliran sungai.

Status Keberadaannya

IUCNredlist.org menyatakan spesies ini merupakan spesies yang terancam (Endangered). Keberadaan kodok ini ditemukan di range area yang sempit dan diperkirakan populasinya akan terus menurun. Spesimen kodok yang ditemukan berada dibawah batu besar di tengah aliran sungai yang jernih dengan batu-batuan, dengan lebar sekitar 20-50m yang terletak di hutan hujan tropis. Kemampuan ekologis perkembangbiakannya tidak diketahui.

Kaitan Manusia dengan Status Kodok

Kodok ini menjadi langka karena perbuatan manusia yang secara tidak langsung merusak tempat tinggalnya seperti penebangan liar dan penambangan emas. Kegiatan penambangan emas liar yang membuat sungai penuh endapan lumpur serta cemaran raksa yang digunakan dalam proses ekstraksi emas. Logam Hg merupakan logam beracun bila masuk ke dalam sel makhluk hidup yang biasanya dalam bentuk metilmerkuri. Endapan lumpur juga dapat terjadi karena deforestasi sekitar ekosistemnya. Lapisan lumpur tipis akan terbentuk dan membunuh organisme bentik di dasarnya. Kodok ini biasa makan organisme bentik seperti udang-udangan kecil ataupun larva dari Trichoptera dan Dytiscidae yang membutuhkan makanan dari alga tetapi mati karena tertutupi lapisan lumpur tipis.

Ternyata,pada daerah aliran sungai yang terjadi penebangan pohon, suhu airnya lebih hangat daripada suhu air sungai yang tidak terjadi penebangan. Sekali lagi suhu air menjadi kontrol kritis bagi kodok ini karena keterkaitannya dengan kondisi oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan. Selain itu kondisinya yang sangat spesifik ditambah variabilitas genetiknya yang sangat rendah dikhawatirkan membuat spesies ini semakin terancam punah karena gagal selamat dari seleksi “alam”.

Aksi Perlindungan

Di Indonesia, belum ada amfibi yang terdaftar untuk dilindungi hukum. Hal ini dikarenakan masih belum ada bukti nyata peran amfibi sebagai komponen ekosistem dan pengawasannya. Bila ingin dilindungipun, perlu ada minimal 2 kriteria lingkungan yang sesuai, yakni yang pertama adalah tempatnya spesifik dan yang kedua adalah kemampuan adaptasi yang rendah untuk bisa hidup ditempat lain. Sehingga aksi perlindungan yang terbaik yang dapat dilakukan adalah melindungi habitat aslinya dan mencegah terjadinya cemaran raksa/endapan lumpur dengan cara menjaga dan memperbaiki hulu sungai serta daerah aliran sungai yang diduga merupakan ekosistem bagi spesies ini.

photo-Barbourula-kalimantanensis-5

(Taken from www.photodenature.fr/wp-content/uploads/2014/07/photo-Barbourula-kalimantanensis-5.jpg)

Ingin tahu lebih lanjut, kodok ini sudah ada yang mengkaji terkait dengan masalah hidup dan konservasinya kok, masuk aja ke alamat  : http://threatenedtaxa.org/ZooPrintJournal/2011/August/o256026viii111981-1989.pdf

 

Pustaka

http://www.frogsofborneo.org/bombinatoridae/112-bombinatoridae/barbourula/kalimantanensis/73-barbourula-kalimantanensis

Bickford, D., Iskandar, D., and Barlian, A. (2008). ”A lungless frog discovered on Borneo.” Current Biology, 18, R374-R375.

http://amphibiaweb.org/cgi/amphib_query?where-genus=Barbourula&where-species=kalimantanensis

http://news.nationalgeographic.com/news/2008/04/080407-lungless-frog.html

http://www.iucnredlist.org/details/54444/0

https://en.wikipedia.org/wiki/Barbourula

www.photodenature.fr/wp-content/uploads/2014/07/photo-Barbourula-kalimantanensis-5.jpg

Rachmayuningtyas,B.A., Bickford,D.P., Kamsi,M., Kutty,S.N., Meier,R., Arifin U., Rachmansah,A., dan Iskandar, D.T. Conservation status of the only Lungless Frog Barbourula kalimantanensis Iskandar, 1978 (Amphibia: Anura: Bombinatoridae). JoTT Communication. 3(8): 1981–1989


14 responses to “First Lungless Frog in the World”

  1. dimasamboja says:

    Wah, pengetahuan baru nih, baru tahu kalau ada kodok tanpa paru-paru. Sayangnya, belum ada aksi perlindungan yang jelas dari pemerintah, padahal statusnya sudah Endangered, semoga lekas dibuat peraturan yang melindungi dan konservasi yang sesuai (9/10).

  2. handiprihanto says:

    info yang menarik, baru tahu ada spesies kodok yang unik yang mempunyai kemampuan berbeda dalam bernafas, nilai 85

  3. Maria Meita Purnasari says:

    Unik dan menarik. Baru tahu kalau ada kodok unik ini di Indonesia. Indonesia patut berbangga memiliki keanekaragaman satwa unik seperti ini 😀 (9/10)

  4. Maria Hesty Febriana says:

    artikel ini sangat menarik karena menambah wawasan baru bagi saya, karena saya baru tahu kalau ada kodok bernafas dengan paru-paru. Semoga kodok unik ini tidak akan punah ya (9/10)

  5. Cicilia Kris says:

    keren kodoknya gak punya paru-paru, padahal kodok merupakan hewan amfibi. tapi sayang belum ada aksi perlindungan yg terbaik, dikarenakan hrs memikirkan kriteria lingkungan yg sesuai agar kodok tetap dapat bertahan hidup (90/100)

    • henrydharmai says:

      terima kasih telah meluangkan waktunya untuk membaca Mbak Cicil 😀

      • henrydharmai says:

        Iya Kodok ini perlu tempat yang spesifik untuk hidup dan dimana-mana hewan lebih suka hidup di habitat aslinya yang luas dan liar daripada di sebuah tempat buatan yang mengekang hidupnya. analoginya kurang lebih sama seperti kecocokan manusia terhadap lawan jenisnya yang sangat berbeda-beda dan spesifik tiap orangnya dan tidak tergantikan 😀

  6. primaningrum says:

    wah… informasi baru yang sangat menarik ya… benar-benar memperbarui wawasan karena ada kodok yang hanya bernafas melalui kulit.. unik sekaliii 🙂 sangat disayangkan hewan unik yang hanya ada 2 spesies dari genus ini salah satunya harus menjadi hewan yang endangered.. semoga hewan ini tetap ada (92/100)

  7. […] Masih ingatkah nasib kodok tak berparu-paru sedunia yang pernah saya bahas di blog sebelumnya di link berikut ini : https://blogs.uajy.ac.id/henrydharmai/2016/08/30/first-lungless-frog-in-the-world/ […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php