Henry Blogs

Penggunaan Pendekatan Molekuler Untuk Mengontrol Perdagangan Karang

Posted: September 6th 2014

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki luas lautan yang lebih besar dari daratannya, selain itu Indonesia terletak di jantung coral triangle dan memiliki iklim Tropis sehingga keanekaragaman terumbu karang nya sangat luarbiasa banyaknya. Kekayaan jenis terumbu karang di Indonesia sudah diakui dunia.

Biodiversity-Karang-Dunia-dan-Indonesia

Terumbu karang memiliki peran penting pada sistem ekologi (biasa menjadi tempat tinggal ikan-ikan hias). Terumbu karang juga sudah lama menjadi barang yang diperdagangkan di pasaran sebagai ornamental fish (penghias aquarium). Indonesia sendiri telah menjadi pengeksport terumbu karang terbesar di dunia. Indonesia mengksport karang hidup yang bersumber dari Indonesia mencapai 78%, (729.703 individu) secara global pada tahun 1997, 66% (640.190) tahun 2000 dan 71% (669.192) tahun 2001. Karena permintaan akan terumbu karang yang banyak dan nilai jual yang tinggi maka muncullah permasalahan baru yaitu perdagangan terumbu karang secara ilegal. Saat ini sudah sangat banyak terjadi perdagangan terumbu karang secara ilegal dan sangat susah untuk menangani masalah tersebut.

Perdagangan Karang sangatlah susah untuk dikontrol dengan menempatkan taksonomis karang pada setiap balai karantina, dimana Indonesia memiliki keragaman terumbu karang yang sangatlah banyak. Sehingga sangat tidak dimungkinkan untuk setiap ordo harus memiliki ahli taksonomisnya sendiri. Dengan Kemajuan Ilmu di bidang Biologi molekuler permasalahan tersebut mulai mendapat titik terang untuk mengatasi masalah tersebut. Solusi yang dapat dikembangkan yaitu DNA barcoding. DNA barcoding sudah digunakan atau diaplikasikan pada bidang keamanan pangan, Rekayasa genetik, ekologi molekuler, bahkan dalam bidang kriminal yaitu forensik.

DNA barcoding merupakan pendekatan dari ilmu molekuler yang bertujuan untuk mengidentifikasi semua spesies yang saat ini telah dikenal, dan untuk menyediakan kriteria pengakuan spesies baru dengan menggunakan data berbasis DNA. DNA barcoding berupa urutan basa-basa nukleotida (dikodekan huruf A, C, T, dan G) pendek yang mengkode gen, urutan basa nukleotida ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies, karena setiap spesies memiliki urutan basa yang berbeda dari spesis lainya.

Contoh-Rantai-DNA-pada-karang-sebagai-data-dasar-DNA-Barcoding

Standar barcode yang selama ini digunakan adalah Gen Cytochrome c Oxidase subunit I (COI) yang merupakan fragmen genom mitokondria DNA (mtDNA) dengan panjang sekitar 1.500 bp dan yang digunakan sebagai barcode biasanya hanya 750 bp. Gen ini telah banyak digunakan sebagai barcode (genetic marker) pada berbagai takson, tetapi, gen ini tidak berlaku demikian pada karang dan hewan yang berada dalam filum Cnidaria dan Porifera, karena Gen COI pada Cnidaria termasuk di dalamnya karang memiliki laju evolusi 10-20 kali lebih lambat, akibatnya gen ini hanya mampu membedakan sampai pada level famili saja. Sehingga diperlukan genetic marker yang laju evolusinya lebih tinggi lagi.

Akibat dari jumlah permintaan terumbu karang dan upaya pelestariannya, akhir-akhir ini mulai muncul pembudidayaan karang dengan moteode transplantasi. Metode ini menggunakan indukan yang diambil dari alam dan kemudian dibesarkan dan dikembangbiakan di lokasi lain. Hal ini akan memnculkan dampak pada keragaman jenis dan penurunan variasi genetik terumbu karang yang di perdagangkan. Hal ini akibat dari transplantasi karena karang karang tersebut berasal dari indukan yang sama sehingga pada akhirnya jika salah satu karang terserang penyakit, penyakit tersebut akan mudah menular (akibat kesamaan genetik).

Dalam pengoprasian atau penggunaan DNA Barcode, dalam pengidentifikasian kita memerlukan genetik marker (penanda molekuler) dimana dalam masalah terumbu karang ini genetik markernya masih belum stabil atau dapat dikatakan masih dalam pencarian genetik marker yang efektif. Masalah lainnya yaitu pada peralatan yang digunakan, alat-alat tersebut sangatlah mahal. Permasalahan lainnya yaitu terletak pada Sumber Daya Manusianya, karena SDM yang diperlukan harus memahami betul tentang molekuler serta sudah terlatih. Sehingga ini dapat menjadi Peluang Bagi anak-anak Biotekhnologi untuk terjun dibidang ini.

Sumber: http://www.isla-unhas.org/aplikasi-dna-barkoding-untuk-mengontrol-perdagangan-karang/


6 responses to “Penggunaan Pendekatan Molekuler Untuk Mengontrol Perdagangan Karang”

  1. alfonslie says:

    postingan yang sangat menarik.. keep blogging 🙂

  2. infonya keren. safe shellfish 🙂

  3. florencia says:

    Walaupun banyak kendala yang ada, semoga DNA barcoding dapat segera diterapkan di Indonesia, karena pasti akan sangat memudahkan Indonesia dalam mengontrol karang-karang yang akan diperdagangkan 😀

  4. Florencia Grace Ferdiana says:

    walaupun masih banyak kendala yang ada, semoga DNA barcoding dapat segera diterapkan di Indonesia, karena pasti akan sangat memudahkan Indonesia dalam mengelola kekayaan laut yang ada termasuk karang-karang yang akan diperdagangkan 😀

  5. elviena says:

    kemajuan molekuler yang patut diapresiasi..karena kemajuan molekuler tidak hanya bergerak dalam bidang kesehatan, melainkan juga dalam bidang konsevasi biota laut. semoga karang di Indonesia dapat terselamatkan dengan metode canggih ini 🙂

  6. vincentius yafet winata says:

    informatif skali , semoga para saintis muda dapat menemukan solusi dari kendala dna barcoding pada terumbu karang ini sehingga perdagangan ilegalnya dapat dicegah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

css.php