Membaca itu sangat penting, karna wawasan kita berasal dari membaca !!!!!!    helena ftb 2014/2015

Buaya Papua

Posted: November 1st 2016

240px-neuguinea-krokodil-0272

Buaya Papua

(Crocodylus novaeguineae)

Klasifikasi (Crocodylus novaeguineae)

Kingdom      : Animalia

Phylum       : Vertebrata

Class            : Reptilia

Ordo           : Loricata atau Emidosauria

Famili         : Crocodylidae

Subfamili    : Crocodylinae

Genus         : Crocodylus

Spesies       : Crocodylus novaeguineae Schmidt

Reptil yang umumnya nokturnal ini menghuni wilayah pedalaman Papua yang berair tawar, di sungai-sungai, rawa dan danau. Meskipun diketahui toleran terhadap air asin, buaya ini jarang-jarang dijumpai di perairan payau, dan tak pernah ditemui di tempat di mana terdapat buaya muara. Buaya irian bertelur di awal musim kemarau. Rata-rata buaya betina mengeluarkan 35 butir telur, dengan jumlah maksimal sekitar 56 butir. Berat telur rata-rata 73 gram, sementara anak buaya yang baru menetas berukuran antara 26–32 cm panjangnya. Buaya betina menunggui sarang dan anak-anaknya hingga dapat mencari makanannya sendiri (sumber Wikipedia)

Pemerintah Indonesia telah memasukkan Crocodylus novaeguineae sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang, yang membatasi pemanfaatannya. Perdagangan kulit dan produk-produknya diawasi oleh CITES, yang memasukkan jenis ini ke dalam Apendiks II. Sementara IUCN memandangnya sebagai beresiko rendah (LR, lower risks) alias cukup aman, mengingat populasinya yang relatif masih tinggi dengan habitat yang luas di alam. Populasi buaya irian liar diperkirakan antara 50 ribu hingga 100 ribu ekor, di seluruh pulau Papua.

220px-crocodylus_novaeguineae_distribution

Gambar 2. Peta dimana persebaran buaya papua yaitu semua wilayah papua serta dipapua Nugini

Pada jurnal penelitian yang saya baca memperoleh informasi yang sangat penting pada tanam Nasional Wasur. Danau Rawa Biru adalah danau terbesar di Taman Nasional Wasur (TNW) dan merupakan salah satu habitat buaya air tawar Irian (Crocodylus novaeguineae). Populasi buaya di danau ini terus mengalami penurunan, terjadi perburuan, sangat sedikit data tentang habitat, dan belum diketahui persebarannya pada tiap bagian danau. Apabila kondisi ini terus berlanjut, keberadaan buaya air tawar Irian dikhawatirkan akan habis bahkan punah sehingga untuk mencegahnya membutuhkan tindakan pengelolaan. Untuk itu perlu dilakukan kajian terhadap karakteristik habitat buaya air tawar Irian dan sebarannya pada tiap bagian danau sebagai bahan acuan dan pertimbangan tindakan pengelolaan yang harus dilakukan. Penelitian dilakukan di Danau Rawa Biru SPTN Wilayah II Wasur Taman Nasional Wasur Kabupaten Merauke Propinsi Papua pada bulan April-Mei 2008 (musim hujan). Penelitian ini menggunakan metode eksplorasi dan pengambilan sampel untuk data habitat yang terdiri dari cover, air dan potensi atau ketersediaan makanan. Data sebaran spasial menggunakan metode transek dan GPS (Global Positioning System) dengan mengelilingi bagian tepi danau. Selain itu, data kearifan tradisional masyarakat, gangguan habitat dan pengelolaan menggunakan metode observasi dan wawancara. Buaya air tawar Irian memanfaatkan vegetasi tebu rawa (Hanguana malayana) dan rumput pisau (Pandanus sp) disekitar danau sebagai tempat bersarang, berjemur (basking), berlindung, dan mencari makan. Sarang berbentuk mound (gundukan) terbuat dari serasah daun tebu rawa, daun rumput pisau, serasah daun ranting pohon pulai, dan daun serta ranting sagu (Metroxylon sagu) dengan ukuran panjang = 1,8-2,1 meter, lebar = 2,1 meter, tinggi 60-75 cm dan berada di bawah naungan/tegakan. Dekat sarang terdapat parit/kubangan kecil dan tempat istirahat induk buaya. Luasan tempat berjemur buaya dipengaruhi oleh ukuran tubuh dan jumlah individu buaya, serta intensitas penggunaannya.Pada zona hulu Danau Rawa Biru (danau sebelah utara/arah kali mati) berhasil dijumpai 4 ekor buaya, sarang, dan tempat berjemur aktif. Zona hulu memiliki jarak paling jauh dari perkampungan dan belum mengalami gangguan manusia. Jenis makanan buaya yang sering dijumpai berupa ikan sembilang. Zona tengah danau telah mengalami gangguan manusia berupa kebun keladi (Thyponium sp.) di atas umbi tebu rawa dan rumput pisau, dan lalulintas perahu masyarakat yang pergi ke kebun. Makanan buaya yang dijumpai berupa 1 ekor ikan mujaer rawa dan 3 ekor kura-kura leher panjang. Pada zona hilir (selatan danau /disebut masyar  akat sebagai kepala danau) tidak dijumpai jejak buaya sama sekali karena memiliki jarak paling dekat dengan perkampungan dan telah mengalami gangguan manusia berupa lalulintas perahu masyarakat yang pergi ke kebun dan sering digunakan sebagai tempat mencari ikan, serta pada masa lalu sering terjadi perburuan buaya. Buaya air tawar Irian memanfaatkan Danau Rawa Biru dan vegetasi disekitarnya sebagai tempat bersarang, berjemur( basking),  berlindung, dan mencari makan. Sebaran sarang dan tempat berjemur buaya air tawar Irianpada tiap zona Danau Rawa Biru dipengaruhi oleh faktor gangguan manusia dan ketersediaan makanan

.images

Gangguan habitat Habitat buaya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik dapat berupa predasi atau pemangsaan, perburuan oleh manusia, ketersediaan makanan dan persaingan mendapatkan makanan. Sedangkan faktor abiotik adalah suhu, pH, salinitas air, curah hujan, kerusakan habitat akibat eksploitasi hutan, ramainya lalu lintas sungai, pencemaran air dan tekanan penduduk . Anak buaya yang baru menetas biasanya dimangsa oleh elang laut, burung enggang, musang, tikus, dan kura air tawar.Elang laut dapat membawa anak buaya yang berukuran 82 cm tanpa mengalami kesulitan. Predator buaya dewasa adalah harimau dan manusia . Faktor terbesar yang menimbulkan gangguan habitat sehingga menurunkan populasi buaya air tawar Irian adalah adanya perburuan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar, malahan ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian utama.

 

 

 


16 responses to “Buaya Papua”

  1. yunitalolodatu says:

    bagus hel, isinya ringkas dan mudah di pahami, tingkatkan dan lakukan lah. semangat hel

  2. agnestriffanys says:

    Setelah saya baca, artikel ini cukup menarik dan bagus. Akan tetapi, akan lebih baik jika sumber artikel diperoleh dari sumber yang lebih valid dan terpercaya. Terima kasih 🙂

  3. Carolina Arum Permatasari says:

    informasi yang cukup lengkap. lalu adakah peranan dari buaya papua itu sendiri? misalnya sebagai indikator alam atau sebagainya? terimakasih 🙂

  4. natallia95 says:

    Cukup menarik, tapi tolong dirapikan lagi tulisannya. di rata kanan kiri dan diberi alenia, agar pembaca tidak bingung dan pusing. selain itu kerapian akan menarik pembaca untuk membacanya. kalau tidak rapi, melihat saja sudah malas untuk membaca. terimakasih. semangat HEleenn!!

  5. seliceleite14 says:

    Len… Apakah Buaya Papua hanya terdapat di pedalaman Papua atau terdapat juga di daerah lain ?
    Blognya menarik dan tersusun dengan baik Len.. 🙂

  6. tyrsapriliani says:

    informasi yang cukup menarik dan dapat menambah wawasan saya tentang spesies endemik papua ini. akan lebih baik jika referensinya disertakan,

  7. terimakasih kak helena sangat bermanfaat karena menambah pengetahuan.

  8. archie says:

    burung enggang papua makan buaya ?? sejak kapan ada harimau di papua …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2020 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php