Grace Nathania

Run Rhino Run!

Posted: September 9th 2015

Javan Rhino : Road to Extinction

maxresdefault


Rhinoceros berasal dari bahasa Yunani yaitu rhino, berarti “hidung” dan ceros, berarti “cula”. Sementara itu, sondaicus merujuk pada kepulauan Sunda di Indonesia. Ciri khas dari Badak Jawa yakni terdapat mada bibirnya. Bibir Badak Jawa berbentuk kait yang melengkung ke bawah (hooked upped). Badak memiliki tinggi tubuh yang berkisar antara 168 – 175 cm, dan berat tubuhnya dapat mencapai 1.280 kg. Tubuhnya dibungkus kulit yang tebalnya antara 25 hingga 30 mm, dan corak kulit luar menyerupai mozaik. Hanya badak jantan yang memiliki cula, dan panjangnya dapat mencapai 27 cm, semakin tua umur badak maka semakin gelap pula warna cula yang dimiliki.

Berikut klasifikasi Badak Jawa,

Kingdom         : Animalia

Phylum           : Chordata

Kelas              : Mammalia

Ordo               : Perissodactyla

Famili             : Rhinocerotidae

Genus            : Rhinoceros

Spesies          : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Di Indonesia, Badak Jawa dahulu diperkirakan tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa. Di Sumatera saat itu badak bercula satu ini tersebar di Aceh sampai Lampung. Di Pulau Jawa, badak Jawa pernah tersebar luas diseluruh Jawa. Penelitian awal WWF mengidentifikasi habitat yang cocok, aman dan relatif dekat adalah Taman Nasional Halimun di Gunung Salak, Jawa Barat, yang dulu juga merupakan habitat badak Jawa.

Javan-rhinoceros-in-shallows-of-river

Javan-rhinoceros-walking-through-water

Badak jawa merupakan hewan herbivora dan makan berbagai macam spesies tanaman, terlebih tunas, ranting, dedaunan muda dan buah yang jatuh. Umumnya tumbuhan yang disukai oleh spesies ini tumbuh di tempat yang terkena cahaya matahari. Karakter seksual badak Jawa sukar dipelajari di karenakan spesies ini jarang dilihat dengan cara langsung dan tak ada kebun binatang yang mempunyai spesimennya. Badak Jawa betina mencapai kematangan seksual pada umur 3-4 tahun, sementara badak jantan matang secara seksual pada usia 6 tahun. Badak dapat hidup selama 35-45 tahun di alam bebas.

Populasi Badak bercula satu (Badak Jawa) yang hanya berjumlah sekitar 30 ekor ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan populasi saudaranya, Badak Sumatera yang diperkirakan masih berkisar antara 215 hingga 319 ekor. Populasi Badak Jawa ini juga jauh lebih sedikit ketimbang populasi satwa lainnya seperti Harimau Sumatera (400-500 ekor), Elang Jawa (± 600 ekor), Anoa (± 5000 ekor). Badak Jawa memiliki status Critically Edangered seperti yang dilansir oleh IUCNredlist.org

Untitled

Rhino-Poster

Menurunnya populasi badak terutama disebabkan banyaknya orang yang mengincar cula badak untuk dijadikan bahan dalam pengobatan Cina dan beberapa alasan medis lainnya. Banyak sumber yang menyatakan bahwa cula badak tidak memiliki nilai medis, dan hal tersebut dijadikan sebagai slogan konservasi. Keadaan populasi Badak Jawa yang sedemikian rupa membuat badak ini diberikan Status Konservasi sebagai spesies yang kritis. Badak Jawa kini hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUT), Banten.  Namun taman nasional Ujung Kulon hanya mampu menampung kurang lebih 50 ekor badak saja karena lahan yang kurang luas. Selain di Indonesia, Badak Jawa (Rhinocerus sondaicus) juga terdapat di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam. Individu terakhir yang di luar TNUT, ditemukan ditembak oleh pemburu di Tasikmalaya pada tahun 1934. Sekarang specimennya disimpan di Museum Zoologi Bogor.

Ancaman lainnya yakni penyakit. Selain itu, peburuan tetap menjadi ancaman yang tak kalah pentingnya dengan penyakit, meski begitu pemerintah setempat menyatakan bahwa perburuan masih dalam kontrol. Para pengamat menduga usia kematangan seksual pada badak tergolong tua sehingga laju kelahiran rendah. Terdapat kemungkinan badak yang dilahirkan bisa saja memiliki gender yang sama sehingga tidak dapat berkembang biak lagi.

Nah, setelah membaca blog diatas bagaimana tanggapan kalian? Mau ikut-ikut memburu atau mau melindungi? Apakah kalian tega kalau anak cucu esok tidak pernah tahu seperti apa wujud badak yang sesungguhnya? Dukung konservasi Badak! 😀

4258115093_0c7cd23465


Sumber :

van Strien, Nico. 2005. “Javan Rhinoceros”. Di Fulconis, R. Save the rhinos: EAZA Rhino Campaign 2005/6. London: European Association of Zoos and Aquaria. p. 75–79.

Hutchins, M.; M.D. Kreger (2006). “Rhinoceros behaviour: implications for captive management and conservation”. International Zoo Yearbook (Zoological Society of London) 40: 150–173

http://www.arkive.org/javan-rhinoceros/rhinoceros-sondaicus

www.iucnredlist.org


17 responses to “Run Rhino Run!”

  1. Devina says:

    tulisan yang menarik! ternyata jumlah badak Jawa yang masih hidup tinggal sedikit sekali 🙁

  2. Terimakasih Grace untuk tulisanmu yang begitu menarik! Keberadaan Badak Jawa yang termasuk hewan khas Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Sungguh prihatin hewan ini keberadaannya mulai berkurang. Semoga pemburuan tidak terus dilakukan dan konservasi badak dapat berjalan dengan baik. Keep it up! Proficiat 🙂

  3. agustinuscandra says:

    Perburuan cula badak hampir sama halnya dengan perburuan gading gajah. Di Afrika, gading gajah palsu telah dibuat dan ditambahkan dengan GPS untuk mengetahui para pelaku pencurian gading atau cula tersebut. Semoga hal ini juga dilakukan pada Badak Jawa ini.

  4. ayushantyhapsary says:

    halo grace ..
    terimakasih sudah berbagi informasi tetang Badak Jawa. sayang sekali ya, mereka harus menjadi sasaran perburuan orang – orang yang belum tau jelas manfaat dari hasil perburuan mereka. semoga dengan tulisan ini mereka jadi lebih menimbang -nimbang perbuatannya terhadap Badak Jawa. Salam Lestari !

  5. garvin says:

    apa siklus reproduksinya juga merupakan salah satu penyebabnya juga?

  6. martha24 says:

    Terimakasih informasinya:) semoga dengan adanya tulisan ini menyadarkan kita untuk menjaga Badak Jawa agar tidak punah dan melakukan semangat melakukan konservasi.

  7. andrego says:

    sundul gan

  8. marshalino says:

    waaahhh… kasian ya badaknya… semoga bisa dikonservasi dengan baik dan bijaksana. buat garvin; iya vin bisa juga. soalnya sibadak tu untuk satu kelahiran aja sangat langka… gt..

  9. Neil says:

    Tampaknya musuh utama Badak Jawa ini adalah perburuan liar, mungkin karena harga cula badak yang sangat mahal di pasar gelap mengakibatkan para pemburu selalu saja mencari kesempatan untuk membunuh hewan yang luar biasa ini 🙁
    Well, pemerintah harus bertindak tegas terhadap perburuan satwa liar karena hewan ini merupakan salah satu kekayaan negara ini.

  10. febriyantivera says:

    Tulisan yang sangat menarik.. yang saya tau lewat media.. Pemburuan liar tersebut merupakan faktor utama bahkan penjaga konservasi telah lebih memperketat penjagaan dengan cctv untuk mengetahui pelaku, namun tetap saja pelaku pemburuan masih ada yang membantai hewan ini untuk mendapatkan culanya.. bagaimana menurutmu dengan tindakan selanjutnya terhadap pemburuan liar?

  11. vivilarasati says:

    tulisan yang menarik Grace :D, ternyata jumlah badak Jawa hanya tinggal 30 saja. untuk menjaga badak Jawa diperlukan kesadaran dari kita untuk tidak memburu binatang ini, mungkin bisa juga dengan tidak membeli produk obat yang berasal dari cula badak, agar orang juga tidak gencar memburu badak ini 😀

  12. campakasandipuspa says:

    Terimakasih atas informasi yang sudah diberikan mengenai Badak Jawa sehingga kita bisa lebih mengetahui Badak Jawa secara lebih spesifik dan dengan informasi ini kita bisa tau bahwa ternyata Badak Jawa sudah sangat menurun populasinya, semoga dengan informasi ini dapat membuat pemerintah lebih tegas dan masyarakat juga bisa lebih melindungi fauna ini

  13. Johan Widya Tirta says:

    mau tanya dong, fungsi cula bagi badak itu apa aja ya ??

  14. Elsa Rian Stevani S says:

    Dalam upaya konservasi badak jawa peran pemerintah Indonesia dan pemerintah setempat sangat diperlukan berupa pemberian dana untuk pembukaan lahan yang lebih besar sehingga pelestarian hewan ini tetap dapat berlangsung. Hal ini seharusnya dilakukan mengingat laju kelahiran rendah yang dapat menyebabkan hewan ini berstatus menjadi punah. Namun apakah perkawinan sekerabat pada badak jawa diperbolehkan untuk mencegah punahnya hewan tersebut?

  15. Febriyanti Vera says:

    Tulisan yang sangat menarik sangat membantu dalam wawasan akan hewan ini.. yang saya tau juga dari media bahwa pemburuan hewan ini merupakan faktor utama kepunahan, bahkan penjagaan dari petugas konservasi lebih di tingkatkan dengan cctv.. save badak Jawa! 🙂

  16. bayu05 says:

    astaga jumlah Populasi Badak bercula satu (Badak Jawa) yang hanya berjumlah sekitar 30 ekor sangat sedikit. semoga badak jawa di konservasi dengan baik supaya tidak punah

  17. Grace Nathania says:

    Terimakasih komentarnya
    @garvin : iya waktu yang dibutuhkan untuk hamil tergolong lama dan hanya dapat melahirkan 1 ekor anak badak saja
    @vera : seharusnya pemerintah lebih tegas dalam menangani para pemburu yang mencari untung sendiri. Kan sudah ada pasalnya, tinggal penerapannya yang dipertegas.
    @johan : menurut saya, cula badak itu tidak memiliki fungsi seperti yang dibicarakan banyak orang, banyak yang mengatakan bahwa berkhasiat untuk obat. Namun, kenyataannya cula badak hanyalah anggota tubuh dari badak itu sendiri dan tidak seharusnya diambil begitu saja.
    @elsa : mohon maaf, saya kurang mengetahui tentang perkawinan sekerabat pada hewan. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php