Giska Meiske Action Plan

Action Plan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

Posted: December 10th 2020
  1. Pendahuluan

Penyu sisik dengan nama latin Eretmochelys imbricata yang tergolong dalam keluarga Chelonidae. Menurut data IUCN penyu sisik termasuk dalam daftar Red Data Book IUCN sebagai spesies yang sangat terancam (critically endangered). Habitat dari penyu sisi ini berada pada terrestrial (tanah) dan marine (lautan). Menurut Hermawan dkk (1993) penyu sisik merupakan sumber daya hayati laut yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Berdasarkan data pada tahun 1994 penyu sisik masuk dalam terancam (endangered) namun semakin tahun jumlah penyu sisik smeakin menurun sehingga diketahui data terakhir penyu sisik termasuk dalam kategori yang sangat terancam (critically endangered).

            Penurunan penyu sisik akan terus terjadi jika tidak dilakukannya upaya dalam pelestarian penyu sisik tersebut. Menurut Adhie dkk (2019) penyu sisik memiliki ciri ciri fisik yang khusus dimana paruh penyu sisik yang menyerupai burung dan sisik karapaks yang tersusun secara rumpang tindih. Taman Nasional Kepulauan Seribu menjadi salah satu tempat dari peneluran  penyu sisik, kawasan ini terdiri sekitar 78 pulau dan 45 gosongan pulau yang berderet namun hanya beberapa pulau yang menjadi tempat peneluran dari penyu sisik. Pembinaan pantai dapat menjadi upaya dalam pelestarian penyusisik yang dapat dilakukan secara preventif dari rusaknya habitat peneluran penyu sisik. rusaknya habitat dari peneluran ini dapat berdampak penyu sisik betina tidak dapat migrasi kembali untuk bertelur.

Gambar 1. Penyu sisik yang terperangkap jaring
Gambar 2. Upaya penyelamatan Penyu sisik (penangkaran di Pulau Pramuka)

2. Faktor pemicu permasalahan penyu sisik      

Seperti yang kita ketahui penurunan penyu sisik ini dapat mengakibatkan punahnya spesies penyu sisik. faktor yang memicu penurunan jumlah spesies penyu sisik menurut IUCN adalah selama 3 generasi terakhir jumlah spesies penyu sisik menurun akibat dari eksploitasi berlebihan betina dewasa dan telur di pantai tempat bersarang, degradasi habitat bersarang, pengambilan remaja dan dewasa di daerah mencari makan, kematian insidental yang berkaitan dengan perikanan laut, dan degradasi habitat laut. Faktor lain menurut Adhie dkk (2019) adalah Adanya ancaman terhadap habitat secara alami berupa abrasi, gangguan pemangsa tukik (anak penyu) ataupun buatan seperti pencurian telur dan dampak dari pembangunan kawasan pesisir juga penyalahgunaan fungsi pantai masih mungkin terjadi.

3. Action Plan

            Action plan yang akan saya lakukan dalam waktu dekat ini adalah

  1. Memberikan pemahaman kepada masyarat mengenai spesies penyu sisik yang hampir punah.
  2. Ikut serta dalam mendukung pelestarian penyu sisik dengan memberikan edukasi berupa poster maupun dalam bentuk media lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, D., Silalahi, S. dan Eidman, H. M. 1993. Studi habitat peneluran penyu sisik (Eretmochelys imbricata)di pulau peteloran timur dan barat taman nasional kepulauan seribu, Jakarta. 1(1): 33-37

Adhie, Y. P., Komala, R. dan Ginanjar, M. 2019. Karakteristik habitat peneluran penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di kawasan taman nasional kepulauan seribu, Jakarta. Pros Semhas Masy Biodiv Indon 5 (1): 112-116.

https://www.iucnredlist.org/species/8005/12881238#assessment-information


4 responses to “Action Plan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)”

  1. Natalya Dea says:

    Artikel yang sudah kamu buat menarik dan informatif sekalii, aku jadi banyak tahu tentang penyu sisik ini. Semoga action plan yang sudah kamu buat dapat terlaksana dengan baik ya, semangatt.

  2. Maria Bella says:

    Blogs ini sangat bermanfaat dan informatif, memberikan wawasan serta pengetahuan juga. Action plan yang kamu buat sangat bagus, dan semiga selalu dikembangkan ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php