regine archadia kinanti

Bagaimanakah hasil seleksi petani kopi robusta akan keanekaragaman genetik?

Posted: August 21st 2017

Kopi merukan saah satu komuditas perkebunan yang sedang naik daun. Dapat dikatakan demikian dikarenakan banyanknnya kedai kopi di seluruh Indonesia yang menyebabkan permintaan akan green been sangatlah merajalela. Indonesia khususnya memeliki beberapa jenis kopi yang ditanam antara lain terdapat arabika dan robusta. Perbedaan keduannya jika dilihat secara khasat mata dapat dilihat secara jelas. Perbedaan dari mulai daun, bunga, dan biji pun berbeda.

Apakah perbedaan yang ada dapat menimbulkan keanekaragaman genetik pada suatu populasi ?. Keanekaragaman secara kasat mata dapat di bedakan secara langsung. Namun jika sudah berbicara masalah genetik perlu kanjian yang lebih mendalam. Populasi memiliki ciri khas yang berbeda disetiap tempatnya. Kajian tersebut dapat dijawab dalam menggunakan ekologi molekuler.

Berdasarkan Jurnal

Keanekaragaman genetik 15 genetipe kopi robusta hasil seleksi petani berbass penada SSRs (Simple Sequence Repeats) dalam Jurnal TIDP voleme 1 (2). Jurnal tersebut menyatakan bahwa terdapat  kopi  Robusta  telah  dikembangkan  secara  luas  di  Indonesia,  khususnya  di  Provinsi  Bengkulu.  Beberapa  petani  telah  menyeleksi  dan  mengembangkan  beberapa  genotipe  dengan  teknik  sambung  tunas  plagiotrop  untuk  merehabilitasi  populasi  kopi  Robusta  asal  biji.

Analisis molekuler perlu dilakukan untuk mengevaluasi  keragaman  genetik  antar  15  genotipe  kopi  Robusta  hasil  seleksi  petani.  DNA diamplifikasi dengan menggunakan 34 marka SSR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 23 dari 34 marka SSR yang digunakan mampu menghasilkan tingkat polimorfisme yang tinggi. Jumlah alel berada pada kisaran 2-8 alel per lokus dengan rata-rata 4 alel per lokus SSR.

Masing-masing  kelompok  dapat  dibedakan  berdasarkan  karakter  morfotipe  daun.  Meskipun  demikian,  sebagian  besar  genotipe diklasifikasikan ke dalam satu kelompok. Ini menandakan bahwa keragaman genetik klon-klon kopi Robusta hasil seleksi petani cenderung rendah

Sampel yang digunakan menggunakan daun muda kemudian dilakukan isolasi DNA, kemudian diamplifikasi menggunakan PCR dan dilakukan analasis data.

Didapatkan hasil bahwa dari kajian tingkat  polimorfik  dan  jumlah  allel  dari 34  penanda  SSR  yang digunakan  untuk  menganalisis  15  genotipe  kopi  Robusta  hasil  seleksi petani di Provinsi Bengkulu. Dengan total polimorfik 19,44 dan jumlah alel perlokul 127, rata – rata polimorfik 0,57 dan rata rata alel per lokus 4.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2017 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php