Lailatul Qadar

person reading open booked
Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja akan mendapatkan keutamaan malam tersebut, karena itu adalah janji Allah kepada kita. Karena itu mengisinya dengan serangkaian ibadah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.

Rasulullah SAW bersabda,” Barangsiapa mencari lailat al qodr, hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh” (HR. Ahmad).

Jatuhnya Lailatul Qadar
Para ulama bersepakat bahwa Lailatul-Qodar terjadi pada malam bulan Ramadhan. Dan terus berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai terjadinya hari qiyamat.

Adapun tentang penentuan kapan persis terjadinya, para ulama berbeda pendapat disebabkan beragamnya informasi hadits Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. Sebagaimana tersebut dibawah ini:

1. Lailatul-Qodar itu jatuh pada malam 17 Ramadhan, yaitu malam diturunkannya Al Qur‘an. Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh).

2. Lailatul-Qodar itu jatuh pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW:
“Carilah lailat al qodr pada malam-malam ganjil disepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhori, Muslim dan Baihaqi)
Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

3. Lailatul-Qodar jatuh pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan,
Berdasarkan hadits riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim.

4. Lailatul-Qodar jatuh pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar, Seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin al Khoththob, Hudzaifah serta sekumpulan besar shahabat, yakin bahwa lailat al qodr terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan.

Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada shahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama-lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan lailat al qodr, Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi).

Seperti difahami dari riwayat Ibnu Umar dan Abi Bakrah yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim, terjadinya lailat al qodr mungkin berpindah-pindah pada malam-malam ganjil sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Sesuai dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya, maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendapatkannya pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Tanda-tanda terjadinya Lailatul Qadar
Seperti diriwayatkan Oleh Imam Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi,
Bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: ” Pada saat terjadinya Lailatul-Qodar itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk tidak terasa panas tidak juga dingin. Dan pada pagi harinya matahari terbit dengan jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatu awan”.

Sedangkan yang harus dilakukan agar dapat menggapainya:

  1. Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW.
  2. Melakukan i‘tikaf dengan berupaya sekuat tenaga. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
  3. Melakukan qiyamullail berjama‘ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra.
  4. Memperbanyak do‘a memohon ampunan dan keselamatan kepada Allah dengan lafal: “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa‘fu ‘anni”.

Hal inilah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya:
“wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailat al qodr, apa yang mesti aku ucapkan”? (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Wallahu a‘lam bis-shawab.

Artikel lainnya :

Kaitan Puasa dan Al Quran

brown and black dome building
Kaitan Puasa dan Al Quran

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS Al-Baqarah: 185).

Pendahuluan

Puasa di bulan Ramadhan erat kaitannya dengan Al Qur’an. Dalam surat yang berkaitan dengan turunnya kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan disebutkan pula mengenai diturunkannya Al Qur’an. Bahkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan, Kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi lainnya juga pada bulan Ramadhan. Oleh sebab itulah maka kedudukan bulan Ramadhan penting sekali. Dari bulan inilah bermula firman-firman Allah yang mulia ini disampaikan kepada Rasulullah SAW untuk generasi terakhir dari umat manusia. Al Qur’an yang turun berangsur-angsur diturunkan Mekkah dan Medinah memberikan kerangka yang jelas bagi umat manusia bagaimana way of life yang dikehendaki oleh-Nya.

Satu generasi terbaik zaman Rasulullah SAW telah membuktikan dengan berbekal Al Qur’an ini seluruh pencapaian peradaban bisa diwujudkan. Prestasi itu tidak hanya secara individual tercipta manusia-manusia shaleh kelas dunia tetapi juga secara kolektif Al Qur’an telah mencetak generasi baru yang berkiblat kepada pengabdian semata-mata kepada Allah SWT. Generasi umat Islam pertama yang tidak diperhatikan dunia telah melahirkan peradaban selama tujuh abad dan dibanggakan sampai sekarang. Mereka lahir ke pentas peradaban dunia dengan panji-panji Islam yang didasarkan kepada Al Qur’an.

Begitulah Al Qur’an dalam kehidupan ini. Jika terdapat generasi yang bisa membentuk peradaban baru melalui Al Quran yang mulia inilah maka saatnya kita merenungkan bahwa generasi seperti itu telah dijanjikan pula oleh Al Qur’an untuk masa-masa lainnya hingga empat belas abad kemudian. Semuanya bisa dicapai dengan syarat-syarat yang telah ditempuh oleh generasi salafusalih. Rasulullah bersabda:

“Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Sedangkan Al-Quran akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya.’ Maka Allah Swt. memperkenankan keduanya memberikan syafa’at.” (HR Imam Ahmad dan Ath-Thabrani) Tidak lama lagi, peristiwa turunnya Al Qur’an yakni Nuzulul Al Qur’an akan diperingati. Saatnya kita mengenal lebih jauh mengenai ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW. Dan juga kewajiban kita berkaitan dengan Al Qur’an.

Empat kewajiban

Dari berbagai kajian ulama, dapat disebutkan disini sedikitnya empat kewajiban kita kepada Al Qur’an. Dalam bulan Ramadhan ini saatnya kita juga bersama-sama memperbaharui sikap kepada Kitab Suci terakhir ini. Pertama, seperti disebutkan dalam Surat Al Baqarah bahwa Al Qur’an adalah Al Huda dan Al Furqan. Pemandu dan Pembeda. Dalam ayat lain seperti surat Al Fath ayat 28 dimana Rasulullah menerima Al Huda dan Dinul Haq. Maka Al Quran merupakan sebuah panduan kehidupan secara individu maupun masyarakat. Tingkat nasional maupun internasional.

Disinilah kita diperintahkan untuk meyakini sedalam-dalamnya bahwa sistem kehidupan yang dibawa Al Qur’an merupakan sesuatu yang haq dan menyelamatkan umat manusia. Seluruh petunjuk Al Qur’an merupakan kerangka kesuksesan kehidupan di dunia dan akhirat.

Ambil saja sebuah surat seperti Al Alaq ayat satu Iqro (Bacalah) maka tersurat dan tersirat kewajiban kita untuk menuntut ilmu setiap hari tanpa henti dari sejak lahir sampai liang kubur.

Kedua, karena adanya keyakinan itulah Al Qur’an dijadikan sebagai hiasan dalam kehidupannya. Kemanapun dia pergi baik dalam kepentingan individu, keluarga dan komunitas Al Qur’an dijadikan sebagai sandaran utamanya. Al Qur’an menjadi perhatian kita setiap hari apalagi di bulan Ramadhan baik dengan cara mendengarkannya sesering mungkin, dibandingkan mendengar lagu-lagu pop; membacanya secara sungguh-sungguh, selembar demi selembar. Dan tentu saja kecintaan dan keyakinan itu akan mendorong kesungguhan dalam menambah khasanah bacaan Al Qur’an.

“Dan apabila dibacakan Al Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 204).

Kita dianjurkan untuk tadarus Al Quran secara rutin Dikisahkan bahwa Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil Al-Quran dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka ia memperoleh satu kebaikan, dan satu kebaikan berlipat sepuluh kali. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HRTirmidzi).

Ketiga, . “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad: 29).

Ali bin Abi Thalib Ra. berkata, “Ketahuilah tidak ada kebaikan dalam ibadah kecuali dengan ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu kecuali dengan pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al-Qur`an kecuali dengan tadabbur.”Oleh sebab itulah kewajiban kita adalah menghayati Al Qur’an. Menyerap semua hikmah dalam Al Qur’an adalah kewajiban kita.

Menyelamati dan merenungkan ayat-ayat Al Qur’an serta menghayati kebesaran Allah SWT dengan firman-firmannya seyogyanya menjadi keseharian kita. Terakhir, sesuatu yang wajar apabila kita memiliki keyakinan kepada Al Qur’an sebagai sumber keberhasilan hidup ini, maka dorongan untuk mengamalkannya menjadi alamiah.

Artinya dalam diri tidak ada paksaan karena meyakini dengan jalan inilah keselamatan dan kesuksesan hidupnya dapat diraih.Allah berfirman dalam surat Al An’am:155. “Dan Al Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS Al-An’am: 155).

Penutup Rasulullah menyatakan orang yang jenius adalah orang yang mempersiapkan dirinya untuk kehidupan hari akhir, kehidupan yang abadi. Wal akhirati khairul minal uula.

Kehidupan hari akhir lebih baik dari kehidupan dunia. Al Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan ini adalah panduan kesuksesan mempersiapkan kehidupan di hari akhirat. Jadi mereka yang membaca, mengkaji, menghayati dan mengamalkanya tergolong orang dan umat jenius.Wallahu a’lam bishshawab. (dari berbagai sumber).

Artikel lainnya :