Fransiska

Hindari Bahaya Pangan Transgenik dengan Molekuler

Posted: May 9th 2014

Jaman modern ini, banyak sekali tanaman pangan yang dimodifikasi salah satunya adalah padi. Padi merupakan bahan pangan pokok bagi bangsa Indonesia sehingga tidak heran jika sawah terbentang di tiap daerah. Padi yang begitu melimpah ini tidak jauh dari hama yang seringkali menjadikan tanaman padi tidak tumbuh dengan maksimal. Hama ini juga merupakan musuh bagi petani yang menyebabkan kurang maksimalnya hasil panen mereka. Salah satu hama utama yang merusak tanaman padi adalah penggerek batang padi atau Scirpophaga sp. (Ambarwati et al., 2004). Tingginya serangan penggerek batang padi ini membuat para peneliti membuat tanaman padi transgenik yang tahan terhadap hama sehingga ketahanan pangan tetap terlaksana.

Tanaman transgenik merupakan tanaman yang disisipi atau memiliki gen asing dari spesies lain seperti tumbuhan dan hewan. Penyisipan gen tersebut memiliki tujuan untuk membuat tanaman tersebut memiliki sifat yang berbeda (Wikipedia, 2014). Padi transgenik ini akan disisipi dengan gen yang diisolasi dari Bacillus thuringiensis,yang menghasilkan Bt-toksin. Gen ini dikelompokkan menjadi 6 kelas utama yaitu cryIA sampai cryVI. Gen cryIA merupakan gen pengkode Bt-toksin yang efektif pada hama golongan Lepidoptera sehingga dapat digunakan pada hama penggerek batang (Wunn et al., 1996).

Pro dan kontra tanaman transgenik terus terjadi. Tanaman transgenik ini ditakutkan akan merubah keseimbangan keanaekaragaman hayati dan dapat menyerang hama lain yang bukan target. Selain itu, efek bagi manusia juga ditakutkan akan membahayakan. Bagi kesehatan manusia, kemungkinan munculnya alergen baru. Namun, riset membuktikan tidak berbahaya bagi manusia karena system pencernaan yang dimiliki manusia berbeda dengan serangga. Tanaman transgenik ini nantiya akan memperngaruhi siklus ekologi. Keunggulan dari tanaman transgenik ini adalah dalam bidang ekonomi berupa peningkatan jumlah produksi karena varietas yang unggul dan tahan hama (Santosa, 2000).

Upaya yang dilakukan untuk mengatasi dampak negatif yang muncul akibat tanaman transgenik yang tahan hama ini adalah dengan pendeteksian menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Pengujian dengan PCR ini dilakukan pada DNA hasil isolasi dari tanaman transgenik dengan menggunakan enzim Taq DNA Polimerase. Pengerjaan dilakukan dalam larutan buffer dengan mengginakan primer reverse dan forward yang spesifik untuk gen cryIA. Sintesis urutan basa dari primer-primer tersebut adalah 5’-CGA CAT CTC CTT GTC CTT GAC AC-3’ dan 5’-ACA CCC TGA CCT AGT TGA GCA AC-3’. Program PCR terdiri dari inkubasi awal pada 94 ºC selama 5 menit dilanjutkan dengan 35 siklus pada 94 ºC selama 1 menit, 45 ºC selama 1 menit, dan 72 ºC selama 2 menit. Siklus terakhir untuk pemanjangan akhir pada 72 ºC selama 5 menit. Sebanyak 10 μl produk PCR digunakan untuk elektroforesis pada 1% gel agarose (Ambarwati et al., 2004).

Pengujian PCR yang positf akan ditandai dengan terbentuknya pita DNA yang mempunyai ukuran 1000 bp (1kb), yang sesuai dengan ukuran pita DNA dari gen cryIA. Pengujian dengan PCR ini dapat diperkuat dengan pengujian immunostrip. Uji immunostrip ini digunakan untuk mendeteksi ekspresi protein cryIA. Sampel yang memiliki hasil positif pada uji akan memiliki pita yang sama dengan control positif dari tanaman transgenik (Ambarwati et al., 2004).

Sumber:
Ambarwati, A. D., I. Hanarida, A. Apriana, T. J. Santoso, I. S. Dewi, A. Sisharmini, dan I. M Samudra. 2004. Perakitan Tanaman Padai Transgenik untuk Ketahanan terhadap Hama Penggerek Batang. Kumpulan Makalah Seminar Hasil Penelitian BB-Biogen.

Santosa, D. A. 2000. Analisis Resiko Lingkungan Tanaman Transgenik. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 3(2):32-36.

Wunn, J., A. Kloti, P.K. Burkhardt, G. Biswas, K. Lauris. V.A. Iglesias, dan I. Ptrylens. 1996. Transgenic indica rice breeding line IR58 expressing a synthetic cryIA(b) gene from Bacillus thuringiensis provides effective insect pest control. BioTechnology 14:171-176.


9 responses to “Hindari Bahaya Pangan Transgenik dengan Molekuler”

  1. Vincentius Yafet Winata says:

    menarik sekali, sangat diperlukan untuk menjaga keamanan pangan dijaman yang serba transgenik ini

  2. niken says:

    nice post siska, bisa untuk wawasan lebih pilih2 pangan yg baik dan bermanfaat..

  3. alfonslie says:

    info yang sangat menarik, mungkin bisa diperjelas mengenai sampel yang digunakan untuk aplikasi pengujian PCR pada artikel ini.. Cheers 🙂

  4. debbyrakhmawati says:

    wahhh kalo semua tanaman transgenik juga kita nakal kehilangan plasma nuftah yah sedihhh, makasi infonya keep bbloging 😉

  5. radewi says:

    ternyata bisa dianalisis secara molekuler juga ya. postingan yg bermanfaat. terimakasih siska 😀

  6. Yudhistira says:

    Cocok banget nih, kita jadi ga gampang tertipu dalam memilih makanan..sebaiknya disebutkan sisi pro kontra yang jelas di masyarakat,, apa saja gitu Sis…Sipp

  7. yulent says:

    makasih infinyaa…

  8. stefani says:

    great job!! konten blognya bagus, tapi bahasa penyampaiannya mungkin bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami 😀

  9. iman says:

    info yang menarik, anak biologi jadi lebih selektif dalam memilih makanan, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php