Fransiska Nindita

Bagaimana Nasib Kota Bajaku ?

Posted: August 26th 2016

Pencemaran udara bukanlah hal yang asing lagi di kehidupan abad ini. Pencemaran udara menjadi hal yang tak dapat dihindari. Berdasarkan KEPMEN KLH No. Kep.02/Men-KLH/1998, pencemaran udara adalah masuknya zat lain, atau komponen lain ke udara dan merusak tatanan udara sehingga menyebabkan kualitas udara turun dan tidak lagi berfungsi dengan baik. Saat ini pencemaran udara mulai mengalami peningkatan akibat banyaknya sumber yang menyebabkan udara tercemar. Peningkatan terus terjadi akibat bertambahnya transportasi yang bahan bakarnya mengandung zat tercemar, 60% terdiri dari karbon monoksida, dan 15% zat hidrokarbon (Fardiaz, 1992). Selain transportasi yang mengandung zat pencemar, sumber lain yang menyebabkan pencemaran udara meningkat adalah pembakaran, limbah-limbah pabrik industri.

Proses industri pun menjadi salah satu penghasil gas CO terbesar ketiga. Penghasil gas CO yang utama berasal dari transportasi dan yang kedua pembakaran hasil pertanian seperti sampah, sisa-sisa kayu di hutan, dan sisa tanaman perkebunan (Fardiaz, 1992). Industri yang menghasilkan CO terbanyak adalah industri baja dan besi. Di Indonesia pun terdapat perusahaan atau pabrik baja terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan yang menghasilkan baja terbesar se-Asia Tenggara tersebut adalah PT. Krakatau Steel yang terletak di Cilegon, Banten. Akibat Pabrik KS (Krakatau Steel) memiliki kawasan industri besar berada di kota Cilegon, kota tersebut mendapat julukan sebagai kota baja.

Cilegon kemudian dikenal menjadi kota berkawasan industri yang cukup besar di Provinsi Banten. Selain sebagai kota penghasil baja, Cilegon mempunyai beberapa pabrik kimia yang tak kalah besar, dan beberapa wisata pantai. Karena banyaknya tempat wisata dan pabrik-pabrik yang berdiri di Cilegon, membuka banyak peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat, sehingga masyarakat dari luar Kota Cilegon banyak yang datang hanya untuk menjadi buruh pabrik dan berlibur. Hal itu menyebabkan semakin padatnya kendaraan disepanjang ruas jalan Cilegon.

Kendaraan yang semakin banyak menambah masalah di kota baja ini lagi, kebisingan menjadi salah satu masalah selanjutnya. Masyarakat mengaku bahwa mereka sangat terganggu dengan bisingnya kendaraan di sepanjang ruas jalan. Selain itu, banyaknya pabrik-pabrik di Cilegon menyebabkan pembuangan limbah semakin meningkat dan tidak terkontrol. Kedua hal tersebut banyak menghasilkan gas CO yang berlebih sehingga pencemaran udara pun tak dapat dihindari.
Dibandingkan dengan daerah-daerah di Provinsi Banten lainnya, Kota Cilegon menjadi daerah yang memiliki tingkat pencemaran udara paling tinggi dan sangat memprihatinkan. Debu-debu yang dihasilkan pun menambah kotornya kota tersebut. Pembuangan limbah pabrik serta asap-asap kendaraan bercampur dan menghasilkan senyawa kimia berbahaya. Seperti berbagai macam polutan CO, SO2, NO2.

kota-cilegon13industri-cilegonmer-060720-26-id25556230
Tanaman yang ditanam di pinggir-pinggir jalan tak mampu mengurangi polusi-polusi tersebut. Faktor utama yang mungkin bisa membantu mengurangi pencemaran adalah pengolahan limbah pabrik oleh masing-masing perusahaan. Namun, sepertinya pemerintah kurang sigap untuk turun tangan dalam mengatasi pencemaran ini. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan juga diperlukan supaya tidak menambah pencemaran. Karena pencemaran yang terjadi dirasakan telah merugikan masyarakat, membuat masyarakat mengalami gangguan pernapasan, serta gatal-gatal.

Kini Cilegon menjadi kota yang tingkat pencemaran udaranya lumayan tinggi, akibat pabrik-pabrik dan banyaknya kendaraan. Semua pihak harus bekerja sama untuk mulai mengurangi pencemaran perlahan-lahan, dan infeksi pernapasan pun bisa dikendalikan. Sehingga kota baja tidak lagi menjadi kota yang sangat memprihatinkan tingkat pencemaran udaranya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php