GRACE's personal page

From The “Small” One to be The “Big” One, for Elephas maximus sumatranus

Posted: December 4th 2014

Gajah. Ya, siapa yang tak mengenal gajah? Hewan besar bertelinga lebar dengan belalainya yang panjang yang membuatnya menjadi salah satu hewan paling menggemaskan di dunia. Namun, tak hanya kenampakan tubuhnya saja yang dapat membuat kita gemas, ternyata keberadaannya saat ini di Indonesia khususnya juga dapat membuat kita “gemas” !!! Kenapa???

Gambar 1. Elephas maximus sumatranus (Saputra, 2013)

 

Gambar 1. Elephas maximus sumatranus (Saputra, 2013)

 

Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu dari sekian banyak satwa di Indonesia yang keberadaannya sudah semakin terancam punah. Hal ini terbukti dari penurunan populasi gajah Sumatera yang semakin cepat dari tahun ke tahun. Saat ini diperkirakan hanya terdapat 2,400 – 2,800 individu gajah Sumatera yang ada di alam. Jumlah tersebut merupakan 50 % dari perkiraan populasi pada tahun 1985 (WWF Indonesia, 2012).

Salah satu kasus penurunan populasi gajah Sumatera terjadi di Riau, dimana dari 15 kantong gajah pada tahun 2003, saat ini tersisa 9 kantong gajah dimana 4 kantong gajah populasinya kritis, yaitu sekitar 5-20 ekor, sedangkan 1 kantong populasinya sekitar 40 ekor dengan kondisi habitat yang habis dan 4 kantong lain yang diharapkan kondisinya masih baik. Permasalahan utama yang menjadi penyebab penurunan kantong – kantong ini adalah konversi lahan terutama di wilayah yang sudah dikonservasi atau dilindungi secara legal (Sukmantoro, 2014).

Selain itu, laporan WWF Indonesia mengatakan bahwa kurang dari satu dekade terakhir, ada 129 gajah yang dibunuh di Sumatera, terutama di provinsi Riau. Sebanyak 59% kematian diakibatkan  oleh racun, 13% diduga akibat diracun, dan 5% lainnya dibunuh dengan menggunakan senjata api (BBC Indonesia, 2013). Beberapa kasus tersebut menunjukkan bahwa keberadaan gajah Sumatera semakin terancam di Indonesia. Hal ini didukung dengan data yang diperoleh dari IUCN Red List yang menetapkan status konservasi gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) sebagai Critically Endangered atau Kritis atau hanya satu langkah menuju kepunahannya (IUCN, 2012). Selain itu, CITES, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies flora dan satwa  liar), juga memasukkannya dalam Apendix I (CITES, 2012).

Status Elephas maximus sumatranus menurut IUCN (IUCN, 2012)

 

Status Elephas maximus sumatranus menurut IUCN (IUCN, 2012)

Bagaimana? “menggemaskan” bukan? Tentunya sebagai masyarakat Indonesia yang cinta dan peduli akan keanekaragaman makhluk hidup yang dimiliki Indonesia, keberadaan gajah Sumatera yang selangkah menuju kepunahan membuat kita “gemas” terhadap ancaman –ancaman yang mengancam eksistensi binatang besar tersebut. Lalu, apa saja sih ancaman yang menyebabkan penurunan populasi gajah Sumatera?

Ancaman – ancaman yang menjadi pemicu penurunan populasi gajah hingga mendekati kepunahan disebabkan oleh beberapa hal, yang sebagaian besar disebabkan oleh ulah manusia (Primack dkk., 1998). Ancaman – ancaman tersebut antara lain adalah hilangnya habitat gajah Sumatera (habitat loss) akibat fragmentasi habitat serta menurunnya kualitas habitat gajah karena konversi hutan atau pemanfaatan sumberdaya hutan untuk keperluan pembangunan non kehutanan maupun industri kehutanan. Dimana hal ini memicu konflik antara gajah dan manusia yang juga merupakan salah satu faktor penyebab penurunan populai gajah. Selain itu, terdapat ancaman lain yang tidak kalah serius yaitu konflik berkepanjangan dengan pembangunan dan perburuan gading gajah secara ilegal (Soehartono dkk, 2007).

  1. Kehilangan habitat

Tingginya kerusakan hutan di Indonesia (khususnya di Sumatera dan Kalimantan) mengakibatkan hilangnya sebagian besar hutan dataran rendah yang juga merupakan habitat potensial bagi gajah. Diperkirakan laju kerusakan hutan pada tahun 1985 hingga 1997 sebesar 1 juta hektar dan meningkat hingga 1.7 juta hektar pada akhir 1980-an (Holmes 2001). Apabila laju kerusakan hutan dianggap konstan maka pada periode tahun 1997-2001, Indonesia telah kehilangan sekitar 5 juta hektar hutan (Whitten dkk. 2001). Hal ini menunjukkan bahwa  kerusakan hutan merupakan salah satu ancaman terbesar bagi populasi gajah Sumatera di Indonesia.

  1. Fragmentasi habitat

Pembangunan seringkali sulit menyelaraskan atau menghindari benturan dengan kegiatan pelestarian alam atau konservasi sumber daya alam hayati. Banyak kasus dimana pembangunan infrastruktur yang membuat habitat gajah menjadi terbelah sehingga memicu penurunan populasi gajah karena banyaknya kematian. Salah satu contoh kasus yang terjadi di Provinsi Riau, di mana industri bubur kertas dan perkebunan kelapa sawit telah  menyebabkan tingkat deforestasi yang tinggi, yang menyebabkan ruang gerak kelompok-kelompok gajah ini terbatas di dalam blok-blok hutan kecil dan membuat mereka sulit untuk bertahan dalam waktu yang lama. Hal ini mengakibatkan jumlah populasi gajah Sumatera turun sampai 80 persen dalam kurun waktu kurang dari 25 tahun (WWF Indonesia, 2012).

Kasus lain juga terjadi di Jambi, dimana terdapat dua kelompok besar gajah berjumlah 90-an ekor. Namun, satu kelompok diketahui terpecah tahun ini yang diduga akibat pembukaan areal perambahan di salah satu hutan. Keberadaan gajah yang terpisah-pisah akan berbahaya bagi keberlanjutannya. Jika gajah dalam kelompok menyusut, misalnya hanya terdiri dari induk dan anak-anak, perkembangbiakannya akan jadi masalah, sehingga pada akhirnya kelompok gajah ini bisa punah (Ita, 2014).

Bagi satwa liar seperti gajah yang mengendaki habitat dan areal jelajah yang luas, fragmentasi habitat akan menyebabkan pengurangan ruang gerak sehingga dalam memenuhi kebutuhan hidup dari sisi ekologisnya. Hal ini sangat berpotensi untuk menimbulkan konflik antara satwa tersebut dengan kegiatan pembangunan di sekitar habitatnya. Konflik dapat berakhir dengan korban di kedua belah pihak tetapi umumnya korban kematian gajah akibat konflik lebih banyak terjadi (Soehartono dkk, 2007).

  1. Degradasi habitat

Degradasi habitat akibat kebakaran hutan, kemarau panjang yang mengakibatkan berkurangnya sumber air, penggembalan hewan ternak yang berlebihan, penebangan hutan baik legal maupun ilegal dapat mengurangi sumber daya pakan gajah di habitat aslinya secara signifikan. Degradasi habitat juga dapat terjadi karena aktivitas manusia yang megintroduksi spesies eksotik yang dapat berdampak negatif terhadap komposisi vegetasi (misalnya: Acacia nilotica) (Soehartono dkk, 2007).

   4.   Konflik manusia dan gajah

Konflik manusia dan gajah (KMG) merupakan masalah yang signifikan dan ancaman yang serius bagi konservasi gajah sumatera dan kalimantan. Banyak kasus gajah mati diracun, ditangkap dan dipindahkan ke Pusat Konservasi Gajah yang mengakibatkan terjadinya kepunahan lokal (misalnya di provinsi Riau). Konflik gajah dengan manusia ini disebabkan oleh kerusakan  tanaman yang ditanam oleh petani setempat yang diduga disebabkan oleh tingginya tingkat kesukaan (palatability) gajah terhadap jenis tanaman yang ditanam oleh petani setempat, seperti padi, jagung, pisang, singkong, dan kelapa sawit. Kerusakan ini biasanya terjadi akibat gajah kebetulan menemukan lahan pertanian yang berada di dalam atau berdekatan dengan daerah jelajahnya (opportunistic raiding) atau kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh gajah yang keluar dari habitatnya akibat kerusakan habitat, fragmentasi habitat ataupun degradasi habitat yang parah (obligate raiding). Akibatnya, perburuan gajah oleh manusia semakin marak (Soehartono dkk, 2007).

  1. Perburuan Gading Ilegal

Salah satu ciri khas gajah Sumatera adalah gadingnya yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Keindahan gadingnya membuat gajah Sumatera menjadi  satwa yang sering diburu oleh manusia demi mendapatkan keuntungan ekonomis. Perburuan gajah telah menjadi masalah yang serius, namun tampaknya belum ada tindakan yang tegas dari pemerintah. Hal ini dapat dilihat pada aksi perburuan gading gajah yang diduga mulai marak di Aceh, dimana dalam dua tahun terakhir tercatat 31 gajah Sumatera mati terbunuh dan sebagian besar ditemukan tanpa gading, namun tidak ada satu kasuspun yang di bawa ke meja hijau (Mardira, 2014).

 

Gambar 3. Gajah mati tanpa gading di Riau (Wihardandi, 2012)

Gambar 4. Perdagangan gading gajah ilegal  (Ratna, 2014)

Gambar 4. Perdagangan gading gajah ilegal (Ratna, 2014)

 

6.    Masa reproduksi yang lama

Faktor lain penyebab kepunahan gajah sumatera adalah masa reproduksinya yang sangat lama. Betina gajah Sumatera mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, memerlukan waktu 19 hingga 21 bulan dalam masa kehamilan hingga melahirkan dan dengan masa reproduksi yang sedemikian lama, gajah sumatera hanya melahirkan satu ekor saja (Bappeda, 2014).

Selain menjadi penyebab semakin cepatnya populasi gajah Sumatera, permasalahan – permasalahan di atas juga menjadi permasalahan konservasi sehingga perlu dilakukan beberapa upaya untuk menanggulanginya sehingga kegiatan konservasi gajah Sumatera dapat berjalan dengan baik.


 

Mungkin kalian berpikir, memangnya apa saja sih upaya – upaya yang sudah dilakukan bagi kelestarian gajah Sumatera di Indonesia? Jangan salah, ternyata sudah banyak loh upaya – upaya yang dilakukan untuk mengkonservasi gajah Sumatera !

Saat ini, upaya – upaya konservasi gajah Sumatera telah banyak dilakukan oleh pemerintah Indonesia beserta beberapa organisasi yang bergerak dalam bidang konservasi di Indonesia telah untuk melestarikan gajah Sumatera. Dalam perundang – undangan Indonesia, gajah Sumatera termasuk dalam salah satu satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Selain itu, ada banyak upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama dengan salah satu lembaga konservasi di Indonesia untuk melindungi kelestarian gajah Sumatera yaitu WWF-Indonesia, dengan membentuk patroli gajah yang bertugas mencegah perburuan gajah. Selain itu, WWF-Indonesia juga memberikan penyuluhan – penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghentikan perburuan gajah (WWF-Indonesia, 2012).

Salah satu upaya WWF Indonesia dalam mengatasi konflik antara gajah dengan manusia adalaj dengan mengelola Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau pada tahun 2004 dan membentuk Elephant Flying Squad yang terdiri dari gajah-gajah jinak terlatih yang bertugas menghalau gajah liar yang memasuki permukiman warga agar kembali ke habitatnya. WWF-Indonesia juga meluncurkan program “Sahabat Gajah” sebagai wadah bagi masyarakat luas yang ingin berperan serta dalam upaya pelestarian gajah di Indonesia (WWF-Indonesia, 2012).

Usaha konservasi juga dilakukan di salah satu habitat endemik gajah sumatera yaitu di Taman Nasional Way Kambas. Dalam upaya konservasi gajah Sumatera, pihak pengelola Taman Nasional Way Kambas telah membangun Pusat Konservasi Gajah (PKG). Di Sumatera Selatan, juga terdapat suaka margasatwa Padang Sugihan yang menjadi tempat konservasi gajah sumatera salah satunya dengan adanya Pusat Latihan Gajah (PLG) (Soehartono, 2007).


 

Namun, apakah upaya konservasi tersebut sudah berjalan dengan baik ??? Hmmm…tentu saja belum sepenuhnya berjalan dengan baik.

Sebenarnya telah banyak usaha – usaha yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia bersama lembaga konservasi di Indonesia dalam pelestarian gajah Sumatera. Namun, masih terdapat banyak permasalahan dalam konservasi gajah Sumatera di Indonesia. Konservasi gajah Sumatera di Indonesia merupakan pekerjaan yang kompleks dan memerlukan dukungan yang luas dari berbagai pihak. Hal ini disebabkan karena gajah yang memiliki daya jelajah yang luas memerlukan habitat yang luas pula untuk dapat bertahan hidup, sementara itu, kebutuhan habitat yang luas tersebut sering kali berbenturan dengan kegiatan alokasi lahan untuk kegiatan pembangunan yang semakin marak di Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengupayakan keberhasilan pelestarian gajah dan habitatnya, dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan dan memegang peranan penting dalam strategi konservasi. Seharusnya, aktivitas pembangunan di kawasan yang merupakan habitat gajah harus dikelola dengan mengedepankan aspek konservasi (Soehartono dkk., 2007).

Selain itu, perburuan dan perdagangan illegal gading gajah merupakan salah satu permasalahan dalam kegiatan konservasi gajah Sumatera. Oleh karena itu, diperlukan tindakan yang tegas menurut perundang – undangan yang berlaku dari pemerintah Indonesia dalam menangani masalah perburuan gajah dan perdagangan gading gajah illegal (Soehartono dkk., 2007). Selain itu, sistem monitoring yang rutin dengan MIKE (Monitoring Illegal Killing of Elephant) oleh CITES perlu segera diiterapkan (Dublin dkk., 2006).

Konflik antara gajah dan manusia juga merupakan salah satu permasalahan yang sulit diatasi dalam kegiatan konservasi gajah Sumatera. Berbagai upaya untuk mengatasi konflik ini telah dilakukan, tetapi hingga saat ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Kesulitan tersebut sudah sangat dirasakan dan menjadi beban yang berkepanjangan bagi pengelola gajah, pemerintah, serta para pemukim yang terlibat konflik. Tentu saja semua pihak berharap agar populasi gajah di Sumatera dapat hidup berdampingan dengan manusia dan juga dengan aktivitas pembangunan. Oleh karena itu, seharusnya terdapat kerjasama yang baik antara agen pembangunan, para pemegang keputusan pada tingkat nasional, provinsi dan kabupaten serta para pihak yang terkait dan peduli terhadap konflik semestinya dapat bekerjasama secara terbuka dalam menghindari dan mengatasi konflik manusia dan gajah yaitu dengan merencanakan pembangunan yang memperhatikan aspek kelestarian keanekaragaman hayati (Soehartono dkk., 2007).

Permasalahan lain yang terdapat dalam konservasi gajah Sumatera adalah kurangnya data mengenai jumlah populasi gajah Sumatera. Padahal, seharusnya populasi gajah Sumatera dipetakan dengan akurat sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dan acuan penting dalam melaksanakan kegiatan pembangunan yang tetap memperhatikan luasan suatu daerah yang diperlukan oleh populasi gajah yang ada. Dengan cara seperti itu, diharapkan pembangunan yang dilakukan tetap memperhatikan lingkungan yang menjadi habitat gajah sehingga kegiatan pembangunan dan konservasi dapat berjalan selaras, sedikit demi sedikit sehingga dapat mengurangi konflik gajah dengan manusia (Soehartono dkk., 2007).

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya konservasi gajah Sumatera menyebabkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian gajah Sumatera masih rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan pemyuluhan – penyuluhan atau sosialisasi terhadap masyarakat setempat khususnya mengenai pentingnya melestarikan gajah Sumatera. Dengan adanya peyuluhan atau sosialisasi yang dilakukan, diharapkan masyarakat setempat memiliki pemikiran yang baru dan mulai turut ambil peran dalam konservasi gajah Sumatera (Soehartono dkk., 2007).

Dan salah satu permasalahan yang paling penting untuk diperhatikan adalah keterbatasan dana dalam konservasi gajah Sumatera di Indonesia. Salah satu kasus keterbatasan dana yang menghambat koservasi gajah Sumatera yaitu adanya keterbatasan dana di kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas. Keterbatasan dana membuat tidak tersedianya pakan tambahan bagi gajah dan pemeriksaan kesehatan juga tidak dilakukan secara rutin, sehingga upaya konservasi di Taman Nasional Way Kambas tidak berlangsung secara maksimal (Shoshani dan Eisenberg, 1982).

 


 

Nah, setelah membaca sekilas mengenai gajah Sumatera dan permasalahan – permasalahan dalam konservasinya, apakah muncul pertanyaan dibenak kalian “lalu sebagai mahasiswa, apa yang bisa saya lakukan untuk si gajah ?” Kalau iya, jangan pesimis dulu ! Tentu sangat banyak hal yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa dalam upaya konservasi gajah Sumatera. Konservasi tidak selalu identik dengan menjaga gajah – gajah tersebut di habitatnya. Konservasi juga tidak selalu identik dengan melakukan hal – hal yang langsung memberikan pengaruh besar terhadap kelestarian satwa tersebut. Lalu bagaimana? Jadi, sebenarnya konservasi juga dapat dilakukan melalui aksi “kecil – kecilan” atau aksi kita secara tidak langsung yang dapat membantu pelestarian gajah – gajah tersebut. Beberapa upaya yang mungkin dapat kita lakukan sebagai seorang mahasiswa dalam upaya konservasi gajah Sumatera di Indonesia adalah sebagai berikut :

  • Kita dapat membuat tulisan – tulisan mengenai pentingnya pelestarian gajah Sumatera yang kemudian diunggah ke media informasi, seperti koran, buku, majalah, dan internet sehingga dunia luar, tidak hanya Indonesia tahu mengenai pentingnya konservasi gajah Sumatera di Indonesia, mengingat pengetahuan masyarakat Indonesia tentang pentingnya kelestarian gajah Sumatera di Indonesia masih rendah. Melalui tulisan – tulisan tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat Indonesia khususnya akan tergugah sehingga diharapkan memunculkan kesadaran dan keinginan masyarakat Indonesia untuk ikut serta dalam melestarikan gajah Sumatera. Selain itu, diharapkan melalui tulisan – tulisan tersebut dapat membuat pemerintah meningkatkan perannya terhadap konservasi gajah Sumatera yang saat ini masih kurang tegas dalam penanganannya.

  • Kita dapat membentuk suatu komunitas yang bergerak dalam bidang konservasi gajah Sumatera yang anggotanya merupakan orang – orang yang peduli terhadap kelestarian gajah Sumatera. Salah satu program kerjanya adalah dengan mengadakan sosialisasi mengenai konservasi gajah Sumatera di Indonesia ke lembaga – lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, misalnya ke sekolah – sekolah dan juga ke masyarakat di suatu daerah. Komunitas ini diharapkan tidak hanya berada di Jogja saja tetapi berkembang dan saling berhubungan dibeberapa tempat sehingga program kerja yang dihasilkan dapat berjalan dengan lebih efektif untuk tersebar di seluruh Indonesia. Dengan adanya sosialisasi tersebut diharapkan dapat menunjukkan pentingnya pelestarian gajah Sumatera dengan lebih jelas kepada masyarakat. Selain itu, diharapkan komunitas ini dapat menjalin kerja sama dengan lembaga konservasi gajah Sumatera di Indonesia sehingga dapat berperan serta dalam aksi konservasi yang sesuai dengan kemampuan anggota komunitas ini yang masih terbatas sebagai mahasiswa.

  • Mengingat keterbatasan dana yang masih menjadi permasalahan konservasi gajah Sumatera, maka, kita dapat mengadakan penggalangan dana untuk membantu konservasi gajah Sumatera. Penggalangan dana ini dapat dilakukan bersama komunitas konservasi gajah Sumatera yang telah terbentuk, kemudian bergerak mencari sponsor dari perusahaan – perusahaan yang ada di Indonesia, bahkan mungkin luar negeri yang peduli dan bersedia membantu pelestarian gajah Sumatera di Indonesia. Penggalangan dana ini dapat dilakukan dengan memberikan proposal – proposal dan sedikit pengenalan terhadap latar belakang pentingnya konservasi gajah Sumatera yang dapat dikemas dalam bentuk video – video yang menarik perhatian perusahaan tersebut. Video ini dapat dibuat dengan bantuan anggota –anggota atau mungkin rekan – rekan dalam satu komunitas yang berada di daerah Sumatera yang berisi tentang apa peranan gajah baik secara alami di habitatnya maupun bagi manusia, kemudian mengenai apa aja yang dapat dipelajari mengenai gajah Sumatera, sehingga kita perlu melestarikannya. Melalui video tersebut, diharapkan prinsip dasar konservasi khususnya gajah Sumatera (Use, Study, Save) dapat tersampaikan sehingga membantu mendorong perusahaan – perusahaan tersebut untuk memberikan bantuan berupa dana.
  • Penggalangan dana juga dapat dilakukan dengan mengadakan usaha “keci-kecilan”yaitu misalnya dengan menjual asesoris seperti kaos, topi, jaket, atau asesoris lain yang berkaitan dengan konservasi gajah Sumatera, dimana asesoris tersebut dapat dijual secara langsung maupun melalui media online, sehingga semua orang diseluruh dunia memiliki kesempatan untuk membelinya tanpa terbatas ruang dan waktu. Dengan demikian, selain memperkenalkan gajah Sumatera terhadap dunia luar, keuntungan untuk menambah dana bagi konservasi gajah Sumaterapun juga dapat diperoleh. Dana juga mungkin dapat kita peroleh melalui tulisan – tulisan kita mengenai gajah Sumatera yang kita unggah ke media informasi. Melalui beberapa usaha tersebut, dana yang terkumpul disaluran kepada lembaga yang bertanggung jawab terhadap konservasi gajah Sumatera, tentunya lembaga – lembaga yang benar – benar bertanggung jawab Diharapkan dengan adanya penggalangan dana ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan konservasi gajah Sumatera di Indonesia, salah satunya untuk menunjang kebutuhan yang selama ini kurang terpenuhi seperti pengecekan kesehatan secara rutin dan makanan tambahan.

 

Kira – kira kapan sih kita bisa mulai aksi tersebut? As soon as possible !! Jangan sampai, kita terlalu lambat bergerak dan dikalahkan oleh penurunan populasi gajah yang semakin cepat. Kapan aksi tersebut dapat terealisasi? Tentunya, membutuhkan waktu yang tidak singkat dalam merealisasikan aksi tersebut, semua harus berjalan secara bertahap dan melalui proses. Dalam waktu yang singkat, mungkin beberapa aksi seperti pembuatan tulisan di media informasi dapat segera terealisasi, namun aksi –aksi  yang lain tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama, tetapi tentu saja aksi-aksi tersebut harus segera terealisasi sebelum gajah Sumatera menjadi punah.

Yap, sesuai dengan judul artikel ini, “From The ‘Small’ One to be The ‘Big’ One, for Elephas maximus sumatranus” yaitu bahwa kita tidak perlu melakukan seuatu hal yang terlihat “besar” dalam upaya mengkonservasi gajah Sumatera. Namun, dengan beberapa usaha “kecil” kita yang sesuai dengan kemampuan kita saat ini, diharapkan dapat membantu sedikit demi sedikit upaya – upaya konservasi yang telah dilakukan di Indonesia, sehingga pada akhirnya memberi kemajuan yang “besar” bagi pelestarian gajah Sumatera di Indonesia. LET’S DO IT for Elephas maximus sumatranus !!!

 

Referensi :

Bappeda. 2014. Mengenal Gajah Sumatera Elephas Maximus Sumatrensis http://bappeda.pekanbaru.go.id/berita/503/mengenal-gajah-sumatera-elephas-maximus-sumatrensis/page/1/. 3 Desember 2014.

BBC Indonesia. 2013. WWF: Gajah Sumatera Terancam Punah Dalam 30 Tahun.   http://www.bbc.co.uk/ indonesia/berita_indonesia/2012/01/120124_elephant.shtml. 2 Desember 2014.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). 2012. Elephas maximus sumatranus. http://www.cites.org/eng/results.php?cites=Elephas+maximus+sumatranus. 2 Desember 2014.

Dublin, H., Desai, A.A. Hedges, S.H.Jean-Christophe Vie, Bambaradeniya, C., dan Lopez, A. 2006. Elephant Range State Meeting Report, Kuala Lumpur.

Ita. 2014. Gajah Sumatera Hampir Punah. http://sains.kompas.com/read/2014/04/14/2120386/Gajah.Sumatera.Hampir.Punah. 3 Desember 2014.

IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 2012. IUCN Red List Endarged Species. http://www.iucnredlist.org/details/199856/0. 1 Desember 2014.

Mardira, S. 2014. 31 Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh. http://news.okezone.com/read/2014/09/10/340/1037065/31-gajah-sumatera-ditemukan-mati-di-aceh. 3 Desember 2014.

Ratna, H. 2014. Singapura Sita Satu Ton Gading Ilegal. http://www.antaranews.com/berita/427725/singapura-sita-satu-ton-gading-ilegal. 3 Desember 2014.

Saputra, D. 2013. Pusat Konservasi Gajah Tesso Nilo Mulai Dibangun. http://www.antaranews.com/berita/357138/pusat-konservasi-gajah-tesso-nilo-mulai-dibangun. 3 Desember 2014.

Shoshani, J dan Eisenberg, J.F. 1982. Elephas Maximus. The American Society of Mammalogist, America.

Soehartono, T., Susilo, H. D., Sitompul, A. F., Gunaryadi, D., Purastuti, E. M., Azmi, W., Fadhli, N., dan Stremme, C., 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Departemen Kehutanan RI. Indonesia.

Sukmantoro, W. 2014. Kemenhut dan Kematian Gajah Sumatera. http://birokrasi.kompasiana.com/201/08/15/kemenhut-dan-kematian-gajah-sumatera-680273.html. 2 Desember 2014.

Wihardandi, A. 2012. Penelitian: Negara Asal Gading Gajah Ilegal Kini Bisa Terlacak. http://www.mongabay.co.id/2012/08/11/penelitian-negara-asal-gading-gajah-ilegal-kini-bisa-terlacak/. 3 Desember 2014.

WWF Indonesia. 2012. Hilangnya Habitat Mendesak Gajah Sumatera Selangkah Menuju Kepunahan. http://www.wwf.or.id/?24060/Hilangnya-habitat-mendesak-gajah-Sumatera-selangkah menuju  kepunahan. 2 Desember 2014.


12 responses to “From The “Small” One to be The “Big” One, for Elephas maximus sumatranus”

  1. Elviena says:

    wah banyak sekali ancaman-ancaman populasi gajah ini..padahal gajah merupakan hewan yang sangat menggemaskan. Semoga para generasi muda dapat turut berpartisipasi dalam hal-hal kecil dalam upaya pelestarian gajah ini

  2. adeirma says:

    Aaaaaaa! Aku esmosi liat gajah dibunuh seenak jidat gitu!!
    Sebel jadinya! Semoga dengan adanya artikel dan gerakan yang semoga nanti jadi konkrit ini ke depannya akan membantu menaikkan populasi gajah di Sumatera.
    #LETS SAVE GAJAH!

  3. elmo1271 says:

    Grace, saya ingin tahu apa rencana aksi personal kamu yang akan dilakukan untuk melestarikan gajah tersebut? apakah kamu ingin menjadi anggota komunitas pecinta gajah?

    • florencia says:

      iya di artikel itu Elmo aksi personalku 🙂 salah satunya jadi anggota komunitas pecinta gajah ! yuk gabung ! hihi

  4. Leni Budhi Alim says:

    wah sayang sekali kalau hewan yang satu ini sampai punah TT tragisnya kehilangan habitat gajah gara-gara manusia. harusnya kita manusia dapat membagi mana wilayah habitat gajah dan perkebunan untuk manusia, sayang sekali kalau gajah sampai masuk ke perkampungan dan menyerbu manusia, hal ini dapat merugikan kita sebagai manusia, sebelum hal itu terjadi lagi. sepertinya kita perlu membagi batas wilayah antara habitat manusia dan gajah, biar ga saling berantem sama untung dua2nya 😀

  5. Inge says:

    wow… Nice action plan…
    tapi terkait dengan dana, menurutmu ke pihak mana sih dana2 personal ato komunitas itu bisa disalurkan? tahu sendiri kan aksi penggalangan dana demikian sudah cukup banyak dilakukan baik oleh komunitas di dalem negri maupun banyak juga dari luar, tapi banyak di antaranya yang diselewengkan, jadi yang bener2 nyampek ke Gajah tinggal dikit… #dasar koruptor, ngga cuma uang rakyat, uang Gajah pun d’tilep juga…
    tengqyu… semangat konservasi 😀

    • florencia says:

      nah itu dia inge yang masih menjadi hal yang benar2 perlu diperhatikan, mengingat masih banyak nya koruptor di Indonesia.. yang jelas jangan sampai dana2 yang telah terkumpul justru malah jatuh ke tangan orang yang salah.

  6. miabone says:

    Saya menyukai konsep aksi Anda, sederhana namun sangat bermakna dan realistis. Sistem penggalangan dana Anda selain menguntungkan bagi kelestarian si gajah, juga menguntungkan bagi pembeli dari segi edukasi. Semoga sukses! 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php