GRACE's personal page

Gajah pun Tak Mau Dijajah

Posted: September 10th 2014

Gajah sumatera atau Elephas maximus sumatranus merupakan subspesies dari gajah Asia yang tersebar di tujuh provinsi yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung (Nursidi, 2008). Saat ini, gajah adalah jenis hewan yang paling besar yang hidup di alam, bahkan gajah sumatera menjadi mamalia dengan ukuran tubuh terbesar di Nusantara (Bappeda, 2014). Seperti ciri khas yang dimiliki oleh gajah yang lain, gajah sumatera memiliki gading yang memiliki nilai yang istimewa, sehingga membuat satwa ini banyak “dijajah” habis-habisan oleh manusia untuk kepentingan ekonominya. Hal ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan populasi gajah sumatera di Indonesia menjadi berkurang, sehingga penting bagi kita untuk melestarikan hewan besar ini.

gambar-gajah-Sumatra

Gambar 1. Gajah Sumatera

(sumber : www.fotohewan.info)


 KLASIFIKASI ILMIAH

 

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Kelas : Mammalia

Ordo : Proboscidea

Famili : Elephantidae

Genus : Elephas

Spesies : E. maximus

Nama trinomial : Elephas maximus sumatranus (Ungerer, 1987)


MORFOLOGI

Morfologi gajah sumatera adalah  bentuk tubuh yang gemuk dan lebar, belalai yang merupakan perpanjangan bibir atas dan hidung yang terdiri dari otot-otot, dan pada ujung belalai gajah sumatera terdapat satu bibir. Gajah sumatera mempunyai dua pasang kaki yang besar dan kuat, kaki depan berfungsi sebagai tiang penunjang tubuhnya, kaki belakang berfungsi sebagai penunjang tubuh dan pendorong pada saat hewan tersebut bergerak maju. Kuku pada kaki depan gajah Sumatera berjumlah 5 buah, sedangkan kuku kaki belakang berjumlah 4 (Ungerer, 1987).

Gajah Sumatera mempunyai sepasang gading yang merupakan perpanjangan gigi seri, namun gading gajah sumatera lebih pendek di antara gajah lainnya, sehingga jika diperhatikan akan tampak seolah gading itu bersembunyi di balik bibir atasnya. Pada umumnya gajah sumatera jantan mempunyai gading yang lebih panjang dibandingkan dengan gajah sumatera betina. Bentuk kepala dan kaki membundar, telinganya besar, tetapi dibandingkan dengan gajah Afrika, telinga gajah Sumatera lebih kecil. Punggungnya lebih membundar daripada gajah Afrika yang punggungnya melekuk ke dalam seperti pelana. Gajah Sumatera memiliki 2 puting susu yang terletak di antara kaki depan. Gigi gajah permukaannya berbentuk pipih seperti piringan dan bergelombang (Ungerer, 1987).


HABITAT

Gajah banyak melakukan pergerakan dalam wilayah jelajah yang luas sehingga gajah sumatera memiliki lebih dari 1 habitat, misalnya hutan rawa, hutan rawa gambut, hutan dataran rendah, hutan hujan pegunungan rendah. Gajah sumatera termasuk binatang yang berdarah panas, sehingga gajah memerlukan suatu tempat yang terdapat daerah naungannya (thermal cover) untuk bernaung ketika panas di siang hari, sehingga gajah dapat menstabilkan suhunya agar sesuai dengan suhu lingkungan sekitarnya. Gajah sumatera termasuk hewan herbivora sehingga membutuhkan tempat dimana banyak tersedia makanan hijauan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Selain itu, Gajah juga membutuhkan habitat yang bervegetasi pohon untuk makanan pelengkap dalam memenuhi kebutuhan mineral kalsium guna memperkuat tulang, gigi, dan gading (Bappeda, 2014).

Seekor gajah sumatera membutuhkan air minum sebanyak 20-50 liter/hari, sehingga salah satu syarat penting yang juga harus ada di habitat gajah sumatera adalah ketersediaan air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan airnya setiap hari. Gajah termasuk satwa yang sangat peka terhadap bunyi-bunyian, sehingga gajah akan sangat terganggu dengan adanya aktivitas-aktivitas manusia yang berlebihan dihabitatnya, misalnya penebangan hutan yang menggunakan alat-alat berat yang akan menimbulkan suara dengan intensitas tinggi. Gajah juga membutuhkan suasana yang aman dan nyaman agar perilaku kawin (breeding) tidak terganggu dan proses reproduksinya dapat berjalan dengan baik (Bappeda, 2014).


PERILAKU SOSIAL

Gajah sumatera memiliki pola hidup matriarchal atau hidup berkelompok dengan anggota satu kelompok biasanya berkisar 20-35 ekor, atau berkisar 3-23 ekor yang dipimpin oleh induk betina yang paling besar, sementara yang jantan dewasa hanya tinggal pada periode tertentu untuk kawin dengan beberapa betina pada kelompok tersebut. Gajah sumatera  melakukan penjelajahan dengan berkelompok mengikuti jalur tertentu yang tetap dalam satu tahun penjelajahan. Selama menjelajah, kawanan gajah saling berkomunikasi untuk menjaga keutuhan kelompoknya yaitu dengan menggunakan soft sound yang dihasilkan dari getaran pangkal belalainya. Gajah tidak mempunyai musim kawin yang tetap dan bisa melakukan kawin sepanjang tahun, namun biasanya frekuensi perkawinannya tinggi pada saat musim hujan di daerah habitatnya (Bappeda, 2014).


STATUS KONSERVASI

Gajah sumatera merupakan salah satu kekayaan fauna Indonesia yang termasuk satwa langka berdasarkan UU no 5. Tahun 1999 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang perlu dilindungi dan dilestarikan (Syarifudin, 2008). Saat ini jumlah gajah sumatera di alam diperkirakan tidak lebih dari 2.400 ekor sampai 2.800 ekor saja, atau turun 50 persen dari populasi sebelumnya yaitu 3.000 sampai 5.000 individu pada tahun 2007. Dari tahun 2004 hingga Juni 2012, WWF mencatat sedikitnya 90 ekor gajah sumatera ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dan hanya dua ekor pada tahun 2005 yang ditangani hingga meja pengadilan (Marboen, 2012). Ini membuktikan bahwa belum ada tindakan yang tegas dari pemerintah untuk menangani masalah kepunahan gajah sumatera ini.

C006_elephant_WWF Indonesia_factpict_web copy

Gambar 2. Gajah sumatera yang populasinya semakin menurun

(sumber : wwf.or.id)

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan jumlah populasi gajah sumatera ini, dan sebagain besar disebabkan akibat ulah manusia (Primack dkk., 1998). Degradasi habitat akibat kebakaran hutan, penebangan illegal, alih fungsi hutan merupakan penyebab utama penurunan populasi gajah. Pembukaan hutan menjadi Hutan Tanaman Industri telah memecah ekosistem hutan sehingga membuka askes jalan yang menguntungkan bagi para pemburu pemburu gajah untuk lebih leluasa menuju ke kantong-kantong habitatnya. Konflik gajah dengan manusia, misalnya karena gajah memakan hasil pertanian petani setempat, sehingga para petani harus menanggung kerugian juga menyebabkan perburuan terhadap gajah ini semakin marak (Soehartono dkk., 2007).

Selain itu, keindahan gading gajah sumatera yang bernilai ekonomis juga dapat menjadi faktor utama yang memicu kepunahan satwa ini akibat perburuan yang oleh manusia yang ingin memperoleh keuntungan dari penjualan gading tersebut (Soehartono, 2007). Faktor lain penyebab kepunahan gajah sumatera adalah masa reproduksinya yang sangat lama. Betina gajah Sumatera mempunyai masa reproduksi 4 tahun sekali, memerlukan waktu 19 hingga 21 bulan dalam masa kehamilan hingga melahirkan dan dengan masa reproduksi yang sedemikian lama, gajah sumatera hanya melahirkan satu ekor saja (Bappeda, 2014).

Akibat banyaknya ancaman yang mengancam kelestarian satwa darat terbesar di Indonesia ini,IUCN Red List, menetapkan status konservasi gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) sebagai Critically Endangered atau Kritis atau hanya satu langkah menuju kepunahannya (IUCN, 2012). CITES, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (konvensi perdagangan internasional untuk spesies-spesies flora dan satwa  liar), juga memasukkannya dalam Apendix I (CITES, 2012).

20120501Gajah-Sumatera-Tewas-010512-IP-2

Gambar 3. Gajah sumatera yang mati karena diracun

(sumber: antaranews.com)


UPAYA KONSERVASI

Saat ini beberapa upaya pelestarian gajah sumatera telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun organisasi lain. Di Indonesia, gajah sumatera merupakan salah satu binatang yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetaan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Saat ini, WWF-Indonesia bersama pemerintah dan organisasi lainnya berusaha melindungi kelestarian Gajah Sumatera dengan membentuk patroli gajah yang bertugas mencegah perburuan gajah. WWF-Indonesia juga mengedukasi masyarakat untuk menghentikan perburuan gajah (WWF-Indonesia, 2012).

Sejak 2004 WWF-Indonesia mengelola Taman Nasional Tesso Nilo di Provinsi Riau dan membentuk Elephant Flying Squad yang terdiri dari gajah-gajah jinak terlatih yang bertugas menghalau gajah liar yang memasuki permukiman warga agar kembali ke habitatnya sehingga mengurangi konflik antara gajah dan manusia. Selain itu,   WWF-Indonesia meluncurkan program “Sahabat Gajah” sebagai wadah bagi masyarakat luas yang ingin berperan serta dalam upaya pelestarian gajah di Indonesia (WWF-Indonesia, 2012).

Selain itu, usaha konservasi juga dilakukan di salah satu habitat endemik gajah sumatera yaitu di Taman Nasional Way Kambas. Dalam upaya konservasi gajah sumatera, pihak pengelola Taman Nasional Way Kambas telah membangun Pusat Konservasi Gajah (PKG). Di Sumatera Selatan, juga terdapat suaka margasatwa Padang Sugihan yang menjadi tempat konservasi gajah sumatera. Di suaka margasatwa ini juga telah dibangun Pusat Latihan Gajah (PLG) (Soehartono, 2007).


Nah, begitulah nasib satwa raksasa yang tiada daya ini dalam menghadapi ancaman-ancaman yang membahayakan kelangsungan hidupnya. Jadi bagaimana pendapat anda? Apakah anda rela begitu saja melihat ketidakberdayaan satwa ini di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab ? Tentu tidak, bukan? Oleh karena itu, marilah kita mulai membuka mata kita untuk peduli dengan lingkungan sekitar kita. Jangan sampai kita terlena dengan keadaan alam kita yang banyak memberikan banyak manfaat tanpa memikirkan kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya. LET’S SAVE Elephas maximus sumatranus and the others !


REFERENSI :

Bappeda. 2014. Mengenal Gajah Sumatera Elephas Maximus Sumatrensis http://bappeda.pekanbaru.go.id/berita/503/mengenal-gajah-sumatera-elephas-maximus-sumatrensis/page/1/. 9 September 2014.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). 2012. Elephas maximus sumatranus. http://www.cites.org/eng/results.php?cites=Elephas+maximus+sumatranus. 10 September 2014.

IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 2012. IUCN Red List Endarged Species. http://www.iucnredlist.org/search. 10 September 2014.

Marboen. 2012. Status Gajah Sumatera Kritis. http://www.antaranews.com/berita/320193/status-gajah-sumatera-kritis. 9 September 2014.

Nursidi, R. 2008. Gajah Sumatera dan Permasalahannya. http://www.profauna.org/suarasatwa/id/2008/01/gajah_sumatera_

dan_permasalahannya.html. 9 September 2014

Primack, J., Supriatna, M., Indrawan, M., dan Kramadibrata, P. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Soehartono, T., Susilo, H. D., Sitompul, A. F., Gunaryadi, D., Purastuti, E. M., Azmi, W., Fadhli, N., dan Stremme, C., 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Gajah Kalimantan. Departemen Kehutanan RI, Indonesia.

Syarifuddin, H. 2008. Survey Populasi dan Hijauan Pakan Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Kawasan Seblat Kabupaten Bengkulu Utara. Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Peternakan 11 (1) : 42

Ungerer, T. 1987. Pedoman Pemanfaatan Gajah. Direktorat Pelestarian Alam. Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam dengan Lembaga Penelitian IPB, Bogor.

WWF-Indonesia. 2012. Hilangnya Habitat Mendesak Gajah Sumatera Selangkah Menuju Kepunahan. http://www.wwf.or.id/?24060/Hilangnya-habitat-mendesak-gajah-Sumatera-selangkah-menuju-kepunahan. 9 September 2014.

Zamzami. 2014. Koridor HTI Pintu Masuk Utama Perburuan Gajah Sumatera.  http://www.mongabay.co.id/2014/07/18/koridor-hti-pintu-masuk-utama-perburuan-gajah-sumatra/. 9 September 2014.

 


2 responses to “Gajah pun Tak Mau Dijajah”

  1. Sainawal Tity says:

    sungguh bermanfaat, terima kasih atas informasi nya 🙂
    saya ingin meminta pendapat anda sekilas mengenai gajah sirkus.
    beberapa gajah bahkan mungkin jenis ini sering digunakan dalam pertujukan-pertunjukan hiburan seperti sirkus. tak jarang mereka harus dipisahkan dari kelompok nya di hutan untuk “bekerja” pada manusia. sementara gajah sendiri tidak dapat hidup secara soliter, tetapi berkelompok. apa tanggaan anda ?

    • florencia says:

      @tity : menurut saya, gajah sirkus pasti sudah dilatih sejak kecil, sehingga mereka sudah terbiasa untuk tidak hidup berkelompok seperti pada habitat aslinya. selain itu, pasti dalam suatu sirkus pasti tidak hanya menggunakan 1 ekor gajah, mungkin bisa lebih dari 3 gajah, sehingga sebenarnya gajah ini tetap dalam kelompok, walaupun kelompok kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php