Fernando Natanael

Harimau Sumatera: Satu yang Tersisa dari Tiga yang Pernah Ada, dan Terancam PUNAH!!!

Posted: September 6th 2015

Pernahkah anda melihat gambar atau bahkan bertemu langsung dengan satwa seperti gambar dibawah ini?

harimau-sumatera

Gambar 1. Harimau Sumatera

Yap. Benar sekali! Itu adalah gambar harimau, tepatnya lagi Harimau Sumatera. Harimau sumatera merupakan salah satu satwa endemik yang ada di Indonesia. Satwa yang memiliki nama latin Panthera tigris sumatrae ini merupakan subspesies dari Panthera tigris yang tersisa di Indonesia. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan subspecies harimau terkecil serta satu-satunya subspesies harimau terakhir yang masih dimiliki Indonesia setelah dua kerabatnya, harimau bali (P. t. balica) dan harimau jawa (P. t. sondaica) dinyatakan punah masing-masing pada tahun 1940-an dan 1980-an (Seidensticker et al. 1999). Sub spesies harimau Sumatera yang tersisa ini hidup pada habitat yang terfragmentasi dan terisolasi satu dengan lainnya (Soehartono et al, 2007). Jumlah harimau ini di Sumatera hanya tinggal 450- 600 ekor saja (Tumbelaka, 2004). Harimau Sumatera memiliki habitat alami di alam bebas, seperti hutan hujan dataran rendah hingga pegunungan, dengan ketinggian antara 0 – 3.000 meter di atas permukaan laut. (Seidensticker et al. 1999; Schaller, 1967).

Klasifikasi Harimau Sumatera adalah sebagai Berikut.

Kingdom :Animalia

Phylum: Chordata

Class: Mammalia

Order:Carnivora

Family: Felidae

Genus: Panthera

Species: Panthera tigris

Subspecies: Panthera tigris sumatrae

Harimau Sumatra mempunyai ciri-ciri warna  paling  gelap  di  antara  semua  subspesies  harimau  lainnya,  pola  hitamnya  berukuran  lebar  dan  jaraknya  rapat. Belang  Harimau  Sumatra  lebih tipis daripada subspesies harimau lain. Warna kulit Harimau Sumatra merupakan yang paling  gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan  hingga oranye tua. Terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat (Sunarto, 2011).

Harimau  ini  diketahui  menyudutkan  mangsanya  ke  air,  terutama  bila  binatang buruan  tersebut  lambat  berenang.  Bulunya  berubah  warna  menjadi  hijau  gelap  ketika melahirkan. Harimau  Sumatra  jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250cm panjang dari kepala  hingga  kaki  dengan  berat  300  pound  atau  sekitar  140kg,  sedangkan  tinggi  dari jantan dewasa dapat mencapai 60cm. Betinanya rata-rata memiliki panjang 78 inci atau sekitar  198cm  dan  berat  200  pound  atau  sekitar  91kg (Sunarto, 2011).

Ada beberapa kebutuhan dasar Harimau Sumatera yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup, sumber air (Sunquist, 1981), dan tutupan vegetasi yang rapat untuk tempat menyergap mangsa. Harimau memiliki sifat hidup soliter, sehingga sangat jarang dijumpai berpasangan, kecuali pada harimau betina beserta anak-anaknya. Selain melalui suara, Harimau juga dapat berkomunikasi melalui bau-bauan. Hal ini dikarenakan Harimau mempunyai indra penciuman yang kuat dan seringkali meninggalkan tanda berupa urin dengan bau yang khas. Tanda tersebut berfungsi sebagai penanda jalan, penanda wilayah kekuasaan atau sebagai alat komunikasi informasi yang lebih spesifik seperti identitas individu, periode waktu individu harimau lewat pada areal tertentu, dan penanda estrus pada harimau betina (Slater et al, 1986).

Harimau Sumatera hanya terdistribusi di Pulau Sumatera. Satwa ini pun termasuk dalam The IUCN Red list of Threatened Spesies dengan status critically endangered sehingga menyebabkan Panthera tigris sumatrae ini dikonservasi secara ex-situ. Saat  ini  populasi  harimau  sumatera  mengalami penurunan  yang  drastis  dan  keberadaannya  semakin  sulit  ditemukan  karena penurunan  populasi  harimau  yang  kian  hari  semakin  meningkat.

C010_harimau_factpict_for web(1)

Gambar 1. Status Konservasi Harimau Sumatera

Berikut data estimasi populasi Harimau Sumatera oleh IUCN.

New Picture (1)

Gambar 3. stimasi populasi Harimau Sumatera

(Sumber: http://www.iucnredlist.org/details/15966/0)

Adapun faktor-faktor yang mengancam populasi  harimau sumatera adalah sebagai berikut.

  1. Tingginya tingkat kehilangan habitat (3,2-5,9%/tahun;.. Achard et al, 2002, FWI / GFW 2001, Uryu et al 2007) dan fragmentasi, yang juga terjadi, pada tingkat lebih rendah, di dalam kawasan lindung (Gaveau et al. 2007, Kinnaird et al. 2003, Linkie et al. 2003, 2004, 2006).
  2. Perdagangan ilegal bagian tubuh harimau (Nowell 2000, Nowell 2007). Dari 1998-2002 setidaknya 51 harimau per tahun tewas, dengan 76% untuk tujuan perdagangan. Ng dan Nemora (2007) menemukan bagian-bagian dari setidaknya 23 harimau dijual di survei pasar di sekitar pulau.
  3. Menyempitnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan,  pemukiman, pertanian, dan  industry (Sriyanto,  2003).
  4. Habitat harimau banyak yang telah berubah menjadi tutupan lain seperti Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan masyarakat seperti sawit dan karet. (Riyan et al, 2013)
  5. Telah tejadi penurunan populasi akibat perburuan liar, kerusakan habitat yang disengaja (pembukaan dan pembalakan hutan serta perladangan berpindah) maupun bencana alam (kebakaran hutan) dan pengurangan luas habitatnya. Sebagai contoh, hilangnya habitat diakibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan perkebunan perkebunan Acacia (Tumbelaka, 2004).
  6. Aktivitas pembalakan hutan  dan  pembangunan  jalan di daerah dataran  rendah,  lahan  gambut  dan  hutan  hujan  pegunungan
  7. Perkembangannya konflik  satwa  liar  dengan masyarakat yang terus  meningkat  bahkan  sudah  berada  dalam  tahap  yang  sangat meresahkan  dan  memprihatinkan (Hasiholan dan Widyaiswara, 2011). Sekitar 15% kematian harimau sumatera diakibatkan konflik manusia-harimau (Shepherd dan Magnus 2004).
  8. Harimau seringkali dibunuh dan ditangkap karena  tersesat memasuki daerah pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia memprihatinkan (Hasiholan dan Widyaiswara, 2011).
  9. Kepadatan harimau sumatera yang rendah (relatif terhadap mamalia lain, termasuk spesies mangsa mereka), maksudnya adalah diperlukannya daerah yang relatif besar untuk konservasi populasi yang layak; telah lama diakui bahwa banyak kawasan lindung terlalu kecil untuk melestarikan populasi harimau yang layak (Nowell dan Jackson 1996, Dinerstein dkk. 1997, Sanderson et al. 2006). Diperlukan pula populasi yang lebih besar dan wilayah yang lebih luas untuk melestarikan populasi yang layak, serta pengurangan angka kematian harimau di daerah yang tidak dilindungi untuk mempertahankan ukuran populasi melalui konektivitas (Carroll dan Miquelle 2006). Angka kematian yang tinggi juga disebabkan karena basis mangsa melimpah (Karanth et al. 2006).

pemburuanantarafoto-Kulit-Harimau-150812-YM-1

Gambar 4. Pemburuan liar dan perdagangan ilegal Harimau Sumatera

Menurut Suspina (2013), banyaknya permasalahan yang menyebabkan keberadaan Harimau Sumatera semakin terancam punah ini sangat butuh suatu tindakan nyata untuk melestarkiannya, Salah satu upayanya adalah seperti yang dilakukan oleh organisasi Worldwide  Fund  for  Nature (WWF). Sebagai organisasi konservasi dunia, WWF melakukan upaya untuk mengatasi perdagangan illegal Harimau Sumatera, hal ini dikarenakan faktor inilah yang dianggap sebagai hal yang paling mengancam kelestarian dari satwa ini. Untuk  mendukung  upaya  mengurangi  perdagangan  ilegal  harimau  sumatera. Beberapa tahun terakhir WWF  telah  melakukan berbagai kegiatan antara lain  penelitian,  program  pemantuan  perdagangan  harimau  sumatera.  Konservasi Harimau  Sumatera  merupakan  Proyek  bagian  dari  program  atau  initiative  lebih besar yang dikenal sebagai Program Wilayah Konservasi Tesso Nilo (Tesso Nilo Conservation Landscape Program).

Dimana di dalamnya termasuk 7 modul yaitu :

1)  Kejahatan Hutan (Forest Crime),

2)  Perlindungan Harimau (Tiger Protection),

3)  Pengelolaan Taman (Park Management).,

4)  Hubungan Bisnis (Corporate Relations),

5)  Hubungan Komunitas (Community Relations),

6)  Pengelolaan Proyek (Project Management)

Menurut Suspina (2013),selain berupaya mengurangi perdagangan Harimau Sumatera secara illegal, WWF juga membangun kerjasama dengan pemerintah di Indonesia (seperti dengan pemerintah Riau) , Departemen Kehutanan serta dengan The Tiger  Foundation Canada. Kerjasama ini dilakukan untuk  mengembangkan  program  konservasi  harimau  sumatera  yang secara  komprehensif  dapat  mengatasi  faktor-faktor  penyebab  menurunnya populasi  harimau  sumatera.  Upaya  yang  dilaksanakan  oleh  Program  Konservasi Harimau sumatera di antaranya adalah:

  1. Melakukan studi bioekologi Harimau Sumatera.
  2. Melakukan upaya perluasan habitat harimau sumatera yang berada diluar  kawasan konservasi sebagai kawasan yang dilindungi untuk konservasi harimau sumatera.
  3. Meningkatkan kegiatan perlindungan harimau sumatera dan habitatnya.
  4. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan konservasi alam dan meningkatkan kualitas penegakan hukum dibidang ”Wildlife Crime”. Hal ini dilakukan dengan cara sosialisasi yang difokuskan pada aparat penegak hukum dan juga lembaga swadaya masyarakat dengan tujuan meningkatkan pengetahuan melalui sosialisasi dan kesadaran serta persamaan persepsi aparat penegak hukum dan lembaga  hukum  terhadap  seriusnya  masalah  perdagangan  ilegal  harimau sumatera.
  5. Meningkatkan kualitas penanganan konflik antara harimau dengan masyarakat yang dapat menjamin kelesatrian harimau sumatera.
  6. Monitoring populasi harimau  sumatera  dihabitat  alaminya  dalam  jangka panjang.
  7. Mengembangan Strategi Konservasi Harimau Sumatera di Masa Depan.
  8. Meningkatan kualitas sumber daya manusia dan kerjasama pengelolaan antara seluruh institusi yang berkepentingan terhadap kelestarian harimau sumatera.

Dengan adanya berbagai program yang disusun WWF yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, departemen kehutanan, The Tiger  Foundation Canada serta beberapa lembaga terkait lainnya ini memberikan suatu harapan baru bagi usaha pelestarian salah satu satwa endemik Indonesia ini. Semoga dengan program-program yang ada, keberadaan Harimau Sumatera dapat dipertahankan sehingga kepunahan dari spesies satwa Indonesia ini dapat terhindarkan. Sebagai masyarakat yang peduli terhadap aksi konservasi ini, kita harus mendukung serta membantu program konservasi agar dapat terlaksana dengan baik sehingga harimau sumatera sebagai salah satu satwa kebanggan Indonesia ini tidak punah. Salam Lestari!!!

 

 

Referensi:

Achard, F., Eva, H. D., Stibig, H. J., Mayaux, P., Gallego, J., Richards, T. and Malingreau, J. P. 2002. Determination of deforestation rates of the world’s humid tropical forests. Science297: 999-1002.

Carroll, C. and Miquelle, D. G. 2006. Spatial viability analysis of Amur tiger Panthera tigris altaica in the Russian Far East: The role of protected areas and landscape matrix in population persistence. Journal of Applied Ecology 43: 1056-1068.

Dinerstein, E., Wikramanayake, E. D., Robinson, J., Karanth, U., Rabinowitz, A., Olson, D., Mathew, T., Hedao, P., Connor, P., Hemley, G. and Bolze, D. 1997. A Framework for Identifying High Priority Areas and Actions for the Conservation of Tigers in the Wild. A Framework for Identifying High Priority Areas and Actions for the Conservation of Tigers in the Wild.

Ganesa, A dan Aunurohim. 2012.  Perilaku Harian Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dalam konservasi ex-situ Kebun Binatang Surabaya. Jurnal Sains Dan Seni ITS Vol.1 (1): 48-53.

Gaveau, D.L.A., Wandonoc, H. and Setiabudid, F. 2007. Three decades of deforestation in southwest Sumatra: Have protected areas halted forest loss and logging, and promoted re-growth? Biological Conservation 134(4): 495–504.

http://www.iucnredlist.org/details/15966/0

Karanth, K. U., Nichols, J. D., Kumar, N. S. and Hines, J. E. 2006. Assessing tiger population dynamics using photographic capture-recapture sampling. Ecology 87: 2925-2937.

Kinnaird, M.F., Sanderson, E.W., O’Brien, S.J., Wibisono, H.T. and Woolmer G. 2003. Deforestation trends in a tropical landscape and implications for endangered large mammals.Conservation Biology 17(1): 245–257.

Linkie, M., Chapron, G., Martyr, D. J., Holden, J. and Leader-Williams, N. 2006. Assessing the viability of tiger subpopulations in a fragmented landscape. Journal of Applied Ecology 43: 576-586.

Linkie, M., Martyr, D. J., Holden, J., Yanuar, A., Hartana, A. T., Sugardjito, J. and Leader-Williams, N. 2003. Habitat destruction and poaching threaten the Sumatran tiger in Kerinci Seblat National Park, Sumatra. Oryx 37: 41-48.

Linkie, M., Smith, R. J. and Leader-Williams, N. 2004. Mapping and predicting deforestation patterns in the lowlands of Sumatra. Biodiversity and Conservation 13: 1809-1818.

Linkie, M., Wibisono, H.T., Martyr, D.J. & Sunarto, S. 2008. Panthera tigris ssp. sumatrae. The IUCN Red List of Threatened Species. Version 2015.2. www.iucnredlist.org>. Downloaded on05 September 2015.

Ng, J. and Nemora. 2007. Tiger trade revisited in Sumatra, Indonesia. TRAFFIC Southeast Asia, Petaling Jaya.

Nowell, K. 2000. Far from a cure: The tiger trade revisited. TRAFFIC International, Cambridge, UK.

Nowell, K. and Jackson, P. 1996. Wild Cats. Status Survey and Conservation Action Plan. IUCN/SSC Cat Specialist Group, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.

Nowell,K. 2007. Asian big cat conservation and trade control in selected range States: evaluating implementation and effectiveness of CITES Recommendations. TRAFFIC International, Cambridge, UK.

Sanderson, E., Forrest, J., Loucks, C., Ginsberg, J., Dinerstein, E., Seidensticker, J., Leimgruber, P., Songer, M., Heydlauff, A., O’Brien, T., Bryja, G., Klenzendorf, S and Wikramanayake, E. 2006. Setting Priorities for the Conservation and Recovery of Wild Tigers: 2005-2015. The Technical Assessment. WCS, WWF, Smithsonian, and NFWF-STF, New York and Washington, DC, USA.

Schaller, G. B. 1967. The deer and the tiger: a study of wildlife in India. The University of Chicago Press, Chicago

Seidensticker J, Christie S, Jackson P. 1999. Preface. Di dalam:  Seidensticker J, Christie S, Jackson P, editor. Riding the Tiger: Tiger Conservation in a Human-dominated Landscape. Cambridge: Cambridge University Press. hlm xv-xix.

Seidensticker,J.,S. Christie, dan P. Jackson. 1999. Introducing the tiger. Halaman: 1-3  .Cambridge University Press,  Cambridge, UK

Shepherd, C. R. and Magnus, N. 2004. Nowhere to hide: The Trade in Sumatran Tiger.

Slater, P. dan R. M. Alexander. 1986. The Encyclopedia of Animal Behaviour and  Biology.Volume VIII. Equinox (Oxford) Ltd. London

Soehartono,T., Hariyo T., Sunarto, Deborah Martyr, Herry Djok, Thomas Maddox. 2007. Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera 2007 –  2017. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.

Sumitran, R., Yoza, D., dan Oktorini, D. 2013. Keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Satwa Mangsanya di Berbagai Tipe Habitat pada Taman Nasional Tesso Nilo.  Departement of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Riau, Riau

Sunarto. 2011. Ecology and restoration of Sumatran tigers in forest and plantation landscapes. PhD thesis, Virginia Tech, Blacksburg, USA.

Sunquist, M. E. 1981. The social organization of tigers (Panthera tigris) in Royal Chitwan National Park, Nepal. Smithsonian Contribution to Zoology. 336:1-98

Suspina, Y. 2013. Upaya WWF (Worldwide Fund For Nature) dalam Mengatasi Perdagangan Ilegal  Harimau Sumatera di Provinsi Riau.  eJournal Ilmu Hubungan Internasional Vol 1 (4) : 1169-1176

Tumbelaka, L. 2004. Pencatatan Studbook Harimau Sumatra Regional Indonesia. TSI – PKBSI

 


9 responses to “Harimau Sumatera: Satu yang Tersisa dari Tiga yang Pernah Ada, dan Terancam PUNAH!!!”

  1. Angevia Merici says:

    Semoga Harimau sumatera bisa terselamatkan dan para petinggi mau konsisten menegakkan peraturan tanpa adanya unsur kepentingan. Informasi yang menarik !

  2. Angelina Cynthia Dewi says:

    Sedih. Kata itu terlintas setelah membaca bagaimana perlakuan manusia yang semena-mena terhadap harimau Sumatera demi egonya sendiri. Semoga peraturan perundang-undangan yang dibuat pemerintah dapat berjalan dengan baik sehingga harimau Sumatera dapat terus ada kelak 🙂

  3. handiprihanto says:

    perdagangan dan perusakan perlu dicegah dan ditertibkan, agar tidak terjadi kasus serupa

  4. ryan130801340 says:

    info yang edukatif kehidupan harimau sumatera perlu dilestarikan. akan lebih baik jika harimau ini dikonservasi secara total mengingat jumlahnya yang kian terbatas *doa anak soleh*

  5. monicaratnasari says:

    Terimakasih Nando untuk informasinya, begitu disayangkan hewan cantik ini terancam kepunahan. semoga memang benar dapat terus mengembangkan program konservasi harimau sumatera yang secara komprehensif dapat mengatasi faktor-faktor penyebab menurunnya populasi harimau sumatera tersebut. Proficiat! 🙂

  6. Yoseph Surya says:

    Artikel yang cukup lengkap, setelah saya baca rata-rata punahnya harimau ini karena perilaku manusia. Alangkah lebih baik jika sejak kecil diajari pentingnya menjaga kelestarian alam (Y)

  7. Natalia Cinthya Deby says:

    Menarik sekali,,,

    Jika saja pemerintah lebih mempertegas peraturan tentang perlindungan satwa yang hampir punah serta diupayakan konservasi ex situ maupun in situ, mungkin akan lebih banyak yang terselamatkan..

    Mau tanya, mungkin gak kalau konservasi juga di lakukan dalam tingkat molekuler, misalnya dengan fertilisasi di luar betina supaya meningkatkan angka kelahiran..

  8. hermantochen says:

    salah satu concern WWF ini memang benar dalam critically endangered ,, semoga upaya-upaya konservasi hewan cantik ini sukses sehingga populasinya dapat semakin meningkat dan bagi hunter” dan pelaku illegal logging yang tidak berpikiran lebih jauh dapat lebih mengerti dan dapat segera tergerak untuk tidak bertindak lebih lagi

    Semangat Konservasi

  9. Kalau tinggal satu, bagaimana cara mengkonservasikannya?

Leave a Reply to handiprihanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php