FENTYWATY

” A Little Blue Bird ” need YOU NOW!!!

Posted: December 4th 2014

Well, I would like to tell you about this little blue bird that can survive amazingly. This bird ever disappeared and refound again, such an amazing bird. Although it’s small in size but we should still care of it. We should protect it, we should make an action to make this little bird survive and would not disappear again.

Seriwang Sangihe (Eutrichomyias rowleyi) memiliki ukuran sedang (hingga 18 cm panjang) dengan warna dominan biru pada bagian kepala hingga ekor dan berwarna putih pada bagian dada. Seriwang Sangihe muda memiliki ekor pendek dengan warna abu-abu. Seriwang Sangihe satu-satunya anggota dari genus Eutrichomyias. Mendiami habitat hutan primer ketinggian 450 – 750 mdpl. Menyukai daerah pada lereng curam dan lembah hutan di mana terdapat aliran sungai.

info-about-the-bird-eutrichomyias-rowleyi-

Seriwang Sangihe adalah hewan endemik dari Pulau Sangihe yang terletak di bagian utara dari Pulau Sulawesi, Indonesia. Pertama kali diketahui hanya dari spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1873, hewan langka ini ditemukan kembali pada Oktober 1998 (sekitar 125 tahun kemudian) disekitar Gunung Sahendaruman di bagian selatan Pulau Sangihe. Setelah ditemukan kembali pada tahun 1998, beberapa survey telah dilakukan untuk menghitung jumlah populasi burung endemik Sulawesi ini. Total populasi burung ini diperkirakan pada kisaran 19-153 ekor dengan jumlah burung dewasa berkisar antara 13-90 ekor. Dengan jumlah ini menjadikan burung seriwang sangihe (Eutrichomyias rowleyi) menjadi salah satu burung paling langka di Indonesia.

iucn

Pakan utama dari Seriwang Sangihe adalah serangga dan invertebrata kecil. Ilmuwan menamai hewan ini untuk memperingati penjelajah dan ornitologis Inggris Raya. Hilangnya habitat, wilayah populasi yang kecil dan terbatas menyebabkan Seriwang Sangihe dikategorikan pada keadaan kritis pada IUCN Red List dari spesies yang terancam. Pada tahun 2009, diberitakan  bahwa pemerintah berinisiatif untuk menanam pohon asing yang menyebabkan hilangnya hutan alami di pulau Sangihe. Pada awalnya, penanaman dilakukan pada area dibawah 500 m, tetapi hal tersebut mengindikasikan penanaman pada ketinggian di sampai 700-900 m. Distribusi spesies gunung yang dekat dengan ketinggian maksimum, akan membuat spesies tersebut rentan dengan perubahan iklim.

Rencana aksi personal yang dapat kita lakukan adalah tidak ikut serta menangkap ataupun memperjual belikan spesies ini, turut serta dalam menggalakkan konservasi habitat hutan disepanjang aliran sungai dengan mengikutsertakan diri dalam Lembaga Swadaya Masyarakat ataupun Lembaga lain yang berperan dalam kelestarian lingkungan. Selain itu, bila burung ini dapat hidup di luar daerah endemiknya, maka kita dapat membantu pemerintah dalam melakukan konservasi/ perbanyakan spesies sebagai lulusan TeknoBiologi dan kita juga dapat menyumbangkan pengetahuan pada tingkat genetik. Meningkatkan kesadaran dari masyarakat tentang pentingnya alam dengan melakukan atau menggalang penyuluhan oleh para mahasiswa kepada masyarakat sekitar.

Selain itu, jangan lupa untuk mengajak orang-orang sekitar untuk lebih memperhatikan lingkungan dan mengetahui spesies endemik Indonesia.

As closing, there’s still a lot of thing we can do for all species around the world just with a simple action. The only thing that matters is do we have those awareness for them? Or all that matters to us is ourselves? Take A Deep Breath and Ask Yourself.

 

DAFTAR PUSTAKA

BirdLife International. 2001. Threatened birds of Asia: the BirdLife International Red Data Book. BirdLife International, Cambridge, U.K.

Riley, J.; Wardill, J. C. 2001. The rediscovery of the Cerulean Paradise-flycatcher Eutrichomyias rowleyi on Sangihe, Indonesia. Forktail 17: 45-55.

Sykes, B. 2009. OBC conservation: news update and requests for practical help. BirdingASIA 12: 107-108.

Whitten, T. 2006. Cerulean Paradise-flycatcher not extinct: subject of the first cover lives. Conservation Biology 20: 918-920.


6 responses to “” A Little Blue Bird ” need YOU NOW!!!”

  1. novia11 says:

    Saran saja hal lain yang dapat kamu lakukan adalah mengurangi penggunaan kertas dan kantong plastik 🙂

  2. adeirma says:

    Pernah hilang dan kembali?
    Cukup misterius keberadaan burung ini. Apakah sudah ada peraturan mengenai perlindungan dari burung ini? Jika ada apakah tindakan lanjut dari pihak pemerintah?

    Nice articel Cece Fenty 😀

  3. sautbarcio says:

    ditemukan kembali ? berarti sempat punah ? burung yang yang ajaib bisa ada lagi setelah sekain lama…

  4. potongan kalimat blog : “kita juga dapat menyumbangkan pengetahuan pada tingkat genetik”, NAH.. Nah, bagaimana menuangkan ilmu tersebut ke masyarakat umum ?

  5. Maya Narita says:

    WAH ini juga endemik Sangihe? klop deh sama punya aku 🙂 Untuk rencana aksi yang kamu paparkan diatas, apakah itu dapat berimbas baik pada populasi mereka yang menurun? Sebenarnya apa sih alasan populasinya menurun? karna diperdagangkan? atau karena kasus perubahan habitatnya? thanks 😀

  6. vika says:

    burung nya cantik hahah
    hmmm.. apakah ada upaya untuk membuka pikiran masyarakat tentang burung ini. seperti dikatakan anda diatas burung ini diperjual belikan, apakah ada upaya untuk permasalahan itu sendiri. trims 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php