FENTYWATY

Find “US” , Rescue “US”

Posted: September 4th 2014

INDO-PASIFIC HUMPBACK DOLPHINS

This humpbacked dolphins often called as Chinese White Dolphin cos we can found it mostly at three area in China such as Soko Islands, Peng Chau, and Lantau. Those pinkish color are form of adaptation in the cooler areas. I found it such an unique species that we can find in Indonesia!

1

Lumba-lumba punggung bungkuk berukuran menengah dan kuat. Ujung badan mereka sedikit tertekan dan condong secara bertahap ke ujung dengan paruh panjang dan kecil. Bentuk sirip punggung bervariasi secara geografis. Panjang tubuhnya mencapai 2.5-2.8m di berbagai jangkauan. Di Afrika Selatan, jantan dapat mencapai 2.7m dan 260kg  sementara yang betina hanya mencapai 2,4 dan 170kg. Warna dari spesies ini juga bervariasi sesuai dengan usia dan lokasi, baik di waktu hilangnya warna latar belakang abu-abu yang meluas sehingga menjadi putih(Ross, 2002)

3s_chinensis

 Photo: Lindsay Porter/WWF

Lumba-lumba spesies baru ditemukan oleh tim ilmuwan yang terdiri dari peneliti World Conservation Society (WCS), American Museum of Natural History, dan lainnya. Ilmuwan menganalisis sejarah evolusi dari lumba-lumba punggung bungkuk (humpback dolphin), baik dari sisi morfologi maupun genetik. Hasil analisis mengungkap bahwa lumba-lumba punggung bungkuk yang berada di wilayah Indo-Pacific terbagi menjadi tiga spesies, satu di antaranya merupakan spesies baru. “Berdasarkan data genetik dan morfologi, kami mengusulkan bahwa genus lumba-lumba punggung bungkuk paling tidak terdiri dari empat spesies,” kata Martin Mendez, asisten direktur WCS Amerika Latin dan Karibia. “Temuan ini membantu kita memahami sejarah evolusi dari kelompok hewan ini dan memberi informasi terkait kebijakan konservasi untuk menjaga setiap spesies yang ada,” imbuh Mendez seperti dikutip Science Daily, Selasa (29/10/2013).

Nama genus lumba-lumba punggung bungkuk adalah Sousa. Sementara nama spesies lumba-lumba baru ini Sousa Sahulensis. Tiga spesies lumba-lumba punggung bungkuk yang sudah dikenal adalah Sousa teuszii yang hidup di Atlantik serta Sousa chinensis dan Sousa plumbea yang hidup di Indo-Pasifik. Untuk menemukan lumba-lumba punggung bungkuk baru ini, ilmuwan menganalisis data morfologi dari lumba-lumba yang terdampar di pantai. Spesifiknya, ilmuwan menganalisis karakteristik dari 180 tengkorak lumba-lumba dari berbagai wilayah. Kemudian, ilmuwan juga mengambil 235 sampel jaringan dari lumba-lumba di berbagai wilayah dan menganalisis DNA mirokondria dan inti dari masing-masing jenis.

 “Informasi tentang jenis baru dari lumba-lumba punggung bungkuk akan meningkatkan jumlah spesies yang diketahui dan memberikan bukti ilmiah yang diperlukan untuk pengambilan keputusan yang bertujuan melindungi keragaman genetik yang unik dan habitat terkait,” kata Howard Rosenbaum, Direktur Program Laut WCS. Lumba-lumba punggung bungkuk bisa tumbuh hingga 2,5 meter. Spesies ini tersebar di wilayah delta dan estuari di Atlantik dan Indo-Pasifik. Lumba-lumba punggung bungkuk dari Atlantik dinyatakan “rentan” oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) karena jumlah populasi yang cenderung rendah dan belum ditemukan secara luas.

Indo-Pasifik lumba-lumba bungkuk terdaftar sebagai species yang hampir punah oleh IUCN dan oleh CITES sebagai Appendix I . Karena mereka tinggal di dekat pantai, mereka sering terjerat dalam jaring ikan dan di daerah-daerah di Afrika, jaring anti-ikan hiu. Kehancuran  habitat adalah kemungkinan ancaman terbesar bagi spesies ini. Kerusakan ini disebabkan oleh kontaminasi lingkungan dan reklamasi perairan pesisir. (Folkens dan Reeves, 2002; Jefferson, 2000;. Van Parijs, et al, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Bay, R. Humpback Dolphins. http://www.dolphins.org.za/. diakses tanggal 4 September 2014.

Carwardine, M., Hoyt, E., Fordyce, R.E. and Gill, P. 1998. Whales and Dolphins. HarperCollins Publishers, London.

Folkens, P., R. Reeves. 2002. Guide to Marine Mammals of the World.. New York, New York: Alfred A. Knopf, Inc.

IUCN Red List . http://www.iucnredlist.org. diakses tanggal 4 September 2014.

Jefferson, T. 2000. Wildlife Monographs. Population Biology of the Indo-Pacific Hump-Backed Dolphin in Hong Kong Waters, 144: 1-65.

Ross,G.J.B. 2002. Humpback dolphins – Sousa chinensis, S. plumbea, and S. teuszii. In: Encyclopedia of marine mammals (Perrin WF, Würsig B, Thewissen JGM, eds.) Academic Press, San Diego, pp. 585-589.

Van Parijs, S., J. Smith, P. Corkeron. 2002. Journal of Applied Ecology. Using Calls to Estimate the Abundance of Inshore Dolphins: A Case Study with Pacific Humpback Dolphins Sousa chinensis, 39/5: 853-864.

Whale and Dolphin Conservation Society . http://www.wdcs.org. diakses tanggal 4 September 2014.


7 responses to “Find “US” , Rescue “US””

  1. vika says:

    Sudah ada penangkarannya belum sih? atau masih di alam bebas?

    • fentywaty says:

      Lumba-lumba ini belum ada yang masuk ke dalam penangkaran dan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat juga.

  2. adeirma says:

    Bagus warnanya pink! Tapi di Indonesia lumba – lumba jenis ini bisa ditemukan di daerah mana yak?
    Makanannya ikan – ikan kecil juga kayak lumba – lumba lainnya??

    • fentywaty says:

      Lumba-lumba ini dapat ditemukan di perairan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tapi yang sangat disayangkan, lumba-lumba langka ini yang ditemukan oleh nelayan lebih banyak dalam keadaan telah mati karena terjaring pukat nelayan. Iya, tetapi selain ikan-ikan kecil, lumba-lumba ini juga memakan moluska, udang-udangan dan beberapa jenis Cephalopoda.

  3. selviaemanuella says:

    Ini dijelaskan bahwa lumba-lumba punggung bungkuk ada di indo-pasifik, mungkin bisa lebih rinci ditemukan di wilayah indonesia bagian mananya ya, terimakasih 🙂

  4. arum08 says:

    good information. apa kira- kira mereka bisa bermigrasi ke Indonesia jika melihat issue global warming?

    • fentywaty says:

      Bila mengenai issue global warming, lumba-lumba ini mungkin saja bisa banyak berada di perairan Indonesia karena lumba-lumba jenis ini menyukai suhu perairan yang hangat dimana kita ketahui Indonesia merupakan negara tropis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2021 Universitas Atma Jaya Yogyakarta
css.php